
Kaki penuh kegelisahan terus menapaki lantai yang semula terlihat bersih dan rapi karena terus di sapu dan di pel setiap hari, yang lama-lama merubah tampilannya sendiri. Setelah mereka yang kuat jiwanya mulai dapat melihat dari mata ketiga, mereka bisa tau bagaimana tempat ini sebenarnya.
Seperti hutan belantara yang tidak pernah dijamah oleh tangan manusia, suaranya masih natural dengan daun-daun berwarna kekuningan hingga coklat renyah serta ranting-ranting kering yang menunjuk diri menjadi permadani nya.
Udaranya tampak bebas, tapi tetap saja sangat menyumpek kan lubang indra penciuman yang sudah biasa merasakan aroma sedap dari makanan favorit maupun parfum kesayangan.
Suara binatang-binatang kecil santer terdengar riuh seolah berlomba-lomba untuk menunjukkan dirinya dari berbagai arah, hingga menambah rasa gusar di dalam jiwa dan berkata, "Aku adalah alam liar, apa yang kamu lakukan disini, saat ini? ingin mencari mati?"
Sisi Kak Rio.
"Pak Handoyo, apapun yang terjadi, usahakan tetap bersama."
"Baik, Rio. Saya paham."
"Ini-ini lantai dua kampus kita ya?"
"Secara gaib, beginilah adanya, Pak."
"Berarti benar. Saya sudah lama bekerja disini. Bisa dibilang turun temurun dari kakek saya dan saya sempat mendengarkan banyak cerita tentang kampus ini dari beliau. Sayangnya saat itu, saya sama sekali tidak percaya."
"Apa yang Bapak tau?"
"Konon ceritanya, kampus ini berdiri di hutan yang berangsur-angsur menjadi kota. Awalnya, di tengah-tengah sana," ucap Pak Handoyo sembari menunjuk ke arah pusat gedung kampus. "Terdapat pohon beringin yang sangat besar dan menjulang tinggi. Pohon itu menghalangi pembangunan kampus ini."
"Lalu?"
"Ya akhirnya ditebang paksa. Namun pada saat yang bersamaan, dimalam harinya, seluruh pekerja kerasukan. Bahkan orang yang menebang pohon ini secara langsung, muntah darah lalu menghilang entah kemana. Hingga saat ini, mayatnya pun tidak pernah ditemukan. Kalau tidak salah, namanya Hadi."
"Innalillahi wa innalillahi roji'un. Begitulah tipu daya dan permainan iblis, Pak Handoyo."
"Dulu zamannya Kakek Buyut saya, beliau pernah mendengar suara teriakan dan siksanya dari dalam gedung ini dan suaranya persis sama dengan suara Hadi, tapi setelah Kakek Buyut saya mencari asal suara tersebut, beliau tidak pernah menemukannya."
"Apalagi yang Bapak ketahui?"
"Kata Kakek saya, awal-awal berdirinya kampus ini, banyak sekali korban jiwanya. Hampir setiap tahun ada kematian dan hal itu membuat kampus ini menjadi tersohor karena keangkeran nya. Bahkan dulu kampus ini sempat ingin ditutup, hingga datanglah tiga orang pintar yang sampai saat ini berhasil mengunci kampus ini dengan kemampuan mereka, ya walaupun salah satunya tewas secara mengenaskan di sini."
"Apa yang mereka lakukan?"
"Setahu saya, mereka selalu menyetor beberapa sapi, kambing kendit, ayam hitam, bunga kantil, kopi pahit manis, teh pahit manis, madat, pisang raja, macam-macam jajanan pasar yang terbuat dari ketan, nasi tumpeng dan lauk pauknya, bubur aneka rupa kalau nggak salah ada tujuh macam," jelas Pak Handoyo panjang lebar.
"Bekerjasama dengan iblis ternyata dan sekarang kita kena imbasnya. Pak, tidak ada satu iblis pun yang tidak menyesatkan. Mereka akan selalu mencari cara dan jalan untuk menghancurkan anak Adam, seperti yang Bapak saksikan saat ini."
"Ia, pihak kampus lalai dan inilah yang terjadi. Kembali lagi seperti dulu, mereka menginginkan dan mencuri darah segar serta daging basah dari manusia."
"Tepat sekali. Begitulah cara iblis mempermainkan manusia dengan waktu dan keadaan hingga mereka lupa dengan urusannya sama yang halus itu, Pak. Rata-rata tipu dayanya memang begitu. Contohnya yang berhubungan dengan kekayaan, si pengikut dibuat lupa agar memberikan hal yang lebih dalam. Awalnya hanya menggunakan syarat ayam kampung biasa, tapi lama kelamaan akan meningkat bahkan anaknya sendiri akan menjadi tumbal."
"Ya Allah ... seram sekali. Kok saya baru menyadarinya ya?" kata Pak Handoyo sambil terus menerangi jalan yang mulai terasa tidak datar lagi. "Kok jalannya jadi seperti ini ya?" tanya Pak Handoyo yang melihat jalanan penuh bebatuan dan lubang seperti bekas dibor atau dilubangi.
"Hati-hati, Pak! Mari kita lebih berkonsentrasi dan selalu mengingat Allah!!"
"Iya .... "
Baru sekitar 20 langkah bergerak ke depan, tiba-tiba kedua kaki Pak Handoyo jeblos dan masuk ke dalam lubang hingga batas pinggangnya. Sehingga ia tidak dapat bergerak dan keluar dari lubang tersebut. Perasaannya mulai tidak enak dan ia terus berusaha mengangkat bagian pinggang ke bawah dengan kekuatan otot tangannya.
Pak Handoyo tampak panik dan tiba-tiba dari arah belakang, terdengar suara kaki yang menyeret. Keringat dingin dalam ukuran besar mulai turun perlahan dari dahi kanan Pak Handoyo. Jantungnya mulai berpacu dengan cepat karena ia menyadari, hanya ada dirinya sendirian di tempat ini, saat ini.
__ADS_1
Pak Handoyo berusaha melihat siapa yang datang, tapi ia tidak mampu memutar tubuhnya. Sedangkan kepalanya tidak bisa berputar 180°. "A-aku hanya datang dengan niat baik. Jangan ganggu aku! Aku bukan orang jahat dan aku hanya bekerja," ucap Pak Handoyo dengan suara gemetaran bak penyanyi keroncong yang sudah sangat Sepuh.
Crat crat crat crat crat crat crat.
Terdengar suara seperti seseorang yang sedang mencangkuli tanah di sekitaran tubuh Pak Handoyo. Suaranya sangat jelas dan tajam, tapi firasat Pak Handoyo baik soal ini dan ia terus berusaha untuk menenangkan dirinya.
Lama kelamaan, seseorang dengan cangkul di tangannya pun mulai menampakkan diri. Dari sudut samping kiri matanya, Pak Handoyo dapat melihat laki-laki paruh baya dengan baju kaos berwarna abu-abu yang sudah sangat lusuh masih mencangkuli tanah di sekitar tubuhnya.
Crat (terdengar suara dari ayunan terakhir cangkul tesebut). Kemudian secara misterius, lubang yang menyekap tubuh Pak Handoyo menghilang dan ia terkejut saat melihat kedua kakinya dalam posisi tertekuk, bukan masuk ke dalam sebuah lubang.
Laki-laki paruh baya tersebut masih berdiri di sampingnya, sementara Pak Handoyo tidak tau harus berbuat atau berkata apa. Namun tiba-tiba, ia berkata tanpa ia sadari sambil menatap laki-laki tersebut.
"Matur nuwun, Mbah Hadi." Setelah mendengar ucapan dari Pak Handoyo, laki-laki misterius tersebut menghilang dan itu membuat lutut Pak Handoyo bergetar hebat dan ia kembali jatuh di lantai/tanah sembari beristighfar kepada Allah dan terus-menerus memangil nama Kakek kandungnya.
"Mbah Rukun ... Mbah ... maafkan aku yang selama ini sudah menganggap remeh semua ucapan si Mbah. Semoga Allah selalu menyayangi si Mbah yang sudah merawat aku sejak aku lahir. Ampuni aku ya Allah ... maafkan aku Mbah .... " ucapnya sambil menangis dan menyesali diri.
*****
Sementara Kak Rio, tubuhnya tergelincir cukup jauh hingga mereka berdua terpisah. Kak Rio berusaha berdiri setelah terseret, namun kedua kakinya terikat oleh bagian pohon yang banyak ditumbuhi daun-daun muda yang tampak masih sangat segar berwarna hijau mengkilat.
Tak tanggung-tanggung, bahkan bagian seperti ranting tersebut mengangkat tubuh Kak Rio ke atas dengan posisi kepala ada di bawah (posisi terbalik, kepala di bawah dan kaki di atas).
"Astagfirullah hal azim ... astagfirullah hal azim ... astagfirullah hal azim .... " ucap Kak Rio dalam posisi terayun-ayun cukup kuat hingga membuat kepalanya menjadi sangat pusing.
"Allahu Akbar ... Allahu Akbar .... " ucap Kak Rio sambil terus berusaha menyeimbangkan ayunan tubuhnya dan menenangkan hatinya. "Allaahumma aslamtu nafsii ilaika, wa wajjahtu wajhii ilaika, wa fawwadltu amrii ilaika, wa aljaitu dhohrii ilaika, raghbatan wa rahbatan ilaika, laa malja’a walaa manjaa minka illaa ilaika, aamantu bikitaabika alladzii anzalta, wanabiyyika alladzii arsalta." Kak Rio tersus membaca ayat ini, hingga jeratan dari pohon yang entah dari mana asalnya tersebut putus dan lepas dengan sendirinya.
Artinya, Ya Allah, aku pasrahkan jiwaku kepadaMU, memusatkan konsentrasi ku kepadaMU, ku pasrahkan semua urusan ku kepadaMU, kepada Engkau pula badanku ku serahkan, tiada tempat berlindung kecuali kepadaMU, aku mengimani kitab yang Engkau turunkan, dan Nabi yang Engkau utus." [HR. Bukhori-Muslim].
"Aaagh .... " keluh Kak Rio sambil berusaha berdiri dan memegang kepalanya yang jatuh terlebih dahulu ke tanah. "Astagfirullah hal azim ... terima kasih ya Allah ya Tuhanku, terima kasih .... "
Dengan langkah cepat, Kak Rio berlari ke arah mahasiswi tersebut yang ternyata adalah Sarah, jika dilihat dari mata Kak Rio. "Sarah ... Sarah ... kamu kenapa? Sayang?" ujar Kak Rio dengan tatapan cemas sembari menarik dan melepaskan tali yang mengikat tubuh Sarah.
"Sayang ... tolong aku!"
"Iya, pasti. Aku pasti menolong mu, Sayang." Lalu Sarah tersenyum simpul sesaat setelah mendengar ucapan Kak Rio.
Setelah 10 menit berlaku, tubuh Sarah pun sudah bersih dari ikatan yang kuat. "Ayo, kita harus menyelamatkan yang lainnya!" ajak Kak Rio sambil menarik tangan Sarah. "Astagfirullah hal azim ... wudhu ku hilang, Sayang. Begitu juga dengan wudhu mu. Sebaiknya kita segera ke sumber air!"
"Sebentar, Sayang ...!"
"Ada apa, Sarah? bukannya kamu yang bilang kalau semua ini harus cepat, sebelum waktu mengalahkan keadaan?"
"Iya, tapi aku ingin mengatakan sesuatu padamu."
"Baiklah ... katakan dengan cepat!"
"Aku sangat mencintai kamu dan aku sangat merindukan kamu, Kak."
"Sarah, aku juga begitu. Tapi kita sudah sepakat untuk bersabar dan aku akan berusaha secepat mungkin untuk menikahi kamu. Untuk itu, kita harus keluar dari tempat ini dengan selamat. Demi semua itu, aku ada disini untuk membantu kamu, Sarah. Semua ini karena aku sangat menyayangi dan mencintai kamu," kata Kak Rio sambil menatap Sarah dan memegang kedua lengannya perlahan.
Sarah terus melihat mata Kak Rio yang berbinar dengan tatapannya yang tajam. "Aku tidak bisa berkonsentrasi, apa Kakak bisa membantuku?"
"Tentu saja, apa yang kamu butuhkan?"
"Kamu," sahut Sarah sambil mendekatkan bibirnya pada bibir Kak Rio.
__ADS_1
Untuk beberapa saat, Kak Rio dan Sarah saling memberi kecupan. Seakan lupa dengan keadaan, Sarah terus membelai lembut tubuh Kak Rio dengan jari-jari tangannya hingga hasratnya memuncak.
"Sarah, cukup!"
"Sentuh aku, Sayang!! Aku mohon," ujar Sarah dengan nafasnya yang tersengal.
Sarah mulai mengangkat dan membuka bajunya hingga Kak Rio dapat melihat tubuh bagian atas milik Sarah yang indah, walaupun masih terhalang dengan sedikit kain penyangga dadanya.
Kak Rio sangat mencintai Sarah, sehingga sulit juga baginya untuk menolak keinginan kekasihnya itu. Hingga satu momen menyadarkannya, yaitu ketika Sarah melepas bra berwarna coklat miliknya sambil mencumbu Kak Rio.
Dengan sigap, Kak Rio mendorong tubuh Sarah dan mulai memperhatikan makhluk yang menyerupai kekasihnya tersebut sambil beristighfar dan langsung mengucap,
أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِِ
Latin: A'uudzubillaah himinas syaitoon nirrojiim
Artinya: Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.
"Bismillahirrahmanirrahim .... " ucapnya dengan suara yang indah dan mendayu-dayu sembari memejamkan kedua matanya serta mengangkat kedua tangannya agar lebih khusyuk.
قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِۙ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَۙ وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَۙ وَمِنْ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِى الْعُقَدِۙ وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ
Latin: qul a'ụżu birabbil-falaq. Min syarri mā khalaq. Wa min syarri gāsiqin iżā waqab. Wa min syarrin-naffāṡāti fil-'uqad. Wa min syarri ḥāsidin iżā ḥasad.
Artinya: Katakanlah, aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (fajar), dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan (perempuan-perempuan) penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya), dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki."
"Hentikan!!" ucapan makhluk berwujud Sarah, tapi dengan suara yang besar, serak dan sangat berat. Seperti suara bangsa oger dalam acara televisi khusus anak-anak. "Hentikaaannn .... " ucapnya berteriak dan seketika angin bertiup sangat kencang hingga menerbangkan dedaunan ke arah wajah dan tubuh Kak Rio.
"Allahu Akbar!!" seru Kak Rio dengan suara yang sangat kuat seakan menangkis hempasan angin yang kencang dan ingin menerbangkan tubuhnya. "Allahu Akbar ... Alhamdulillah ... Subhanallah .... "
"Aaaaaagggghhh ...." Makhluk tersebut mulai menampakkan wajahnya yang asli. Sangat buruk hingga mata biasa tidak akan pernah mampu untuk menatapnya.
"Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... Allahu Akbar .... " ucap Kak Rio tanpa henti.
أَعُوْذُ بِكَلِمَا تِ اللَّهِ التَّامَّاتِ الَّتِي لاَ يُجَاوِزُ هُنَّ بَرُّ وَلاَ فَا جِرُ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ وَذَرَأَ وَبَرَأَ وَمِنْ شَرِّ مَا يَنْزِلُ مِنْ السَّمَاءِ وَمِنْ شَرِّ مَا يَعْرُجُ فِيْهَا وَمِنْ شَرِّ مَا ذّرَأَ فِي اْلأَرْضِ وَمِنْ شَرِّ مَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمِنْ شَرِّ فِتَنِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمِنْ شَرِّ كُلِّ طَارِقٍ إِلاَّ طَارِقًا يَطْرُ قُ بِخَيْرٍ يَا رَححْمَنُ
"Aku berlindung dengan firman-firman Allah yang sempurna, yang tidak bisa ditembus oleh para hamba yang shalih apalagi yang fasik, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan yang turun dari langit atau yang naik ke atas langit, serta dari segala kejahatan makhluk di bumi. Juga dari kejahatan yang keluar dari perut bumi, dari kondisi buruk kekacauan di siang dan malam, serta dari kejahatan tamu di tengah malam, kecuali yang bermaksud baik, wahai ar-Rahmân……..…” [Doa mengusir setan jahat, HR. Ahmad]
"Rio, Sayang ... tolong!" bujuk iblis tersebut sekali lagi, tapi dengan wajah yang kembali seperti Sarah.
"Kamu bukan Sarah. Sarah tidak pernah berbuat hina seperti ini. Kamu bukan Sarah ...." ucap Kak Rio sambil menangis karena mengingat hal yang baru saja terjadi. "Allaaaah Hu Akbar ... Allaaaah Hu Akbar ... Allaaaah Hu Akbar," ujar Kak Rio seakan menghapus suara dari makhluk misterius tersebut.
"Tidaaak .... " Lalu suara tersebut menghilang bersama angin yang kembali normal.
"Astagfirullah hal azim ... Astagfirullah hal azim ... Astagfirullah hal azim ... ampuni hamba ya Allah. Sarah, kamu benar. Iblis yang paling berat ditaklukan adalah iblis yang berada di dalam diri kita. Semoga kamu selamat sayangku, begitu juga dengan yang lainnya," ucap Kak Rio yang terduduk lemas dengan kedua telapak tangan yang menyentuh tanah.
Bersambung ....
NB: Baca juga arti dari setiap surat ataupun ayat yang dituliskan di dalam novel ini, supaya kita semua dapat menggunakannya dengan tepat. Semoga bermanfaat.
Jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca 😘😘😘.
__ADS_1