ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
HARI KE 40


__ADS_3

Aku menatap Ayah dengan tatapan yang tajam seperti melihat seorang tersangka. Aku bahkan menatap Ayah dengan mata yang kejam dan hampir penuh kebencian.


Bukan tanpa sebab, aku merasa pembunuhan adalah tindak kejahatan yang sangat menyakitkan dan merugikan orang lain. Aku sudah merasakan bagaimana perih dan sakitnya menjadi anak bagian keluarga hasil dari pembunuhan.


Pada saat yang bersamaan, Ayah kembali menatap ku dengan pandangan yang redup dan teduh. Ini bukan tatapan seorang pembunuh. Ucap ku di dalam hati dan entah bagaimana aku merasa sangat yakin, bahwa Ayahku sama sekali tidak bersalah dalam hal ini.


Ada rasa bersalah yang sangat besar aku rasakan seketika saat mendapati untaian air mata yang hampir terjatuh dari matanya yang bening. Aku mencoba menetralisir diriku dan memulai pertanyaan ku dengan lebih baik lagi, layaknya seorang anak terhadap orang tuanya.


"Maafkan Aku Ayah ... aku sangat bingung dan tertekan. Aku tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi pada diriku dan hidupku. Aku yakin Ayah tidak bersalah, tapi semua ini pasti ada penjelasannya Ayah. Coba lihat aku ...! aku menemukan dompet seorang wanita di bawah kursi mobil Ayah. Apa Ayah bisa menjelaskan kepadaku tentang ini? "


"Mana? Coba Ayah lihat! " ucap Ayah sambil menarik air hidungnya.


"Ayah, asal Ayah tahu. Kemarin wanita ini masuk ke dalam jiwa dan pikiranku ia menakuti aku dengan berbagai penampakan yang menyeramkan sehingga aku sulit bernafas, bahkan aku merasa hampir akan mati yah. Terakhir wanita ini mengatakan kepadaku sebuah kalimat."


"Apa? " tanya Ayah terus menatap mataku yang basah.


"Tolong, tolong, tolong aku ... Dia berbicara kepadaku saat kami sama-sama di dalam liang lahat. " ujarku dengan tubuh yang tiba-tiba merinding gemetaran seakan mengingat kembali kejadian saat itu.


Ayah menatapku sembari melipat dahinya dan berkata, "Tapi Ayah sama sekali tidak mengenali wanita ini Sarah. " kata Ayah dengan sangat yakin.


"Tidak mungkin. Ayah harus mengingatnya sekali lagi, karena bagaimana mungkin dompet ini berada di dalam mobil Ayah jika Ayah tidak mengenal wanita ini?" tanya ku dengan nada yang ngotot seakan tidak percaya dengan apa yang Ayah katakan barusan kepadaku.


Ayah berdiri membelakangi ku sembari menatap foto kecil yang berada pada Kartu tandanya Penduduk (KTP) sambil menjambak rambut bagian belakangnya. Ayah tampak berusaha sangat keras mengingat wanita ini dan tiba-tiba Ayah mengatakan sesuatu.


"Astaga ... Apa mungkin? "

__ADS_1


"Apa yah? " sahut ku ikut berdiri di samping Ayah dengan sangat antusias dan melupakan rasa sakit di wajahku.


"Ayah ingat malam itu, saat tragedi terjadi di rumah ini. Kamu ingat satu bulan yang lalu waktu Tante Rima ingin membunuhmu? "


"Iya yah ... kenapa? Dan apa hubungannya dengan wanita ini? " tanya ku sambil menatap mata Ayah dalam-dalam.


"Malam itu Ayah hampir datang terlambat untuk menyelamatkan mu karena Ayah menolong wanita yang ada di dalam foto ini Nak."


"Ya Ampun yah ... apa Ayah yakin itu?"


"Saat itu hampir melewati waktu magrib. Dia ditabrak dan tergeletak di jalanan lurus tepatnya di jalan Lintas Selatan. Saat itu Ayah tidak mampu mengejar menabraknya karena melihat kondisi wanita itu sangat miris dengan gelimang darah dan ayah ingat betul, bahwa wanita itu sedang hamil besar. Jadi Ayah putuskan untuk membawanya ke rumah sakit."


Aku terdiam dan kembali menangis sambil mengingat bayangan dimana aku berdiri tepat di jalanan lurus beraspal panas. Saat itu, aku juga melihat sekeliling yang bagian kiri dan kanan ku terdapat rumputan dan ilalang sepanjang jalan.


"Malam itu, Ayah membawanya ke rumah sakit yang sama dengan rumah sakit saat kamu dirawat terakhir kali. Ayah juga membayarkan biaya pengobatannya agar ia segera dapat diberi tindakan medis dengan baik. Tapi seingat Ayah, saat itu Dokter mengatakan bahwa Dia sudah berhasil melewati masa kritisnya dan selamat. Makanya Ayah langsung meninggalkan wanita itu di rumah sakit dan buru-buru pulang untuk menyelamatkan mu Sarah. "


"Bagaimana mungkin wanita itu bisa meninggal dunia? Lalu bagaimana dengan bayinya? " tanya Ayah yang tampak peduli dan bingung.


"Aku tidak tau Ayah .... " ucapku pasrah.


"Sarah, kita harus mencari tahu soal ini! Mungkin wanita itu memohon pertolongan kepada mu untuk ditemukan atau mungkin ini ada hubungannya dengan bayinya. Kita harus mencari tahu semuanya Sarah ...! "


"Apa Ayah yakin itu? " tanya ku sekali lagi karena sangat ragu akan keputusan Ayah. Bisa-bisa terjadi salah paham dan Ayah dipenjarakan.


"Apa kamu ingat Suster Isabella yang kamu selamatkan jasadnya Sarah? Mungkin ini juga sama atau bahkan lebih buruk lagi. Tapi Apa kamu yakin jika wanita yang masuk ke dalam alam bawah sadarmu itu adalah wanita ok batu nisan yang tertancap di atas kuburan yang aku lihat saat itu. Hanya saja aku tidak mampu melihat wajahnya dengan jelas karena saat itu Dia menampakan wujudnya yang sangat menyeramkan dan mengerikan Ayah. Bahkan aku tidak sanggup untuk menatapnya dalam waktu yang lama. "

__ADS_1


"Baik, kalau begitu kita segera berangkat saja ke rumah sakit sekarang ya Sarah. Kuatkan hati dan diri kamu Nak, begitu pun juga dengan ayah. "


"Baik Yah ... aku mengerti .... " ucap ku sambil memeriksa kembali dompet Maharani.


Saat aku dan Ayah mengunci pintu rumah, tiba-tiba sesuatu jatuh dari dalam dompet tersebut. Kertas putih segi empat ukuran kecil, aku segera mengambil dan membalik kertas tersebut dan ternyata itu adalah sebuah foto.


Di dalam foto itu aku melihat wajah cantik Maharani berbalut pakaian putih pernikahan beserta suaminya. Aku terus menatap wajah itu seakan pernah melihatnya, tapi aku tidak tahu di mana dan kapan? Aku terus berkata-kata di dalam hatiku sembari meninggalkan rumah menuju ke arah mobil.


"Sarah, kamu kenapa? Jangan melamun pada kondisi seperti ini Nak! "


"Iya ayah ... maaf, hanya saja aku seperti pernah melihat wanita ini dan aku berusaha untuk mengingatnya. "


"Kalau begitu cobalah untuk fokus Sarah ...! " ujar Ayah sambil memegang bahu kiriku.


Aku berusaha untuk terus mengingat wajah ini. Benar-benar wajah yang tampak tidak asing bagiku. Ya Tuhan ... tolonglah kami. Seketika aku mengingat bayangan saat aku tidak sengaja mengambil dan melihat foto yang berada di dalam handphone milik Kak Rio. Ya Tuhan ini adalah kakak kandung Kak Rio aku yakin betul itu, ucapku sangat yakin dengan apa yang aku lihat.


"Ayah aku tahu siapa wanita ini. Tolong hubungi Kak Rio sekarang juga dan katakan padanya kita menunggu di rumah sakit Yah." ucapku dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Memangnya kenapa Nak? Apa hubungannya dengan Rio? " tanya Ayah penasan.


"Dia Rani Kakak kandungnya Kak Rio Yah. "


"Ya sudah kalau begitu. " ucap Ayah langsung menelpon Kak Rio dan kami segera menuju ke rumah sakit.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘


__ADS_2