
Aku baru saja keluar dari kamar Feli dan memikirkan tentang kejadian hari ini. Dalam posisi duduk di kursi tepat di depan kamar perawatan Feli, aku mencoba menela'ah dan merenungi jalan hidupku. Semua ini penuh misteri, kata batinku yang paling dalam.
Bagiku saat ini, hidup adalah misteri. Apakah ada yang berpikiran sama denganku? Pernahkah kamu merasa, bahwa kita dikelilingi oleh misteri-misteri? Bahkan, dalam bagian-bagian terkecil di dalam tubuh kita ini.
Apakah orang-orang pernah berpikir, mengapa rumput berwarna hijau? Bagaimana ia mampu dan bisa mengelola sinar matahari dan udara dengan begitu rapi? Bagiku semua itu adalah misteri. Walaupun kita berusaha untuk mencoba menjangkau dan memecahkan misteri itu, akal kita tetap tidak akan mampu. Tapi yang anehnya, kita tetap saja hidup dalam misteri dan menimati kemisterian itu.
Bukan hanya itu, bahkan di balik do'a-do'a yang kita panjatkan setiap haripun terdapat misteri, kita akan merasakan damai dan menikmati hidup dengan do'a di dalam agama. Lalu pada akhirnya orangpun menikmati hidup dengan penuh misteri.
Aku pernah mendengar ungkapan, "Orang itu tidak di ciptakan untuk memahami hidup melainkan untuk menikmatinya." Tapi apakah memang cuma sebatas itu? Kata hatiku mulai berontak.
Sebenarnya kehidupan seperti apa yang kita cari jika ternyata kita tak mampu memaknai hidup, kita hidup seperti tak mempunyai tujuan. Lalu aku sadar, bahwa agama telah menjawab semuanya. Dengan agama hidup kita akan mempunyai tujuan. Kebahagiaan didapat karena kita percaya dan yakin bahwa agama mampu menjawab setiap misteri itu.
Setiap hari aku melihat banyak pembicaraan antara ilmu pengetahuan, agama, bahkan ilmu kalam. Tapi tetap saja cuma sebatas apa yang mampu kita jangkau dan ujung-ujungnya kita akan kembali lagi kepada agama yang kita yakini benar.
Aku mulai lebih percaya bahwa agamalah yang bisa membuat orang lemah menjadi kuat, orang yang bersedih menjadi bahagia. Kenapa demikian? Karena agama itu mampu memberikan kedamaian.
Ketika kita berdo'a. Maka do'a kita itu akan menjadi senjata yang paling ampuh untuk membuang penyakit-penyakit yang ada di dalam tubuh, termasuk penyakit hati. Dengan do'a, segala sesuatu yang beratpun akan menjadi ringan.
Sambil berkata-kata di dalam hati, aku berusaha menenangkan diri dan menganggap perbincangan antara keluarga Kak Linda dan Feli tadi bagai angin lalu, walaupun aku merasa sangat sakit hati.
Apa orang kaya selalu memperlakukan orang yang tidak punya dengan cara seperti itu? Lalu di mana arti keadilan yang sebenarnya? Semoga Feli tidak lemah dan tidak menjadi bagian dari pemikiran kotor seperti keluarga Kak Linda karena mereka harus diberi pelajaran.
Aku menggoyang-goyangkan kedua kakiku perlahan sambil duduk dengan santai. Aku ingin menikmati suasana tenang selepas ketegangan yang baru saja terjadi di dalam keluargaku.
Tiba-tiba seseorang tersungkur tepat di hadapanku, ternyata kakinya menyentuh kakiku yang bergerak secara tidak sengaja. Wanita itu tampak lelah, dengan segera aku langsung memegang kedua lengannya dan membantu ibu tersebut untuk berdiri.
"Ibu nggak papa?"
"Iya saya nggak papa, terima kasih. Saya hanya lelah."
"Aku menatap Ibu ini dengan tatapan yang tajam karena aku merasa, bahwa wajahnya tidak asing bagiku tapi aku lupa dimana aku pernah bertemu dengan beliau."
"Kamu bukannya anak yang malam itu datang menghampiri saya ya?" ucap Ibu tersebut sambil menyipitkan matanya untuk memastikan siapa yang ia lihat.
"Maksud ibu?"
"Bukannya kamu adalah gadis yang sudah menolong saya dan anak saya 2 malam yang lalu? Apa kamu tidak ingat waktu itu kamu datang menemui saya di dalam kamar perawatan putri saya dan kamu memberikan saya 4 angka untuk dibeli."
"Oh iya, saya baru ingat. Maaf Bu. "
"Jangan meminta maaf ...! Karena pertolongan kamu, anak saya selamat dan bisa dioperasi tepat pada waktunya. Seandainya tidak ada petunjuk dari kamu, pasti saya hanya tinggal seorang diri di dunia yang penuh kesakitan ini," ujar Ibu tersebut sambil meneteskan air mata, lalu berusaha untuk segera menghapusnya.
__ADS_1
Aku yang tidak mengerti apa-apa hanya terdiam dengan wajah yang bingung. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan aku bukanlah orang yang sudah menolong Ibu ini. Aku hanya menyampaikan pesan dan aku tidak tahu menahu tentang apapun.
Sebenarnya aku ingin menjelaskan tentang hal tersebut, tetapi ibu ini langsung menarik tangan kananku dan memintaku untuk ikut dengan dirinya. "Ayo ikut saya, Nak!"
"Ba-baiklah bu .... "
"Nama Saya Tias, Tias Asmah."
"Aku Sarah bu."
"Mari Sarah! "
Aku mengikuti langkah cepat Bu Tias untuk menuju ke ruangan pertama kali di mana aku datang untuk menyampaikan pesan dari seorang gadis misterius yang tiba-tiba muncul di belakang ku, kemudian secara misterius menghilang dari pandanganku dalam wujud asap putih tanpa bau.
Ceklek
"Silahkan masuk! " ucapnya setengah berbisik seolah tidak ingin mengganggu ketenangan pasien yang berada di dalam ruangan.
Aku ingat pertama kali aku masuk ruangan ini hanya ada 1 ranjang pasien yang terisi dan hari ini, aku melihat semua ranjang telah terisi penuh sehingga aku tidak tahu yang mana pasien yang merupakan anak dari Ibu Tias. Kemudian aku hanya mengikuti langkah kakinya.
"Kamu sudah bangun, Mega?"
Aku mendekati gadis kecil itu dan melihatnya dengan seksama. Dia ... bukannya gadis yang kemarin malam? Tapi malam itu rambutnya panjang dan memiliki tahi lalat di pipinya, sedangkan gadis satu ini tidak. Ucapku tanpa suara.
"Ini namanya Kak Sarah. Ayo disapa? "
"Hai Kak ... aku Mega."
"Mega baru saja menjalankan operasinya Sarah. Dia mengalami gagal ginjal, tapi alhamdulillah sudah mendapatkan pertolongan terbaik dan menurut dokter, Mega berhasil melewati masa kritisnya."
"Syukur alhamdulillah Bu .... "
"Itu semua berkat bantuan kamu Sarah."
"Maksud Ibu? "
"Tadinya saya sudah patah arah karena tidak mungkin melakukan operasi ini karena biaya menjadi kendalanya Sarah. Saya hanya pembantu rumah tangga sejak ditinggal pergi Ayahnya Mega. Sebenarnya saya ini hanya Ibu sambungnya Mega tapi saya menyayangi keduanya dan sudah menganggap mereka sebagai anak saya sendiri."
"Maksudnya Bu? Lalu dimana Ayah Mega? "
"Saat kehidupan kami semakin sulit, ditambah lagi dengan kondisi Mega yang sakit-sakitan, Ayah kandungnya Mega meninggalkan dia dan saya tanpa mengatakan apapun. Dia pergi dari rumah ketika kami semua sedang terlelap."
__ADS_1
"Lalu? "
"Hanya Mela yang menyadari kepergian Ayahnya. Tapi sayang, Ayahnya tidak tau kalau Mela mengikutinya hingga kecelakaan itu terjadi dan Mela tidak tertolong. Bahkan smpai saat ini, Ayahnya sama sekali tidak mengetahui bahwa Mela sudah tiada."
"Siapa Mela?" tanyaku dengan rasa penasaran yang tinggi.
"Mela adalah kembaran dari Mega. Wajah mereka sangat mirip tapi Mela memiliki tahi lalat di pipi kanannya dan ia berambut panjang yang lurus dan berwarna hitam pekat. "
"Apa? " Seketika air mataku menetes sembari mengingat kenangan 2 malam yang lalu. Kenangan di mana gadis cilik berambut panjang hitam pekat dan memiliki tahi lalat di pipi kanannya menghampiriku dan menitipkan sebuah pesan demi menyelamatkan saudaranya.
Aku menarik air hidung sambil menahan rasa sakit di batang hidungku yang tiba-tiba muncul karena melihat keadaan yang tengah aku lihat saat ini. Ternyata semua orang memiliki cerita, semua orang memiliki kisah, dan semua orang pernah berjalan dalam terowongan misteri. Baik itu misteri yang bersifat kongkrit maupun misteri yang abstrak.
"Sarah, saya tidak tau apa yang akan terjadi pada Mega dan diri saya jika kamu tidak datang untuk membantu kami malam itu. Mungkin saya akan menjadi gila karena kehilangan Mega yang selama ini sudah mengisi kehidupan saya yang sepi."
"Meli .... "
"Iya ... belum lama kejadiannya. Baru sekitar 3 bulan yang lalu dan itu membuat hati saya sangat terluka. Kamu bisa bayangkan, bagaimana perasaan saya jika saat ini saya harus kehilangan Mega. Saya telah kehilangan suami, saya telah kehilangan Meli, dan saya hampir kehilangan Mega," ujar Bu Tias sambil menarik air hidungnya dan menghapus air matanya.
"Ibu .... " ucap Mega dengan suara yang lirih dan mata yang berkaca-kaca.
Ibu Tias duduk di atas ranjang Mega dan membelai lembut rambut hitamnya yang cantik. "Saya sudah mengikhlaskan kehidupan saya yang dipermainkan oleh Ayahnya Mega dan Meli. Tapi saya rasanya tidak sanggup jika harus kehilangan segalanya dalam waktu yang berdekatan, karena saya terlanjur menyayangi dan mencintai anak-anak ini sepenuh hati saya. Jadi sekali lagi, saya katakan terima kasih banyak kepada kamu Sarah karena sudah menolong Mega dan saya."
"Aku tidak mengerti apa maksud Ibu? Aku hanya menyampaikan pesan."
"Pesan? " tanya Bu Tias dengan heran dan aku memutuskan untuk duduk tidak jauh dari ranjang Mega.
"Aku juga tidak tau apa arti pesan itu Bu."
"Itu adalah 4 angka keberuntungan bagi sebagian orang, tapi bagi orang lain mungkin itu adalah angka haram. Itu angka lotre (togel) dan malam itu, saya memenangkannya. Uang dari lotre itu saya gunakan untuk biaya operasi Mega pagi ini."
Aku terdiam dan terpaku mendengar perkataan dari Bu Tias. Aku semakin bingung dan tidak mengerti tentang kehidupan. Yang aku tahu saat ini, selama kasih sayang masih ada di dalam sebuah hubungan. Maka pengorbanan akan selalu tumbuh berkembang, dan mengalir, bagi mereka yang hidup maupun yang sudah mati.
Mereka akan selalu berjuang dan membantu orang-orang yang mereka sayangi sekuat tenaganya. Meskipun mereka harus hancur menjadi asap maupun debu.
Kak Tania, Meli seperti kamu dan itu membuat aku mengerti akan setiap ucapanmu kepadaku saat itu. Tania, aku sangat meridukamu dan ingin sekali memelukmu. Ucapku di dalam hati dengan bulir-bulir air mata yang menetes.
Bersambung....
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘
__ADS_1