ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
PELUKAN YANG MENCENGKRAM


__ADS_3

Aku masih mengobrol dengan ayah dan ibu, tapi aku merasa ada yang memanggilku. tidak, mungkin aku hanya lelah. fokus ku untuk mengobrol mulai hilang begitu juga dengan seleraku.


Entah mengapa, mungkin hanya perasaanku saja, malam ini udara terasa lebih dingin hingga menusuk ke tulang-tulang ku. aku tidak lagi ingin berkumpul dan mengobrol, aku hanya ingin berbaring di ranjang ku sambil menarik selimut tebal di atasnya.


Ayah ibu aku ingin ke kamar lebih dulu ya, aku ingin tidur lebih cepat malam ini, rasanya dingin sekali dan badanku lemas, sepertinya aku akan demam. Kemudian aku pun pergi ke kamar seperti yang aku inginkan.


Aku memejamkan mataku, semoga tidak ada yang menggangguku malam ini, aku lelah sekali. Rasa ngantuk mulai menguasaiku, aku pun terperangkap dalam nyamannya kasur dan bantal ku yang biasanya terasa biasa-biasa saja, aneh bukan?


"Eeeemmh." geliat ku


Gelap sekali, aku berusaha membuka mataku lebar-lebar sembari menggosok-goaoknya. Apa sedang mati lampu? Kemudian aku merasakan sesuatu menyentuh kedua kaki ku. Hatiku mulai tersentak dan berkata, siapa? Jarinya terasa dingin dan panjang.


Aku sedang berusaha menatap sekitar ku dalam gelap, aku sangat merasa takut. Kali ini aku berancang-ancang untuk lari, menunggu waktu yang tepat sebelum jari-jari tersebut menyentuh dan menguasai leherku, serta mencari arah yang benar.


"Sarah, sarah ...." Terdengar suara Ayah memanggilku dari luar.


"Ayaaah ...." Teriak ku sambil berlari menuju sumber suara Ayah.


"Sarah, sarah ...." Suara ayah terus terdengar dan aku terus mengikuti suara Ayah. Tapi semakin aku berlari mengejar suara tersebut, suara itu semakin jauh, namun aku terus mengejarnya tanpa berfikir bisa saja suara itu bukan suara Ayah ku.


Bingung karena tidak juga dapat menemukan ayah, aku kembali berteriak memanggil ayahku. "Ayah, ayah, ayah, ayaaaah .... "


Semakin jauh aku melangkah, kedua kakiku semakin terasa berat, namun suasana yang gelap berangsur-angsur semakin menjadi terang, yang aku lihat semakin banyak cahaya di sekitarku.


" Sarah, sarah, Sarah. "

__ADS_1


" Ayahh, ayah, ayah." sahutku.


" Sarah, sarah, sarah, sarah ...."


"Ayah, jangan membuat aku takut Ayah." ucapku sambil terus mengikuti arah suara Ayah.


Langkah kaki ku melambat, aku menyadari sesuatu, jejaknya menuju gudang tua. Apa yang ayah lakukan di sana? Tapi aku terus mengejarnya. Cahayanya semakin terang seolah lampu tidak lagi padam.


Rasa takut bercampur hawatir, ingin tau apa yang sedang ayah lakukan di dekat gudang tua. Sekarang aku tepat di depan pintu arah kiri gudang tua dan arah kanan sumur itu, sumur di mana si mbok di temukan.


Setibanya di tempat ini, tiba-tiba suara Ayah yang saling bersahutan dengan suaraku menghilang. Merasa takut, air mataku mulai menetes, dadaku mulai sesak dengan nafas yang tidak beraturan, aku mulai gelisah.


"Ayah, ayah, ayah, ayahhhhh ...." ujarku berusaha kembali memanggil Ayah namun belum ada jawaban.


Saat suasana terasa hening, aku mendengarkan suara-suara yang memanggil-manggil namaku tapi aku yakin suara itu bukanlah suara Ayah ku.


"Itu bukan suara Ayah ...." ucapku dengan suara pelan. Aku tidak salah lagi, itu memang bukan suara Ayah. Ujarku di dalam hati.


"Saaraah, saraaaah .... " Suara tersebut mulai jelas dan seolah memaksaku untuk melihat ke arahnya. Pendengaranku mengarahkan aku agar melihat ke sisi kanan dimana aku berdiri, tepatnya arah sumur itu.


Di sana aku melihat si Mbok sedang berdiri di tepi sumur. Aku sangat terkejut tapi mataku tidak bisa berkedip-kedip seakan-akan ada yang memeganginya, seakan-akan ada jari yang membuka kedua mataku lebar-lebar dan tubuhku juga tidak dapat aku gerakkan.


Tiba-tiba aku melihat dengan jelas, seperti menonton acara televisi,di sana si mbok sedang berdiri di tepi sumur seperti sedang melihat atau mencari sesuatu ke arah dalam sumur.


Kemudian dari arah belakang ada tangan yang mendorong si mbok, dengan reflek aku teriak. "Jangaaaan!" Seakan aku ada di sana melihat kejadian itu dengan mata kepala ku sendiri, tapi mata ku hanya tertuju pada tubuh si Mbok sehingga aku tidak tau, siapa yang telah mendorong tubuh si Mbok sehingga jatuh ke dalam sumur

__ADS_1


Aku terduduk lemas, aku menyadari satu hal. Aku yakin 100% si Mbok di bunuh, apa yang terjadi pada si Mbok bukanlah sebuah kecelakaan melainkan si Mbok di bunuh, ada seseorang yang sengaja menyakiti si Mbok. Tapi kenapa? Apa salah si mbok? Aku kembali menangis jika memikirkan hal tersebut.


Tidak tahan dengan apa yang baru saja aku lihat, aku berlari ke kamarku sambil menangis, aku tidak kuasa menahan rasa sedihku, rasa marahku.


Aku tidak tau, pada siapa harus aku meluapkannya? Karena siapapun bisa jadi pembunuh si mbok. Si mbok ingin menunjukkannya padaku, lalu kepada siapa aku bisa mengadu? Pada siapa aku bisa bercerita? Aku larut dalam kesedihan dan kebingunganku sendiri.


Tidak tau apa yang aku rasakan, Aku membaringkan tubuhku di atas ranjang, sambil menatap lampu di sebelah ranjang ku. Air mataku tidak bisa berhenti, aku mual, aku pusing, aku bingung, aku takut, aku tidak tau lagi apa yang aku rasakan.


Tanpa aku sadari, mulutku bergetar dan bergerak sendiri sambil memanggil-manggil si Mbok. "Mboook, mboook, si mboook ...." ucapku dengan air mata yang terus mengalir.


Tiba-tiba dari luar kamar ku terdengar suara ketukan pintu. Tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok. Suara ketukan yang sangat cepat dan kuat sepertinya seseorang ingin masuk dan ingin membunuhku.


Aku takut, sangat takut tapi aku ingin membukanya aku harus tau siapa yang terlihat begitu kejam dari suara yang terdengar dari dalam kamar ini.


Aku mengumpulkan semua kekuatan dan keberanian ku. Aku berusaha untuk berdiri tapi sepertinya seseorang atau sesuatu tidak mengizinkannya. Seluruh tubuhku terasa berat, mulai dari kepala, leher, dada, tangan, sampai kaki ku. Semua terasa berat, aku tidak tau apa dan kenapa, tapi semua terasa berat seperti ada seseorang yang menghimpitku.


Aku merusaha meluruskan kepalaku untuk mengetahui apa yang terjadi pada tubuhku. tapi aku tidak bisa, semua sangat berat. Di sisi lain, batin ku terus memanggil-manggil si Mbok. "Aku sangat ketakutan Mbok, Mbok, si Mbok di mana? Aku sangat ketakutan mbok."


Aku melirik kan mataku agar bisa melihat sesuatu di atas tubuhku yang menghimpit ku sehingga aku tidak bisa bergerak. Samar-


samar aku bisa melihatnya, rasa takut ku semakin parah hingga mataku melotot dan mulut ku tidak bisa mengeluarkan suara apapun. Aku hanya bisa terdiam dan bertahan dalam ketakutan ku.



Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘


__ADS_2