
Ternyata begini rasanya menjalani hari dengan begitu ringan dan perasaan yang membuncah. Semua soal ulangan harian yang dikeluhkan teman-temanku, menjadi mudah untukku. Padahal semalam aku tidak banyak belajar karena justru terus terbayang Biru. Aku nyaris gila sepertinya.
Bel pulang sekolah sudah berdering sejak tadi.
Tetapi teman-temanku masih lengkap dan mengerjakan ulangan. “Ayo cepat kumpulkan sekarang juga. Dalam hitungan ketiga kalau belum juga mengumpulkan, ibu anggap kalian tidak mengerjakan.”
Ancaman berat.
Mendengar itu semuanya menjadi panik dan terburu-buru. Di sebelahku, Kartika masih fokus menulis sesuatu dalam lembar jawabannya. “Bumi, sudah selesai?” tanyanya sambil menyiapkan lembar jawaban untuk dikumpulkan.
“Sudah. Ayo kumpulin,” ajakku.
Ia mengangguk. Kami langsung maju ke meja guru untuk mengumpulkannya. Hitungan sudah berakhir. Ternyata itu tak hanya ancaman belaka karena guru itu benar-benar pergi setelah hitungan ketiga membuat beberapa orang berlari mengejarnya.
Suasana kelas menjadi riuh.
“Bumi, gimana cara ngerjain yang nomer tiga tadi?” tanya Kartika.
Aku mengingat-ingat soal yang ada kemudian membuka buku paket miliknya. “Ini, rumusnya ada disini kok. Cuma di bolak-balik aja,” jelasku sambil menunjuk salah satu rumus.
Kartika menyimaknya sambil mengangguk-angguk. “Aku tadi coba gitu sih. Hasil akhirmu berapa?”
“476 km.”
“Lontaran terjauh kan?”
Aku mengangguk. Kartika berseru dan mengatakan bahwa jawaban miliknya salah. Padahal rumus yang dipakainya sudah benar.
Ternyata selama beberapa hari kami menjadi teman sebangku, Kartika tidak sependiam yang ku kira. Ia sangat rajin. Sayang sekali ia tertinggal di beberapa materi karena harus absen. Jika tidak aku bisa jamin bahwa namanya akan berada di 10 besar.
“Emm permisi, Bumi ada?”
Kelasku menjadi hening. Aku menoleh dan menemukan Adit disana. “Oh ada,” jawab Faris beberapa saat kemudian.
Aku menoleh, ia memberikan isyarat agar aku segera keluar. Cepat-cepat aku mengemasi buku-bukuku ke dalam ransel. “Tika, kamu dijemput kan? Aku duluan gak apa-apa ya,” pamitku kepadanya.
“Iya, papa sudah di depan,” jawabnya membuatku lega.
Aku mengangguk dan langsung berjalan untuk keluar dari kelas. Namun Tania menahanku.
“Sekarang capernya sama anak IPS?” sindirnya.
“Aku gak caper,” jawabku mencoba membela diri.
“Terus apa dong namanya?”
Aku mencoba mengabaikannya dan langsung melewatinya begitu saja.
__ADS_1
“Kenapa, Dit?” tanyaku.
“Ayo pulang.” Aku melongo mendengar itu. Kami bahkan tak pernah bicara kecuali saat berkenalan di kantin.
Melihatku kebingungan, Adit terkekeh. “Bukan aku kok, itu loh.”
Adit menatap ke arah belakang. dapat kulihat Biru di tengah teman-temannya. Mereka duduk di atas pembatas tangga sambil bercengkrama.
Biru sedang menyenderkan tubuhnya ke tembok, kedua tangannya di masukkan ke dalam saku celana dengan seragamnya yang keluar dan sedikit kotor. Padahal ini baru hari Senin. Tatapan kami bertemu. Biru langsung beranjak dan menghampiriku.
“Ayo pulang bareng,” ucapnya.
Aku mengangguk dengan kaku sambil mengamati teman-temannya yang menurutku menyeramkan. Mereka terlihat seperti berandalan. “Sama temen-temenku juga gak apa-apa kan? Kami selalu pulang bareng soalnya,” jelas Biru meminta izin padaku.
“Iya gak apa-apa kok.”
Seorang pria yang memakai topi langsung menghampiriku. “Hei, kamu Bumi? Ternyata kamu cantik juga ya. Aku Alan, teman Biru,” ucapnya memperkenalkan diri.
“Emm iya, aku Bumi,” jawabku dengan cannggung. Aku benar-benar payah dalam bersosialisasi. Mereka lumayan banyak, mungkin sekitar 8 orang. Ada beberapa yang membawa pacarnya juga.
Sepanjang jalan menuju tempat parkir, mereka benar-benar bersikap ramah padaku. Bahkan ada satu orang yang membawa gitarnya kemanapun. Sepanjang perjalanan ia menyanyikan lagu dengan sumbang dan petikan yang mengiringinya.
Aku bisa merasakan bahwa keberadaan kami benar-benar mencuri perhatian.
Kami sampai di tempat parkir. Teman-teman Biru mengendarai motor tinggi seperti milik abang.
“Iya.”
“Tumben banget. Ijo kemana?”
“Ketinggian. Kasian Bumi kalau naik si Ijo,”
jawabnya membuat wajahku langsung memerah.
Alan terbahak dan langsung mengejeknya. “Liat deh bro, panglima kita pakek motor bebek,” ucapnya memberi tahu teman-temannya.
Mereka langsung mengejek Biru. Namun sang empunya hanya ikut tertawa saja. Sepertinya pertemanan pria memang begini. Mereka tidak terlalu memasukkan hati kata-kata seperti itu.
“Pakek dulu ya helmnya,” ucapnya lalu memasangkan helm pink itu kepadaku seperti biasanya.
“Biru, kamu gak apa-apaa bawa motormu satu lagi aja. Gak usah pikirin aku,” cicitku.
Ia menyamakan tingginya denganku, sedikit menunduk. “Hei, aku lebih mau bikin kamu nyaman daripada cuma gaya-gayaan aja.”
Kalimat itu terdengar begitu lembut. Aku menatap matanya mencoba mencari kebohongan disana. Namun mata Biru benar-benar hanya memancarkan ketulusan. “Makasih,” ucapku akhirnya.
Ia mengangguk dan tersenyum.
__ADS_1
Kami bersama-sama menuju taman kota. Biru bilang bahwa mereka melakukan ini selama seminggu sekali. Tujuannya hanya untuk saling mengobrol dan memperakrab pertemanan.
“Kamu beneran gak ada jadwal les kan hari ini?” tanyanya lagi.
Aku mengangguk. Biru mengajakku untuk menyusul teman-temannya yang sudah duduk di tengah hamparan lumput beralaskan tikar yang entah mereka bawa darimana.
Kami duduk melingkar dengan sangat rapi. Kupikir kami akan melakukan pembicaraan yang serius. Namun ternyata benar-benar berbeda dengan dugaanku. Mereka hanya berbincang selayaknya antar teman saja. Tak lupa dengan rokok dan kopi yang tersedia disana.
“Aku ngerokok boleh?” tanya Biru.
“Boleh.”
“Oke, tunggu disini ya bentar. Aku habisin satu doang,” ucapnya meminta izin. Aku langsung mengizinkannya.
Kulihat Biru yang sedikit menjauh dan bergabung dengan Alan.
“Bumi, aku tadi lihat Tania yang ngusik kamu,” ucap Adit yang kini duduk lebih dekat denganku. “kalau dia ngelakuin hal yang parah, bilang aja.
Kami temenmu sekarang.”
Entah mengapa ada perasaan terharu saat mendengar itu. “Iya, Adit. Makasih ya,” ucapku.
Ia tersenyum dan mengangguk. “Ras, temenin Bumi,” ucap Adit kepada perempuan yang sedang mengobrol itu.
Perempuan itu hanya menatapku sekilas kemudian langsung memalingkan wajaah seolah sama sekali tidak memiliki ketertarikan terhadapku
“Bumi, sini gabung.”
Ini diluar dugaan karena perempuan itu langsung mengajakku. Padahal aku yakin arti dari tatapan matanya itu menyiratkan ketidaksukaan kepadaku. Aku akhirnya bangkit dari dudukku dan berpindah untuk mendekatinya.
“Aku Laras, ini Nana.” Ia memperkenalkan teman mengobrolnya.
“Emm halo salam kenal, aku Bumi,” ucapku memperkenalkan diri meskipun ia sudah tahu namaku.
Perempuan itu mengangguk.
“Bumi, kamu anak IPA kan?” tanya Nana.
“Iya.”
“Kalau gak salah kamu yang sering ikut olimpiade?”
“Iya, itu aku.” Aku tak menyangka bahwa ia mengenalku.
“Wow hebat banget. Aku gak paham deh kenapa Biru sekarang sukanya cewek kayak kamu.” Oke kali ini aku sudah tahu kemana arah pembicaraan ini.
“Yah, entahlah. Semoga aja kamu gak dibuang gitu aja kayak mantan dia sebelum-sebelumnya.”
__ADS_1
Aku hanya tersenyum kecut.