
Hal seperti ini adalah sesuatu yang lumayan membuat trauma. Memilih kelompok sendiri. Aku tak tahu kenapa beberapa guru sangat suka membuat kelompok dengan membebaskan siswanya memilih anggotanya sendiri. Mungkin tujuannya agar guru itu tak perlu pusing-pusing memilihkan lagi. Intinya dengan niat mempermudah. Tetapi tak semua orang beruntung. Yang namanya keadilan dalam memilih kelompok sendiri, itu nyaris tidak ada. Akan selalu ada kelompok dengan siswa-siswa pintar saja, ada pula kelompok buangan. Seperti aku yang biasanya. Sendirian dan mau tak mau menampung orang-orang yang dianggap buangan juga karena kebanyakan dari mereka merupakan siswa-siswa yang tidak rajin dan bermasalah. Sehingga membuatku harus mengerjakan tugas kelompok itu sendirian.
Dan untuk yang pertama di kelas 11 akhirnya hal seperti itu akan terulang lagi. Aku sudah melapangkan hati. Tetapi kali ini tak seperti kubayangkan karena Fanny langsung membentuk kelompok denganku dan Kartika. Kami berdua tidak lagi terombang-ambing karena kekurangan anggota lagi. Tapi masih kurang 2 orang.
Suara buku yang diletakkan di atas mejaku membuatku menoleh. Kulihat Bima dan Razafa yang menghampiri kami sambil menarik bangku dan memposisikan dengan benar agar lebih leluasa saat mengerjakan tugas..
"Bumi, kok bengong?"
Aku tersentak saat Kartika memanggilku. Mereka semua tampak menatapku penuh tanya.
"Iya kenapa?" tanyaku.
"Ini kita mau bagi materi. Kamu kebagian subbab 3, mau gak?" Kartika mengulang pembahasan itu.
Aku langsung melihat buku paket dan mengangguk setelah membaca judul subbab itu.
"Oke ayo kita ngerangkum masing-masing bagian," ucap Fanny.
Kuambil buku tulisku dan langsung merangkum materi yang sudah kupelajari sebelumnya sehingga lebih mempermudah kali ini.
Guru sudah keluar dari kelas dan menyerahkan sepenuhnya kepada kami untuk tugas kelompok itu. Kelas menjadi riuh. Sebagian besar memilih mengerjakan di luar kelas karena siang ini kelas terasa gerah meskipun dua kipas angin besar di dinding sudah di hidupkan sejak pagi tadi.
"Yuk ngerjain diluar juga," usul Fanny.
Semuanya pun setuju. Kami memilih taman kecil di sebelah perpustakaan untuk mengerjakan. Di tempat ini teduh karena adanya pohon yang besar yang daun-daunnya menaungi tempat ini.
Aku duduk di sebelah Kartika yang tampak serius. Sedangkan Fanny dan Rafaza tampak sedikit menjauh. Yah, mereka juga perlu waktu untuk berduaan. Kami memaklumi itu.
Bima tiba-tiba duduk di sebelahku. Ia memberikan krim mata berukuran kecil. "Buat apa?" tanyaku. Ia selalu saja aneh. Tiba-tiba baik, tiba-tiba menyebalkan.
"Kamu pasti kecapekan. Ngerjain proyek tiap hari, masih kursus, persiapan olimpiade," jawabnya.
__ADS_1
"Aku gak capek." Lebih tepatnya, aku sudah terbiasa dengan kesibukan seperti itu karena sejak kecil ayah selalu menekan agar aku belajar.
"Kantung mata gak akan pernah bohong. Tadi juga kamu malah ngelamun. Ngelamun itu salah satu indikasi stress loh," ucapnya. Aku tidak tahu apakah perkataannya itu benar atau hanya karangannya semata.
"Terus kenapa ngasih?" Aku masih sangsi.
Bima menghela napas kasar. Ia meraih tanganku dan membuat telapak tanganku menghadap atas agar ia bisa meletakkan krim mata itu disana.
"Bawel amat. Apa susahnya tinggal ambil."
"Ya, lagian kamu gak jelas. Baru juga tadi kamu bikin aku nangis gara-gara kamu sembunyiin ponselku. Ini tiba-tiba ngasih krim mata," seruku. Aku kesal sekali kepadanya. Bima membuat moodku seperti roolercoaster dan aku tidak menyukai itu.
"Bumi, pakek aja." Bima berdiri. "Aku ke kantin dulu."
Ia langsung berlalu seperti sebelum-sebelumnya. "Bumi, kasian loh Bima," ucap Kartika. Tampaknya sejak tadi ia hanya diam mengamati kami.
Aku mengangkat bahu. "Salah sendiri. Aku gak suka banget sama Bima yang semena-mena. Dia kira lucu apa ngisengin orang terus. Aku udah banyak beban pikiran dia tambah-tambah," aku melupakan semua kepada Kartika.
Setelah tugas kami selesai dikumpulkan. Kami langsung kembali ke kelas. Kelas sudah kosong melompong. Semua sudah pulang sejak tadi. Hanya kelompok kami yang terlalu perfeksionis sehingga membutuhkan waktu lebih lama dari yang lain untuk menyelesaikan rangkuman.
Saat kembali ke kelas, aku bingung karena ranselku hilang. Aku panik bukan main karena disana terdapat dompetku yang isinya fotoku San Biru saat pertama kali kami dating.
Fanny dna Kartika membantuku mencari kemnaa-mana.
"Ku tanyakn grup kelas ya?" Tawar Fanny.
Aku menggeleng. Tentu saja sudah tahu pelakunya. Aku menghampiri Bima dan menepuk mejanya dengan keras. "Mana ranselku," serangku langsung.
"Menurutmu dimana?" Ia malah mengajukan pertanyaan yang mengundang amarahku.
"Cepet balikin. Aku mau pulang!" Aku sangat lelah sekarang dan ingin segera beristirahat sebelum kursus di jam 4 nanti. Tapi Bima benar-benar membuang waktuku.
__ADS_1
"Itu di samping bangkumu," jawabnya.
Aku langsung kembali ke bangkuku dan melihat keluar jendela. Dan benar saja, ranselku ada disana. Di atas pohon yang cukup tinggi menurutku.
Oh perutku juga sedang sakit karena datang bulan. Aku sudah benar-benar kesal. "Ambil!" Seruku. "Kalau diambil orang gimana hah? Disitu ada ponsel, ada dompet." Aku membentaknya dengan keras sambil menangis.
Bima tampak kaget dengan ekspresi ku.
"Ambil, Bim!" Seruku lagi. Aku sudah marah padanya.
Fanny mengelus-elus bahuku. "Bim, Ambil gih. Keterlaluan kamu," ucapnya.
Bima menggangguk dan langsung keluar dari kelas. Tak lama ia sudah kembali dengan ranselku.
"Maaf ya."
Aku masih sibuk menghapus air mataku.
"Udah lah, Bim. Berenti gangguin Bumi, kata orang benci nanti cinta loh," seru Rafaza menggoda.
"Tuh denger, Bim. Kalau suka tuh bilang dong, jangan malah gangguin terus. Kasian Bumi," ucap Fanny yang mulai menimpali.
Sudah kubilang bahwa pemikiran mereka memang aneh. Bima hanya suka menggangguku, bukannya suka dalam artian lain.
"Oke kalau gitu," seru Bima dengan tegas.
Bima menghela napas. Ia duduk bersimpuh di hadapanku yang masih menunduk. Ia meraih tanganku yang sibuk menghapus air mata. Ia genggam dengan sangat lembut. "Bumi, aku suka kamu. Bukan suka seperti yang kamu pikirin. Tapi aku suka kamu, as lover," ucapnya.
"Emm ayo kita keluar. Kasih ruang buat mereka," Kartika menyeret Fanny dan Rafaza keluar.
"Kalian mau kemana?" Aku panik dan hendak mengejar mereka namun ditahan oleh Bima.
__ADS_1
"Jangan kabur. Aku belum selesai."