
Pukul 7 malam aku benar-benar baru bisa pulang dari rumah Biru karena bunda benar-benar menjamuku dengan luar biasa. Bahkan aku saampai merasa tak enak hati sendirian. Ayah Biru juga sangat menerimaku. Sayangnya saat itu kakak perempuan Biru belum pulang sehingga aku belum sempat mengenalnya.
“Masuk gih,” ucap Biru setelah membantuku melepas helm.
Aku menggeleng. “Masih mau lihat kamu,” ucapku dengan manja.
Biru terkekeh kemudian mengelus puncak kepalaku. “Udah malem,” ucapnya.
“Bentar. Aku mau ambil sesuatu.”
Buru-buru aku membuka pagar kemudian langsung menuju kamarku. Kuambil satu paperbag bergambar roket. Aku membuka rak lemari yang menyimpan semua koleksi bukuku. Untung saja semuanya masih tertata rapi disana.
Aku meraih buku-buku ensiklopedia dengan tema luar angkasa. Meskipun buku ini sudah kumiliki sejak lama, akan tetapi aku hanya membacanya sekali kemudian meletakkan buku-buku itu dengan sampul plastic sehingga membuatnya terlihat seperti baru.
Lalu aku teringat beberapa haari yang lalu aku baru saja membeli lampu tidur berbentuk bintang. Lampu itu masih tersimpan rapi di dalam box. Aku juga langsung memasukkannya.
Setelahnya aku buru-buru menuju dapur. “Loh adek udah pulang?” tanya ibu.
“Udah. Bu, brownisnya yang masih sisa berapa kotak?” tanyaku. Pagi tadi ibu membelikanku beberapa kotak brownis yang hanya satu kotak saja termakan dan sisanya masih tersimpan rapi.
“Itu ada disana,” ibu langsung mengambilkannya.
“Boleh gak kalau buat Biru aja? Tadi aku diajak ke rumah Biru, keluarganya baik banget. Aku bahkan diajak makan malam,” ucapku menceritakan secara singkat kepada ibu.
“Oh ya? Bagus dong. Kalau gitu tambah kue-kue lain sekalian.”
Ibu mengambilkan yang lannya dan memasukkannya pada paperbag lainnya yang berukuran lebih besar.
Ini mungkin memang tak seberapa dengan perlakuan keluarga Biru yang begitu baik padaku. Tetapi kuharap Yasmin akan senang saat menerima ini.
Aku kembali ke depan untuk menemui Biru.
“Ini buat Yasmin,” aku memberikan dua paperbag yang berukuran berbeda itu.
“Apa ini?” tanyanya dengan bingung.
“Buat Yasmin. Itu buku-bukuku, tapi masih bagus kok. Nanti lain kali aku beliin yang baru,” ucapku menjelaskan.
“Bumi, gak perlu repot-repot.”
__ADS_1
Wajahnya terlihat serius. Namun ku balas dengan senyuman.
“Gak repot, Biru. Anggap aja ucapan terimakasih buat keluargamu yang udah nerima aku,” ucapku dengan sungguh-sungguh. “Makasih ya buat hari ini. Aku seneng banget.”
“Iya sama-sama. Maaf aku belum bisa ngasih kamu hadiah-hadiah yang bagus.”
“Semua yang kamu kasih udah lebih dari cukup.”
Aku menatap matanya dengan sungguh-sungguh.
“Lain kali gak usah sering beli-beliin aku. Apalagi yang mahal-mahal, ya?” ucapku sambil mengingat makanan yang sempat ia berikan padaku saat itu. harganya sangat lumayan untuk anak sekolah. Aku tak tahu berapa lama Biru mengumpulkan uang hanya untuk menyenangkanku. Aku tak ingin menjadi beban untuknya.
Namun saat mata kami kembali bertemu. Biru tak menunjukkan ekspresi apa-apa. “Memangnya kenapa? Kamu kasihan sama aku? Aku gak suka dikasihani. Itu sih sebabnya aku nyembunyiin keluargaku dari temen-temen. Kalau gak dijauhin ya dikasihani,” ucapnya sambil terkekeh dengan sinis.
“Aku gak maksud gitu,” cicitku.
Sepertinya ucapanku memang salah.
“Terus gimana?”
Aku terdiam mencoba berpikir kata-kata yang tidak menyinggungnya. “Kan mending ditabung aja. Beli barang-barang yang kamu suka. Kamu juga perlu menyenengin dirimu sendiri,” ucapku.
“Jadi menurutmu aku gak mampu beli barang yang kusuka kalau tabunganku kupakek buat hadiahin kamu?”
Aku menggeleng dengan cepat. Air mataku sudah nyaris berlinang.
“Jangan. Tolong terima. Itu dari ibu,” ucapku memberikan alasan.
Biru akhirnya menghela napas.
“Bumi, cowok itu gak suka dikasihani apalagi sama orang yang dia suka. Kami bakalan selalu mikir gimana caranya buat bikin orang yang kami suka bahagia, meskipun harus kerja keras atau lain sebagainya.
Jadi tolong setidaknya hargai aja apa yang udah aku korbanin buat kamu.
Aku mau tenangin pikiran dulu.” Ia mulai memundurkan motornya berniat untuk segera pergi. “sampai jumpa di sekolah kalau waktu skors ku sudah habis. Cepet masuk. Nanti kedinginan. Aku pamit.”
Biru pergi begitu saja dari hadapanku. Meskipun ia sudah berpamitan, namun sebelum kami berpisah ia selalu akan mengelus puncak kepalaku sambil tersenyum. Namun sekarang ia sama sekali tak melakukannya.
Sepertinya Biru benar-benar marah padaku.
__ADS_1
Aku masuk ke rumah dengan gontai. Padahal kami baru saja berbaikan, namun sekarang sudah ada masalah kembali. aku snagat rindu hubungan kami di awal yang semuanya hanya berisi hal manis saja.
“Dek, bengong aja.” Abang melempariku dengan bantal yang membuatku langsung kesal dan memukulnya dengan bantal itu.
“Kenapa sih sensi banget,” serunya.
Ibu dan ayah sudah bosan sepertinya dengan kami yang selalu bertengkar.
“Gak usah ngeselin!” ucapku sambil duduk di sebelahnya.
Abang meletakkan stik psnya lalu menatapku dengan bingung. “Berantem lagi sama blue?”
“Apa sih sok inggris.”
“Loh kan Biru itu blue.”
Dia benar-benar tidak jelas. Aku tetap mendiaminya.
“Kenapa? Mau cerita? Ayo cepet kalau mau cerita. Abang sudah ngantuk,” ucapnya sambil menguap. Padahal ini masih pukul 8 malam.
Akhirnya aku menceritakan semua kepadanya. Tentang keluarga Biru dan apa yang kami perdebatkan di luar tadi. Abang menyimak dengan serius.
“Hmm, kalau abang jadi Biru mungkin akan sama,” komentarnya.
“Tapi aku gak maksud gitu, Bang. Aku cuma gak tega sama dia. Aku mau dia nikmatin masa mudanya, tanpa mikirin kerjaan. Aku gak mau jadi beban buat Biru. Sudah cukup selama ini aku bikin Biru terlibat masalah-masalah, sekarang aku cuma mau Biru hemat. Mending dia beli apa kek, rokok kek buat dirinya sendiri daripada beliin aku,” ucapku melampiaskan semua perasaan yang sedang kupikirkan dengan begitu hebatnya.
“Dek, Biru kerja kan gak cuma buat kamu. Tapi buat keluarganya juga. Jadi menurutmu kalau kamu gak mau dia kasih-kasih kamu hadiah Biru akan berhenti kerja gitu?”
Aku tak mampu menjawab. “Seenggaknya kan ditabung, bang.”
“Yah, cowok itu selalu punya cara tersendiri buat ngetreat cewenya. Dan rata-rata suka kasih hadiah. Kami selalu ikut seneng kalau cewek kami nerima hadiah itu dengan muka bahagia. Rasa capek kerja pasti langsung ilang gitu aja.
Jadi jangan coba hentikan Biru. Sudah lah terima aja semua yang dia kasih. Dia cuma mau bahagiain kamu. Abang tahu maksudmu juga baik, tapi daripada nyuruh dia berenti kenapa gak kamu bales hal lain aja. Kayak tadi katamu, kamu kasih adeknya buku-buku kan? Nah itu feed back dari kamu. Kalau kayak gitu adil kan? Yang kamu mau gak ngerugiin satu pihak kan? Ya sudah.”
Ternyata punya abang memaang cukup berguna karena setidaknya aku menjadi dapat pandangan darinya.
“Tapi Biru udah terlanjur marah. Kayaknya dia ngejauh dulu,” cicitku.
“Ya sudah. Kasih dia waktu sendirian. Biru pasti juga lagi intropeksi diri. Kamu pun juga harus gitu. Yang terpenting intinya komunikasi.”
__ADS_1
“Abang, makasih ya.” Aku kembali berkaca-kaca memandangnya.
“Apa sih sok imut!” abang kembali melemparku dengan bantal sofa.