Romansa Bumi Dan Biru

Romansa Bumi Dan Biru
BAGIAN 38 – Saat Waktu Terus Berlalu


__ADS_3

Dua bulan sejak menempati kelas 11. Rasanya campur aduk. Aku merasa jauh lebih sibuk karena semakin banyak tugas yang diberikan oleh guru. Selain itu aku juga kembali aktif mengikuti olimpiade. Menaang dan kalah urusan belakang.


Aku hanya ingin menyibukkan diri agar bisa mengurangi kesedihanku tiap kali memikirkan tentang Biru. Ya, pria itu masih belum bisa kulupakan sepenuhnya. Terkadang aku mengingat masa-masa indah yang pernah kami lalui bersama-sama. Itu sangat menyenangkan. tiap kali memikirkan Biru, aku masih menangis.


Suasana di kelas terasa sangat ramai hari ini karena semua guru sedang rapat. Bima seperti biasa sedang bersikap usil padaku. Entahlah selalu ada saja tingkah usilnya itu seperti dengan cara mengambil pensilnya atau menepuk bahunya saat guru sedang mengajar. Aku merasa sangat kesal dan terganggu dengan perilaku Bima. Sudah berkali-kaali aku mencoba untuk menghindari Bima, namun Bima tetap saja menggangguku di mana pun ia berada.


Suatu hari, saat aku sedang duduk di perpustakaan untuk belajar, Bima tiba-tiba muncul dan mulai mengganggu lagi. Aku merasa sangat frustasi dan akhirnya berbicara dengan Bima.


"Kenapa sih kamu selalu ganggu aku? Apa yang salah denganmu?" tanyaku dengan nada kesal.


Bima terkejut dengan pertanyaan itu dan terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab, "Maaf deh. Aku gak bermaksud ganggu kamu. Aku Cuma mau seneng-seneng aja. Lihat kamu kesel itu jadi hiburan tersenediri buat aku,” ucapnya sambil terkekeh.


Aku bahkan sudah tak habis pikir dengan manusia satu itu.


“Udah ku bilang, Bima itu suka sama kamu, makanya dia cari perhatianmu terus,” ucap Fanny kepadaku saat aku berceloteh tentang betapa kesalnya aku pada Bima.


Fanny terlihat asyik dan enteng saat mengataakkaan kalimat itu saambil terus memakanan coklatnya. Sedangkan di sebelahnya, Kartika hanya mengangguk-angguk saja mendukung semua yang Fanny katakana.


Aku menghela napas kasar dan bersandar di kursi sembari melihat waitress meletakkan makanan kami yang baru saja sampai. Pie apple, strawberry cheesecake, dan gelato. Perpaduan makanan yang pas untuk menaikkkan resiko diabetes.


“Jadi gimana?” tanya Fanny.


Aku yang hendak menyendok pada pie appleku menjadi menoleh ke arahnya. “Apanya?” pertanyaan yang ia ajukan benar-benar tidak jelas.


“Perasaanmu, kamu suka Bima gak? Bima baik kok. Yah meskipun dia juga temennya Biru sih, tapi dia gak ikut-ikut ke arah negative kok. Bima tipe cowok standar lah. Gak badboy, bukan juga image si cowok rajin.”

__ADS_1


Aku terdiam. “Aku gak ada perasaan apa-apa sama Bima,” jawabku dengan jujur.


“Kamu masih gak bisa lepas dari Biru ya?”


Kartika. Sekalinya ia membuka suara benar-benar membuatku menjadi tak bisa menjawabnya. Fanny terkekeh mendengar jawaban Kartika. “Sepertinya sih gitu.”


“Udah 5 bulan berlalu, Bumi. Apa kamu masih berharap bisa balikan sama Biru?” tanyanya lagi.


“jujur aja.”


Aku juga tidak tahu. Tetapi jujur saja di bagian terdalam dari diriku, aku masih menginginkan Biru kembali. “Iya,” jawabku akhirnya.


Kartika menghela napas kasar. “Dia udah jahat sama kamu. Jadiin kamu taruhan kalau kamu lupa. Dan sekarang kamu masih berharap? Kalau Biru masih cinta, kalau dia serius dengan ucapannya terakhir kali dia pasti akan berusaha jelasin mau gimanapun susahnya. Dia bakalan ngejar-ngejar kamu. Tapi buktinya sekarang apa? Kalian jadi orang asing. Harusnya itu sudah cukup nyadarin kamu, aku bukannya mau ngelarang. Itu pilihanmu kok. Tapi sebagai temen, aku cuma gak mau kamu terlalu berlarut-larut.”


Aku mencoba untuk menyerap semua yang Kartika ucapkan kepadaku. Rasanya aneh, aku tahu bahwa semua yang ia katakan memang masuk akal. Namun aku tetap ingin mempertahakankan perasaanku kepada Biru. Aku masih menyayanginya sama seperti saat dulu. Tak berubah sekalipun.


Pantas saja ia terlihat sedikit mengenakan make up hari ini. Berani sekali. Padahal kalau guru tahu, ia pasti akan dimarahi habis-habisin.


“Oh, iya. Good luck,” ucapku sambil berjalan menuju bangkuku. Ada kecemasan dalam hatiku yang merekah ruah. Bagaimana jika mereka akan kembali bersama? Terlebih Namira yang sudah ingin hubungan normal tanpa backstreet. Itu akan memudahkan mereka kali ini.


Biru yang menanggapi pesan Namira juga mempertinggi kemungkinan itu. Aku tidak bisa berbuat apapun kan? Mau bagaimana lagi.


Ada beberapa orang yang sudah datang pagi ini. Fanny dan Kartika pun sudah dengan rapi menempati bangku mereka. “Biru!”


Aku ikut menoleh saat Namira memanggil nama itu dengan keras. Dari belakang kelas, kulihat Namira yang berlari kecil setelah berhasil menghentikan Biru yang sedang melewati depan kelas.

__ADS_1


Ia sudah sampai tepat di hadapan Biru. Aku tidak bisa terlalu jelas melihat ke arah mereka karena terhalang dinding. Namun yang ku tahu, Namira membuat banyak orang penasaran dengannya.


Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan hingga saat hening sekali. Biru terlihat pergi dari sana. Fanny yang baru saja melihat pertunjukan gratis itu buru-buru menghampiri bangkuku dan duduk di tempatnya. Ia sedikit terkekeh. “Tau gak? Namira ditolak dong sama Biru. Mana dia pede banget lagi di depan umum, loh ngungkapin perasaan.


Biru juga sempet bilang katanya make up Namira terlalu tebel,” ucapnya sambil berbisik.


Aku hanya terdiam. Cukup lega meskipun aku juga merasa kasihan pada Namira.


Brakk.


Aku menoleh dan menemukan Namira yang tampak marah. “Semua gara-gara kamu! Udah puas bikin aku malu hah?” Tanpa aba-aba ia bahkan menyiramku dengan air yang entah darimana.


Aku terkejut bukan main saat seragamku basah.


“Ini semua gara-gara kamu yang dulu ngerebut Biru dari aku! Coba aja dulu kamu gak bertindak gitu, pasti Biru gak akan nolak aku! Pasti aku sama dia masih pacaran sekarang. dasar perusak hubungan orang!” tubuhnya naik turun. Air mata sudah membanjiri wajah Namira.


“Nam, aku-“


Aku yang hendaak mendekatinya langsung ia dorong. Untung saja Kartika menahan tubuhku. “Apa sih, pagi-pagi ribut. Kamu sendiri yang permaluin diri sendiri kok nyalahin orang. Dasar cewek stress,” seru Fanny.


Fanny langsung menarik tanganku menuju toilet. Ia membantuku mengeringkan seragam ini. Untung saja bukan waktunya memakai putih abu-abu sehingga tidak terlalu terlihat. “Itu si Namira kenapa sih? Gak jelas banget. Ditolak malah nyalahin orang,” gerutunya.


Aku hanya menggeleng.


“Bumi, denger. Kamu jangan terlalu naif. Jangan terlalu baik sama orang. Kalau kamu diem, kamu bakalan diinjek-injek terus. Kamu harus berani lawan. Toh bukan kamu yang salah. Kalau aku jadi kamu, udah ku tampar tuh.

__ADS_1


Hidup memang gitu cara kerjanya. Kalau gak mau disakiti, kamu yang harus nyakiti. Jadi stop terlalu baik sama orang yang salah,” Fanny terus mengomeliku.


Aku hanya mengangguk-angguk saja agar semua ocehannya selesai.


__ADS_2