Romansa Bumi Dan Biru

Romansa Bumi Dan Biru
BAGIAN 11 – Kembalinya Laut


__ADS_3

Kami bersiap untuk pulang. Hari ini sangatlah menyenangkan. Sejujurnya waktu yang kuhabiskan bersama Biru selalu tak akan pernah cukup. Tetapi Biru harus latihan untuk pertandingan yang akan dilaksanakan satu minggu lagi.


“Nanti kita jalan-jalan lagi ya kalau ada waktu,” ucapnya sambil memasangkan helm.


Aku mengangguk. “Iya.”


Ponselku berdering dengan cukup keras membuatku buru-buru mengeluarkannya dari dalam slingbagku. Itu adalah telepon dari ibu.


“Iya, Bu. Kenapa?” tanyaku.


Biru di sebelahku ikut menyimak. Dapat ku dengar suara isakan ibu, “dek, ke rumah sakit ya sekarang. Abangmu-“


Sambungan terputus membuat ku langsung berpikir yang tidak-tidak. “Biru, aku-“


“Ayo kita kesana,” ucapnya dengan serius.


“Tapi rumah sakit jauh, nanti kamu terlambat,” ucapku pelan.


Biru memegang kedua bahuku dan menatapku lurus. “Bumi, jangan pikirin itu. Sekarang yang terpenting kita harus lihat kondisi Laut, oke?”


Air mataku langsung luruh. Aku tak bisa lagi berpura-pura kuat di depannya. Pikiran negative menyerangku. Bagaimana jika terjadi sesuatu kepadanya? Bagaimana jika aku hanya bisa menyesal karena terlalu termakan egoku?


Dapat kurasakan jemari lembut Biru menghapus air mataku. “Its okay. Nangis aja kalau itu bisa bikin kamu lebih lega. Tapi kita harus cepat kesana. Aku gak akan ninggalin kamu sendirian, jadi ayo hadapi bareng-bareng,” ujarnya membuatku merasa sedikit lega. Aku menatapnya mencoba mencari kebohongan disana. Tetaapi mata Biru selalu mempunyai magis tersendiri yang seolah dapat meyakinkanku bahwa aku bisa mempercayainya seberat apapun ketakutanku saat ini.


Setengah jam kami akhirnya sampai di rumah sakit. Mataku membengkak karena terlalu lama menangis selama di perjalanan. Biru tak berkomentar apapun tentang itu.


Kami terburu-buru menyusuri Lorong rumah sakit dengan berdebar. Aaku mencoba melihat ke ruang ICU, tak ada ibu. Kali ini menuju kamar inap yang biasa ditempati oleh abang.


Dugaanku benar. Kulihat ibu yang baru saja hendak keluar dari sana. “Bu, abang gimana?” tanyaku langsung.


Ibu hanya memelukku dan tak mengatakaan apapun. “Kenapa gak kamu lihat sendiri aja?” ucap ibu.


Aku langsung melepaskan pelukan ibu dan memasuki kamar inap. Kulihat Biru yang mengekoriku.


Di depan mataku, abang membuka matanya. Selang-selang dalam tubuhnya sudah tidak terlalu banyak. Wajahnya masih pucat, akan tetapi itu sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya.


“Abang!” seruku.

__ADS_1


Aku langsung memeluknya dan menangis tersedu-sedu. Abang mengelus rambutku dengan sangat pelan. “Abang, aku kangen,” ucapku berhasil meruntuhkan ego yang selama ini kubangun dengan sangat tinggi.


“Abang juga kangen adek,” jawabnya. Suaranya serak dan seperti biasanya. Tetapi ia kemajuan besar. Aku melepaskan pelukanku mencoba untuk mengamati baik-baik wajahnya yang semakin tirus.


Ibu mengelus bahuku dan tersenyu, dapat kulihat binar mata ibu yang akhirnya kembali. “Kamu temeni abang dulu ya sebentar. Ibu mau ke ruang dokter dulu,” ucap ibu.


Aku mengangguk. Ibu keluar dari ruangan itu. Kulihat tatapan abang yang mengarah ke Biru.


“Angkasa Biru. Kenapa kamu disini?” tanyanya langsung.


Biru tampak santai dan mendekat. “Kenapa kamu gak tanya sama adikmu aja?”


Dapat kurasakan mereka yang tidak terlalu baik dalam situasinya. Aku menjadi gelagapan karena abang langsung menatapku seolah menunggu jawabanku. “Emm, abang. Biru pacarku sekarang,” jawabku pelan memcoba memberikan informasi,


Raut wajah abang terlihat kaget. “Biru, bisa kamu pulang aja sekarang?” ucap abang membuatku tak percaya.


Aku langsung menoleh ke arah Biru. Ia tetap santai. “Oke, cepet sembuh Laut.”


Biru kini menatapku. “Bumi, aku balik dulu ya.”


“Aku antar Biru ke depan bentar,” pamitku pada abang lalu cepat-cepat menyusul langkah Biru. Saat di depan kamar, Biru mengelus puncak kepalaku seolah tak terjadi apapun di dalam sana.


Ia tersenyum dengan lembut kemudian mengangguk. “Gak apa-apa. Abangmu pasti shock. Yah wajar sih, karena kita juga sebelumnya gak kenal. Aku balik ya, mau langsung latihan.


Kalau ada apa-apa telepon aja.”


“Iya, makasih ya buat hari ini.”


“Sama-sama, Bumi.”


Aku masih menyaksikan punggungnya yang kokoh sebelum ia benar-benar berlalu memasuki lift. Tak henti aku mengagumi sifat Biru yang benar-benar dewasa. Umur kami masih 15 tahun. Menurutku terlalu dini untuk bisa bersikap bijaksana sepertinya. Di umur remaja seperti kami harusnya masish terlalu meluap-luap, namun Biru bisa memilah sifat seperti apa yang harus ditampilkannya.


Aku kembali ke dalam. “Duduk!” suruh abang.


Meskipun wajahnya masih terlihat lesu, dapat kulihat abang yang sedang dalam fase serius. Aku menurut dan duduk di samping ranjangnya sambil menunduk siap akan segala omelannya.


“Darimana kenal Biru?”

__ADS_1


“Di sekolah.”


“Dia satu sekolah sama kamu?”


Aku mengangguk.


“Kenapa kamu suka dia?”


“Biru baik,” jawabku dengan klise.


Abang menghela napas dalam. “Adek, apa kamu tahu gimana sifat Biru? Kamu tahu dia ngerokok? Tahu dia suka balap motor? Tahu dia suka tawuraan?”


Lagi-lagi aku mengangguk. Abang mengacak rambutnya frustasi. “Adek suka sama cowok seperti itu?”


Pertanyaan ini terlalu sulit. Aku tak mampu menjawabnya. Aku menyukai Biru. Bukan menyukai sifat badboynya itu.


“Ya sudah. Setidaknya kalau itu Biru, abang masih bisa bantu pantau. Kalau gelagatnya sudah aneh, kamu tinggalin aja,” ucapnya memberikan nasehat.


Rasanya aku begitu terharu. Abang yang selalu dingin kepadaku kini lebih mencari bahkan menasehatiku. Itu tandanya ia mempedulikanku.


“Makasih ya abang,” ucapku dengan tulus.


Abang mengangguk dan tersenyum.


“Laut!” pintu terbuka dan kulihat ayah yang terburu-buru menghampiri abang. Ia langsung memeluk abang. Dapat kulihat air matanya yang ia tahan agar tidak jatuh. “Syukurlah kamu sadar. Syukurlah kamu kembali. Kami benar-benar kehilanganmu selama ini,” ucap ayah dengan tulus.


Aku mencoba memberikan ruang untuk mereka berdua dan memilih untuk keluar dari sana. Aku memutuskan untuk duduk di taman sembari melihat beberapa lansia yang menikmati sore hari sambil belajar berjalan. Ada pula balita yang berlarian di hamparan rumput sintesis ini.


Aku duduk di salah satu kursi dan bersyukur untuk semua hal yang terjadi. Aku teringat akan satu hal. Cepat-cepat aku membuka slingbagku dan mengeluarkan ponsel. Pada casing transparan di bagian belakang, terdapat foto yang kami ambil saat di kebun binatang tadi. Kami tak sengaja menemukan photo booth yang terlihat menarik.


Dengan antusias kuajak Biru untuk mencobanya. Aku tak menyangka ia menuruti keinginanku. Kami mencoba beberapa pose. Sebenarnya aku masih malu. Tetapi saat melihat gaya Biru yang benar-benar kaku, rasa maluku langsung menghilang.


Kami membuat 2 lembar. Satu untukku dan satu untuk Biru.


Mengingat tentang dirinya membuatku langsung mengetikkan sesuatu di room chat kami.


“Semangat Biru, latihannya. Makasih buat hari ini,” ucapku.

__ADS_1


Biru belum online. Tampaknya ia langsung latihan dan tidak membuka ponselnya sama sekali. Biarpun begitu aku tetap senang.


__ADS_2