
Ini baru pukul 6 pagi. Seharusnya sekolah masih sepi, akan tetapi pada bagian lobi sudah sangat penuh oleh siswa-siswa yang berebutan untuk melihat ke arah mading. Disana terdapat pengumuman kelas. Aku benar-benar malas untuk ikut bertarung di tengah kerumuman itu dan memilih untuk ke bagian belakang dan terduduk begitu saja sembari melihat lautan manusia.
Harusnya sekolah tak hanya memberikan pengumuman di satu titik saja agar bisa lebih efektif. Coba bayangkan, untuk kelas 11 saja terdapat 1000 lebih siswa. Jadi secara keseluruhan terdapat 3000 siswa yang sedang berusaha untuk melihat pembagian kelas. Duh, yang benar saja.
"Ngapain disitu?"
Aku menoleh dan menemukan Bima yang tampak baru saja datang. Aku menunjuk papan pengumuman itu, "mau liat. Tapi males. Pasti ke dorong-dorong," ucapku memberikan alasan.
Ia terkekeh. "Makanya jangan cebol," serunya.
"Aku tinggi kok! 160an itu tinggi loh bagi cewek," sahutku tak terima dengan sebutan yang diberikannya kepadaku.
"Fakta kok gak diterima," ucapnya terkekeh.
Aku memukul betisnya yang terbalut seragam hingga membuatnya mengasuh. "Bar-bar banget dah jadi cewek."
"Berisik. Udah sana gak usah ngerusak mood," ucapku mengusirnya. Berharapnya bertemu Biru, yang kulihat malah Bima. Sepertinya Biru belum tiba. Padahal aku sudah merindukannya.
"Ya ayo."
Aku menoleh dan menatapnya dengan bingung. "Ayo kemana? Udah dibilang aku masih mau lihat papan pengumuman," jawabku kembali menegaskan kepadanya.
"Kita sekelas. Atau kalau kamu masih masih ngegelandang disini ya silahkan," ucapnya sembari berbalik dan berjalan masuk.
Sekelas? Buru-buru aku berdiri sambil menepuk-nepuk rokku yang lumayan kotor karena duduk di lantai. Dengan sedikit berlari, aku mencoba menyusul Bima.
"Sekelas? Emang kita sekelas?" tanyaku memastikan.
Bima mengangguk dan terus berjalan tanpa melihatku sedikitpun.
"Kamu aja belum sempet lihat Mading kan? Kamu aja baru dateng. Udah ah gak usah ngibulin," aku sudah kesal dengannya.
Bima mengeluarkan ponselnya kemudian terlihat sedang mengobrak-abrik galeri kemudian menunjukkan satu gambar padaku. Itu adalah foto papan pengumuman kelas untuk 11 IPA 2. Langsung kuarahkan mode zoom untuk memperjelas gambar itu.
Di bagian 3 dari atas, terpampang lah namaku disana. Aku langsung menuju abjad lebih bawah menuju huruf B.
Bima Tri Bhakti.
"Bener kan? Makanya perbanyak temen biar bisa dimanfaatin," ucapnya.
__ADS_1
Aku sudah tak mampu berkata-kata dan hanya mengekorinya menuju kelas baru kami. Perbedaan langsung terlihat disini.
Padahal kamu masuk kelas bersama-sama. Tapi kebanyakan diantara mereka langsung memanggil nama Bima.
"Asyik deh sekelas lagi kita, Bim."
Beberapa pria langsung menghampiri Bima dan menyerukan bahwa mereka senang bisa sekelas dengan Bima.
Sedangkan aku hanya berdiri mematung mencoba melihat semua orang yang berada di dalam kelas. Gawat, tak ada satupun wajah yang familier. Aku tak kenal siapapun. Padahal aku baru saja menjalin pertemanan dengan Kartika, itu artinya aku harus mengulanginya dari awal. Aku benar-benar tak menyukai sifat introvertku.
Sepertinya di kelas baru ini aku hanya mengenal Bima. Sedangkan pria itu sudah tampak berbaur dengan yang lainnya.
"Bumi!"
Aku menoleh ke arah pintu dan menemukan Fanny yang memanggilku. Ia berlari kecil sambil melompat-lompat seolah-olah baru saja mendapatkan lucky gacha. "Kita sekelas. Seneng banget deh. Kartika belum dateng ya?"
"Kita sekelas?" tanyaku memastikan. Fanny mengangguk dengan semangat.
"Iya."
"Kartika juga?" tanyaku.
Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala.
" Ya udah deh. Ayo cari tempat duduk."
Fanny langsung menarikku untuk mencari bangku yang strategis. Akhirnya kami menemukan bangku di dekat jendela. Fanny bilang posisi strategis itu di dekat jendela karena bisa sambil melihat ke arah lapangan.
Tak lama Kartika datang dan langsung menuju ke arah kami. "Seneng banget kita sekelas lagi," ucapnya kepadaku. "Fanny, aku mau sama Bumi duduknya. Gih kamu sama siapa kek."
"Kan kemarin kamu udah, gantian dong."
Kartika mencebik kemudian mengalah. Aku hanya terkekeh melihat interaksi mereka. Untung saja Kartika masih mengenal satu orang lagi sehingga bisa diajak menjadi teman sebangkunya yang baru.
Suasana kelas sudah mulai ramai. Rasanya tak perlu ada lagi yang harus kurisaukan karena teman-temanku ada disini. Tetapi saat wali kelas kami masuk, kulihat Tania dan Namira yang terburu-buru memasuki kelas.
Tatapanku dan Tania bertemu namun ia langsung mengalihkannya begitu saja. Mereka langsung duduk di bangku paling depan yang kosong karena hanya segelintir siswa yang memilih duduk di depan karena dianggap akan menjadi sasaran guru untuk mengerjakan tugas di papan.
"Selamat pagi anak-anak, ibu disini sebagai wali kelas kalian akan membacakan peraturan-"
__ADS_1
Aku menyimak dengan serius aturan demi aturan yang dibacakan. Tampaknya wali kelasku kali ini jauh lebih kaku dan menegangkan dari sebelumnya. Beliau berumur sekitar 50 tahun dengan tubuh sedikit berisi. Bahkan sejak tadi tak ada senyum yang ditampakkan dari wajahnya itu.
"Semuanya mencatat kan?" tanyanya tiba-tiba. "Semua yang ibu katakan harus kalian catat!" Lagi-lagi kalimat penegasan. Tak ada yang berani membuka mulut dan membuat wali kelas melanjutkan penuturannya. Kali ini beliau menyampaikan nasehat-nasehat kepada kami.
Saat sedang serius mencatat. Aku merasa sesuatu berkali-kali menyentuh pundakku. Saat aku menoleh ke belakang, wajahku terkena lemparan kertas yang gulung sedemikian rupa hingga membentuk bola-bola kecil.
Aku melotot saat Bima yang terkekeh sambil terus melempari bola-bola kertas yang dibuatnya itu. Padahal dia duduk di barisan sebelah. Tetapi bisa-bisanya ia menggangguku.
"Hayo, mbak Archava, fokus."
Aku langsung kembali mencatat saat wali kelas menegurku. Awas saja Bima itu. Dia memang sangat mengesalkan.
Kupikir Bima akan berhenti setelah teguran yang datang padaku. Ternyata aku salah, ia tetap saja melakukannya.
Aku tetap mencoba untuk fokus sambil mengumpulkan kertas-kertas itu. Saat wali kelas sedang sibuk menulis di papan, aku langsung memberikan serangan balasan ke arahnya.
Bima terkekeh saat seranganku meleset dan mengenai teman sebangku Bima yang memandangku kesal. Wajahnya sangat menyeramkan.
Bima menjulurkan lidahnya untuk mengejekku.
"Archava, Bima! Keluar dari kelas ini sekarang. Berdiri disana sampai jam istirahat!" Suara itu langsung menggelengar membuat jantungku berdegup dengan sangat kencang.
Aku langsung berdiri dan berjalan keluar kelas sambil menunduk. Aku berdiri di depan kelas untuk menjelani hukumanku. Padahal ini baru hari pertama, bisa gawat kalau tindakan gegabahku ini akan berpengaruh pada nilaiku nanti padahal aku sudah bekerja keras untuk belajar.
Manusia di sebelahku ini benar-benar tak punya rasa bersalah. Ia malah mengeluarkan Snack cokelat dari kantung celananya dan asyik makan seolah tak bersalah sama sekali.
"Bisa gak sih gak usah ngeselin," ucapku mulai mengeluh.
"Aku bosen."
"Ya terus? Jangan seret orang ke dalam masalah dong," ucapku benar-benar marah.
"Jangan emosi. Sabar," ucapnya. Ia benar-benar bahwa tindakannya itu adalah hal yang besar untukku.
"Gak bisa! Deket-deket sama kamu itu bikin kesabaranku habis seketika." Aku langsung menginjak kakinya dengan keras membuatnya langsung mengaduh.
"Kamu selama liburan latihan beladiri ya? Barbar banget dari tadi," ucapnya sambil mengelus-elus kakinya yang terbalut sepatu hitam.
"Bodo amat."
__ADS_1
Demi kesehatan mentalku, aku akan menganggap bahwa Bima tak ada disini. Aku mendiami semua kalimat yang keluar dari mulutnya seakan-akan tak mendengar itu sama sekali.