Romansa Bumi Dan Biru

Romansa Bumi Dan Biru
BAGIAN 39 - Pengakuan


__ADS_3

Saat kembali ke kelas, kulihat Namira yang tampak duduk di bangkunya. Sepertinya ia menangis dan beberapa temannya mencobs untuk menghiburnya. Tatapan kami tak sengaja bertemu, Namira cepat-cepat menyudahi itu.


Seperti yang sudah Fanny katakan, lebih baik aku tak terlalu memikirkannya karena aku pun tak ada hubungan dengan hal tersebut sehingga tak bisa menjadi sesustu yang salah disini.


Aku pun mencoba tak puduli. "Udah gak apa-apa?" Tanya Kartika yang kemudian kubalas dengan anggukan juga dan duduk di bangkuku.


"Nih."


Aku menoleh dan melihat Bima yang meletakkan seragam olahraga. "Buat apa?" Tanyaku. Dia benar-benar aneh. Padahal hari ini tidak ada pelajaran olahraga tetapi ia malah membawa seragam ini.


"Kamu udah jompo, nanti masuk angin basah-basahan," ucapnya.


Aku memandangnya tak percaya. "Gak deh, aku tambah malu pake olahraga di luar jam pelajaran olahraga," jelasku. Aku sama sekali tak buka menjadi usat perhatian.


Fanny meremas tanganku sambil memberikan kode yang sama sekali tak mengerti. Ia menggulirkan matanya menuju arah Bima beberapa kali. Aku tak paham apa maksudnya.


"Ya sudah kukira sih kalau kamu gak mau. Yauda lah, bagus dong seragamku jadi gak bau." Ia mengambil seragam itu dan kembali dimasukkan ke dalam ranselnya hingga terlihat sangat penuh sekarang. Setelahnya Bima langsung menuju bangkunya.


"Bumi, kok ditolak? Itu Bima udah effort loh," ucap Fanny kepadaku.


"Effort apaan coba kalau gitu," koemtarku.

__ADS_1


"Ah udahlah. Susah ngomong sama orang yang udah mati rasa," sindir Fanny membuatku terkekeh.


Tak lama kami melangsungkan pembelajaran seperti biasanya. Hari ini cukup padat karena beberapa hari menuju UTS.


"Jadi bagaimana proyek kalian? Sudah berapa persen?" Tanya guru di depan kelas.


Aku dah Bima berpandangan. Kami bahkan belum memulai proyeknya karena sama-sama sibuk. Bima pun harus mengikuti lomba musik hingga membuatnya sering tidak mengikuti pelajaran karena harus berlatih.


"50 persen, Bu," jawab Bima berbohong.


Aku tak mampu membuka mulut. Kubiarkan Bima membuat alasan Serapi mungkin.


"Kok baru 50? Ini dikumpulkan Minggu depan loh," ucap guru yang mungkin kesal dengan tingkah kami.


Ia tak pernah merasa takut atau hal yang lainnya tiap kali menyampaikan semua pikirannya.


"Oke, UTS harus jadi."


Bu Hana beralih menuju yang lainnya untuk menanyakan perkembangan tugas. Aku menghela napas lega. Saat Bu Hana beralih menuju kelompok lain, aku menepuk bahu Bima.


"Kita harus ngejar nih. Apa bisa selesai ya? Duh kalau engga nilaiku terancam," aku mulai panik. Sungguh beberapa waktu ini aku justru menyepelekan tugas proyek ini karena berpikir akan mudah. Tetapi ternyata tidak. Kami harus membuat miniatur kota dengan tata ruang yang diukur sedemikian rupa.

__ADS_1


"Ayo mulai nanti kita kerjain. Pertama kita belanja bahan maketnya dulu," Bima mulai memberikan ide.


"Nanti?"


"Kamu sibuk gak?" tanyanya.


Aku masi berpikir sebentar kemudian menggeleng saat mengingat bahwa hari ini sedang tidak ada jadwal kursus.


"Oke, ayo kita list dulu. Biar nanti gak bingung."


Tumben sekali orang ini menjadi sangat rajin. Biasanya ia hanya menguap sambil memutar-mutar bolpoin di tangannya. Tetapi kali ini ia bahkan berinisiatif untuk membuat banyak catatan yang kami butuhkan. Sikapnya yang seperti itu membuatku merasa benar-benar terbantu.


Di pulang sekolah kami langsung menuju toko alat tulis untuk membeli semua barang ini. "Ikut dulu ya nukar motor kayaknya kita butuh mobil deh buat beli papan," ucap Bima.


Aku hanya mengangguk dan menurutinya. Ternyata rumah Bima sangat jauh. Dari sekolah membutuhkan waktu 20 menit. Padahal kecepatan mengendarainya sudah sedang. Itupun beberapa kali membuatku harus memukul-mukul bahunya karena ia menambah kecepatan tiba-tiba membuatku hampir terjengkang. Sang empunya seperti biasanya hanya terkekeh.


Aku hanya tercengang melihat rumahnya yang mewah. Padahal sehari-harinya di sekolah Bima benar-benar sederhana. Atau aku yang tidak memperhatikan selama ini?


Bima menawariku untuk masuk tapi Aku tolak mentah-mentah karena merasa bahwa kami tidak terlalu dekat untuk saling berkunjung. Untungnya Bima mau mengerti.


Ternyata ada lumayan banyak dan membuat kami mengeluarkan banyak uang. Kau harus mengucapkan selamat tinggal untuk tabunganku.

__ADS_1


"Tuh kan bener dugaanku. Pasti banyak akhirnya."


Aku hanya mengangguk dan mengekorinya seperti anak itik satu hari ini.


__ADS_2