Romansa Bumi Dan Biru

Romansa Bumi Dan Biru
BAGIAN 24 – Mempertanyakan Rasa


__ADS_3

Aku tak tahu apa yang terjadi dengan diriku. Rasanya ada setengah yang kosong pada rongga dadaku. Semua pembicaraan Tania tadi tiba-tiba menyelinap begitu saja dan mengisi penuh otakku.


Apa benar bahwa Biru terlalu buruk untukku?


Duniaku dan dunianya terasa sangatlah berbeda. Ada rasa marah dalam hatiku yang berapi-api jika mengingat dengan semua tingkah buruk Biru. Terlebih melihat bagaimana ayahnya. Aku benar-benar iba. Harusnya Biru memikirkan oraangtuanyaa, seharusnya ia bisa mencoba membanggakan mereka, setidaknya dengan tidak membuat ulah.


Aku tak sanggup membayangkan bagaimana perasaan ayahnya yang mungkin sudah berkali-kali dipanggil oleh guru karena tingkah Biru itu. Ah, sudahlah. Hanya dengan membayangkaannya saja, air mataku sudah jatuh.


“Adek, kenapa?”


Aku tak tahu berapa lama abang berdiri disana. Buru-buru kuhapus air mataku dengan kasar. Abang menghampiri dan duduk di sebelahku. “Kenapa nangis?” tanyanya.


Aku menggeleng.


Abang sepertinya juga menghargai privasiku. Ia hanya diam seolah tak ingin bertanya lebih lanjut meskipun aku sangat tahu bahwa ia penasaran.


“Abang, dulu ayah sering dipanggil ke sekolah kan karna abang nakal?” tanyaku.


Sebenarnya abang dulu mirip-mirip dengan Biru meskipun tidak separah Biru, sih.


“Iya, emm tiga kali aja sih. Sedikit.”


“Itu banyak, abang.”


Abang terkekeh mendengar itu.


“Terus apa ayah marah?”


“Iya. Kamu gak inget waktu abang sampe gak boleh masuk rumah? Waktu abang dipukul pakek sapu?” tanyanya.


Aku mengingat semua itu. Ayah memang sangat mendisiplinkan anak-anaknya saat kami masih kecil. Abang yang pembangkang selalu menjadi pusat amarah ayah.


“Menurut abang kenapa ayah marah?”


“Karna itu hal yang gak baik dilakukan. Jadi abang bakalan mikir-mikir kalau mau ngelakuin lagi. Marah itu artinya sayang, peduli,” jelasnya seolah-olah menjelaskan hal penting kepada anak kecil.


Tetapi Biru bilang ayahnya tak pernah marah. “Kalau orangtua yang gak marah anaknya selalu berbuat salah, apa artinya gak sayang?” tanyaku kemudian.


“Adek, gak ada orangtua yang gak sayang sama anaknya. Kalau orangtua sudah diam, gak marah lagi ya artinya sudah capek karena kita mengulang kesalahan yang sama. Itu udah di tahap kecewa sih.”


Pikiranku semakin penuh mendengar jawaban itu. Artinya Biru sudah sering begitu ya? Dan ayahnya bahkan masih bisa tersenyum kepadanya dengan sangat tulus.


“Loh kok nangis lagi?”


Aku bahkan tidak sadar kapan air mataku kembali turun. Rasanya aku begitu sensitive akhir-akhir ini. “Abang, Biru di skors. Satu minggu. Aku kesel dia gak mau berubah jadi lebih baik. Seenggaknya dia berusaha buat orangtuanya. Tadi aku ketemu ayah Biru, sudah tua, gak terlalu jelas lihatnya. Aku gak tega. Biru jahat banget. Dia mungkin memang bisa jadi pacar yang baik buat aku, tapi dia gagal buat jadi anak baik buat orangtuanya. Aku sakit hati,” ucapku meluapkan semua hal yang sejak tadi kupikirkan ini.


Abang terdiam seolah memproses semuanya. “Dek, mungkin yang kamu bilang memang benar, tapi nyebut Biru bukan anak yang baik buat orangtuanya, sepertinya kalau terlalu dangkal menilai. Coba sesekali kamu cari tahu juga gimana dari sisi Biru. Kenali dia diluar sekolah, kenali keluarganya, lingkungannya selain yang itu-itu saja.”


Nasehat yang aneh. Sudah jelas bahwa aku sangat mengenal Biru. Aku tahu lingkungannya yang urak-urakan itu.

__ADS_1


“Abang belain dia karena temen abang kan? Ngerasa sama kalian? Udahlah.” Aku memutuskan untuk pergi dari sana. Abang tak memanggil ataupun mencoba mengejarku. Tapi aku tak peduli.


Aku marah pada mereka berdua dan mendiaminya selamaa beberapa hari.


Ini hari Minggu, padahal aku ingin bermalas-malasan. Akan tetapi ibu mengajaakku menemaninya ke pasar karena besok adalah hari ulangtahunku. Ibu ingin mengadakan syukuran kecil-kecilan.


“Bu, aku ngantuk,” ucapku.


“Ayo. Sesekali kamu ikut. Belanjaan ibu juga banyak, masa kamu gak mau bantu.”


Aku benar-benar tak punya pilihan lain. Akhirnya aku kembali ke kamarku untuk mengganti piyama dengan celana legging dan kaos panjang. “Adek, mau kemana?” tanya abang yang baru saja membuka pintu kamarnya.


Aku hanyaa meliriknya sebentar. “Pasar,” jawabku singkat.


“Titip kue ya,” ucapnya dengan ceria.


“Bilang aja sama ibu.”


“Udah aah marah-marahnya. Gak capek?” ia mencubit kedua pipiku.


“Adekk,” seru ibu dari luar.


Aku cepat-cepat melepaskan cubitan abang dari pipiku. “Minggir,” ucapku lalu meninggalkannya.


Ayah mengantar kami seperti biasanya. “Dek, tolong telpon abang. Kompor di rumah udah mati belum ya?” ucap ibu.


“Ibu, kebiasaan lupa.”


Ibu langsung menoleh tak percaya mendengar itu. “Tumben.”


“Males aja.” Aku sengaja tidak membawa ponsel. Bahkan sejak kemarin aku membiarkannya begitu saja karena malas membaca pesan dari Biru.


Kami akhirnya sampai. Ibu membeli banyak sekali bahan hingga tanganku pegal membantu membawakannya. “Udah kan, Bu?” tanya ayah setelah menata semua belanjaan itu.


“Belum. Ikan yang mau ibu masak habis, kita cari ke pasar lain ya, Yah.”


Padahal rambutku bahkan sudah lepek oleh keringat. Tetapi aku tak punya pilihan. Kami menuju satu pasar yang lumayan jauh dari rumah.


“Aku tunggu disini deh, Bu,” ucapku malas.


“Gak boleh. Ayo ikut.” aku pun berjalan dengan gontai mengikuti ibu yang terburu-buru. Pasar kali ini tidak terlalu besar. Tetapi ibu bilang ikan yang dijual disini lebih lengkap.


Kukira ibu hanya akan membeli ikan, ternyata ia menambah membeli beberapa sayuran. “Ini anaknya, Bu?” tanya penjual sayur itu yang tampak mengenal ibu.


“Iya, ini anak terakhir. Memang susah diajak ke pasar,” ucap ibu menanggapi.


Aku hanya berdiri dengan canggung seperti pajangan yang membawakan semua belanjaan.


“Cantik sekali ya. SMA?”

__ADS_1


“Iya, masih kelas 1 SMA.”


“Oh berarti seumuran sama anak saya.”


“Anaknya cewek juga, Bu?” tanya ibu yang mengulik. Emang dasarnya ibu-ibu selalu ingin tahu.


“Ada 2 cewek, 1 cowok. Nah yang SMA yang cowok. Biasanya sebelum berangkat sekolah bantu saya siap-siap. Kalau hari libur cari-cari tambahan, jadi apa aja mah. Jaga parkir, kuli angkut, dia kerjain semua yang dia bisa.” Penjual sayur itu tampak begitu bangga dengan anaknya. Ia menjelaskan semuanya dengan mata berbinar.


“Aduh, irinya punya anak sepekerja keras itu.”


Yah, abang memang hanya beban sih. Wajar saja jika ibu jadi ingin menukarnya. Aku masih dendam padanya.


Setelah berbincang kami akhirnya pulang. Belanja 10% 90% gossip. Melelahkan. Saat sampai di mobil, ibu terlihat kebingungan. “Sayurnya lupa. Malah gak ibu bawa. Adek gimana sih gak diingetin.”


Oh baiklah. Ini salahku lagi.


“Ambil ya dek, ibu tunggu sini. Mau sekalian beli kue buat abang,” ucap ibu sambil menunjuk gerobak kue basah yang tak jauh dari sini. Aku ingin memprotes, tetapi lidahku kelu.


“Ya udah deh, adek ambil. Bayarnya udah kan?” tanyaku memastikan.


“Udah. Kamu inget kan jalan ke tukang sayur tadi?”


Aku mengangguk dan langsung berjalan kembali memasuki pasar itu. Penjual sayur itu bisa langsung kutemukan karena letaknya di paling ujung. Namun langkahku terhenti saat melihat Biru.


Aku langsung mencoba bersembunyi di toko-toko lainnya. Itu seperti Biru yang berbeda. Bajunya coklat lusuh dan basah akan keringat. Ia membawa box-box putih kemudian meletakkannya di pejual ikan. Kemudian berjalan menuju pejual sayur yang hendak kudatangi tadi.


“Sudah semuanya?” tanya penjual sayur itu.


Biru mengangguk dan duduk disana. Ia mengambil botol minum dan menegaknya habis. “Bunda mau kuganti jaga?” tanya Biru sambil memijati pundak perempuan paruh baya itu.


“Gak perlu. Bunda belum capek.”


Bunda? Aku benar-benar tak bisa berkata-kata. Apakah itu bunda yang sama yang dicerikan oleh Biru?


“Ru, mau angkut lagi gak? Ke atas?” teriak penjual lainnya.


“Sudah, Mang. Biru capek ini udah,” ucapnya mengambil alih.


“Gak apa-apa, Bun. Lumayan kan tambahan,” ucap Biru terkekeh kemudian berjalan menghampiri penjual yang meminta jasanya itu.


Jadi anak laki-laki seumuran denganku yang penjual itu bicarakan tadi adalah Biru?


Setelah beberapa saat Biru menjauh dari sana, barulah aku menghampiri penjual sayur itu. “Bu, saya mau ambil sayur. Tadi ketinggalaan,” ucapku. Entah kenapa nada suaraku menjadi lebih pelan.


“Ibu kira sudah pulang. Ini. Tadinya mau suruh anak ibu cariin ke depan, nak,” ucapnya dengan ramah sambil memberikan belanjaan milik ibu.


Aku tersenyum. “Makasih ya, bu. Saya pamit dulu.”


“Oh iya. Hati-hati ya, salam buat ibu.”

__ADS_1


Aku mengangguk lalau cepat-cepat pergi dari sana sebelum bertemu dengan Biru. Sepanjang perjalanan aku hanya diam dan merenungi semuanya.


__ADS_2