Romansa Bumi Dan Biru

Romansa Bumi Dan Biru
BAGIAN 42 – Bukan Terpaksa


__ADS_3

Bima menahan tanganku yang hendak berdiri menyusul teman-temanku. Aku terhenti dan memandangnya dengan bingung. Di hadapanku ialah Bima yang berbeda dari biasanya. Kaali ini tidak ada sorot mata penuh kejahilan. Ia hanya Bima yang kali ini memandangku dengan serius seperti saat ia belajar hal-hal baru.


Aku melepaskan tangannya pada lenganku. “Oke. Jadi apa?”


“Emang perlu kuulang?” tanyanya.


“Kenapa suka aku? Padahal sikapmu sama sekali gak menggambarkan orang yang lagi jatuh cinta,” seruku. Itu cukup logis kan?


“Aku-“ Bima memandangku dengan tatapan yang tak kumengerti. “aku mau cari perhatianmu aja. Aku gak tahu gimana cara kenalan sama kamu. Kamu terlalu gak terjangkau pada awalnya.”


“Kenapa harus aku?”


“Ya kenapa nanya gitu seolah-olah kamu gak pantas buat gak disukai?”


Kenapa justru ia yang kesal dengan pertanyaan yang kuajukan? “Bukannya emang iya?”


“Gak. Kamu orang paling tepat buat aku sukai.”


Aku menghela napas kasar. “Bim, kamu yakin gak salah? Dari dulu aku gak pernah tuh nemuin orang yang suka tapi justru selalu bikin kesel. Kalau usil okelah, seperti yang kamu bilang kalau itu cuma buat narik perhatian. Tetapi semua yang kamu lakuin udah parah, bikin ponselku nyaris hilang, nyembunyiin buku, dan banyak yang lain. Hal kayak gitu terlalu kekanakan, aku justru malah jadi gak suka sama kamu,” ucapku dengan jujur.


“Maaf. Aku usahain gak akan separah itu lagi,” ucapnya kali ini dengan suara rendah.


Setelahnya kami sama-sama diam. Kali ini aku baru merasakan kecanggungan yang luar biasa. Oh ayolah, kami sudah sering menghabiskan waktu berduaan saat mengerjakan proyek dan sama sekali tak pernah ada keterdiaman yang separah ini.


“Aku tahu kok. Kamu belum sepenuhnya lupain Biru. Jadi mau ngajak kamu jadian pun gak mungkin banget ya,” Bima terkekeh. “Kalau gitu aku cuma mau ungkapin aja. Sekaligus minta maaf kalau kamu gak nyaman sama keusilanku selama ini. Setelah ini ya anggep aja gak ada apa-apa. Gak usah canggung.”


Bima tersenyum.


Jujur saja saat ia mengatakan semuanya dengan lapang dada membuatku justru merasa bersalah.


“Bim, makasih ya udah mau jujur. Tapi maaf, seperti yang kamu bilang, perasaanku cuma buat Biru. Aku belum move on. Dan kamu temenku yang berharga. Aku gak mau hubungan pertemanan kita jadi renggang kalau masukin urusan cinta-cintaan kayak gini. Aku pamit dulu.”

__ADS_1


Buru-buru kuambil ranselku dan berlari kecil keluar dari kelas. Aku sama sekali tak tega untuk menoleh ke belakang. Bima, maaf ya.


Namun langkahku terhenti saat tak jauh dari tempatku berdiri, kulihat Biru dan teman-temannya.


“Biru melepas masa lajang nih. Ayo traktiran kan? Pajak jadian? Iya kan Ren?” ucap Alan dengan suaranya yang begitu keras hingga menggema di Lorong sekolah yang sudah sepi ini.


Di belakangnya terdapat Rena dan Biru. Rena yang wajahnya tersipu malu dan Biru yang menggapinya dengan tawanya yang lepas. “Kalian mau? Ya ayo,” ucap Rena.


“Wih, gak salah sih, Ru. Tau gini dari dulu kan.”


Lagi-lagi Biru hanya terkekeh.


Jadi mereka sudah resmi? Jadi apa yang kudengar itu bukan kesalahpahaman seperti yang Biru katakan? Jadi Biru memang mengincar Rena sejak lama ya? Mereka memang cocok, pasangan yang serasi.


Jantungku seperti tertikam saat mengetahui fakta itu. Tanpa sengaja tatapan mataku dan Biru bertemu, ia terlihat terkejut melihatku yang hanya bisa mematung.


Aku langsung berbalik untuk menyembunyikan air mataku dan kembali memasuki kelas agar tak bertemu dengan mereka.


“Bima, ayo kita jadian,” ucapku langsung.


Bima terlihat terkejut. “Tapi kamu kan gak suka aku.”


Aku menghampirinya. Entah kenapa ada rasa marah dalam hatiku. Aku cemburu. Aku juga ingin membuktikan pada Biru bahwa aku juga bisa sepertinya, aku bisa bersama dengan pria lain.


“Jadi mau gak?” seruku.


Biru turun dari duduknya, ia berdiri tepat di hadapanku membuatku harus melihat ke arah atas untuk menatap matanya. Dari jarak sedekat ini aku baru menyadari bahwa ternyata Bima sangat tinggi dan aku hanya sampai pada bahunya saja.


“Kamu pikir aku gak tau kenapa kamu tiba-tiba ngajak jadian? Aku denger apa yang Alan bicarakan di luar. Kamu cuma mau bales Biru kan?”


Aku benar-benar tak percaya bahwa semua yang kupikirkan dapat terbaca sepenuhnya olehnya. Padahal aku ingin menyembunyikan semuanya sendirian. Akhirnya aku sudah tak bisa berpura-pura. Aku menumpahkan air mataku di hadapannya. Aku tak peduli bagaimana penampilanku yang mungkin sudah berantakan sekarang.

__ADS_1


Aku hanya ingin menangis untuk menumpahkan rasa sakitku ini. “Izin peluk kamu,” bisik Bima.


Sebelum aku menjawab, ia sudah mendekatkan kepalaku ke arahnya.


“Bumi?”


Tangisku berhenti sesaat ketika aku mendengar suara Biru yang memanggilku. Tetapi mana mungkin? Jelas-jelas ia sudah berjalan menuju parkiran. Saat aku hendak menoleh, Bima menahan kepalaku.


“Bim, lepas,” ucapku. Bima akhirnya melepaskan tangannya. Namun saat aku menoleh ke arah pintu, aku tak menemukan siapapun. Ya, aku memang bodoh. Mana mungkin Biru kesini dan mencariku.


Aku menghapus air mataku. Aku ingin pulang. Tetapi memikirkan bahwa aku akan bertemu dengan mereka membuatku menjadi ragu.


“Kenapa kamu gak mau jadi pacarku? Padahal beberapa saat yang lalu kamu bilang kalau kamu suka aku,” tanyaku pelan.


Bima menghela napas. “Aku gak mau kamu bohongi perasaanmu sendiri. Kalau kita jadian terus apa? Cuma buat manas-manasin Biru? Kalau Biru gak peduli? Kalau gak berhasil? Apa kamu gak pernah mikirin perasaanku juga? Gak ada orang yang mau dijadikan pelampian, Bumi.”


Kalimat yang keluar darinya itu membuatku semakin dilanda rasa bersalah. Bima benar, aku terlalu egois. Aku hanya mementingkan tujuanku sendiri.


“Gak usah ngerasa bersalah,” Bima menyentuh puncak kepalaku. Sentuhan itu berbeda dengan Biru. “Kalau kamu butuh orang buat bikin Biru cemburu, bilang aja sama aku. Aku pasti mau bantuin kamu. Dan satu hal, Bumi, aku belum menyerah. Ini baru permulaan. Aku masih mau berusaha buat bikin kamu suka sama aku. Aku tahu pasti sulit, pasti butuh waktu yang lama. Kalau kamu risih bilang aja biar aku berhenti. Karna kalau kamu yang minta, aku bakalan dengerin.”


Aku tertunduk mendengar semuanya.


“Kamu mau pulang kan? Ayo kuantar kalau kamu takut ketemu sama Biru,” ucapnya lagi-lagi seolah dapat membaca pikiranku.


Pada akhirnya aku hanya mengangguk dan mengikuti langkahnya yang panjang. Namun untung saja, selama perjalanan kami tidak bertemu dengan Biru maupun teman-temannya.


“Yakin gak mau dianter sampe rumah?” tanya Bima sekali lagi saat aku memintanya untuk menurunkanku di depan toko buku.


Aku mengangguk dengan yakin. “Kantor ayah di sebelah. Nanti aku pulang sama ayah,” ucapku menjelaskan.


Bima akhirnya mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2