Romansa Bumi Dan Biru

Romansa Bumi Dan Biru
BAGIAN 31 – Tanpa Bertemu


__ADS_3

Hal yang kupikir bahwa itu hanyalah ancaman semata ternyata benar-benar ayah lakukan. Sepulang dari sekolah, aku hanya duduk dengan kaku di sofa ruang tengah. Di seberangku, ayah sedang duduk dengan kedua tangan yang dilipat memandangku dengan lurus.


“Adek udah gak mau masuk univ pilihan adek lagi?” tanyanya sudah mengulang untuk ketiga kali.


“Mau, Yah,” jaawabku pelan.


“Jadi kenapa nilainya jadi sehancur ini? Bukannya materi-materi yang ada di soal UAS sudah adek pelajari dari lama?”


Aku mengangguk.


Ayah menghela napas dalam. “Apa karna Biru?”


Jantungku rasanya hampir berhenti. Aku menggeleng dengan cepat tak ingin semakin banyak orang kembali menyalahkan Biru atas semua kesalahan yang kubuat.


“Ayah paham kamu udah remaja. Ayah gak akan larang kamu asal semester baru di kelas 11 nanti kamu bisa kembali naik, apa sanggup?” tawar ayah.


Aku tak menyangka ternyata ayah masih memberikan pilihan itu kepadaku. “Aku sanggup, Yah.”


“Bagus. Tapi sebagai hukuman, selama 2 minggu liburan sekolah kamu dilarang main sama temen-temenmu. Cukup di rumah, belajar.


Weekend ayah ajak kamu jalan-jalan. Gimana?”


“Iya, adek bakalan belajar yang rajin,” cicitku.


Kali ini aku bersungguh-sungguh. Ayah sudah memberikan kepercayaannya kepadaku untuk memperbaiki semua ini. Aku tak boleh lengah lagi agar Biru tidak terseret dalam masalah ini.


Ayah berdiri kemudian duduk disampingku. Ayah mengalungkan lengannya pada bahuku dan mengelus-elusnya. “Maaf ya kalau ayah terlalu banyak ngekang kamu. Percayalah semua yang ayah lakukan demi masa depan adek juga. Ayah cuma bantu jalan yang sudah adek pilih dari lama,” ucapnya dengan lembut.


Aku mengangguk. Air mataku tak daapat ditampung lagi dan pada akhirnya aku melampiaskan semuanya dengan menangis dalam pelukan ayah.


Aku tak main-main dengan ucapanku. Meskipun akan cukup sulit bagiku karena tak dapat bertemu Biru selama dua minggu lamanya, setidaknya kami masih bisa berbincang dengan ponsel.


“Hari ini mau begadang lagi?” tanya Biru.


Kami sedang melakukan panggilan video saat itu.


Aku merapikan buku matematika dan sibuk mencari bank soal untuk kimia. “Iya. Ada satu target bab yang harus kupelajari hari ini,” jawabku.


Di atas meja belajarku sudah kususun target belajar harian yang sudah kuatur dengan sedemikian rupa. “Oh ya sudah. Kamu fokus belajar aja, kumatiin ya,” ucap Biru membuatku langsung menoleh ke arahnya.


Cepat-cepat aku menggeleng. “Baru 10 menit lihat kamu. Kangen,” rengekku.

__ADS_1


Biru hanya tersenyum di seberang sana. “Aku gak mau ganggu belajar,” ucapnya.


Aku hanya terdiam seolah tak mendengar itu. Aku sama sekali tidak memberitahukan kepada dirinya bahwa ayah memarahiku dan memintaku menunjukkan bahwa aku tetap mampu berprestasi meskipun dalam masa berpacaran. Yang Biru tahu hanyalah bahwa aku ingin mengembalikan ketertinggalan belajarku saja.


Aku tahu bahwa apa yang kulakukan dengan cara membohonginya adalah kesalahan karena kami sudah berjanji untuk terbuka satu sama lain.


Tetapi ini hal yang berbeda. Aku ingin melindungi Biru, aku tidak membuatnya merasa sebagai hal yang salah dalaam kasus ini.


“Jangan dulu. Aku masih mau denger suaramu sambil belajar,” ucapku. Sudah sekitar satu minggu aku hanya bergelut dengan kertas-kertas ini. Melihat Biru aku seakan merecharge energiku yang sudah nyaris habis.


“Nanti kamu gak fokus loh,” ucapnya sambil terkekeh.


“Fokus kok. Nih kubuktiin,” ucapku. Aku mencoba mengerjakan soal pertama. Namun baru saja dua menit fokus dengan bukuku, mataku selalu ingin melirik ke arahnyaa.


“Tuh, katanya fokus. Kok lihatnya malah ke aku sih,” ucapnya menggodaku.


Ini benar-benar membuatku muak. Aku sangat rindu Biru. Ingin berlaama-lama memandanginya seperti ini. Akan tetapi jika aku menuruti hal yang kuinginkan itu, target belajarku tidak akan tercapai. Dengan kata lain aku gagal membuktikan kesungguhanku kepada ayah.


Aku menutup bank soal itu dan fokus menatap Biru. 5 menit saja. Aku janji setelah ini aku akan benar-benar fokus untuk belajar.


“Mau puasin dulu lihaatin kaamu. 5 menit, boleh?” tanyaku.


Ia mengangguk. “Bentar.” Biru tampak menghilang dari kamera. Tak lama ia kembali dengan gitar yang penuh dengan stiker.


“Kamu belajar gitar?” tanyaku tak percaya.


Ia terkekeh dan mengangguk. “Kamu pernah bilang kalau cowok yang bisa main gitar itu keren. Jadi aku mu kelihatan keren di matamu.”


Ya ampun, pria ini benar-benar paling bisa membuatku tak bisa berkomentar lagi.


“Biru, kamu gak ngapa-ngapain pun udah keren,” ucapku.


Ia menggeleng. “Siap dengerin suaraku yang sumbang?”


“Siap.”


Aku menuju ranjang dan mengambil headset aagar suara Biru terdengar lebih jernih. Ku rebahkan diriku sambil memperhatikan baik-baik geraakan-gerakan kecil pada jemari Biru yang sudah terlihat lihai menari-nari di senar gitar.


“Ekhm,” Biru batuk kecil.


Alunan gitar yang masih terdengar ragu-ragu mulai kusimak baik-baik.

__ADS_1


“Menatap indahnya senyuman di wajahmu-“


Aku hanyaaa bisa menahan napas bahkan sejak di sajak pertama. Biru menyanyikan laagu itu dengan serius. Suaranya yang lembut memang cocok menyanyikan lagu yang mendayu seperti itu.


Suara ketukannya sudah pas untuk pemula.


Aku kembali tersihir dengan kekasihku sendiri. Tak terhitung sudah berapa banyak kekagumaan yang selalu terucap untuknya. Biru menjadi 100 kali lipat lebih keren.


Iaa mengakhiri konser tunggalnya itu dengan tawa yang canggung. “Masih aneh ya,” ucapnya tampak tak percaya diri.


“Kalau kamu mau ngadain konser besar, aku bakalan beli tiket VVIP sih,” ucapku mengutarakan kekagumanku.


“Gak balik modal dong kalau cuma kamu yang nonton,” ucapnya terkekeh.


“Siapa yang ngajarin?” tanyaku.


“Alan. Tapi dia gak cocok jadi guru music, galak,” ucap Biru mengadu.


Aku tersenyum. “Dari artikel yang kubaca, biasanya oraang bisa lancar belajar gitar setelah sebulan. Tapi kamu baru seminggu.”


“Selama kamu belajar akademis mati-matian, aku disini juga belajar narik senar mati-matian,” candanya.


“Lihat telapak tanganmu,” ucapku.


Biru menggeleng. “Gak usah.”


“Biru, aku mau lihat.”


Ia mengalah. Biru meletakkan gitar itu dan menunjukkan telapak tangannya yang penuh luka. Kulitnya mengelupas di beberapa bagian. Itu sudah cukup menandakan betapa kerasnya ia belajar untuk lancar.


“Pasti sakit ya? Biru, kamu gak perlu berusaha begitu kerasnya cuma karna kata-kataku,” ucapku merasa bersalah.


“Gak sakit kok. Jangan suruh aku berhenti buat gak berusaha jadi tipe idealmu, karna sampe kapanpun aku mau berjuang untuk itu.”


Aku terdiam. Tuhan, aku mau laki-laki ini yang mengisi sisa waktuku hidup. Aku mau menghabiskan umurku dengannya, menua bersamanya.


“Oh ya, kamu kelihatan makin kurus. Are you okay?” tanya Biru tiba-tiba.


Aku bergeming sambil melihaat tisu yang penuh noda darah mimisan karena aku terlalu memforsir diriku.


“Aku oke. Aku suka kok kegiatan belajar ini,” ucapku lagi-lagi berbohong.

__ADS_1


“Jangan telat makan, sesekali kamu harus menghibur diri. Ajak abangmu kemana kek, beli eskrim, nonton, atau apapun yang bisa bikin kamu gak stress. Udah lima menit. Kumatikan ya, Bumi. Selamat belajar.”


__ADS_2