
"Denger-denger kamu udahan sama Biru?"
Aku yang sedang mengerjakan PR di jam pulang langsung menoleh dan menemukan Namira sedang berdiri dan menunggu jawabanku.
"Iya," jawabku sekenanya.
"Kenapa?"
"Udah gak sejalan aja," jawabku berbohong. Aku tahu bahwa Namira tidak sebodoh itu untuk langsung percaya. Namun ia justru mengangguk kemudian duduk di bangku bagian depan.
"Kalau aku deketin Biru apa boleh?"
Aku cukup terkejut dengan pertanyaannya itu. Aku menatapnya yang tampak sedang menunduk. "Ya, silahkan. Udah bukan urusanku," jawabku.
Saat mengatakan itu terasa seperti ada sesuatu yang mengganjal dalam dadaku. Sesuatu yang terasa sedikit sakit dan menyesakkan. Aku jadi bertanya-tanya, apakah aku sudah siap melihat Biru bersama yang lain? Melihat Biru menatap selain padaku. Aku tidak rela
"Oke makasih buat jawabannya, Bumi," Namira mameang senyum cerahnya. Dapat kurasakan perasaan bahagia yang sedang meluap dalam dirinya. "Jujur aja. Aku nyesel karna mau backstreet dulunya. Padahal lihat gimana Biru ngetreat kamu, bikin aku juga mau ditungguin waktu pulang sekolah, makan bareng di kantin, dikenalin sama temen-temannya."
Aku hanya menjadi pendengar setianya karena jujur saja aku masih tak tahu kenapa Namira tiba-tiba mengatakan ini padaku.
"Bumi, bantu aku deketin Biru ya," ia meraih tanganku dan memohon.
Bagaimana bisa ia memintaku untuk membantunya? Aku dan Biru bahkan belum genap 2 bulan usai.
"Maaf, aku gak bisa bantu."
"Kenapa? Kamu bilang kalau kamu gak apa-apa misal aku suka Biru."
"Nam, cari cara sendiri. Aku udah gak berhubungan lagi sama Biru," ucapku.
Namira mendengus. "Bilang aja kalau kamu belum move on."
Aku mencoba mengabaikan itu.
__ADS_1
Namira berdiri. Tampaknya ia kesal dengan jawabanku. "Belagu banget, gak ngaca sih. Biru itu cowok ganteng, populer cocoknya sama yang setara," gumamnya lalu meninggalkan kelas begitu saja.
Aku meletakkan alat tulisku dan menghela napas kasar. Moodku sudah hancur. Dan apa katanya? Belagu? Entah apa yang Namira pikirkan. Ia menjadi sosok berbeda sekarang, saat kamu hanya berdua disini. Mungkin inilah sifat aslinya.
**
"Hari ini pemeriksaan ponsel, gawat!" Beberapa siswa tampak kalang kabut menyembunyikan ponselnya. Bahkan Fanny juga sama. Ia bingung mencari tempat persembunyian untuk ponselnya.
"Memangnya kenapa sih Fan disembunyikan?" tanyaku.
Kartika hanya terkekeh. Ia tampak santai karena memang jarang membawa ponsel. "Pasti ada apa-apanya tuh."
"Sembarangan! Aku gak suka aja, yang cek kan komisi disiplin. Bukan guru. Pasti mereka bukannya ngecek yang bener malah buka chat buat cari gosip," ucapnya menjelaskan. "Kasus seperti ini banyak loh udah. Dulu Zaskia, Manda, sama Ina jadi bahan pembicaraan gara-gara komisi disiplin baca chat mereka."
"Emangnya kenapa?" Aku masih tak mengerti.
Kartika semakin tertawa. "Dia kan lagi backstreet sama Rafaza, jadi takut ketauan."
Aku mengangguk-angguk mengingat tentang hal yang hanya diketahui oleh kami saja. Sontak aku jadi teringat isi chatku dengan Biru saat kami membahas mengenai keluarganya. Itu adalah rahasia Biru. Bisa gawat kalau tersebarm karena mau bagaimana pun aku sudah berjanji untuk menjaga rahasia paling penting itu.
"Aku gak mau chatku sama Biru dibaca," seruku.
"Belum kamu hapus?"
Aku menggeleng. Aku tidak rela. Jika merindukan Biru, aku akan kembali membaca pesan-pesan yang kamu kirimkan.
Fanny sudah mendapatkan tempat persembunyian untuk ponselnya yaitu di bawah vas bunga. Tempat itu sedikit berisiko menurutku dan membuatku tak mau mengikuti jejak Fanny.
Aku mengedarkan pandanganku ke penjuru kelas. Kulihat Bima yang sibuk membungkus ponselnya dengan plastik berwarna putih. Cepat-cepat aku menghampirinya.
"Bima, titip sembunyiin dong," ucapku memohon.
"Kamu yakin mau minta tolong Bima?" tanya Rafaza terlihat heran.
__ADS_1
Aku sudah tak sanggup berpikir lagi. Waktu juga semakin habis. "Iya."
"Dia itu aneh-aneh, Bumi. Mending cari aman aja deh," ucapnya.
Bima meraih ponselku begitu saja. "Sini, aku jago nyembunyiin. Tenang aja. Kalau ketahuan, aku bakalan traktir kamu apapun." Ia terlihat percaya diri. Tapi justru bagus karena artinya Bima benar-benar bisa membanggakan kemampuan menyembunyikannya.
Bima mulai membungkus ponselku dengan plastik dengan warna berbeda. Ia menggulung-gulungnya sedemikian rupa hingga plastik itu terlihat tebal. Ia memberikan karet penuh warna untuk memberikan penanda pada ponsel yang sudah terbalut plastik.
"Udah. Sini ikut aku."
Aku mengikuti langkah Bima keluar dari kelas. Tampaknya komisi disiplin sudah sampai pada kelas sebelah dan menandakan bahwa sebentar lagi giliran kelas kami.
"Kenapa ponselmu disembunyikan?" tanyaku.
"Biasalah, cowok," ucap Bima sambil terkekeh.
"Bima, Bumi, cepet. Komisi dateng," teriak Rafaza yang berteriak dari kelas kami.
Bima mengancingkan jempolnya. Saat ini kamu berada di samping koridor yang cukup sepi. "Ini dia tempat paling bagus."
Bima langsung melemparkan ponsel kami ke dalam tong sampah berwarna kuning itu. Aku hanya mematung melihat ponselku terjatuh dan menyatu bersama sampah-sampah kertas dan Snack.
"Bima!" Seruku marah.
"Aman. Mereka gak akan ngobrak-abrik tong sampah. Yuk balik cepet." Bima berjalan kembali ke kelas.
Aku menjadi tak yakin kepadanya. Tetapi komisi disiplin sudah terlihat memasuki kelas membuatku buru-buru mengikuti langkah Bima.
Semuanya berjalan dengan lancar. Tidak ada satupun yang bermasalah di kelas kami. Aku menghela napas lega. Fanny langsung mengambil ponselnya dengan buru-buru. Aku juga langsung berdiri dan mengajak Bima untuk mengambil ponsel kami. Namun sayangnya guru mata pelajaran berikutnya sudah masuk membuat kami menunda itu.
Di pulang sekolah, aku dan Bima sibuk mengobrak-abrik tong sampah berukuran 1 meter ini karena saat kami pulang sekolah, tong sampah tadi sudah kosong melompong bersama ponsel-ponsel itu.
"Makanya jangan aneh-aneh. Kita jadi kayak gelandangan nih." Gerutuku kesal. Bahkan air mataku sampai kering karena belum juga menemukan ponsel kami di tumpukan sampah yang menjijikkan dan bau ini.
__ADS_1
Sedangkan Bima sejak tadi hanya tertawa terbahak-bahak sambil terus membolak-balikkan tumpukan sampah.