
Sekolah tanpa Biru terasa sepi. Meskipun teman-temanku selalu berusaha menghiburku, rasanya tetap berbeda. Jam istirahat kedua yang biasanya kupakai untuk menonton Biru bermain sepak bola menjadi hampa. Padahal baru beberapa hari, tetapi pengaruh ketidakadaan Biru membuatku gelisah.
Kartika hari ini tidak masuk sekolah karena sedang sakit. Sedangkan Fanny dan yang lainnya sedang mengikuti ujian susulan.
Jadilah aku duduk sendirian di rooftop. Ini adalah salah saatu tempat yang kusuka. Sebenarnya bukanlah rooftop seperti yang ada pada drama korea. Tempat ini justru berisi tanaman-tanaman yang menjadi tugas praktek biologi. Tanaman itu berada di dalam kubah kaca.
Tak banyak siswa mau ke tempat ini karena sangat panas. Pantulan sinar matahari kaca-kaca itu membuat suhu terasa meningkat.
Tapi ini justru menjadi tempat favoritku saat sedang sendirian. Seperti saat ini, aku sedang duduk di dekat gudang penyimpanan. Setidaknya disini terdapat atap yang membuatku terlindungi dari sinar matahari. Tempat ini juga membuatku dapat langsung melihat dengan luas ke arah lapangan.
Aku memakan makan siangku dengan lahap karena mata pelajaran hari ini benar-benar menguras energi dan otakku.
“Kupikir gak ada orang.”
Aku langsung menoleh dan menemukan Bima yang tampak terkejut dengan kehadiranku. Ia membawa kotak bekal berwarna ungu tua. Meskipun begitu Bima tetap berjalan menghampiriku.
“Mau makan siang?” tanyaku.
Bima mengangguk. Aku merapikaan kotak bekalku dan berniat mencari tempat lain. “Oh ya udah. Aku pindah,” ucapku.
Namun baru saja hendak berdiri, Bima menahan lenganku. “Duduk aja. Nanti sakit perut baru makan juga,” ucapnya.
Akhirnya aku terdiam dan kembali duduk di tempat semula. Bima duduk di sebelahku dengan santai sembari membuka kotak bekalnya.
“Kamu sering kesini?” tanyanya.
“Iya. Kalau sendirian aku selalu kesini,” jawabku.
“Aku juga. Tapi aneh ya kita malah baru ketemu sekarang. coba aja dari dulu,” ucapnya sambil sibuk dengan kotak bekalnya itu.
“Mau gak?” Bima menawariku kotak bekal yang dibawanya. Namun yang kulihat benar-benar membuatku tak percaya. Issi kotak bekal Bima tak jauh berbeda dengan bekal milik anak TK. Sayuran yang dipotong dengan beragam bentuk, nasi yang dibuat berbentuk bebek.
Aku langsung tertawa melihatnya. Sungguh, hanya hal yang refleks saja.
“Dih, malah ketawa. Ditawarin juga,” gerutunya.
“Ya ampun. Lagian bekalmu lucu banget. Beda ya sama karaktermu.”
“Mamaku kan bikin bekal buat adek-adekku. Mereka masih TK, jadilah disamain sekalian sama punyaku,” ucapnya menjelasnya.
Aku mengangguk-angguk mengerti.
__ADS_1
“Makanya aku milih cari tempat makan yang sepi, soalnya malu apalagi kalau sampe temen-temen liat,” ucapnya sambil terkekeh.
“Kamu emang masih punya malu?” seruku.
“Punya lah!”
Kami bercerita mengenai banyak hal. Bima yang humoris ternyata cukup menyenangkan meskipun beberapa kali ia juga mengesalkan.
“Jadi kamu gak ikutan masalah miras itu?” tanyaku.
Bima menggeleng sambil meneguk air mineral miliknya.
“Aku bukan tim inti mereka sih. Bareng juga di waktu-waktu tertentu. Ya biasalah, cowok populer kayak aku kan bisa masuk di circle manapun,” ucapnya membuatku langsung memandangnya dengan kesal.
Bima tertawa setelahnya.
“Menurutmu Biru itu orang yang seperti apa?”
Ia terheran dengan pertanyaan yang tiba-tiba kuajukan. “Ya, dia baik, setia kawan, terus apalagi ya? Aku gak tau deh. Intinya gitu.”
“Jawab yang bener kek,” seruku kepadanya.
Jawaban itu sama sekali tak membantuku.
“Bim! Turun. Kurang 1 nih, cepet lah,” suara teriakan salah satu siswa dari lapangan membuat Bima langsung berdiri.
“Iye, bentar.” Bima kembali memasukkan kotak bekal yang sudah kosong itu ke dalam totebagnya. “Bum, duluan ya. Jangan lama-lama disini, ada hantunya.”
Setelah mengatakan itu ia langsung berlari kecil meninggalkanku. Ah, sial hanya membuatku takut saja. Cepat-cepat aku mengemasi barangku dan segera turun dari sana.
Di hari Kamis, Biru sudah kembali ke sekolah.
Banyak orang yang langsung menyambutnya. Tetapi aku justru merasa asing. Sudah tiga hari kami benar-benar tidak saling berkomunikasi. Biru benar-benar mendiamiku.
Kuputuskan untuk berpura-pura tak melihatnya dan langsung menuju kelas. Di jam istirahat, aku cukup terkejut karena Biru sudah menunggu di pintu kelasku. Ia sama sekali tidak mempedulikan orang-orang di sekitar yang menatapnya.
Aku cepat-cepat menghampirinya. “Yuk makan siang,” ucapnya sambil menarik lenganku.
“Emm aku bawa bekal,” jawabku.
“Ya udah makan bareng.”
__ADS_1
Aku mengangguk dan mengikuti langkahnya menuju kantin. Entahlah, kami terasa sangat canggung saat ini. Atau hanya diriku saja yang berpikiran seperti itu?
Biru membungkus makanannya dan mengajakku untuk makan di tempat lain. “Makan di perpus boleh gak ya?” tanyanya.
Dia benar-benar gila. Aku langsung menggeleng untuk menanggapi itu. “Gak boleh,” ucapku.
“Terus makan dimana? Kantin rame banget.”
Aku langsung mengusulkan untuk makan di rooftop seperti kemarin. Setidaknya jika ada Biru aku tidak akan takut.
“Aku baru tau ada tempat ini,” ucap Biru yang tampak tak percaya.
“Iya, jarang yang kesini. Soalnya rata-rata kelas 12 yang pake buat praktek.”
Biru mengangguk-angguk. Aku membawanya ke tempat kemarin, di depan gudang yang selalu terkunci rapat itu.
Kami langsung memakan makan siang kami tanpa mengobrol sepatah kata pun. Padahal aku menunggu Biru untuk membuka pembicaraan. Barulah setelah makanan kami tandas, Biru memulainya.
“Bumi, aku mau minta maaf soal beberapa hari yang lalu. Maaf karena mungkin apa yang kuucapin terlalu kasar, maaf karna sempat memaksa kamu buat ngerti pikiranku,” ucapnya sambil menatap jauh ke depan.
Dari samping kulihat wajah Biru yang semakin tirus. Tulang rahangnya terlihat semakin tegas.
“Aku juga mau minta maaf,” jawabku dengan sungguh-sungguh. “tapi lebih baik memang gitu. Aku lebih suka kalau kamu terbuka sama aku mengenai hal-hal yang ada di pikiranmu. Daripada saling salah paham. Jadi aku mau kamu jujur aja tentang apapun,” ucapku.
Biru menoleh membuat tatapan mata kami bertemu. Ia meraih tangan kiriku dan menggenggamnya. “Iya, aku janji bakalan selalu jujur tentang apapun sama kamu. Makasih ya udah mau ngertiin,” ucapnya sambil memasang senyuman yang benar-benar kurindukan.
Senyuman yang membuat kedua matanya melengkung bak bulan sabit.
Aku mengangguk dan menepuk-nepuk ujung rambutnya lalu mengacaknya gemas.
“Kamu gak kangen diemin aku berhari-hari?” tanyaku sambil mencebik.
Ia terkekeh. “Loh kan sebelumnya justru kamu diemin aku lebih dari dari itu.”
“Oh jadi ceritanya mau bales dendam?”
“Iya. Biar kamu tahu rasanya didiemin itu gak enak.” Ia tersenyum dan merapikan anak rambutku yang beterbangan terkena angin.
“Oh ada orang?”
Kami dengan akrab langsung menoleh ke sumber suara. Ternyata ada Bima yang berdiri disana membawa kotak bekal ungu tuanya seperti kemarin.
__ADS_1
“Emm, maaf Bim. Kami udah selesai kok, kamu disini aja,” ucapku merasa tak enak hati karena ini tempat kesukaan Bima yang biasanya digunakan oleh pria itu.
“Gak usah. Lagian udah mau bel,” ucap Bima sambil tersenyum kecil. Ia tak mengatakan apa-apa dan kemudian berbalik kembali menuruni tangga.