
“Selamat ulang tahun.”
Ucaparan meriah itu langsung terdengar saat aku baru saja membuka pintu kamar. Nyawaku bahkan masih melayang-layang diantah berantah. Di hadapanku ayah, ibu, dan abang sibuk bernyanyi. Ada kue tart coklat yang ibu bawa dengan lilin yang menyala.
“Ayo, dek. Make a wish,” ucap abang menyuruhku. Aku langsung memejamkan mata dan mengucapkan beberapa harapan.
Kami sarapan bersama-sama. Ibu sudah memasakkan beberapa menu kesukaanku.
“Hari ini adek mau ngapain?” tanya ayah menanyakan tentang kegiatanku hari ini.
“Sekolah seperti biasa. Habis itu pulang, udah deh,” jawabku dengan simple.
“Gak sama Biru? Dia gak tahu ya kamu lagi ulangt tahun?” tanya ibu.
Aku tak menjawab dan meneruskan sarapanku sambil mengangkat bahu. Aku saja sama sekali tidak pernah membahas mengenai hari ulang tahun dengan Biru. Aku juga tak tahu kapan hari ulang tahunnya, dan bisa dipastikan dia pun begitu.
“Aku mau mandi. Mau siap-siap,” ucapku kemudian segera pergi ke kamar.
Hari sekolah benar-benar seperti hari biasanya. Bahkan sepertinya tidak ada satu orangpun yang tahu bahwa ini adalah hari ulangtahunku. Yah, aku pun sudah biasa dengan itu dan tak terlalu mempermasalahkannya.
Di jam istirahat, aku menikmati makan siangku bersama teman-temanku. Saat itu ponselku berdering menampilkan pesan masuk dari Biru.
“Masih marah?”
“Nanti pulang sekolah sibuk gak?”
“Apa boleh kalau nanti sore aku mau ketemu kamu?”
Tiga pesan beruntun itu mampu mengunci pandanganku pada layar ponsel. Mengingat bagaimana Biru yang berjuang keras kemarin, membuatku tersentuh. Aku memang tak seharusnya mendiaminya selama beberapa hari ini hanya karena masalah yang bahkan aku tak tahu persis bagaimana sebenarnya.
“Boleh.” Jawabku dengan singkat. Setelah itu buru-buru aku memasukkan ponselku ke dalam kantong rokku.
“Biru, gimana Bum? Gak ikut sparing bola ya berarti?” tanya Fanny.
Aku bahkan tak tahu tentang itu. “Kayaknya engga,” ucapku.
Fanny mengangguk-angguk mengerti. Yang paling kusuka dari mereka adalah mereka sama sekali tak pernah ikut campur dengan urusanku. Mereka tidak memandang rendah Biru, sehingga aku merasa lebih nyaman.
“Bumi.”
Aku yang hendak meneguk minumanku jadi meletakkan kembali gelas berisi jus apel itu dan mendongak. Ku lihat Bima yang sedang berdiri di sisi meja.
__ADS_1
“Kenapa?”
“Ini dari Biru. Katanya sisanya nanti menyusul. Selamat ulang tahun ya. Maaf aku malah belum siapin kado karna gak tahu kalau hari ini ulanag tahunmu,” ucap Bima sambil memberikanku buket bunga mawar berukuran sedang.
“Gak apa-apa kok, Bim. Makasih ya,” ucapku.
Bima mengangguk lalu pergi begitu saja. Entah ada apa dengannya, sifatnya memang cepat berubah-ubah. Aku memperhatikan buket di genggamanku ini. Pilihan warnanya tidak banyak. Hanya hitam, merah, dan putih. Sangat khas Biru. Aroma mawar ini juga sangat lembut.
“Kamu ulang tahun?” tanya Kartika.
Aku mengangguk.
“Kok gak bilang.” Aku hanya terkekeh saat teman-temanku menjadi heboh mengucapkan ulangtahunku.
“Gak mau tau pokoknya harus kita rayain bareng. Kamu kosong kapan?” tanya Fanny yang tampak sangat bersemangat.
“Emm hari ini aku ada janji. Kalau besok gimana? Kuajak kalian ke rumah,” ucapku memberikan ide.
Sebelumnya aku sama sekali tidak pernah mengajak teman untuk bermain ke rumah. Aku masih ragu apakah mereka akan berkenan atau justru tidak. Tapi ternyata mereka mengiyakan hal itu sehingga membuatku lega.
Pulang sekolah, aku buru-buru mandi sesampainya di rumah karena Biru bilang akan menjemputku. Aku membuka lemari dan mencoba mencari pakaian yang cocok. Intinya hari ini aku ingin tampil beda.
“Adek cari apa?” tanya ibu penasaran dengan kesibukanku.
Ibu menghampiriku dan ikut memilihkan baju yang pas untukku. Setelah berpikir cukup lama akhirnya aku menjatuhkan pilihan pada dress berwarna peach selutut yang sederhana. Bagian pinggangnya terdapat pita yang membuatnya terlihat manis.
Selanjutnya aku memakai bedak tipiss dan lipgloss berwarna pink. Aku membiarkan rambut sebahuku jatuh dan mengikat dua bagian depannya ke belakang dan menambahkan pita berwarna senada.
“Bu, apa gak berlebihan?” tanyaku tak percaya diri tiba-tiba.
“Engga kok. Cantik.”
Aku yang sudah lelah mencari pakaian lagi akhirnya menerima dengan pasrah. Tak lama Biru pun datang. Ia mengenakan kaos putih dan kemeja biru muda kesukaannya.
“Hei, selamat ulangtahun ya. Ini buat kamu,” ia memberikanku box kecil yang aku tak tahu apa isinya.
“Kan tadi udah ngasih bunga.”
“Ini beda lagi.”
Baru 4 hari tidak melihatnya, entah mengapa Biru menjadi berkali-kali lipat lebih tampan dari sebelumnya. “Udah siap?” tanyanya.
__ADS_1
Aku mengangguk dan tersenyum.
Ia mengelus puncak kepalaku seperti biasanya. “Bagus. Aku kangen banget sama kamu,” ucapnya membuat perasaanku semakin membuncah.
“Aku juga kangen.”
“Apa? Coba yang keras,” ucapnya sambil terkekeh.
Aku memukul bahunya pelan untuk menunjukkan kekesalanku. Kali berangkat menuju salah satu toko eskrim yang cukup terkenal. “Pesen aja yang mana kamu suka,” ucapnya. “tapi jangan borong ya.”
Aku memilih es krim dengan harga paling kecil.
“Kenapa pilih itu? pilih yang lain aja, Bumi. Ini ada strawberry kesukaanmu,” ucapnya menawarkan. Tetapi aku menggeleng.
“Lagi pengen vanilla.”
Biru akhirnya mengalah. Kami memilih duduk di dekat jendela. Spot kesukaanku dimanapun. “Kamu gak pesen juga?” tanyaku merasa tak nyaman karena hanya aku yang memakannya.
Biru tersenyum kemudian menggeleng. “Enggak. Lihat kamu udah lebih dari cukup,” ucapnya.
“Habis ini mau kemana? Kamu bebas pilih deh. Mau mantai? Atau nonton.”
“Biru, kamu sudah ngasih banyak hadiah. Udah cukup,” jawabku.
Ia meraih tanganku lalu menggenggamnya. “Ini kan hari spesialmu. Seenggaknya hari ini aku mau bikin kamu seneng,” ucapnya.
“Yakin aku boleh milih apa aja?” tanyaku memastikan.
“Iya. Asal budget cukup lah ya,” ucapnya bercanda.
“Aku mau ke rumahmu boleh? Mau lihat kelinci-kelincimu. Kan kamu pernah nawarin dulu. Aku juga pengen kenal adikmu,” ucapku langsung memikirkan hal apa yang paling kuinginkan di hari ulang tahunku.
Dapat kulihat wajah Biru yang berubah. Senyumannya hilang. Ia hanya menunduk selama beberapa saat. “Biru, gak ada yang menarik dari itu semua.”
“Tapi aku mau.” Ku tatap matanya dengan sungguh-sungguh.
Biru menghela napas. “Kenapa kamu milih itu?”
“Aku pengen kenal kamu lebih jauh,” jawabku dengan mantap.
“Kamu mungkin bakalan ninggalin aku kalau tahu,” ucapnya sambil terkekeh. Suaranya menjadi sumbang. Entah apa yang terpikir pada dirinya.
__ADS_1
Aku meraih kembali tangannya yang terlepas dari genggamanku dan menggenggamnya lebih erat. “Biru, kenapa kamu menyimpulkan sendiri? Aku bahkan belum apa-apa. Tapi satu hal yang harus kamu tahu, aku gak akan ninggalin kamu entah hal apa yang kamu takutin dari itu semua,” ucapku dengan yakin.
Mungkin abang memang benar. Aku harus lebih mengenal Biru. Aku harus mendobrak tembok besar yang ia buat dari semua orang.