
Tak mudah bagi kami untuk keluar dari kericuhan ini. Pikiranku terus tertuju pada Biru. Bagaimana keadaannya? Dia terjebak disana kan?
Echa sempat terjatuh membuat Bima dengan susah payah membantunya berdiri di tengah kerumunan ini agar ia tidak terinjak.
“Dikira bisa segampang itu keluar hah?” seorang siswa sekolah sebelah tiba-tiba menghadangku. Ia semakin mendekat. “Sendirian kan?”
Aku masih mematung saat ia mengayunkan bata kearahku.
Bugg
Pria itu terjatuh. Dapat kulihat jersey dongker yang sudah basah akan keringat juga noda darah yang menyatu dengan keringat di lengannya. Itu Biru.
Sayangnya pria tadi tak sendirian. Beberapa temannya langsung menyerang Biru. Biru masih mencoba untuk menyembunyikanku di balik punggungnya yang lebar itu. Biru benar-benar menggila. Ia memberikan pukulan demi pukulan tak peduli dengan luka-luka yang ia dapatkan.
“Biru!” teriakku saat ia terjatuh. Air mataku jatuh.
Biru menatapku sekilas sebelum kembali bangkit.
“Ayo,” Bima menarik lenganku lagi.
Aku bersusah payah untuk melepaskannya. “Bima, bantu Biru. Dia sendirian!” teriakku.
“Bawa Bumi, Bim!” seru Biru. “cepet!”
Mendengar itu air mataku semakin ruah karena Bima benar-benar mendengarkan suruhan Biru. Ia membawaku dan Echa menjauh dari sana.
“Minggir!”
Bima mendorong beberapa orang yang berada di depan kami. Echa hanya diam saja. Wajahnya pucat pasi. Bima yang biasanya penuh akan canda tawa menjadi sangat serius saat ini.
Kami berhasil keluar. Di depan stadion sudah banyak mobil polisi yang mengamankan. Kami berhenti agak jauh dari stadion dan duduk di trotoar. Napas Bima masih terengah-engah.
“Kalian gak apa? Ada yang luka?” tanya Bima panik.
Di sebelahku Echa menggeleng. Namun air matanya berjatuhan.
“Bumi?” tanya Bima kini.
Aku menggeleng. “Bim, keadaan disana gimana?” tanyaku.
Bima menggeleng. “Parah.”
Aku ingin tak mempercayai ucapannya. Tetapi bisa kulihat beberapa orang yang keluar dengan kepala penuh darah. Suara ambulans memekakan telinga.
“Ayo kita pulang. Kuantar kalian. Cha, motormu taruh disini dulu aja. Nanti biar temenku yang anterin,” ucap Bima setelah menelpon temannya.
“Aku gak mau pulang. Aku mau nunggu Biru,” tuturku. “Gimana kalau Biru kenapa-napa.”
__ADS_1
“Bumi!” suara Bima kini mengeras membentakku. Ia menatapku lurus dan memegang kedua bahuku.
“Kamu gak denger tadi Biru sendiri yang mau kamu cepet pergi dari sini. Itu artinya dia bisa ngatasin itu. Kamu gak percaya sama Biru?”
Aku tak bisa menjawab itu. Bima mengacak-acak rambutnya kasar.
Seorang pria menghampiri Bima dan memberikan kunci mobil. Mereka tampak akrab dan bercakap-cakap sebentar sebelum akhirnya Bima kembali menghampiri kami.
“Ayo, pulang.”
Pada akhirnya aku hanya bisa menurut. Bima mengantarkan Echa terlebih dahulu. Sepanjang perjalanan kami benar-benar hanya diam saja.
Kini saatnya Bima mengantarkanku untuk pulang.
“Sampe sini aja,” ucapku saat kami berhenti di depan gerbang rumahku.
Bima menggeleng. “Aku harus jelasin dulu ke orangtuamu,” ucapnya.
“Gak usah.”
Bima benar-benar keras kepala. Ia sempat mengobrol dengan ibu dan menjelaskan situasinya. Ternyata ayah menelpon pihak sekolah untuk menanyakan keberadaanku yang tak kunjung pulang. Ponselku memang dalam keadaan mati sehingga tidak bisa mengabarkan mereka terlebih dahulu.
“Terimakasih ya, nak Bima sudah mengantarkan.”
“Iya tante, saya pamit pulang dulu,” ucap Bima.
Aku berjalan menuju kamar setelah ibu puas memberikan tegurannya untukku. Aku benar-benar merasa lelah sekarang.
Namun saat membuka pintu kulihat abang yang duduk dengan posisi siap menginterogasiku. Aku menutup pintu dan menunduk siap dengan omelan sesi kedua.
“Adek gak apa-apa?”
Dugaanku salah besar. Abang dengan susah payah berjalan menghampiriku. Aku mengangkat kepala dan melihat wajahnya yang tampak khawatir. Aku sudah tak bisa menahan air mataku. Aku menangis sejadi-jadinya di hadapannya.
Abang memelukku dan mencoba menenangkan.
“Abang gak usah marah-marah lagi,” ucapku sambil sesegukan.
Abang mengangguk. “Iya. Enggak kok. Kamu beneran gak apa-apa? Gak ada yang luka?”
“Enggak ada,” jawabku.
Aku menghapus air mataku dengan tergesa-gesa. Abang langsung inisiatif membantuku. “Abang gak mau marah. Cuma mau kamu cerita,” ucapnya dengan serius.
Akhirnya kuceritakan semuanya kepada abang tanpa ditutup-tutupi lagi. aku masih sedikit ragu dengan tanggapannya karena ini adalah pertama kalinya aku bercerita seperti ini kepadanya. Tapi abang benar-benar menyimak ceritaku dengan sabar.
“Jadi Biru nolongin kamu?” tanyanya.
__ADS_1
Aku mengangguk. Abang menghela napas panjang. “Kamu khawatir sama dia?”
“Iya.”
“Sayang sama dia?”
Aku memberikan anggukan. Abang membawaku ke dalam dekapannya. “Maaf ya, kalau abang sehat, abang yang bisa temeni kamu.”
“Gak apa-apa.”
“Ya sudah kamu istirahat aja. Pasti kamu masih shock.” Abang berjalan menuju pintu kamarku. Sebelum menutupnya abang masih sempat mengatakan satu hal.
“Soal Biru, dia gak akan kenapa-napa. Percaya sama abang. Jadi gak perlu terlalu khawatir.”
Kuharap juga begitu. Aku merebahkan diri mencoba berpikir mengenai semua yang terjadi hari ini. Cepat-cepat aku mengisi daya pada ponselku berharap Biru menghubungiku.
Namun hingga malam, Biru belum juga online. Itu membuatku semakin resah. Apa benar yang Bima dan abang katakan bahwa Biru akan baik-baik saja? Tapi kenapa dia belum juga menghubungiku?
Pertanyaan itu terus berputar di kepala.
Esoknya sekolah diliburkan karena insiden itu. Aku tak menyangka jika efeknya separah ini. Biru belum juga kuketahui bagaimana kondisinya. Di grup sekolah juga ramai akan pembicaraan kejadian kemarin tetapi mereka sama sekali tidak membahas Biru.
Aku tak bisa hanya terdiam begini saja tanpa melakukan apapun padalah jelas-jelas Biru sudah melindungiku. Aku mencoba menelpon Bima untuk membantuku.
“Halo, Bim. Kamu sibuk?” tanyaku.
“Kenapa?” suaranya serak. Sepertinya ia baru bangun.
“Biru gimana? Apa kamu gak ada informasi?” mereka berada di lingkungan pertemanan yang sama, seharusnya Bima tahu sesuatu.
Lama tak ada jawaban di seberang sana. “Biru masuk rumah sakit semalam. Lengannya dijahit.”
Aku mematung mendengar itu. “Terus dia dimana sekarang? apa dia dirawat disana? Rumah sakit mana?” serangku.
“Bumi, stop. Aku tahu kamu khawatir. Tapi udahlah, jangan berlebihan,” ucapnya. Itu membuatku sangat kesal.
“Berlebihan? Aku ngerasa itu wajar. Aku cuma mau tahu gimana keadaan pacarku sekarang, emangnya salah?” Aku menekankan kata pacar kepadanya.
“Ya udah pastiin aja sendiri. Punya kaki buat jalan kan?”
“Gara-gara kamu! Coba aja kemarin kamu nolongin Biru, pasti dia gak bakal begini sekarang!” seruku meluapkan semua kekesalan ini.
“Terus biarin kamu mati konyol? Haha. Lucu.”
Sambungan telepon dimatikan begitu saja. Aku langsung melempar ponselku ke ranjang. Aku menangis karena kesal dengan Bima. Padahal aku hanya ingin tahu keadaan Biru dan taka da lagi yang bisa kutanyakan tentang itu kecuali dirinya. Tetapi ia malah mengatakan aku berlebihan.
Mengesalkan!
__ADS_1