
“Hari ini kamu latihan lagi?” tanyaku saat kami sedang menghabiskan waktu di salah satu café yang baru saja buka.
Di hadapanku Biru mengenakan kemeja biru laut yang sangat cocok dipakainya. “Iya, nanti sore.”
Aku mengangguk mengerti. Biru mengikuti dua ekstrakulikuler, basket dan sepak bola. Tetapi yang paling ia senangi adalah sepak bola. Terbukti ia benar-benar meluangkan waktunya di hari Minggu yang cocok digunakan untuk bersantai ini.
“Jadi kamu kenal abang dari komunitas sepak bola ya?” tanyaku tiba-tiba mengingat tentang itu.
Ia meletakkan cangkir kopinya yang sudah tandas kemudian menatapku lurus. “Iya, kami sering sparing. Jadi ya lumayan kenal.”
“Terus darimana kamu tahu kalau aku adiknya?”
“Aku gak tahu. Cuma nebak aja dari namamu. Nama kalian unik, apalagi nama keluarga.”
Itu cukup masuk akal.
“Gimana keadaan Laut sekarang?” tanyanya.
Aku terdiam. “Gak ada perubahan signifikan.”
Biru mengulurkan tangannya dan mengelus kepalaku dengan lembut. “Semoga Laut cepat pulih ya. Kamu pasti sudah rindu dia.”
“Makasih.” Hatiku langsung menghangat mengetahui bahwa ada satu orang yang mempedulikan perasaanku saat ini.
“Kamu gak ada acara hari ini?” tanyanya.
“Gak ada. Aku kan sudah bilang.”
Ia terkekeh. “Ayo kita ngedate.”
“Loh bukannya ini sudah ngedate?”
“Bener juga sih. Tapi aku mau hal yang lebih menyenangkan."
Aku terheran-heran dengan itu. “Memangnya mau kemana?”
Biru tak menjawab. Ia hanya tersenyum seolah ingin membuatku menyimpan segala rasa penasaran ini. Baiklah, aku mengikuti permainannya.
“Tapi boleh aku ganti baju dulu?” tanyaku. Aku hanya memakai kaos polos berwarna putih dan celana olahraga. Tampilan ini benar-benar memalukan. Kalau Biru tidak mengajakku sarapan di tempat yang dekat dengan rumahku ini, pasti aku akan memakai yang lebih cantik.
“Buat apa? Kamu udah cantik,” ucapnya membuatku tersipu.
“Pokoknya aku mau ganti baju.”
Biru terkekeh kemudian mengangguk. Kami kembali ke rumah terlebih dahulu. Ibu saat itu sedang sibuk memasukkan pakaian untuk dibawa ke rumah sakit.
“Loh sudah pulang?” tanya ibu.
“Iya, Bu. Tapi mau keluar lagi, adek masih mau ganti baju.”
“Oh ya sudah.”
Biru menunggu di ruang tamu sambil berbincang dengan ibu. Sedangkan aku langsung menuju kamarku.
__ADS_1
Kubuka lemariku dan mencoba memindai pakaianku dengan cepat. Rasanya aku tidak memiliki satupun pakaian yang cocok digunakan untuk sesi dating. Oh ya ampun. Baru kali ini aku benar-benar merutuki isi lemariku.
Akhirnya pilihanku jatuh pada overall jeans yang kupadukan dengan kaos pendek bergaris putih hitam. Aku membuka kunciran rambutku dan menyisirnya ulang. Hari ini aku ingin membuat model twintail dengan menggulung bagian atasnya. Menjadi dua bulatan yang terlihat lucu.
Polesan terakhir, aku menggunakan sedikit bedan dan lipgloss pink yang baru kugunakan setelah hampir setahun membelinya.
Aku mengambil slingbag putihku dan menggunakan converse putih agar senada. Tunggu, apakah tampilan ini terlalu kekanakan? Aku hendak memilih ulang tetapi ibu sudah mengetuk pintu kamarku.
“Bumi, jangan lama-lama. Kasihan Biru nungguin,” ucap ibu.
Benar juga. Akhirnya aku memutuskan udah menyudahi ini dan segera keluar. dapat kulihat pandangan Biru yang langsung mendongak saat melihatku. Itu membuatku resah.
“Udah?” tanyanya.
Aku mengangguk. “Oke ayo berangkat.”
Kami langsung menuju entah kemana. Tetapi di tengah perjalanan Biru berkata ia ingin ke rumahnya sebentar. Akhirnya disinilah aku, menunggu di depan rumahnya dengan canggung.
Biru akhirnya keluar setelah beberapa menit dengan tampilannya yang berbeda. “Kenapa gak masuk? Gak ada orang kok, gak perlu malu,” ucapnya kepadaku.
Namun aku tetap saja menggeleng. “Kenapa ganti baju?” tanyaku saat melihatnya kini menggunakan kemeja hitam yang menampilkan kaos putih poloss di dalamnya.
“Biar couple sama kamu,” jawabnya. Sontak wajahku langsung memerah saat mendengar kalimat itu.
Aku tak mampu berkata-kata lagi.
Setelah setengah jam perjalanan, akhirnya kami sampai di kebun binatang. “Kamu ngajak aku kesini?” tanyaku.
Kami langsung memasuki pembelian tiket.
Ternyata lumayan ramai. Mungkin karena weekend. Aku mengantri untuk membelinya dan baru sadar bahwa Biru menghilang. aku benar-benar tak dapat menemukannya.
Apakah ia meninggalkanku?
Aku terkejut saat tiba-tiba Biru datang dan memasangkan sesuatu di kepalaku. “Apa?” tanyaku.
“Aku habis beli bando buat kamu. Tuh beli disana,” ia menunjuk ke area pembelanjaan souvenir yang terletak di samping ruang pembelian tiket.
“Ternyata bener-bener cocok sama kamu. Kamu jadi kelihatan seperti Minnie mouse,” ucapnya sambil tersenyum.
Aku meraih ponselku untuk bercermin disana.
Ternyata ia benar-benar membelikanku bando Minnie mouse. “Ini buat aku?” tanyaku memastikan.
“Iya dong. Terus buat siapa lagi?”
“Makasih, Biru.”
“Iya, sama-sama sayang.”
Apa? Dia memanggilku apa? Aku benar-benar langsung mematung. Oh ya ampun, sepertinya perutku dipenuhi kupu-kupu sekarang.
Setelah membeli tiket, kami langsung masuk dan disambut oleh berbagai binatang. Terakhir kali aku ke tempat seperti ini sekitar belasan tahun yang lalu dan saat itu masih terlalu kecil untuk mengerti.
__ADS_1
Hingga akhirnya kami sampai di tempat kelinci. Disini pengunjung bebas memberi makan kelinci-kelinci. “Kamu mau kasih makan?” tawar Biru.
Aku sebenarnya sangat tertarik dengan itu. Akan tetatpi aku sangat yakin kalau kegiatan seperti ini hanya akan sangat membosankan untuk Biru.
“Emm gak usah deh,” ucapku.
Namun Biru tetaplah Biru. Kepekaannya harus kuacungi jempol karena ia langsung meminta jatah wortel kepada petugas penjaga.
“Ayo masuk,” ajaknya sambil membawa wortel-wortel itu.
Kami sekarang sudah berada disini. Hamparan rumput yang lumayan luas dengan banyak kelinci-kelincu yang menggemaskan. Meskipun ini sudah siang, namun pohon rindang yang ada disini benar-benar tidak membuatku kepanasan. Beberapa kelinci menghampiriku dan berhenti di depan sepatuku.
Aku mengambil satu wortel dan duduk untuk bergantian memberi makan kelinci itu. sesekali aku menggendongnya. Ternyata ini benar-benar menyenangkan.
“Kamu gak mau kasih makan juga?” tanyaku kepada Biru.
Ia menggeleng dan hanya duduk di sebelahku. “Kamu suka kelinci?” tanyanya.
“Suka banget. Aku dulu pernah punya kelinci, tapi sayangnya kabur. Kami gak punya halaman yang luas buat pelihara kelinci, jadi susah,” curhatku kepadanya.
Biru selalu tersenyum saat ia menyimak ceritaku. Hal seperti itu selalu membuatku dihargai.
“Bumi, aku punya peternakan kelinci. Emang gak besar sih, karena itu cuma ternak rumahan. Kalau kamu mau main sama kelinci, bilang aja. Kuajak kamu kesana,” ungkapnya membuatku benar-benar terkejut dengan itu.
“Serius?” tanyaku.
Ia mengangguk sambil merapikan poniku yang berantakan terkena angin.
“Serius, Bumi.”
“Oke, kapan-kapan aku mau lihat ya.”
“Dengan senang hati.”
Setelah mengelilingi setengah kebun binatang, aku sangat lelah dan kami memutuskan untuk beristirahat di cafetaria. Dari sini kami bisa sambil melihat binatang-binatang yang ada di bawah karena tempat ini berada di lantai dua.
Biru memesankanku jus strawberry kesukaanku dan untuk dirinya sendiri adalah cappuccino. Benar-benar berbanding terbalik.
Aku sibuk memakan eskrim di minumanku saat tiba-tiba Biru memanggilku.
“Bumi lihat sini!” serunya.
Aku menoleh dan bunyi kamera langsung terdengar. Ia memotretku. “Biru! Aku gak siap,” omelku.
Ia terkekeh. “Kamu tetep cantik.” Ia memperlihatkan hasil fotonya.
Aku meraih ponselnya dan mencoba untuk melihat hasil foto lainnya. Ternyata sejak tadi Biru banyak diam-diam mengambil fotoku. Terlebih saat aku asyik sendiri memberi makan kelinci.
“Biru, aku jelek,” komentarku.
Biru mengambil ponselnya dari tanganku begitu saja. Ia melihat kedua tangannya dan menatapku dengan serius. “Bumi, jangan judge dirimu sendiri. Kamu sama sekali gak begitu. Kamu cantik. Fotomu aku izin buat kujadikan wallpaper ya,” ucapnya kemudian.
Aku tak habis pikir. Biru benar-benar sosok pacar yang sempurna. Ia mengerti apa yang perempuan butuhkan. Ia memberikan kalimat-kalimat manis yang mampu mengubah pemikiranku. Ia pendengar yang hebat. Ia dan tatapannya yang tulus. Jika aku ingin terus bersamanya untuk menghabiskan hidupku, apakah aku terlalu egois?
__ADS_1