
Ternyata jam istirahat masih lama. Kakiku sudah mulai terasa pegal karena terlalu lama berdiri. "Duduk aja, ga bakal ketauan," ucap Bima disebelahku.
Aku menggeleng dengan kuat. "Kalo ketauan bisa fatal," gumamku tak ingin mengulangi kesakahaan.
Untung saja sekolah menjadi sepi karena semuanya sedang dalam kegiatan pembelajaran sehingga aku tak perlu merasa malu mendapatkan hukuman yang seperti ini.
"Kamu betah banget. Padahal kan di taruhan waktu itu cuma 6 bulan."
Samar-samar dapat kudengar suara pria yang tampak sedang berbicara. Tampaknya suara itu berasal dari lantai 2. Karena terlampaui sepi sehingga pembicaraan itu menjadi terdengar olehku.
"Ya gak apa-apa lah " Itu adalah suara Biru.
Ada suara tawa. Biar ku ingat-ingat, sepertinya itu Adit. "Ru, jangan bilang kamu beneran suka sama Bumi? Ya elah, Ru. Kamu cakep, banyak tuh seleb sekolah pada mau. Lagian kan cuma taruhan, udah dapet uangnya juga dari anak-anak. Lepas aja mah."
Apa? Taruhan?
"Engga ah." Biru menanggapinya lagi.
"Bumi terlalu bosenin kan? Atau kamu masih mau manfaatin dia buat ngerjain PRmu? Tapi asli sih, aku gak nyangka kalau kamu bisa naklikim Bumi. Dia padahal keliatan gak tertarik sama sekali loh sama dunia pacaran atau sejenisnya."
Air mataku langsung mengalir. Aku sudah cukup paham apa yang sedang mereka bahas. Jadi aku hanyalah objek taruhan ya? Dan Biru berhasil dengan game yang kejam itu sehingga mendapatkan bayaran yang setimpal. Artinya semua ini hanya kebohongan belaka? Perasaan Biru padaku tidak nyata. Semua hanya angan-anganku saja.
Dapat kudengar suara langkah kaki yang menuruni tangga semakin mendekat. Aku masih tetap tertunduk sambil terisak.
Saat suara langkah kaki semakin terdengar, Bima menarikku menuju ke gudang penyimpanan olahraga yang berada di sebelah kelasku dan tangga. Kami bersembunyi di balik lemari dengan tumpukan bola basket. Bima menutup mulutku dengan tangannya saat terdengar suara langkah kaki yang juga memasuki gudang penyimpanan.
"Itu si Rena. Denger-denger katanya suka kamu. Gas aja, Ru. Buang aja Bumi. Menang Rena kemana-mana," Adit terkekeh.
Dari balik sini aku tidak bisa terlalu jelas melihat kesana karena keadaan memang cukup gelap karena tak ada fentilasi sedikitpun. Lagipula pandanganku kabur karena air mata.
"Iya nanti."
"Kabari kalau perlu bantuan chat Rena."
__ADS_1
"Itu udah 4 bola kan? Yuk nanti keburu dicariin pak Agus," suara Biru kembali terdengar. Mereka keluar dari gudang sambil menutup pintu itu.
Tepat sata suara pintu tertutup, Bima melepaskan tangannya. Badanku sangat lemas. Aku langsung duduk terkulai dan menangis sejadi-jadinya.
Biru terlalu jahat.
"Bumi," panggil Bima dengan pelan.
Aku menggeleng sambil terus menumpahkan air mataku. Aku memukul-mukul dadaku berusaha mengeluarkan sesak dalam jantungku menerima semua ini.
"Kenapa Biru jahat?" tanyaku sambil terisak.
Bima jongkok di hadapanku. Ia tak mengatakan apa-apa. "Cowok kayak dia gak pantes kamu tangisi," ucap Bima sambil membantu menghapus air mataku.
"Semuanya pasti boong kan? Biru gak mungkin gitu. Aku masih percaya sama Biru," pikirku tiba-tiba. Aku terlalu cepat menyimpulkan pembicaraan yang bahkan aku belum tahu pasti kebenarannya. "Aku harus cari Biru. Aku mau minta maaf udah mikir yang engga-engga tentang dia."
Aku menghapus sisa air mataku dengan kasar kemudian bangkit.
"Bumi! Kamu gila? Memangnya ini salahmu? Kenapa kamu yang harus minta maaf?" Bentak Bima padaku.
"Bumi, cmmon. Semua itu bener. Kamu memang objek taruhan mereka. Biru menyanggupi itu. Kenapa kamu masih ngelak?" tanyanya dengan serius.
Aku menatap tepat pada netranya itu berusaha menemukan kebohongan. Tetapi Bima kali ini serius.
"Memangnya kamu tahu apa?"
"Aku tau semuanya. Aku gak sengaja denger pembicaraan mereka beberapa waktu yang lalu."
"Terus kenapa kamu gak bilang hah? Kalau gitu apa kamu gak sama aja dengan mereka? Seneng udah puas mempermainkan perasaan orang?" tanyaku. Air mataku lagi-lagi berjatuhan. "Kenapa kamu gak bilang dari awal, Bima?"
Bima terdiam. "Maaf. Kamu terlalu sayang Biru, kamu bahagia sama dia, aku gak bisa bilang itu karna gak tega," jelasnya sambil menunduk. Ia bahkan tak berani menatap mataku.
"Gak tega? Kupikir kalau kita ini teman. Tapi aku salah ya ternyata. Kamu teman Biru tepatnya. Itu sebabnya kamu lindungi semua kebohongannya!" seruku benar-benar marah.
__ADS_1
"Bumi gak gitu, aku-"
"Lepas!" Aku menghempaskan tangannya yang hendak menyentuh bahuku. Aku menatapnya nyalang. Benar-benar marah pada semuanya.
Aku langsung berlari keluar dari tempat itu. Aku tak peduli akan hukuman lebih yang menungguku dari wali kelas. Aku tak peduli berpapasan dengan Biru. Aku benar-benar tak peduli lagi.
Aku memasuki bilik toilet dan menangis sejadi-jadinya melampiaskan semua rasa sakitku.
Terbayang dalam benakku betapa Biru dan teman-temannya yang tertawa melihatku yang sudah terjebak dalam permainan mereka. Biru yang berpura-pura secinta itu padaku bahkan sampai mengenalkan ku pada keluarganya. Ternyata semuanya palsu!
Harusnya sejak awal aku sadar. Aku sama sekali bukan tipe Biru. Aku tidak seperti perempuan-perempuan yang ia sukai. Aku tidak tinggi, tidak putih, tidak secantik mereka. Harusnya sejak awal aku sadar diri bukannya malah termakan dengan omongannya yang mengatakan bahwa aku mempunyai daya tarik sendiri. Semuanya hanya bualan semata. Aku yakin bahwa aktor adalah pekerjaan yang cocok untuknya. Ia berhasil menipuku, menipu banyak orang hanya demi taruhan dengan jumlah nominal uang bahkan aku tak tahu berapa jumlahnya. Apakah harga diri seseorang bisa dibeli dengan rupiah?
Setelah beberapa saat, aku sudah cukup tenang. Air mataku sudah kering meskipun aku cukup berantakan. Tetapi ya siapa peduli. Aku sudah menelpon Abang dan mengabari wali kelas bahwa aku tidak enak badan dan ingin pulang. Wali kelas langsung percaya dengan itu karena suhu tubuhku yang menjadi tinggi karena lama menangis.
Aku berjalan dengan gontai ke ruang kelas setelah mendapatkan surat izinku. "Bumi." Aku menoleh dan melihat Biru yang tersenyum lalu berlari kecil ke arahku. "Hei sayang, aku cari-cari kamu di kelas. Ternyata kamu disini. Aku kangen kamu." Ia mengelus puncak kepalaku seperti biasa.
Sedangkan aku hanya terdiam tanpa debaran lagi untuknya. Aku sudah terlampaui kecewa.
"Kenapa? Kamu sakit?" Ia mencoba untuk menyentuh keningku namun aku buru-buru menepis tangannya.
Sayangnya kondisi sekolah sedang ramai karena jam istirahat. Aku menarik lengan Biru dan membawanya menuju rooftoop. Aku perlu bicara empat mata dengannya.
"Kenapa? Hmm?" Suaranya masih lembut dan menatapku dengan tatapan yang seperti biasanya.
Huh, lihatlah aktor hebat satu ini. Dia memang luar biasa menjerat wanita dengan tatapannya yang seakan tulus itu.
"Kamu bilang gak mau bohongin aku kan?"
Biru mengangguk. "Aku selalu jujur sama kamu."
"Bahkan kamu aja berbohong sekarang," aku terkekeh dengan sumbang. "Udah deh, Ru. Berhenti aja berpura-pura, kamu gak capek bohongin aku? Gak capek pura-pura sayang?"
"Apa maksudmu?"
__ADS_1
"BELUM PUAS JADIIN AKU OBJEK TARUHAN SELAMA SETAHUN HAH?" Aku membentaknya hingga dadaku naik turun karena emosi. Biru terlihat kaget dengan ucapanku itu.
"Bumi, gimana kamu-"