
Waktu berlalu dengan begitu cepat. Apa yang pernah Fanny bilang memang menjadi kenyataan. Kami tidak menjadi satu kelas lagi sekarang. Semuanya benar-benar berpencar. Namun di jam istirahat kami tetap menyempatkan waktu untuk bersama sehingga aku sama sekali tak khawatir tentang itu.
Aku tak peduli mesksipun tidak memiliki teman dekat di kelas 12 ini karena aku hanya akan fokus untuk belajar. Seperti siang ini, aku memilih untuk mengerjakan PR di perpustakaan sepulang sekolah.
Aku memilih duduk di tempat kasukaanku sejak dulu, dekat jendela utama. Ternyata sampai kapanpun aku benar-benar tidak bisa terbiasa. Pandanganku langsung menatap keluar, mencoba mencari-cari Biru yang mungkin sedang bermain bola di lapangan.
Dengan cepat aku menggeleng. Mencoba mengusir semua pikiran tentang pria itu dan fokus dengan bank soal di hadapanku.
“Bumi, perpusnya sudah mau kututup. Maaf ya,” ucap Bunga. Ia merupakan teman seangkatanku yang menjadi petugas perpustakaan.
“Oh? Maaf ya, aku lupa waktu,” ucapku merasa bersalah. Cepat-cepat aku emrapikan buku-buku di hadapanku dan memasukkan ke dalam ransel.
Aku langsung menuju ke gazebo di taman depan. Untung saja sekolah masih cukup ramai oleh beberapa ektra kulikuler sehingga meskipun sudah sore dan sangat mendung, aku tidak perlu merasa takut.
Saat sudah sampai di gazebo, aku langsung kembali mengeluarkan buku-bukuku dan mencoba menyelesaikan PR untuk minggu depan. Di rumah aku harus fokus untuk mempelajari kimia pada bab 10 sehingga PR ini harus kuselesaikan sekarang juga.
Hujan datang dengan deras dan tiba-tiba membuatku panik kembali menutup buku-bukuku. Gazebo ini tidak mampu menahan tetesan hujan yang jatuh dengan arah kemiringan cukup signifikan sehingga dapat memasuki bagian dalam. Yah meskipun hanya sebagian saja yang basah, tetapi itu cukup menggangguku.
Aku mengedarkan pandangan ke segala arah mencoba mencari ancang-ancang untuk tempat berteduh. Namun benar-benar tidak ada. Aku harusnya tidak memilih gazebo di bagian paling tengah.
Sayang sekali aku tidak membawa payung. Jika aku nekat untuk berlari menuju kelas, pasti ranselku basah kuyup.
Aku langsung menoleh saat terdengar suara seperti plastic yang terdengar begitu riuh. Disana kulihat Bima yang sedang memasang banner bekas untuk menutupi bagian kanan gazebo yang menjadi arah tujuan rintik hujan. Ia mengikat tiap sisinya dengan sempurna hingga benar-benar menutupi bagian itu. Bahkan seragamnya sudah terlihat basah kuyup.
“Udah gak kena hujan kan?” tanyanya.
Aku hanya bisa melongo dengan tingkahnya itu. “Bima, kamu ngapain?” seruku.
“Nutupin kamu, biar ga kena hujan. Tenang aja itu banner bekas kok, gak dipakek lagi. Mau lanjut belajar kan? Ya udah lanjutin aja, aku gak mau ganggu,” ucapnya sambil hendak berjalan jauh.
“Bima, tunggu!” panggilku. Ia menoleh dan menghentikan langkahnya.
“Kamu gak capek kayak gini terus?” tanyaku pelan. Aku tak yakin bahwa suaraku terdengar jelas karena kalah dengan suara hujan.
“Enggak. Kan aku udah bilang, aku gak akan berhenti sampe kamu yang nyuruh,” ucapnya sambil tersenyum.
Aku tak mampu berkata-kata lagi bahkan saat Bima berlari menjauh. Selama ini ia terus menerus datang dengan tiba-tiba untuk mengatasi semua masalahku. Ia tidak banyak bicara. Meskipun kelas kami sudah berbeda sekarang, Bima seolah tak mempedulikan itu.
**
Hari ini adalah prom night. Aku benar-benar lelah karena pagi tadi baru saja melaksanakan prosesi pelepasan resmi. Aku tidak paham kenapa sekolah mau repot-repot mengadakan dua kali acara dalam sehari. Apa mereka tidak lelah?
Aku berada di rumah Fanny sekarang. Ia yang menjadi sibuk mendandaniku sambil mengomel karena aku benar-benar tidak ada persiapan. Aku hanya memiliki dress berwarna peach dan sepatu tinggi berwarna senada. “Kamu harus mulai belajar make up,” ucap Fanny sambil merias wajahku. Aku hanya menyerahkan sepenuhnya kepada Fanny.
“Udah, selesai,” ucapnya. Aku langsung melihat ke arah cermin. Rambutku yang sudah panjang hingga punggung, dibuatnya sedikit curly di bagian bawah. Ia mengepang bagian depan rambutku dan menahannya dengan jepit rambut berwarna peach. Untuk make up memang tidak berlebihan. Fanny membuat make up dengan Korean style yang membuat wajahku terlihat fresh.
“Nah gitu kan cantik.”
Fanny tampak puas dengan hasil karyanya. Sayangnya Kartika tidak bisa ikut di acara penting ini karena kesehatannya sedang terganggu.
__ADS_1
Hal paling menyebalkan adalah kami harus membawa partner ke acara itu. Fanny tentu saja bersama Rafaza. Sedangkan aku tak punya pilihan lain selain mengiyakan permintaan Bima untuk menjadi pasangan prom nightku.
Disilah aku sekarang. Bersebelahan dengan pria yang memakai tuxedo berwarna cream. “Tahu gitu aku pake pink juga biar couple,” candanya. Aku langsung menatapnya aneh.
“Biasanya cowok malu kalau pakek warna pink.”
“Bener sih,” ucapnya sambil terkekeh.
Ku akui bahwa Bima terlihat sangat karismatik malam ini. Ia yang sedang serius dengan kemudinya etrlihat lebih keren dari biasanya. Atau sejak dulu dia memang seperti itu?
Kami sudah sampai di ballroom. “Sini, gandeng,” ucap Bima sambil merengganggkan lengan bagian kirinya. Aku hanya menatapnya terdiam.
“Emm emang harus?” tanyaku. Ini sungguh canggung.
“Lihat aja yang lain.”
Aku langsung mengedarkan pandangan ke segala arah. Semuanya memang bergandengan untuk memasuki ballroom. Aku beralih menatapnya. Sungguh, aku sangat malu. Rasanya aneh jika tidak bergandengan sebagai sepasang kekasih.
Akhirnya aku menggandengnya. Bima mengimbangi langkahku yang kecil dan pendek. Dapat kulihat beberapa pasang mata yang menatap ke arah kami. Bahkan Biru pun juga tampak melihat saat kami datang. Ia berdiri sambil memasukkan tangan kanannya ke dalam kantong jas sedangkan tangan kirinya memegang gelas berisi minuman berwarna merah.
Tatapannya benar-benar dingin.
Kami berpencar saat aku memutuskan untuk bergabung dengan teman-teman lamaku. Sedangkan Bima, tampak menemui teman-teman basketnya.
“Bumi, sekarang kamu sama Bima?” tanya Namira.
Aku menggeleng dengan cepat. “Yah, kenapa? Padahal kalian cocok.”
Namira mengangguk-angguk. “Kalau temen, jangan dikasih harapan. He look so in love,” ucapnya.
Setelah berbincang cukup lama dengan yang lainnya juga, tibalah di acara dansa. Pada acara ini akan ditentukan queen and king untuk pesta tahun ini. Bima menghampiriku, ia mengulurkan tangannya. “Ayo,” ucapnya.
Sontak teman-temanku langsung heboh melihat itu. bahkan Echa terbahak paling keras. “Ya ampun Bima kalau bucin jadi kalem ya,” serunya.
Bima hanya terkekeh menanggapi itu sedangkkan wajahku sudah semerah tomat sekarang. aku menyambut uluran tangan itu. Bima langsung membawaku ke tengah-tengah hall. Musik sudah diputar. “Bim, aku gak bisa dansa,” ucapku.
“Aku juga. Terserah aja lah, gak ada yang lihat juga,” ucapnya.
Tetapi yang kuulihat Bima tampak sangat luwes. Ia bahkan yang mengatur pergerakan demi pergerakanku. Aku sudah hafal pola lantainya dan lebih enjoy sekarang.
“Bumi, kamu cantik,” ucap Bima dengan tiba-tiba.
“Hmm?” aku menatap matanya yang hitam pekat. Bulu mata Bima tidak selentik Biru, tetapi matanya terlihat lebih tajam.
“Masa ga denger,” ucapnya sambil tersenyum.
Aku hanya terdiam.
“Kenapa kamu suka aku?” tanyaku kali ini. Aku tahu bahwa pertanyaan ini sudah berulang kali ku ajukan kepadanya.
__ADS_1
Bima sempat terdiam sesaat. “Karna itu kamu. Kalau bukan kamu, ya aku gak akan suka.”
“Apa sih ga jelas,” ucapku.
Bima terkekeh. “Serius, Biru. Kamu ini morvin atau apa? Seenggaknya berhenti bikin aku ketagihan ngelihatin kamu.”
Aku yang hendak kembali menatapnya justru tak sengaja bertatapan dengan Biru yang hanya berdiri di pinggir ballroom menatap ke arah kami. Jantungku langsung berdebar karena tatapan itu. rasanya aku benar-benar jahat karena berani-beraninya berdebar untuk pria lain padahal sudah ada pria yang sedang memegang tanganku sekarang.
“Bim,” panggilku.
“Hmm? Kenapa?”
Aku mencoba menghela napas sebentar. “Tolong berhenti. Kamu mending cari cewek lain aja. Aku gak bisa bales perasaan kamu,” ucapku setelah berpikir cukup lama akhir-akhir ini.
Bima tertegun. Bahkan kakinya berhenti melangkah. “Bumi, kamu yakin?” tanyanya dengan suara rendah.
Aku terdiam. Sejujurnya aku juga tidak terlalu yakin. Tetapi debaran ini hanya untuk Biru.
“Kamu diem, artinya belum yakin,” ucapnya tersenyum.
Aku ingin menangis.
“Bumi, aku mau kamu jujur. Kamu risih sama aku selama ini?”
Aku menggeleng. Justru aku sangat terbantu. Bima layaknya pahlawan super yang selalu datang tiap kali aku dilanda masalah. Setiap berada di dekatnya, aku merasa aman.
“Sejujurnya aku udah tau endingnya gini. Aku daftar universitas di Sidney dan keterima. Kalau kamu bisa suka sama aku, mungkin aku lepas universitas itu,” ucap Bima membuatku cukup kaget.
“Kamu bodoh? Ngelepas univ internasional cuma demi aku?” tanyaku tak percaya.
Ia hanya mengangguk seolah itu bukan sesuatu yang besar. “Kamu gak ada perasaan sama aku kan? Yah ternyata kamu memang sulit ditaklukkan. Sampe kapanpun Biru yang jadi pemenangnya ya? Aku harusnya nyerah dari awal sih,” ia terkekeh.
Aku hanya menunduk menatap ujung sepatuku.
“Maaf, Bim,” ucapku pelan.
“Iya, gak perlu minta maaf. Bukan salahmu. Yang namanya perasaan kan gak bisa diatur. Jadi aku tanya sekali lagi, kamu mau aku berhenti kan?”
Aku tak mampu mengucapkan sepatah katapun.
“Orang bilang kalau perempuan diam, artinya iya.”
Aku semakin resah saat ia mengatakan itu. aku mengangkat kepala dan mencoba menatapnya. Mata Bima yang berkaca-kaca memantulkan cahaya temaram dari lampu-lampu gantung di ruangan ini. Aku tidak tega. Aku jahat sekali kepada Bima.
Dapat kurasakan tangan Bima yang semakin hangat menggenggamku. “Kalau gitu aku pamit ya, jaga dirimu.” Perlahan genggaman tangannya semakin mengendur. Bima mundur satu langkah sehingga membuat tautan tangan kami terlepas sepenuhnya. Ia memberikan senyuman yang tulus.
Bima melangkah mundur lagi hingga ia tak terlihat karena tertutup kerumunan orang yang sedang berdansa.
“Selamat tinggal-“ aku tercekat. Di antara manusia-manusia yang sedang berbunga-bunga, aku sebagai duri untuk kehidupan Bima sudah resmi menerbangkannya jauh.
__ADS_1
Kami hanyalah remaja berusia 18 tahun. Hidup kami masih sangat panjang. Merelakan memang menjadi hal yang sulit dan menyakitkan. Tapi baik diriku, Biru, dan Bima, kami semua akan menemukan orang-orang baru dan terus berjalan meninggalkan masa-masa manis itu.
Kehidupan kami terus berjalan dan pada akhirnya akan saling melupakan.