
Bima dataang tanpa disangkaa-sangka dan langsung menendang satu orang hingga terjatuh. Ia menginjak lengan pria itu hingga membuatnya berteriak. Karena itu kedua pria yang lainnya menjadi menoleh dan beralih fokus. Hal ini dimanfaatkan oleh Biru yang langsung bangkit dan melakukan serangan.
Mereka terlibat pertarungan yang sengit.
“Lihat disini, ada cewek. Tangkep aja. Suruh mereka nyerah.”
Jantungku berdegup dengan kencang saat box kayu itu ditendang dan membuat ku jadi mudah ditemukan. Beberapa pria itu menyeringai seolah menemukan mangsa.
“BUMI!” teriak Biru.
Aku menoleh ke arahnya. Karena Biru yang tidak fokus membuatnya dijatuhkan dengan mudah oleh lawan. Begitupun dengan Bima. Tangan mereka ditahan ke belakang.
“Jangan macem-macem sama dia!” seru Biru.
“Oh ini cewekmu ya? Mau kulepas dia? Bilang dulu sama temen-temenmu buat ngalah,” ucap seorang pria dengan rambut coklat.
Ia lalu menoleh padaku. Rasanya aku ingin berlari. Tetapi mereka mengepungku. Kakiku bergetar hebat akibat rasa takut luar biasa yang kualami.
Pria berambut coklat itu kini memegang lenganku. Tangannya sangat kasar dan kuat membuatku tak bisa melepas genggamannya itu.
“Lepasin!” seru Biru lagi.
Pria itu terkekeh. “Coba aja kalau bisa.”
Biru memberontak tetapi satu orang lagi membantu memegang erat lengannya.
“Bawa dia,” ucap pria berambut coklat melepaskan genggamannya dan digantikan oleh orang lainnya.
Aku berusaha sekuat tenaga untuk memberontak. Ku tendang kakinya membuatnya terjatuh.
“Bumi, lari!” teriak Biru.
Aku langsung berlari dengan sekuat tenaga. Namun mereka langsung mengejarku. Tidak. Aku benar-benar payah. Napasku bahkan sudah terengah-engah. Air mataku berjaatuhan teringat dengan wajah Biru yang penuh lebam.
“Woy, berhenti!” teriak mereka. Memang benar ternyata fisik perempuan tak sebanding dengan pria. Mereka sudah berada di belakangku dan dihadapanku sekarang hanyalah jalan buntu.
Aku tak bisa berbuat apapun lagi. Pria itu mendekat lalu menarik lenganku dengan sangat kasar. Aku mencoba menggigit lengannya untuk melepaskan. Namun ia justru menaikkan tangannya hendak menamparku.
“Sialan. Bangs*t. Kalian apain adekku hah?”
Aku mulai membuka mataku saat suara itu terdengar. Itu adalah abang. Ia memukul priaa-pria itu dengan helm hijau kesayangannya. Ia benar-benar menjadi tak terkendali.
Ia memukul semuanya. 5 lawan 1 sendirian. Napasnya terengah-engah. Biru dan Bima juga langsung berusaha melawan dengan dibantu abang. Tetapi mereka seolah tak ada habisnya.
“Lari!” seru Bima.
“Ganggu adekku, gak bakal kubiarin!” teriak abang. Matanya memerah karena amarah.
__ADS_1
“Laut, logika dipakek juga. Mending kabur. Kamu gak liat Bumi yang udah ketakutan liat semuanya?” teriak Biru sambil berlari menghampiriku.
Abang akhirnya menoleh. “Kalian tahan mereka. Aku bawa Bumi,” ucapnya.
Abang menghampiriku. Air mataku tak mau berhenti melihat abang yang sedikit pincang. Kakinya pasti masih belum sepenuhnya pulih.
Tetapi ia menggunakan semua kekuatannya.
“Maaf abang telat,” ucapnya dengan lembut. Ia menghapus air mataku lalu menggendongku. Aku hanya bisa menangis dalam dekapannnya.
Terdengar suara mobil polisi yang baru saja sampai. Sepertinya mereka menjadi berlarian menjauh agar tidak tertangkap.
Abang membawaku ke sebuah tempat. Disana mobil ayah sudah terparkir. Melihat kami, ayah langsung berlari kecil dengan wajah penuh kekhawatiran.
“Bumi, nak. Ada yang luka?” tanya ayah.
Aku menggeleng dan terduduk di bagian tengah. Ayah masih sibuk melihat kondisiku. Abang meraih pergelangan tanganku yang memerah. “Si bringsek, berani-beraninya,” gumamnya.
“Laut, sudah. Yang penting adikmu sudah selamat,” ucap ayah seolah tahu bahwa abang masih tidak memaafkan kelakuan mereka.
Abang menghela napas dalam. “Pulang, sekarang!” ucap ayah dengan tegas kepada abang.
Abang akhirnya mengangguk. “Yaudah iya. Aku ambil motor,” ucap abang.
Selanjutnya kami langsung menuju rumah. Dapat kulihat abang yang mengekori mobil ayah di belakang.
Sesampainya di rumah, ibu langsung heboh mengobati memarku dan abang.
Abang kini duduk di sebelahku sambil mengelus-elus kepalaku. “Mereka pasti baik-baik aja. Kalau ini game, role mereka itu bisa dibilang petarung. Jadi tenang aja,” ucapnya. Ia memang sering mengaitkan hal-hal dengan game.
Aku akhirnya mengangguk berusaha percaya kepada abang.
“Kalau abang, apa gak apa-apa?” tanyaku dengan pelan.
Abang tersenyum lembut. “Gak apa-apa.”
“Tapi tadi kaki abang-“
“Gak apa-apa, dek. Nih udah bisa lompat-lompat.” Ia berdiri dan langsung melakukan gerakan senam dengan acak membuatku tertawa geli dengan tingkahnya itu.
“Tadi kenapa abang tiba-tiba dateng?” tanyaku penasaran.
“Abang denger info dari temen kalau ada tawuran di sekolahmu terus kata ayah juga kamu pulang sendirian. Jadi kami khawatir. Abang langsung cabut, ayah juga langsung izin dari rapat. Sampe disana ternyata udah ricuh, abang susah cari kamu. Di dalam sekolah pun sama.
Terus tiba-tiba ada nomer baru yang telfon ngasih tau posisimu. Jadi abang langsung kesana.” Abang menjelaskan semuanya dengan rinci.
Namun keningku berkerut mendengar itu. “Siapa emang yang kasih tau?”
__ADS_1
“Bima.”
“Darimana dia tau nomor abang?”
“Gak tahu. Gak penting juga. Yang penting kan abang akhirnya bisa nemuin kamu.”
Aku hanya mengangguk meskipun masih penasaraan. “Adek,” panggil ibu.
“Kenapa?” tanyaku.
“Itu ada Biru di depan. Ibu suruh kesini aja ya.”
Belum sempat aku menjawab ibu sudah berlalu dari depan pintu kamarku. Tak lama Biru muncul dengan canggung. Wajahnya masih penuh lebam. Begitupun dengan lengannya. Ia memberikanku bingkisan buah-buahan yang cukup besar.
“Buat kamu,” ucapnya. Ia meletakkan itu di atas nakas sedangkan aku bennar-benar bingung dengan tingkahnya itu.
“Emm buat apa?” tanyaku.
“Kamu kan sakit.”
“Aku gak sakit,” jawabku dengan cepat.
Sedangkan abang hanya tertawa geli menyimak pembicaraan kami.
“Tapi tadi kamu lemes banget,” ucapnya.
“Aku cuma shock. Bukan sakit,” jawabku. Melihat ekpresi wajahnya yang menjadi malu membuatku buru-buru menamabahkan. “tapi makasih ya. Kamu sampe banyak banget ini bawanya.”
Ia tersenyum lalu mengangguk. Ia duduk di sebelahku lalu menyentuh keningku dengan tangannya mencoba mengecek suhu tubuhku. “Biru, aku gak sakit.”
“Mastiin aja.”
Abang semakin terbahak membuatku langsung melemparinya boneka.
“Oh ya, Ru. Makasih udah jagain Bumi tadi,” ucap abang sambil menepuk-nepuk bahu Biru.
“Iya. Sama-sama. Makasih juga udah jagain Bumiku tadi waktu aku lengah,” ucap Biru.
“Bumi siapa?”
“Bumiku.” Biru mengulangi jawabannya.
“Sembarangan. Bumi ayah ibuku lah. Bukan punyamu,” seru abang membuatku terkekeh.
“Loh kan, inget. Namaku Angkasa Biru. Dimana-mana angkasa ya selalu ngejaga Bumi,” balas Biru sekolah tak mau kalah.
“Itu atmoster, bego.”
__ADS_1
Berdebatan mereka semakin menjadi-jadi. Namun itu sangatlah menghiburku. Intinya aku sangat bersyukur.
Bumi akan selalu bersyukur karena memiliki Laut dan Angkasa Biru yang selalu ada untuknya.