
Aku tidak tahu mimpi apa yang tiba-tiba merasuki Biru semalam. Sabtu siang ia tiba-tiba berada di depan rumahku. Padahal sebelumnya Biru berkata bahwa hari ini ia harus mengikuti acara keluarga.
“Ayo ke pantai,” ucapnya tanpa basa-basi.
“Hah?”
Biru menampakkan senyum gemasnya sembari turun dari motor dan berjalan menghampiriku yang hanya berdiri di depan gerbang rumahku. “Ke pantai, sayang,” ucapnya mengulangi sambil mengacak puncak rambutku.
“Kapan?” tanyaku.
“Sekarang dong. Gih siap-siap, atau mau pake piyama aja?”
Aku langsung menyadari pakaianku sekarang. Ah sial, kenapa juga aku malah memakai piyama bergambar barbie yang sudah kusam ini.
“Aku mau ganti dulu. Kamu masuk aja, duduk di dalem,” ucapku kemudian berlari memasuki rumah. Gawat. Bagaimana jika Biru ilfill? Bagaimana jika Biru menganggapku kekanak-kanakan.
Aku langsung memasuki kamarku dan mandi dengan sangat cepat. Aku juga tidak mau terlalu lama memikirkan outfit dan langsung mengaambil dress biru floral selutut dan mengepang rambutku menjadi dua bagian.
Ayah dan ibu sedang ke rumah nenek, jadi aku harus meminta izin dengan melakukan telpon. Namun syukurlah abang baru saja datang dari kuliah. Aku menenteng sepatuku untuk dibawa ke teras dan berpapasan dengannya.
“Aku mau keluar dulu,” ucapku kepadaanya yang tampak sedang duduk menemani Biru di ruang tamu.
“Ya udah Sana. Ayah belum pulang?” tanyanya.
Aku menggeleng. “Katanya sampe malem. Atau nginep,” aku menoleh ke arahnya. “abang berani kan?
Ia terkekeh. “Ngapain takut.”
Padahal ia orang paling penakut di rumah ini. Pasti karena ada Biru, jadi ia tidak mengakuinya.
“Udah siap?” tanya Biru.
Aku mengangguk.
Kami langsung melakukan perjalanan sekitaar 2 jam. Setelah sampai pun, kami harus berjalan kaki dan melakukan sedikit pendakian kecil. Tahu begini aku tidak akan memakai dress.
Namun rasa lelahku menjadi terbayar saat melihat pantai yang begitu bersih. Ombaknya tidak terlalu kencang.
“Bagus banget. Aku baru tahu ada tempat ini,” ucapku memberikan komentar.
“Iya. Dikit yang tahu, ayo turun.” Biru meraih tanganku dan menuntunku untuk turun dari puncak bukit itu dengan perlahan-lahan.
Pantai ini tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa orang yang tampak sedang berjalan ke dermaga untuk memancing.
Aku selalu menyukai pantai. Maka dari itu langsung ku lepaskan sepatuku dan berlarian di pinggir pantai itu sembaari menikmati deburan kecil dari laut yang menyentuh kaki telanjangku.
“Biru, sini,” panggilku yang asyik sendiri.
Kulihat Biru hanya duduk mengamatiku yang berlarian kesana-kemari. Ia langsung bangkit dan menghampiriku.
“Aku suka banget sama pantai. Seru kan, siniaan deh biar kena ombak,” ucapku sambil menarik tangannya untuk lebih mendekat.
__ADS_1
“Aku lebih suka lihatin kamu,” ucapnya justu menggodaku.
“Ih kamu mah!”
“Main gih, puasin. Aku mau duduk sambil jagain sepatu sama tasmu biar gak ilang,” ucapnya.
Aku terkekeh. “Gak mau main?”
Ia menggeleng sambil berjalan kembali ke tempat semula. Sedangkan aku kembali sibuk dengan duniaku sendiri. Rasanya menyenangkan saat ikan-ikan kecil mendekat karena penasaran.
Setelah puas bermain, barulah aku merasa lelah. Aku menoleh dan menemukan Biru masih di tempat semula. Pandangannya tak pernah lepas dariku.
“Seneng?” tanyanya saat aku duduk tepat di sebelahnya.
“Banget. Makasih ya udah ngajak kesini.”
Ia mengangguk-angguk. “Kamu pakek hadiahku?”
Aku langsung memegang kalung yang sedang kugunakan kemudian mengangguk. Ini adalah hadiah ualng tahun dari Biru. Aku sangat suka bentuknya yang sederhana namun terkesan anggun.
“Cocok banget kamu pake,” ucapnya sambil tersenyum.
“Emang iya?”
“Kamu gak percaya sama aku?”
Aku tak mampu menjawab. Entah mengapa rasa tidak percaya diriku terlalu besar.
“Aku gak cantik,” gumamku pelan."
Biru memegang kedua bahuku dan aku pun langsung mengangkat wajah untuk kembali menyerahkan diri tenggelam di matanya yang jernih itu.
“Kenapa selalu insecure?” tanyanya dengan sangat lembut.
Aku menggeleng. “Gak tahu.”
“Bumi, aku madang fisik kok. Kamu cantik, makanya aku suka.”
Aku benar-benar heran dengan jawabannya itu. “Bukannya cowok selalu bilang kalau mereka gak mandang fisik? Kenapa kamu kebalikannya?” tanyaku heran.
Biru tersenyum. “Itu pria yang membohongi dirinya. Menurutku kamu itu cantik. Mungkin selama ini kita gak pernah bahas. Namun kali ini aku mau cerita.”
Aku langsung menoleh dan mengalihkan semua pusat perhatianku kepadanya yang tampak sedang serius.
“Aku suka kamu udah lama. Hari pertama ospek, aku datang pagi banget karna sekalian anterin Yasmin ke SD. Karna malas lewat koridor, aku pun lewat belakang kelas 12. Ternyata disana aku ketemu kamu. Kamu lagi jalan di depanku. Rambutmu dikuncir, pake pita. Kamu tahu gak waktu itu aja kamu imut banget, Bumi.
Hari selanjutnya aku ketemu kamu lagi. Tapi mungkin kamu gak sadar, ya kaarna kamu memang terlalu gak peduli sekitar. Kamu bahkan juga gak ngerasa kan kalau anak kelas 12 bahkan banyak yang tertarik sama kamu. Mereka lihatin kamu jalan dari jendela kelasnya.
Dua hari tanpa kesengajaan itu bikin aku semakin penasaran sama kamu. Jadilah aku selalu berangkat pagi meskipun sebenarnya paling malas bangun pagi. Semua demi bisa lihat kamu.
Di hari kelima, aku gak sengaja denger kalau anak kelas 12 mau ngajak kamu kenalan. Jadi aku datang lebih pagi, sengaja nunggu kamu. Setelah itu aku pura-pura jalan bareng kamu biar mereka nyangkanya kita kenal.
__ADS_1
Ternyata dari dekat, kamu wangi vanilla. Aku jadi suka deket-deket kamu. Sayangnya hari ketujuh, kamu gak lagi lewat belakang kelas 12 karena kamu sudah dapet kelas di area depan. Jujur aja rasanya ada yang hilang.
Sejak itu tanpa sadar aku jadi sering cari kamu diantara keramaian. Lihatin kamu itu selalu jadi hal yang candu, aku gak bisa berhenti, Bumi.
Aku mau kenalan, tapi gak punya keberanian. Sampe suatu ketika aku lihat kamu lagi ngobrol sama Bima. Jadinya aku minta tolong Bima buat ngebuat bantuin aku kenalan.
Tapi momennya gak pas karna waktu itu kakimu di perban. Kamu habis kecelakaan ya? Aku khawatir. Cukup paham juga kenapa kamu kesel karena Bima tiba-tiba ngenalin aku.
Saat itu aku baru tahu namamu. Archava Bumi Nusantara. Nama unik yang udah gak asing karena aku kenal sama Langit, abangmu. Itu bikin kepercayaan diriku meningkat.
Karna sering ngamatin kamu, aku sampai hafal. Kalau senyummu itu manis dan gak membosankan, kalau kamu waktu serius itu selalu berkerut keningnya, kalau sedih kamu cuma nunduk sambil nahan nangis.
Hal yang paling bikin aku jatuh cinta adalah matamu. Aku jadi tahu kalau nama itu cocok sama kamu. Semua orang yang kenal kamu akan ngerasa kalau kamu itu sumber kehidupan.
Jadi Bumi, seperti namamu, kamu itu cantik dengan daya tarikmu sendiri yang bahkan gak kamu sadari. Kamu sama seperti namamu yang selalu bisa menyediakan rumah dan kenyamanan bagi banyak orang.
Jadi tolong, jangan selalu rendah diri. Yah, kalaupun kamu tetap rendah diri. Aku yang bakalan tinggikan kamu setinggi-tingginya sampai gak ada satu orangpun lagi muka bumi ini yang bisa ngerendahin kamu.”
Biru menatapku dengan sungguh-sungguh. Deburan kecil ombak terpantul dari matanya yang kecoklatan itu.
Mataku berkaca-kacaa. Aku tak mengangka hal seperti itu keluar dari mulut Biru yang tak banyak bicaraa.
“Biru-“ aku bahkan tak sanggup berkata-kaata. Ternyata semua dugaan burukku tentangnya benar-benar salah. Aku sangat senang dicintai begitu hebatnya, aku sangat senang karena itu adalah Biru.
“Iyaa,” ia terkekeh. “gak usah jawab kalau kamu gak tahu mau jawab apa.”
Aku mengangguk dan membuatnya gemas sendiri.
Setelahnya kami berbincang mengenai teman-teman sekolah sampai tak terasa senja telah tiba. Angin sudah tidak berhembus sekencang tadi. Langit menjadi berwarnaa kemerahan. Terlihat sangat indah. Kami benar-benar terdiam menikmati pemandangan yang tersaji di hadapan kami.
Aku menoleh dan melihat Biru yang terlihat sangat indah. Bahkan dari arah samping saja pun ia sudah terlihat tampan.
“Boleh gak aku fotoin kamu?” tanyaku membuatnya menoleh.
Biru tampak bingung dengan pertanyaanku itu. “Tumben.”
“Rasanya kamu cocok sama senja. Aku mau fotoin kamu, terus kujadiin wallpaper, boleh?” tanyaku mencoba izin kepadanya.
“Boleh. Tapi aku gak pinter pose, kamu yang arahin yaaa,” ucapnya.
Aku benar-benar tak menyangka ia akan langsung mengiyakannya. Padahal Biru itu sangat sulit untuk berfoto. Aku terkadang heran mengapa pria tampan justru jarang menampilkan wajahnya di media sosial. Padahal itu adalah hal yang harusnya dibanggakan.
Ia berdiri dan mengikuti semua arahan dariku tanpa mengeluh sedikitpun. Sudah ada belasan foto yang kuambil. Biru tampak sangat sempurna.
“Udah?” tanyanya.
Aku mengangguk. Biru kembali duduk ke tempat semula sembari melihat hasil foto yang kuambil tadi untuknya. “Bagus. Kamu emang berbakat jadi fotografer,” ucapnya.
“Bukan akunya. Tapi kamu emang ganteng sih. Belum lagi kamera ponselmu,” ucaapku sambil terus membanggakan slide demi slide yang menampilkan dirinyaa.
Ia hanya terkekeh sambil mengelus puncak kepalaku. Saat di slide terakhir aku terkejut karena slide selanjutnya ialah fotoku saat dengan asyik bermain air tadi. “Kapan kamu ambil ini?” tanyaku.
__ADS_1
Biru tersenyum. “Tadi. Kamu cantik kan? Kujadiin wallpaper juga deh,” ucapnya lalu mengambil alih ponselnya dari genggamanku. Ia benar-benar menjadikan fotoku sebagai wallpapernya.
Wajahnya memerah karenanya. Biru sangat tahu bagaimana cara memperlakukan wanitanya dengan amat sangat baik.