Romansa Bumi Dan Biru

Romansa Bumi Dan Biru
BAGIAN 14 – Permintaan Maaf


__ADS_3

Pada akhirnya di hari itu aku tidak bisa menemui Biru untuk mengetahui kondisinya. Ini semua karena orangtuaku yang merasa khawatir dan memberikan hukuman padaku untuk tidak boleh pergi keluar kecuali sekolah dan kursus selama dua minggu.


Esoknya sekolah sudah masuk seperti biasanya. Aku berangkat pagi-pagi sekali agar bisa bertemu dengan Biru. Aku menunggu di depan kelas sambil sesekali melirik ke arah Lorong IPS.


“Bumi, kamu gak apa-apa?” tanya Kartika yang baru saja datang dan menyapaku. Dapat kulihat raut khawatir pada wajahnya itu.


“Aku gak apa-apa kok.”


“Syukurlah. Kemarin waktu aku denger kalau stadion ricuh, jadi kepikiran sama kamu. Aku lupa kalau kita belum tukeran kontak,” ujarnya.


Aku tersenyum menanggapi itu. “Makasih ya.”


Kami berbincang sebentar membahas hal yang terjadi lusa. Hingga bel berbunyi, Biru tidak juga datang. Apakah ia sakit? Sepertinya begitu.


Sepanjang jam pelajaran aku tidak bisa untuk fokus. Rasanya pikiranku melayang mencari Biru. Beberapa kali guru menegurku karena melamun di kelas. Ini benar-benar tidak seperti diriku yang biasanya.


Pulang sekolah, aku harus membersihkan ruang kelas sendirian. Aku paling membenci hari Rabu karena piket. Tidak, bukannya aku membenci membersihkan kelas. Akan tetapi aku mendapatkan jadwal yang sama dengan Tania dan teman-temannya itu.


“Bumi, aku ke toilet dulu ya. Tolong ambil alih dulu,” lagi-lagi ia memberikan alat pel ke genggamanku. Ini bukan pertama kalinya. Aku harusnya tahu kalau ia tidak ke toilet tetapi pulang meninggalkanku mengerjakan semuanya sendiri.


Tetapi aku yang terlalu tak punya nyali menghadapinya hanya bisa bersikap pasrah.


Sudah 15 menit aku sibuk mengepel lantai. Punggungku terasa lelah karena terus menerus menunduk.


Baiklah, ini bagian terakhir. Membuang sampah.


Aku mengambil plastik putih besar itu dan membawanya ke tempat yang disediakan yaitu area belakang sekolah. Tetapi cukup sulit membawa sampah-sampah ini sendirian.


“Bumi.” Aku terkejut saat seseorang memanggilku. Belum sempat menoleh, kulihat Biru sudah mengambil alih plastic sampah dari tanganku.


“Jangan kerjain sendirian. Kamu bisa lapor guru kalau mau,” ucapnya kemudian berjalan mendahuluiku.


“Biru! Jangan, biar aku aja. Tanganmu masih sakit kan?” seruku buru-buru menyusulnya. Aku hendak meraih plastik itu kembali, akan tetapi Biru menahannya. Padahal lengannya masih diperban. Meskipun tidak terlalu terlihat karena tertutup oleh lengan seragamnya.


“Kubantu,” ucapnya.


“Gak usah. Aku bisa.”


“Bumi, udah duduk aja.” Kali ini nadanya menjadi serius. Akhirnya aku mengalah dan membiarkannya mengambil alih pekerjaan terakhirku. Ia kembali beberapa saat kemudian dan duduk di sebelahku.


“Tanganmu sakit? Maaf ya gara-gara aku-“

__ADS_1


“Bumi, bukan salahmu.” Ia cepat-cepat memotong ucapanku. Tapi mataku sudah berkaca-kaca. Aku masih dipenuhi rasa bersalah.


Ia mengelus puncak kepalaku sambil tersenyum manis. “Aku gak apa-apa. Ini udah sembuh,” ucapnya. “Oh ya, ponselku mati. Jatuh. LCDnya pecah jadi masih kuperbaiki. Maaf ya jadi gak bisa hubungin kamu.”


Aku mengangguk mengerti. “Iya, gak apa-apa.”


“Maaf bikin kamu khawatir.”


“Iya, Biru.” Jawabku sambil tersenyum kepadanya. Melihat Biru sudah bugar seperti biasanya sudah lebih dari cukup. Melihatnya berdarah-darah seperti lusa benar-benar menjadi mimpi buruk untukku.


“Kamu gak sama temen-temenmu?” tanyaku menyadari sesuatu.


Biru menggeleng. “Enggak, kusuruh mereka duluan aja.”


“Kenapa?” Setahuku mereka selalu bersama-sama sehingga aneh rasanya saat Biru tidak pulang bersama teman-temannya.


“Emang gak tahu jawabannya apa?”


“Enggak.”


Ia mencubit pipiku dengan gemas. “Aku mau ketemu kamu. Mau sama kamu. Boleh kan?”


“Bumi!” aku menoleh dan menemukan Bima yang berdiri tak jauh dari kami. Ia hanya diam dengan tatapan tak terbaca seolah menimbang-nimbang apa yang akan keluar dari mulutnya.


Tetapi aku sudah terlalu marah padanya. Kata-katanya kemarin membuatku sakit hati. Aku mengalihkan pandangan begitu saja.


Tetapi suara derap langkah Bima semakin mendekati kami.


“Ayo Biru, pulang,” ucapku berdiri. Namun Bima menahan ranselku.


“Bumi, aku mau ngomong bentar,” ucapnya memohon.


Aku menatap ke arah Biru mencoba mencari pertolongan. Tetapi Biru sepertinya tidak paham dengan tatapanku. “Emang ada apa?” tanya Biru akhirnya.


Dapat kudengar helaan napas Bima yang begitu berat. “Bumi, aku mau minta maaf.”


“Baru inget buat minta maaf? Kemarin pas bilang gitu gak inget apa-apa?” sindirku.


Bima hanya terdiam.


“Ada apa?” tanya Biru sekali lagi. ia pasti bingung dengan apa yang terjadi pada kami.

__ADS_1


Akhirnya kuceritakan semua hal yang menggangguku kepada Biru. Bima tak sama sekali mencoba membela dirinya dan hanya diam sepanjang aku bercerita.


“Bumi, maafin Bima ya. Aku yang minta Bima bawa kamu ngejauh darisana,” ucap Biru malah membela Bima.


Aku menatapnya dengan tak percaya. “Tapi kalau dia nolongin kamu, tanganmu mungkin gak akan separah itu.” Pembelaan terus kukejar.


“Dari awal sebenarnya aku gak setuju kalau kamu nonton. Bukan karena aku malu atau gak mau disemangatin kamu. Sama sekali bukan. Tapi karena aku tahu kejadian seperti ini rawan di pertandingan sepak bola. Makanya kemarin aku minta tolong Bima buat ikut kalian.


Jadi jangan salahin Bima. Gak ada yang salah disini. Kalau gak ada Bima, aku gak tahu gimana sama kamu. Aku gak bisa bayangin kalau kamu yang kenapa-napa, Bumi,” jelasnya.


Biru menatapku sangat lama seolah meyakinkan bahwa semua yang ia katakan adalah bentuk kesungguhan. Aku beralih menatap Bima yang hanya diam saja.


“Aku minta maaf.” Sekali lagi Bima mengucapkan kalimat itu.


Aku benar-benar lulus jika Biru yang mengatakan itu. “Oke, aku maafin.”


Bima langsung mendongak. Matanya langsung terlihat begitu cerah. “Beneran?” tanyanya.


Aku mengangguk. “Makasih Bumi.”


Dan pada akhirnya hubungan kami kembali seperti semula. Sepertinya aku harus benar-benar banyak belajar dari Biru. Di usianya yang masih belia, ia bahkan sudah mampu menempatkan diri dalam bersikap. Ia benar-benar sosok yang bijak.


Biru mengantarkanku pulang ke rumah. Namun saat itu tak seperti biasanya, abang menunggu di teras rumah. Meskipun jalannya masih sedikit kaku, ia tetap bersusah payah membuka gerbang untukku.


“Makasih udah nganter Bumi,” ucapnya.


Biru mengangguk. “Gimana keadaanmu, La? Udah baikan?”


Abang mengangguk. Ia beralih ke sebelahku sekarang kemudian melingkarkan tangannya di bahuku. “Ayo dek, masuk.”


Tadinya aku ingin basa-basi menawarkan Biru untuk masuk terlebih dahulu. Namun dari nada bicara abang sepertinya ia masih memberikan jarak dengan Biru.


“Biru, makasih ya udah nganterin aku,” cicitku.


Biru tetaplah Biru yang kukenal. Aku yakin ia merasakan jarak yang abang berikan kepadanya. Tetapi ia tetap tersenyum dengan tulus hingga matanya melengkung. “Iya, sampai jumpa besok di sekolah.”


Aku mengangguk. Aku tetap berdiri di depan gerbang hingga motor Biru menghilang dari pandanganku.


“Abang marah sama Biru?” tanyaku kini.


Abang tak menjawab apapun. “Ayo makan siang.” Ia hanya mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


__ADS_2