
“Bumi!”
Saat aku sedang berjalan menuju kelas dapat kulihat Kartika yang memanggilku sambil melambaikan tangannya. Dengan langkah mungilnya, ia langsung terburu-buru menghampiriku.
“Tumben berangkatnya hampir telat,” ucapnya.
Aku mengangguk. “Iya, soalnya abang yang anter.”
“Tadi itu abangmu?” tanyanya.
“Iya.”
“Gimana rasanya punya kakak cowok? Pasti seru ya?” tanya Kartika penasaran. Sebagai anak tunggal aku paham bahwa ia pasti sangat ingin memiliki saudara sekandung agar tidak kesepian.
“Biasa aja sih. Gak seru-seru banget. Yang ada malah ngeselin,” ucapku dengan jujur.
Mendengar itu tampaaknya Kartika semakin tertarik. Sepanjang perjalanan menuju kelas, aku banyak menceritakan kejadian lucu bersama abang.
Di jam istirahat, aku benar-benar tidak mood untuk makan siang. Biru ternyata tidak bisa datang ke sekolah dan masih harus rawat inap hingga besok.
“Aku mau jenguk kamu ya, boleh?” tanyaku.
“Kapan emangnya? Ayah gak sibuk?”
“Pulang sekolah. Sama abang"
“Oh ya sudah kesini aja kalau kamu gak sibuk.”
Aku senang karenaa ia mengizinkanku untuk menghampirinya. Aku sudah tak sabar untuk bertemu dengannya.
“Bumi, mau ke kantin gak? Aku gak bawa bekal hari ini,” ucap Kartika sambil cemberut.
“Ayo kutemeni. Kita makan di kantin.” Aku langsung berdiri dan membawa kotak bekalku.
Sesampainya di kantin ternyata sudah sangat ramai sehingga kami tidak menemukan tempat kosong lagi. “Tika, makan disini.”
Kulihat ada segerombolan perempuan yang melambaik-lambaikan tangannya. “Itu temenku. Ayo kita kesana,” ajak Kartika.
Kartika menghampiri mereka dan langsung berkomunikasi dengan sangat akrab. Ternyata dugaanku salah. Awalnya kupikir aku dan Kartika lumayan mirip. Kami tidak punya teman. Dan anggapan itu langsung dipatahkan detik ini saat melihatnya begitu akrab berbaur dengan kelompok itu.
“Oh ya temen-temen, kenalin. Ini Bumi,” ucap Kartika memperkenalkan.
__ADS_1
“Kamu pacar Biru kan?”
Ditanya seperti itu aku langsung gelagapan.
“Iya deh. Dia pacar Biru. Halo Bumi, salam kenal yaa.” Perempuan berambut pendek di sebelah Kartika ternyata juga mengenali hal yang serupa.
Ternyata statusku sebagai pacar dari salah satu badboy sekolah membuat namaku melejit. Aku sangat yakin kalau mereka bahkan tidak sama sekali akan mengenalku jika aku tidak memiliki hubungan dengan Biru.
“Iya, halo salam kenal. Aku Bumi.”
Sesi perkenalan yang cukup singkat itu tidak seperti dugaanku. Mereka menerimaku dengan baik dan sama sekali tak menganggapku orang asing yang baru mereka kenal. Aku menjadi merasa memiliki teman baru.
“Bumi nanti mau ikut gak karaoke?” tanya Fanny. Perempuan berambut coklat itu menataapku menanti jawaban.
“Maaf ya, nanti aku ada janji sama abangku,” jawabku sambil tak enak hati menolak ajakan mereka. Padaahal mereka sudah mau berbaik hati menawarkanku tetapi sayangnya waktu tidak pas.
“Yah, oke deh. Lain kali kita hangout bareng ya,” ucapnya dengan ceria.
“Oke, kabari aja.”
Waktu menjadi berlalu lecih cepat. Mungkin karena aku yang sudah tidak sabar bertemu dengan Biru.
“Abang!” panggiku.
Ia menoleh sekilas dan mengangguk. “Katanya pulang jam setengah 2, abang sudah nungguin setengah jam,” omelnya. “panas nih siang-siang.”
Aku tak mempedulikan itu dan mengambil helm milikku yang etrgantung di bagian belakang. “Sengaja, biar gak telat jemputnya.”
Aku tidak terlalu mendengar ia yang kembali menggerutu. “Ke puskesmas kota ya, jenguk Biru,” ucapku memberikan arah tujuan.
Abang tak menjawab dan langsung melajukan motor dengan kecepatan sedang. Kami akhirnya sampai. Padahal aku sudah menyuruh abang untuk menunggu di tempat parkir saja, tetapi ia menolak dengan alasan agar aku tidak berlama-lama disini.
Aku sampai di depan ruangan yang Biru beritahukan tadi. Di dalam ruangan itu ada beberapa pasien yang hanya di pisahkan dengan tirai berwarna tosca. Akhirnya dapat kulihat Biru yang tampak sedang tertidur. Is sendirian disini. Sama sekali tak kulihat orang lain yang mungkin adalah keluarganya. Padahal aku sudah menyiapkan mental jikalau bertemu dengan kedua orangtuanya.
Rasanya tidak tega hendak membangunkannya. Tidak ada luka serius pada Biru, tapi ia sedang di infus. Aku juga tak paham kenapa.
“Kok ga masuk? Bener Biru kan?” tanya abang yang berdiri di belakangku.
“Ssst. Biru lagi tidur, kita balik nanti aja,” ucapku sambil berbisik memarahinya yang benar-benar berisik.
“Bumi.”
__ADS_1
Aku langsung menoleh dan melihat Biru yang mengusap-usap matanya. Sungguh ia benar-benar imut.
“Biru, maaf yaa abang berisik bikin kamu kebangun. Kamu istirahat aja deh lanjutin,” ucapku tak enak hati tengah mengganggunya yang beristirahat.
Aku langsung hendak keluar dari sana. Namun tangan Biru menahan langkahku yang tidak seimbang dan akhirnya terjatuh ke dalam dekapan Biru. Ini benar-benar terlihat seperti drama yang sering kutonton.
Aku tidak tahu semerah apa wajahku sekarang. Tangan Biru yang hangat melingkar di bahuku. Aku bahkan dapat mendengar detak jantungnya.
“Ekhm.”
Aku lupa bahwa abang ada disini juga. Buru-buru aku langsung bangkit dari sana. Namun lagi-lagi Biru menahanku. Meskipun tangannya terinfus, tenaganya masih kuat-kuat saja.
“Mau kayak gini sebentar aja ya. Aku kangen kamu,” ucap Biru dengan sangat lembut.
“A-aku j-juga.” Ah sial. Kenapa sekarang suaraku menjadi terbata-bata?
“Udah-udah! Modus. Awas aja ya kalian.” Abang dengan teganya menarik ranselku dan membuatku tak lagi ada di dekapan Biru. Kalau tidak tahu tempat mungkin aku akan mengomelinya. Sayangnya ini di tempat umum.
Aku hanya mencebik untuk mengisyaratkan kekesalanku. Biru hanya terkekeh melihat interaksi kami. “Pelita mat sih, Bang,” seru Biru.
“Sejak kapan kamu manggil abang?” tanya abang.
“Kan calon abang ipar.”
“Emang aku udah bilang mau acc kamu jadi adik ipar?”
Lagi-lagi mereka memperdebatkan hal yang itu-itu saja. “Udah ah. Berisik!” ucapku.
Ponsel abang berdering membuat abang cepat-cepat mengangkatnya agar tidak mengganggu kenyamanan pasien lain. “Abang angkat telepon dulu. Ru, awas ya. Jaga jarak dari Bumi!” ancamnya sebelum berlalu dari sana.
Kini hanya sisa kami berdua. Aku mengambil kursi dan duduk di sebelah bangsalnya. “Kamu udah makan?” tanyaku.
“Udah. Makan bubur. Padahal aku gak kenapa-napa,” ucapnya mengeluh.
Aku tersenyum mendengar itu. “Boleh lihat tangan?” pinta Biru tiba-tiba.
Aku mengerutkan kening namun tetap memberikan tanganku kepadanya. Biru meraihnya dengan lembut dan membawa tanganku menyentuh keningnya. Kulit Biru yang dingin terkena udara AC bahkan membuat darahku berdesir dengan hebat.
“Aku seneng bisa lihat kamu lagi,” ucapnya pelan sambil menahan tanganku berada disana.
“Aku juga seneng kamu baik-baik aja.” Dengan inisiatif aku mengelus rambut bagian depannya dengan perlahan. Sisi Biru yang manja seperti ini benar-benar tidak aman untuk jantungku.
__ADS_1