
"Bagaimana apa? Mengaku juga akhirnya?" desisku. Air mataku berlinang menuju pipi. Terasa begitu dingin. Mungkin karena angin atau juga karena sikap pria yang berdiri di hadapanku ini.
Biru meraih tanganku. Ia benar- benar menggenggamnya meskipun aku sudah berusaha untuk melepaskan itu. "Bumi, lihat aku."
Aku mengarahkan sepenuhnya tatapanku kepadanya. Dapat kulihat bagaimana matanya yang sedikit berkaca-kaca. Hebat. Ia bahkan pandai memainkan air mata.
"Sampe mana kamu tahu?"
"Apa sepenting itu buat kamu?"
"Maaf, ini murni salahku. Maaf. Sungguh kuakui kalau semua itu memang benar. Aku terlalu pengecut buat bilang semua itu dari awal. Tapi percaya sama aku, perasaanku ke kamu itu bukan kebohongan, Bumi. Aku sungguh-sungguh."
Ternyata yang paling menyakitkan dari semuanya adalah pengakuan. Jujur saja aku masih ingin mengelak semua fakta ini. Aku ingin Biru berkata bahwa semuanya hanyalah kebohongan atau semacam salah paham belaka. Tetapi di hadapanku, di bawah angkasa yang cerah berwarna biru seperti namanya, ia mengakui semua kesalahan besar yang diperbuatnya.
Dengan tenaga yang lebih kuat, kuhempaskan tangannya yang sedang menggenggamku.
"Kenapa kamu tega, hah? Kenapa kamu begitu jahatnya permainan perasaan orang? Kamu pikir semua itu bisa selesai dengan kata maaf aja? Engga, Biru. Sakit sekali rasanya," ucapku mengeluarkan semua perasaan yang bergulat dalam dadaku kepadanya.
Biru hanya mematung disana. Aku tak paham arti tatapan itu. Yang ku tahu bahwa ia sepertinya sedang memikirkan sesuatu.
"Iya, Bumi. Kesalahanku yang satu ini memang besar. Maaf sudah menyakiti kamu," ulangnya lagi.
Aku tak berniat membalas ucapannya dan hanya terdiam memandangnya dengan tatapan nyalang yang buram oleh air mata.
"Aku gak tahu gimana cara nebus semua ini. Aku terlalu pendek berpikir. Aku harusnya gak lakuin itu."
Ia masih saja mengakui semua.
"Jadi aku harus apa sekarang?" tanyanya sekarang.
"Menurutmu?" Aku membalasnya dengan tanya.
"Ayo kita udahan."
Mataku membulat mendengar apa yang diucapkan darinya. Aku menatapnya mencoba mencari kesungguhan yang setidaknya masih terpatri disana. Tatapan mata Biru terlihat serius.
__ADS_1
"Apa?" Mungkin aku salah mendengar kan?
"Sepertinya kita harus sudahi semuanya, Bumi. Kesalahanku sudah terlalu fatal, toh aku dan kamu memang berbeda. Hidupku selama ini cuma bikin kamu sulit, bikin kamu selalu terjebak dalam masalah. Aku sempat menolak saat wali kelasmu bilang kalau aku cuma menghambat kamu, mimpimu. Tetapi lambat lain aku sadar kalau semua itu memang benar. Aku terlalu buruk buat kamu," ucapnya dengan panjang.
"Kenapa kamu justru bahas hal lain? Itu bukan poinnya," ucapku. "Bahkan meskipun semarah apapun sama kamu, gak pernah aku berpikiran buat udahan."
Sepertinya aku memang terlalu bodoh disini. Tetapi aku sudah terlalu mencintainya. Yang ku mau bukanlah perpisahan, tapi rasa menyesal darinya. Tetapi ia justru mengajukan perpisahan dengan begitu cepatnya sekolah tak memikirkan atau menimbang-nimbangnya terlebih dahulu.
Biru menghela napas kasar. Ia mengacak-ngacak rambut belakangnya. "Terus apa solusinya? Gak ada jalan yang lebih baik daripada perpisahan."
Lihatlah, ia bahkan masih berjuang untuk menegakkan kata berpisah. Aku menyeka air mataku lalu mengangguk. Tak lupa tetap ku arahkan tatapan mataku kepadanya tanpa gentar.
"Oke, kamu yang mau kan? Ini pasti sudah rencanamu. Pasti setelah ini aku denger gosip kalau kamu sudah jadian sama Rena," ucapku sambil terkekeh. Aku bertepuk tangan saat melihat Biru tampak kaget dengan ucapanku.
"Yah, sudah bukan urusanku. Makasih buat semuanya, Biru. Selamat tinggal." Aku melangkahkan kaki dengan tergesa-gesa menuruni tangga. Tidak. Aku tak mau menoleh padanya meskipun dalam hati aku sangat penasaran dengan ekspresinya saat ini.
Di ujung tangga, langkahku langsung terhenti saat kulihat Bima yang sedang bersandar. Ia menoleh saat aku terhenti. Ia langsung meletakkan vest hitamnya ke atas kepalaku.
"Kamu keliatan berantakan. Tunggu UKS aja, kuambil barang-barangmu."
Hanya beberapa menit hingga Bima datang sambil membawa ransel peachku dan kotak makan siangku yang belum terjamah.
"Nih, aku udah masukin semua," ucapnya.
Aku mengangguk dan berterimakasih dengan suara serak.
"Abangmu sudah di depan. Ayo kuantar."
Lagi-lagi aku hanya menurut dan berjalan di belakang punggungnya yang tinggi.
"Kamu tahu darimana kalau aku izin?" tanyaku masih dengan suara serak.
"Wali kelas cari kamu. Katanya abangmu sudah dateng buat jemput kamu yang lagi sakit. Yah memang sakit sih, sakit hati kan?"
Aku enggan menjawabnya. Jujur saja masih ada rasa marah dalam benakku kepada Bima.
__ADS_1
Di depan gerbang kulihat Abang yang tampak khawatir dan langsung menghampiriku. "Adek demam?" tanyanya sambil menyentuh keningku.
Aku mengangguk mencoba kembali berbohong.
Kuraih ranselku dari tangan Bima dan menggendongnya. "Makasih udah dianter," ucapku kemudian memunggunginya begitu saja.
"Thanks," ucap Abang sambil menepuk-nepuk bahu Bima.
Aku langsung masuk ke dalam mobil dengan gontai. Abang menyusul tak lama setelahnya. "Itu Bima kan yang waktu itu?" tanya Abang sambil memundurkan mobil.
"Huum," jawabku singkat.
"Kamu habis nangis? Kenapa sama Biru? Atau Bima yang bikin kamu nangis?"
Aku memandangnya dari spion. Bagaimana bisa dia sepeka ini. Padahal wali kelas dan teman-temanku saja bisa ku kelabui dengan mudah.
"Harusnya aku ikut perkataan Abang dari awal buat gak sama Biru. Feeling Abang selalu bener, ya meskipun pada akhirnya tumpul juga feeling-nya," ucapku sambil memandang jauh keluar pada jalan yang masih terlihat sepi. Toko-toko baru saja buka.
"Biru selingkuh?"
Aku menggeleng.
"Biru balap liar lagi?"
Aku masih menggeleng.
"Terus kenapa?"
Lagi-lagi aku hanya memberikan gelengan kepala saja hingga Abang menghela napas kasar.
"Ya sudah. Tidur aja, suhu tubuhmu tinggi. Makanya jangan banyak nangis."
"Jangan bilang ayah sama ibu ya?" pintaku.
Ia mengangguk dan membuatku lebih lega.
__ADS_1