
“Kenapa tadi kamu nunduk terus? Mukamu juga merah."
Membaca itu membuatku menjadi tidak bisa fokus pada pembelajaran matematika di tempat kursus. Aku mencoba untuk mengabaikan itu dan membalik layar ponselku agar kembali fokus.
Setelah menyelesaikan kursus hari ini, aku langsung membuka kembali pesan dari Biru.
“Waktu di kantin?” tanyaku.
“Iya.”
Aku menimbang-nimbang jawabanku berikutnya sambil merebahkan diri ke ranjang. “Gak apa-apa."
“Bumi, aku gak bisa ngeramal. Jadi jangan jawab ‘gak apa-apa’ karena aku pun yakin kalau ada apa-apa."
Sedikit rumit. Tetapi aku memahami maksudnya.
“Jujur aja sama aku.” Ia mengirimkan pesan lagi membuatku semakin resah.
“Kamu suka sama aku?” tanyaku keluar dari topik pembicaraan kami. Aku memberanikan diri menanyakan hal memalukan itu.
“Menurutmu?”
“Aku gak tau.”
“Iya, aku suka kamu. Jadi sekarang kembali ke pertanyaanku. Jangan coba-coba menghindar.”
Ia benar-benar keras kepala. “Kamu cuekin aku terus di sekolah. Aku gak harap kita jadi deket banget. Tapi setidaknya ngobrol biasa aja,” ungkapku meluapkan semua yang ada di pikiranku seharian ini.
“Maaf ya. Aku gak sadar,” jawabnya.
“Oh, lanjutin aja gak sadarnya.” Aku terlalu kekanak-kanakan, tentu aku tahu itu.
“Bumi, jangan marah.”
Aku tak membalas dan memilih untuk membacanya saja.
“Maaf, aku salah. Harusnya aku gak bersikap gitu. Aku janji itu yang terakhir.”
Sudah dua kali ia meminta maaf.
“Bumi, maaf ya.”
Tiga.
Aku menghela napas dalam. Sepertinya Biru bersungguh-sungguh. “Oke kalau gitu,” jawabku pada akhirnya berhenti mendiaminya.
Selanjutnya kami kembali pada percakapan menyenangkan yang seperti biasanya. Untuk pertama kalinya Biru akhirnya memasang fotonya sebagai profil. Itu tidak terlalu jelas karena diambil dari samping. Akan tetapi tetap saja tak mampu menyembunyikan pesona Biru yang benar-benar cemerlang.
Terlebih latar senja yang membuat dirinya menjadi lebih gelap. Helaian rambutnya terlihat jelas terbawa angin. Hidung mancungnya. Rahang tegasnya. Oh ya ampun, aku benar-benar terhipnotis olehnya.
“Bumi?” panggilnya.
__ADS_1
Aku langsung menutup foto profil miliknya dan kembali pada room chat milik kami. “Iya?”
“Aku bukan orang romantis. Mungkin ini jauh dari bayanganmu. Tapi, aku sungguh-sungguh. Ayo kita pacaran, apa kamu mau?”
Deg.
Jantungku rasanya berhenti berdetak seketika. Biru mengajukan hubungan official? Kepadaku?
“Kamu yakin?” tanyaku tak percaya.
“Kenapa harus ragu kalau itu kamu orangnya?”
Ia mengajukan pertanyaan yang semakin membuatku salah tingkah.
“Jadi?” tanyanya.
“Aku belum tahu gimana itu punya pacar. Jadi aku pasti cuma bisa repotin kamu. Kalau kamu gak masalah, ayo kita coba,” terlalu berbelit-belit.
Dan begitulah awal mula kami menjalin hubungan. Aku benar-benar masih tak percaya bahwa hal seperti ini terjadi kepadaku. Terlebih ini adalah seorang Biru. Menurutku di angkatan kami Biru memang yang paling tampan. Bukan karena dia pacarku, akan tetapi faktanya memang begitu.
Pagi-pagi sekali aku sudah bersiap-siap karena Biru akan menjemputku. Rasanya berdebar. Sudah tiga kali aku mondar mandir di depan kaca untuk memastikan bahwa pakaianku sudah rapi.
“Adek, kamu sama si Biru itu kan?” tanya ayah memastikan.
“Iya ayah.”
Ayah menghampiriku. “Ya sudah. Kalau ada apa-apa telepon ayah.” Ternyata ayah masih khawatir.
Suara motor Biru sudah terdengar. Aku buru-buru keluar dari rumah. Dapat kulihat Biru dengan motor matic hitamnya. Tumben sekali seragamnya rapi. “Selamat pagi, Om,” sapanya kepada ayah.
“Pagi. Titip Bumi ya,” ucap ayah yang dibalas anggukan dari Biru.
Setelah berpamitan kepada ayah. Aku langsung menaiki motor Biru. Ia langsung melajukan motornya dengan kecepatan sedang. “Tumben rapi,” ucapku.
Ia terkekeh. “Kan mau ketemu camer. Masa mau berandalan.”
“Apa? Camer? Apa itu?” tanyaku.
“Kamu gak tahu artinya?”
Aku menggeleng. “Calon mertua.”
Mendengar itu sontak wajahku memerah. Bisa-bisanya ia sudah berpikir hal seperti itu.
Kami sampai di sekolah. Untung saja masih sepi sehingga tidak mengundang kehebohan. “Kuanter ke kelasmu,” ucap Biru. Bahkan ia tak membiarkanku berjalan sendirian. Ternyata begini rasanya punya pacar. Pantas saja semua berlomba-lomba.
Kami berhenti di depan kelasku. “Aku ke kelas ya,” pamitnya.
Aku mengangguk dengan malu-malu. Biru terkekeh dan mengelus puncak kepalaku seperti yang biasa ia lakukan. “Sampai jumpa nanti,” ucapnya sambil mengeluarkan seragamnya lalu mengacak rambut. Ternyata tadi ia benar-benar hanya ingin menjaga image di depan ayah.
“Ehem pagi-pagi udah ngapel.”
__ADS_1
Aku menoleh dan menemukan Bima yang baru saja sampai. Ia melayangkan cengiran tengiknya. “Engga tuh,” elakku.
“Mana pajak jadiannya? Aku berperan penting loh.” Ia menyender di pintu kelasku sambil melipat kedua tangan. Benar-benar bossy.
“Enggak mau. Enak aja,” ejekku lalu berjalan meninggalkannya untuk masuk.
Namun Bima menarik ranselku membuatku terjatuh. Bukannya membantu ia malah tertawa. “Bima!” seruku. Ia benar-benar merusak moodku yang berbunga-bunga.
“Sorry sorry, habisnya kamu lucu sih,” jawabnya. Akhirnya aku membalasnya dengan menarik-narik ranselnya agar terjatuh sama denganku. Namun itu benar-benar tidak berefek apapun.
“Kamu cebol sih. Gak bakal kuat lah,” serunya dengan penuh kemenangan.
“Udah ah. Sana kamu ke kelasmu,” usirku kepadanya.
Namun ia malah menggeleng.
“Woy Bim!” panggil seorang pria yang menyapanya. Tampaknya itu kakak kelas.
“Kak, basket semalem?”
“Engga. Males.”
Bima terkekeh.
“Kak, nih temenku mau kenalan katanya,” Bima menunjukku. Aku yang belum siap dengan itu langsung gelagapan terlebih saat kakak kelas itu kini menatapku dengan seksama.
Ia tertawa kecil. “Suruh kenalan sendiri lah,” ucapnya. Telinganya kini memerah. Aku hanya memberikan senyuman canggung. Kakak kelas itu kemudian pergi begitu saja meninggalkan Bima yang terbahak-bahak. Aku langsung meluncurkan pukulan -pukulan kecil di bahunya yang berguncang itu.
“Bima, ih! Jangan sembarangan ngomong. Kenal aja engga,” omelku kepadanya.
“Seru ngerjain kamu,” jawabnya. “Echa! Gak mau minta pajak jadian sama yang baru ngelepas status jomblo?” kini ia beralih membuat kehebohan kepada Echa yang baru saja sampai.
Kulihat Echa tampak kaget. Ia menatapku seolah bertanya apakah berita itu valid atau tidak.
“Serius?” tanyanya.
Aku hanya terdiam. “Selamat ya, Bumi,” ucapnya dengan ceria lalu menyalamiku. Aku hanya mengangguk-anggukkan kepala saja.
Echa beralih menatap Bima. “Syukurin lo!” ucapnya kemudian pada Bima kemudian masuk ke dalam kelasnya.
“Syukurin lo!” ucapku meniru Echa meskipun aku tak tahu apa maksudnya. Setelah mengucapkan itu aku benar-benar meninggalkannya untuk memasuki kelas.
Hari ini langit sangat cerah. Hanya ada sedikit awan disana. Benar-benar sama dengan suasana hatiku saat ini. Oh ya ampun aku benar-benar bahagia.
Andai abang bangun, apa mungkin abang juga senang karena aku berpacaran dengan temannya? Ia pasti sangat tidak menyangka.
Aku menghela napas panjang. Aku benar-benar merindukan abang.
“Semangat buat hati ini, Bumiku.”
Pesan singkat dari Biru membuat perasaanku semakin membuncah.
__ADS_1