
Ini adalah pekan UAS yang benar-benar membuatku sibuk. Tempat kursusku menambah jam belajar untuk menyongsong siswa-siswanya dalam menghadapi ujian kenaikan kelas.
Waktuku bersama Biru menjadi lebih sedikit. Tak bertemu Biru sehari saja selalu membuatku hampa.
Tapi Biru memang punya segala cara untuk mampu menyangjungku dengan semua hal yang dilakukannya.
Seperti hari ini, jembatan di jalan utama sedang dalam perbaikan setelah bencana longsor beberapa hari yang lalu. Padahal tempat kursusku harus melewati jembatan itu. Namun keberuntungan justru datang padaku. Karena jalan utama kini dialihkan menuju jalan lain yang berada cukup dekat dengan rumah Biru.
Abang mengantarku ke tempat kursus seperti biasa. Sore ini sedang hujan, tak seberapa lebat. Namun itu membuatku harus memakai jas hujan berbentuk pinguin yang dibelikan Abang ini. Sangat kekanakan sekali bentuknya.
Saat melewati jalan alihan, mataku langsung mencoba menoleh ke arah rumah Biru yang letaknya sekitar 10 meter dari jalan ini. Namun yang kulihat justru Biru yang sedang berdiri tepat di samping jalan itu.
Ia memakai jaket kulit kesukaannya, payung abu-abu, celana pendek, dan sepatu kodok. Dengan tampilan begitu saja ia sangat tampan.
Tatapan kamu bertemu, ia melambaikan tangannya lalu tersenyum kepadaku.
"Abang, ada Biru. Berenti dulu boleh gak si?" Seruku heboh.
Namun Abang justru menggeleng. "Gak. Inget kan kata ayah, selama UAS gak boleh pacaran dulu," ucap Abang membuatku mencebik.
"Ya Abang harus bisa jaga rahasia lah," ucapku masih mencoba merayunya meskipun kami sudah cukup jauh dari tempat Biru berdiri tadi.
"Gak boleh. Kalau ketauan, Abang juga yang kena nanti."
Ternyata ia cukup keras kepala juga.
Esok harinya aku kembali melewati jalan itu, Biru tetap disana. Padahal tadinya kupikir ini hanya kebetulan belaka. Aku sempat bertanya kepadanya mengapa kamu menjadi sering bertemu.
"Iya, aku sengaja kok. Aku paham kalau kamu butuh banyak belajar, jadi gak mau ganggu. Tapi kamu inget kan kalau kamu pernah ngasih aku jadwal lesmu. Aku baca itu, cocokin jadwalmu terus berdiri deh di pinggir jalan biar bisa lihatin kamu meskipun cuma beberapa detik," ucapnya melalui pesan.
Hatiku langsung penuh saat membaca itu. Ia benar-benar menghargai pertemuan kami meskipun berlangsung sebentar saja. Perlakuannya yang seperti itu membuatku merasa dihargai dan dicinta benar-benar olehnya.
Dua hari menuju berakhirnya UAS, kudengar bahwa Biru sedang jatuh sakit. Ia bahkan tidak bisa mengikuti ujian bahasa pagi tadi. Itu benar-benar membuatku cemas karena Birupun tidak mengabariku dengan pesan seperti biasanya.
Aku berangkat ke tempat kursus dengan tidak bersemangat. Padahal melihat Biru dapat menambah semangat belajarku. Karna Biru sedang sakit, aku pasti tak dapat melihatnya hari ini.
Tapi dugaanku salah total. Ia tetap disana seperti hari-hari sebelumnya. Wajahnya pucat, kantung matanya semakin jelas, namun senyum lembut itu tak pernah hilang dari sana.
"Abang, please. Hari ini aja aku mau ketemu Biru," pintaku.
Abang masih tetap dengan kekeraskepalaannya, ia menolak dengan tegas.
"Biru lagi sakit. Cuma mau beliin obat, boleh ya," pintaku mencoba meruntuhkan batu di kepalanya.
Abang menghela napas dalam. "Oke. 5 menit," ucapnya. "Tapi nanti. Habis kamu les. Ini udah telat."
"Oke." Sebenarnya aku ingin sekarang. Tetapi mau bagaimana lagi, bisa-bisa tentorku mengirim laporan keterlambatan kepada ayah.
__ADS_1
Pukul 7 malam, abang menjemputku. Dia benar-benar menepati janjinya menemaniku ke rumah Biru. Sebelumnya kami mampir ke supermarket untuk membeli obat pereda demam, roti, dan beberapa makanan ringan. Setelah itu kami langsung menuju rumah Biru.
Bunda menyambut kedatanganku dengan hangat seperti sebelumnya. Ternyata saat Biru sedang tertidur.
"Bunda bangunin ya," tawar Bunda.
Aku menggeleng dengan kuat. "Gak perlu Bun, kasian Birunya. Titip ini aja ya buat Biru, maaf gak sempat beli-beli untuk bunda sama ayah," ucapku tak enak hati.
"Gak usah mikirin itu. Kamu kesini saja bunda sudah senang sekali."
"Bumi pamit dulu ya, Bun. Buru-buru soalnya."
"Loh kok cepet banget."
"Iya, Bun. Nanti habis UAS Bumi kesini lagi ya, main sama Yasmin," ucapku.
Bunda tersenyum dan mengelus puncak kepalaku dengan sangat lembut. Aku kini paham dari mana kelembutan hati Biru berasal. Ia pasti belajar banyak dari bunda.
"Ya sudah. Makasih ya sudah mampir. Hati-hati di jalan."
Meskipun tidak sempat bercakap dengan Biru, melihatnya tertidur lelap sudah membuat hatiku sangat tenang. Ku harap ia lekas sembuh.
**
UAS sudah selesai. Ada kelegaan luar biasa yang kurasakan. Selama seminggu ini aku sangat memforsir otakku untuk merefresh materi yang tiba-tiba menjadi kulupakan begitu saja.
Hingga tiba di hari pengambilan raport, ayah marah padaku. Aku yang biasanya selalu me duduki peringkat tiga besar, kini berada di peringkat 10.
"Hari ini jangan kemana-mana, langsung pulang. Ayah tunggu di rumah," ucap ayah dengan dingin lalu meninggalkanku begitu saja.
Sedangkan aku hanya bisa terduduk mencoba untuk memproses semuanya. Di sebelahku Kartika menepuk-nepuk bahuku.
"Are you okay?" tanyanya.
Aku menggeleng lemah.
"Mau ke kantin? Yuk kubeliin pie Apple kesukaanmu," tawar Kartika mencoba menghiburku.
Tetapi tubuhku rasanya lemas.
"Archava, ikut ibu ke ruang guru," ucap wali kelasku yang baru saja keluar dari kelas setelah membagikan raport kepada wali murid. Aku mengangguk dan mengikuti langkahnya.
Sesampainya di ruang guru, aku cukup kaget karena beberapa petak dari meja wali kelasku, Biru berdiri disana bersama Alan dan Adit.
"Archava, duduk."
Aku mengangguk dan duduk di hadapan wali kelas. Beliau menghela napas dan menatapku dengan serius sambil membenarkan kacamatanya yang turun.
__ADS_1
"Ada apa?" tanyanya. "Ibu lihat nilaimu turun drastis. Semester pertama kemarin semuanya masih oke, kamu bahkan peringkat 2 di tes masuk saat itu. Tapi sekarang menjadi peringkat 10."
Aku menggeleng. "Kurang tahu, Bu."
"Apa ada masalah keluarga?"
"Tidak ada, Bu."
"Kamu dibully?" Tanyanya lagi.
"Tidak, Bu."
"Kalau begitu, ibu sudah tahu penyebabnya. Gara-gara cowok kan? Archava, seusiamu memang wajar mengenal asmara. Tapi apa yang hanya menjadikan akademismu turun, lepaskan saja. Masa depanmu masih panjang.
Sebagai wali kelas, ibu punya tanggung jawab untuk membantu anak didik ibu mencapai cita-citanya. Di awal kamu sudah memasukkan universitas pilihanmu. Itu salah satu universitas bergengsi.
Untuk mendapatkan jalur undangan, statistik nilai raport mu harus bagus. Jika semester berikutnya semakin turun, kamu terancam gagal untuk mendapatkan undangan.
Tadi ayahmu juga meminta tolong kepada ibu untuk menasehatimu, memintamu kembali belajar dengan serius.
Teman-temanmu bilang pacarmu Angkasa Biru ya? Dia pembuat masalah dari IPS," aku tak mampu berkata-kata saat itu. Entah kenapa bahkan sampai wali kelasku tahu tentang ini. "itu dia orangnya. Biru, kesini sebentar."
Jantungku berdegup bukan main. Aku tak berani melirik Biru dengan penuh. Tetapi dari ujung mata dapat kulihat Biru yang menghampiri kubikel wali kelasku.
Ia langsung bersalaman kemudian berdiri di sebelahku.
"Ada apa, Bu?" tanyanya dengan santai.
"Kamu jangan membawa pengaruh buruk ya sama Archava. Peringkat dia turun drastis, setelah ibu selidiki itu terjadi setelah dekat dengan kamu.
Kalau kamu yang mengikuti Archava menjadi rajin ya bagus, tapi ini justru sebaliknya," omelnya kepada Biru.
Aku tak berani menatap dan hanya menunduk sepanjang waktu.
"Mohon maaf tentang itu, Bu. Saya akan berusaha membuat Archava Bumi seperti dulu," Biru berkata dengan tegas.
Wali kelasku menghela napas. "Ya sudahlah. Intinya Archava, kamu pikirkan baik-baik nasehat ibu. Kalian boleh kembali."
Aku mengangguk dan keluar dari ruang guru. Biru tetap berjalan tepat disebelah ku.
"Bumi, kamu nangis?" Tanyanya.
Aku menggeleng dengan kuat meskipun air mataku menjadi nyarih jatuh karena gerakan yang tiba-tiba.
"Biru! Mau coba kabur lagi hah? Sini masuk!" Pak Hanif terdengar memanggil Biru dari dalam sana.
"Nanti aku ke kamu," ucapnya kemudian kembali memasuki ruang guru.
__ADS_1
Ini bukan salah Biru. Bukan karena pengaruhnya. Ini karena diriku sendiri.
Hatiku sakit saat wali kelas menyudutkan Biru seakan-akan Biru adalah penyebab turunnya nilaiku. Padahal itu murni kesalahanku sendiri.