
“Bumi,” panggil Bima.
Aku yang saat itu sedang makan bersama dengan Kartika dan teman-temannya dari kelas IPA 4 langsung menoleh ke sumber suara. “Boleh numpang gak, bentar. Udah penuh semua,” ucap Bima yang tampak kesulitan membawa banyak makanan di tangannya.
Sebelum memberikan jawaban kulihat dulu ekspresi dari yang lainnya. Mereka mengangguk mengisyaratkan bahwa aku diperbolehkan untuk mengizinkannya bergabung dengan kami.
“Boleh, sini duduk.” Aku menggeser sedikit tempat dudukku untuk memberikan ruang kepada Bima. Pria itu langsung meletakkan makanannya di meja.
“Halo salam kenal teman-teman, Bumi. Aku Bima.”
Kemampuan sosialnya memang tak perlu diragukan lagi. Dalam 5 menit saja ia sudah tampak akrab dengan yang lainnya.
“Oh ya, Bumi,” ucapnya kini beralih padaku.
“Kenapa?”
“Kamu masih sama Biru?” tanyanya dengan sangat berhati-hati.
Mendengar pertanyaan itu membuatku menatapnya aneh. “Masih, kenapa?”
Bima menggeleng dan melanjutkan menghabiskan minuman miliknya.
“Kenapa sih?” seruku.
“Nanya doang. Aku ke kelas duluan ya, makasih tumpangannya temen-temen,” ucap Bima berpamitan.
Setelah pria itu pergi, Fanny langsung mendekat dan duduk di tempat Bima tadi, di sebelahku. “Bumi, ngaku deh. Ada hubungan apa sama Bima?” tanyanya.
Aku bahkan sampai tersedak mendengar itu. “Ya temen lah.”
“Ohh friendzone,” ucapnya sambil mengangguk-angguk.
Sedangkan Kartika hanya tertawa. “Dia mah ga peka itu,” ucapnya.
Aku tak paham kemana arah pembicaraan aneh ini.
“Apa sih?” tanyaku.
“Kayaknya Bumi harus dikasih tau deh, Tik,” ucap Jeje yang diikuti anggukan dari Fanny.
Kini beralih pada Kartika yang menepuk-nepuk bahuku pelan. “Bum, kayaknya Bima suka sama kamu deh.”
Mendengar itu membuatku langsung terkekeh. Menurutku sangat lucu. “Gak mungkin lah. Dia itu nyari gara-gara terus sama aku. Yang ada kayaknya dia malah gak suka aku, buktinya gangguin terus,” jawabku sembari mengingat-ingat kelakuan Bima.
“Ya ini dugaan kami aja sih,” sambung Kartika.
“Iya, Bum. Gak usah dipikirin. Lagian pacarmu sekarang itu Angkasa Biru loh. Dia incaran cewek-cewek. Jadi gak boleh kamu sia-siain,” tegas Fanny.
__ADS_1
Aku mengangguk karena akupun tak berniat untuk bermain-main dengan Biru.
Semenjak hari kecelakaan itu, Biru tidak membawa motornya karena dalam perbaikan. Hal itu membuatnya harus ikut teman-temannya. Tapi hari ini dia tiba-tiba berada di depan kelasku.
“Pulang bareng yuk,” ucapnya langsung.
“Ha? Naik apa?” tanyaku.
Ia menggeleng. “Belum tau, pokoknya mau sama kamu hari ini.” Ia mengatakan itu dengan ringan disertai senyumannya yang khas.
Aku melirik ke arah Kartika. “Tika, supirmu udah jemput?” tanyaku.
Kartika mengangguk. “Udah kok. Aku duluan ya, Bum.”
“Iya hati-hati.”
Aku melambaikan tangan sampai Kartika menjauh dari pandanganku. “Jadi gimana?” tanyaku.
“Naik bis mau gak? Kuanter kamu dulu, baru aku pulang lagi.”
Mendengar itu aku langsung menggeleng. “Kamu ribet nanti.”
“Enggak. Kan biar bisa lama bareng kamunya. Aku masih kangen.”
Oke. Jika begini bagaimana bisa aku menolak.
Di saat-saat menyenangkan begini tiba-tiba hujan dengan sangat deras. Padahal gerbang menuju halte masih harus berjalan sekitar 15 meter.
“Hujan, gimana dong?” seruku.
“Hmm gimana ya. Aku gak bawa jaket lagi. Apa aku pinjemin payung dulu? Sama siapa kek di sekolah,” ucap Biru menawarkan jalan keluar.
Payung. Aku buru-buru membuka ranselku dan menemukan payung lipat berwarna hitam yang diambil dari kamar abang kemarin karena ibu yang mengomeliku untuk selalu sedia payung di musim penghujan ini.
“Aku bawa kok,” ucapku.
Biru hanya geleng-geleng melihat kelakuanku.
“Ya sudah ayo pakek,” ucapnya.
“Tapi gak terlalu besar payungnya,” ucapku saat payung sudah terbuka.
“Cukup asal kamu deketan sama aku.” Biru mengambil alih payung itu dari tanganku. “Sini aku yang payungin.”
Ia memegang pagung dengan tangan kirinya dan merangkulku dengan tangan kanannya agar payung yang kamu gunakan muat untuk berdua. Kami berjalan perlahan agar tidak terkena cipratan air. Untung saja hujan itu kini tidak sederas awal.
Jantungku berdegup dengan kencang karena aroma Biru yang benar-benar khas. “Kamu pakek parfum apa?” tanyaku.
__ADS_1
Ia menyebutkan salah satu merek parfum yang dijual di swalayan. Abang pernah memakai merek yang sama tetapi wanginya berbeda sekali.
Aku mencuri-curi pandang dan mendongak sedikit untuk melihat Biru. Dari jarak sedekat ini baru kusadari bahwa bulu mata Biru lentik. Hidung mancungnya. Rahangnya yang kokoh.
Cipratan air hujan mengenai sedikit anak rambutnya dan membuat beberapa helaian jatuh di keningnya. Ia sangat tampan. Entah kebaikan apa yang sudah kulakukan di kehidupan sebelumnya sehingga bisa mendapatkan sosok sesempurna Biru.
“Udah puas liatinnya?” Biru langsung menoleh membuat tatapan kami bertemu. Matanya yang berwarna coklat itu terlihat sangat bening dan membuatku seolah tenggelam disana. “oh masih belum ya.”
Aku salah tingkah dan langsung mendorongnya seidkit sehingga rangkulannya di pundakku menjadi terlepas. “A-a-aku-“
“numpang ya. Numpang Ru, sampai depan aja. Kamu apa kabar kata Alan habis kecelakaan?”
Aku terkejut bukan main saat seseoraang mendorongku ke arah kanan yang menyebabkan aku hampir terjatuh dan tidak terlindungi lagi dengan payung itu.
Seragamku menjadi basah terkena rintik hujan. Tetapi bukan itu masalahnya.
Kini di hadapanku ialah Bima yang tiba-tiba menggeser posisiku. Dan aku di belakang mereka hanya mematung melihat Biru yang kini memayungi Bima. Biru tampak selalu hendak menoleh ke belakang untuk melihatku tetapi Bima selalu menghalanginya.
“Bima!” seruku.
Aku benar-benar tak habis pikir. Mereka berdua berhenti setelah mendengar seruanku. Buru-buru aku menghampiri mereka dan mengambil alih posisiku di sebelah Biru. “Ngapain si? Gak liat apa ada aku?” omelku. Padahal Biru sudah berkorban membuat tubuhnya setengah basah karena mengarahkan payung lebih banyak padaku.
Tapi lihatlah pria menyebalkan ini yang membuatku basah kuyup sekarang.
“Oh gak liat, sorry. Kupikir Biru sendirian, ya udah aku numpang. Kamu terlalu pendek si, jadi ga keliatan,” ucapnya memberikan alasan.
“Udah sana hus hus,” usirku kepadanya. Padahal aku dan Biru sedang dalam momen romantis dan ia merusaknya begitu saja.
“Aku numpang ya.”
“Payungnya gak muat!” ucapku.
“Ayolah please. Sampe depan aja itu, sampe warung.” Bima menunjuk warung yang jaraknya sekitar 5 meter dari sini.
Aku melihat ke arah Biru yang hanya diam saja. “Biru, temenmu tuh. Suruh lari ajaa,” ucapku mengadu ke arahnya.
“Gak lah. Aku nanti basah.”
Padahal seragamnya saja sudah basah.
“Kasian, yaudah kita bareng-bareng aja,” ucap Biru justru membelanya.
“Tapi kan gak muat,” cicitku.
“Sini kamu sebelahku.” Biru memposisikan diri di tengah-tengah kami dan tetap membawa payung itu. Posisi kami benar-benar aneh. Meskipun Biru tetap melindungi kepalaku dengan tangan kirinya agar tidak terkena tetesan gerimis, akan tetapi Bima terus mengajak Biru berbicara sehingga aku menjadi seperti orang asing diantara mereka.
Ini sudah bukan jadi momen romantis.
__ADS_1