Romansa Bumi Dan Biru

Romansa Bumi Dan Biru
BAGIAN 20 – Gangguan dari Bima (2)


__ADS_3

“Aku dapet tugas bahasa Inggris, bikin application,” ucap Biru saat kami sedang makan siang bersama.


“Oh, mirip tugasku yang kemarin ya?”


Ia mengangguk. Makanan Biru sudah tersisa setengah, ia mengambil es jeruk miliknya lalu meminumnya hingga tersisa setengah gelas. “Iya. Bantuin koreksi ya nanti pulang sekolah. Kamu bisa gak?” tanyanya.


“Bisa kok. Ya udah nanti kubantuin. Di perpustakaan?” tanyaku.


“Boleh.”


Aku cukup senang melihat Biru yang menjadi semakin rajin. Padahal biasanya ia selalu menyontek saat ulangan, hanya menyalin tugas dan PR teman-temannya. Ia juga paling tidak suka belajar.


Tetapi perlahan ia mulai mengubah diri. Yah meskipun perubahan yang dilakukannya tidak terlalu besar. Tetapi itu sudah sangat membuatku kagum.


Ibu kantin baru mengantarkan makananku yang baru selesai dimasak. Ini salahku karena telat menuju kantin. Untung saja Biru sudah mengmankan tempat untuk kami.


Kulihat porsi mie ayam yang dihidangkan di hadapanku luamayan banyak. Ini jelas-jelas dua kali lipat porsiku biasanya. “Biru, kamu kurang gak? Aku kayaknya gak habis,” ucapku mengadu padanya.


“Kamu yakin gak habis? Nanti gak kenyang loh. Kamu juga belum sarapan kan tadi,” ucapnya.


Aku menggeleng. “Aku beneran gak habis. Jadi kubagi buat kamu ya setengah,” ucapku menawarkan. Kulihat ia yang sedang mengelus rambutku.


“Ya sudah kalau gitu. Sini taruh mangkokku.”


Aku tersenyum lebar dan langsung memindahkan setengah lagi ke dalam mangkok miliknya. Beberapa teman Biru datang saat aku sedang sibuk memindahkan itu.


“Numpan ya, Bumi. Gila dah ini sekolah doang gede, kantinnya gak imbang. Masa disuruh berdiri. Dipikir prasmanan kondangan,” ucap Alan yang mengeluh.


Aku terkekeh mendengar kata-katanya yang lucu itu. “Iya, kalian duduk aja sini,” ucapku memberikan ruang kepada mereka. Aku sudah lumayan akrab dengan teman-teman Biru jadi sama sekali tidak merasa canggung dengan mereka.


Melihat mereka satu persatu mulai duduk dan langsung bercanda membuat meja ini menjadi ramai. Biru pun terlihat sangat enjoy jika bersama dengan teman-temannya. Namun senyumku langsung hilang saat kulihat di bagian belakang gerombolan mereka, ada Bima disana.


Seperti biasa ia membawa satu mangkok makan, minuman, dan kue-kue lainnya.


“Syukur deh ada tempat. Gak kayak kemaren kita ngemper di pinggir lapangan,” ucapnya lalu duduk sebelahku. Padahal sebelumnya di sebelahku adalah Alan. Meskipun antara aku dan Alan masih terdapat jarak, akan tetapi Bima benar-benar memaksakan diri untuk duduk disana hingga membuatku tergeser dan menabrak bahu sebelah kanan Biru.

__ADS_1


Melihat itu Biru langsung menggeser duduknya hingga mentok dinding. “Sini, kasian kamu,” ucapnya berusaha membuat dudukku menjadi nyaman.


Aku kesal. Tetapi aku mencoba meredakan kekesalan itu karena tidak ingin moodku menjadi jelek hanya karena satu orang. Aku kembali fokus memindahkan isi mangkokku.


“Udah, tuh makan,” ucapku dengan senang. Aku snagat tahu bahwa ini adalah menu kesukaan Biru. Sebenarnya aku bisa saja sih menghabiskan itu. Meskipun makanku sedikit, tetapi disaat-saat terpaksa seperti ini perutku selalu menyediakan space lebih.


Naamun aku berpura-pura tidak sanggup menghabiskannya demi Biru. Dia pasti kurang jika hanya menghabiskan satu porsi.


“Makasih ya. Nanti kalau kamu tiba-tiba laper, bilang. Kita makan lagi, gaausah mikirin diet-diet kayak kemarin lagi,” ucapnya sambil tersenyum dengan sangat lembut.


Jika terus mendapatkan senyum seperti ini, rasanya aku rela selalu berbagi makanan dengannya.


Aku mengangguk dan menepuk-nepuk puncak kepalanya pelan. Biru langsung melahap makanannya. “Wih apa nih, bagi-bagi makanan ya Bum?” tanya Bima.


“Hah? Apa?” tanyaku.


“Itu. Kenapa punyamu dikasih ke Biru?”


“Dia gak haabis. Porsinya kebanyakan,” jawab Biru menggaantikanku. Aku mengangguk-anguk untuk mendukung pernyataan itu.


Tanpa aba-aba dia mengambil setengahnya lagi dan memindahkan ke mangkok miliknya hingga makanannya menjadi menggunung sekarang. Aku hanyaa mematung melihat itu. Makananku sekarang tersisa seperempat dari semula. Itu jelas kurang untukku.


Aku ingin menangis. Tetapi karena ada banyak teman Biru disini, aku harus bersabar dan menahan untuk tidak mengomelinya. Aku hanya diam lalu memakan habis sisa bagian itu.


Moodku sudah rusak mau bagaimanapun aku mencoba mengahapus itu. Biru mengantarkanku ke kelas saat bel sudah terdengar. “Belajar yang rajin ya, sampai jumpa nanti,” ucapnya mengelus puncak kepalaku seperti biasanya.


Aku mencoba untuk tersenyum lalu mengangguk. Aku berjalan gontai menuju kelas. Satu jam pelajaran kulalui dengan sangat lemas. Aku sangat lapar. Sedangkan jam pulang sekolah masih harus melalui 3 jam pelajaraan lagi.


“Bumi, kenapa? Kamu lemes banget. Tumben,” tanya Kartika.


Aku menggeleng dan melipat tanganku untuk menjadikannya bantal diatas meja. Guru di pelajaran selanjutnya belum datang sehingga aku bisa beristirahat sebentar.


“Kamu sakit?” tanya Kartika dengan khawatir.


“Aku laper,” jawabku dengan lemas.

__ADS_1


“Loh kamu bukannya tadi di kantin ya sama Biru?” tanyanya. “emang gak makan tadi?”


“Makan. Tapi-“ aku menghela napas panjang kembali mengingat itu. “gak tau deh.”


Aku menyembunyikan wajahku di lipatan tangan.


Beberapa saat kemudian kurasakan tangan yang menyentuh kepalaku. Aku langsung mengubah posisi dengan menoleh ke arah samping untuk mencoba melihat.


Ternyata itu Biru. “Ini.” Ia memberikan bungkusan dengan box mika lalu ada beberapa barang lagi.


“Apa ini?” tanyaku sambil mengangkat kepala berusaha melihat isi bungkusan itu. Di dalamnya ada set bento di salah satu restoran kesuakaanku lengkap dengan minumannya.


“Ha?” tanyaku menatapnya dengan bingung.


“Kamu tadi makan cuma sedikit kan? Mana belum sarapan juga. Maaf ya baru bisa beli. Soalnya restonya lumayan jauh,” ucap Biru sambil tersenyum lembut.


“Kaamu belinya gimana?” tanyaku.


Biru hanya tersenyum misterius.


“Biru, jawab!” ucapku. “Kamu bolos cuma buat beliin aku ini?”


Aku sudah bisa menebak semua kelakuannya itu. Biru mengangguk seolah itu bukan sesuatu yang belas. “Cuma satu pelajaran gak kehitung bolos kok,” ucapnya terkekeh.


“Biru!” ia benar-benar membuatku tak habis pikir.


Sayangnya aku tak bisa mengomelinya karena guruku sudah datang. “Di makan ya nanti kalau sudah kosong.” Biru cepat-cepat keluar dari kelasku dan meninggalkanku yang masih tak percaya dengan semua yang dilakukannya itu.


“Hmm aku jadi pengen punya pacar deh. Biru peka banget yaa, Bum. Kamu beruntung banget loh punya pacar seperhatian itu,” ucap Kartika semakin membuatku salah tingkah.


Jujur saja aku benar-benar terpukau dengan semua perlakuan baiknya kepadaku meskipun yang dilakukannya dengan cara yang salah.


Kupikir kejadian tadi luput dari pandangan Biru karena ia tidak berkomentar apapun dan tidak menegur Bima. Ternyata dugaanku salah.


Diam-diam Biru memperhatikan semuanya, mungkin termasuk perubahan moodku juga. Dan tak perlu baanyak kata-kata manis, ia lebih memilih untuk bertindak.

__ADS_1


Sepertinya aku jatuh lebih dalam lagi padanya saat ini.


__ADS_2