Romansa Bumi Dan Biru

Romansa Bumi Dan Biru
BAGIAN 21 – Bima, Ada Apa?


__ADS_3

Sepulang sekolah aku menunggu Biru di depan kelasku karena ia masih harus piket. Tapi itu berlangsung hanya sebentar saja. Mungkin memakan waktu 5 menit hingga pria itu kini menghampiriku.


“Udah?” tanyaku.


Ia mengangguk. “Yuk ke perpustakaan,” ajaknya.


Aku langsung bangkit dari dudukku dan buru-buru menyamakan langkahku dengannya. Hingga saat teriakan itu muncul.


“Biru! Bantuin!” seru Ajeng yang merupakan ketua kelas disana. Wajah Ajeng merah padam. Ia tampak marah sambil memegang gagang sapu.


“Kan udah. Gantian lah,” ucap Biru datar.


Dapat kulihaat Ajeng yang hanya menatap Biru kesal lalu berbalik kembali masuk ke dalam kelas. “Emm apa gak apa-apa tuh? Kalau kamu mau piket gak apa, kutungguin,” ucapku merasa tak enak hati pada Ajeng.


“Udah, gak usah diurusin. Tugasku udah kelar kok.”


Akhirnya aku mengalah. Kami tiba di perpustakaan yang tidak terlalu ramai, mungkin karena sudah jam pulang sekolah.


Kami mengambil kursi di paling ujung karena aku sangat suka melihat keluar jendela besar ini. Perpustakaan berada di lantai 2 sehingga darisini aku bisa melihat ke arah lapangan. Biasanya di jam istirahat kedua aku akan duduk sendirian disini agar bisa melihat Biru yang sedang bermain bola.


Pria itu ada di hadapanku sekarang. ia tampak serius membaca perbaikan yang kuberikan pada tugasnya. “Oh jadi gitu ya caranya. Aku udah ngerti,” ucapnya.


“Iyaa. Tulis ulang akaajaa.”


Biru menurut. Ia langsung sibuk memperbaiki tugas miliknya itu. Untuk mengisi waktu, aku menyempatkan untuk mengerjakan PR yang baru kudapatkan beberapa jam yang lalu.


Beberapa saat berlalu hingga aku selesai mengerjakaan PR milikku. Aku mengemasi barang-barangku dan menutup buku paket. “Udah? Pulang kan?”


Tidak ada jawaban. Aku langsung mendongak dan menemukan Biru yang terlelap. Ia melipat tangannya di atas meja untuk menjadi bantal. Wajahnya terlihat sangat lelah. Kulihat juga kantung mata yang bersarang disana.


Aku tidak tega membangunkannya. Wajah polosnya saat tidur benar-benar membuatku betah berlama-lama menatapnya.


Kulihat pekerjaannya yang sudah selesai. Itu bagus. Karena artinya aku bisa lebih lama menatap wajah tidur Biru. Angin sepoi-sepoi berhembus dari jendela di belakang Biru membuat anak rambut Biru menjadi berpindah ke matanya. Melihat itu aku berinisiatif untuk menyibak rambut itu.


Mata biru mengerjab-ngerjab pelan. Ia memegang tanganku yang masih di puncak kepalanya. “Gituin terus, aku tidur bentar ya,” ucapnya kembali memejamkan mata.


Aku tersenyum karenanya. Kembali kuulangi mengelus-elus bagian depan rambutnya dengan pnuh kasih sayang. Aku ingin tahu apa yang membuat Biru kurang tidur. Ia hampir tak pernah menceritakan masalah yang ia alami. Padahal aku juga ingin dia berbagi cerita denganku.

__ADS_1


Aku ingin menjadi perempuan yang selalu menyediakan bahu kala dirinya lelah. Menyiapkan telinga mendengar keluh kesahnya. Tetapi selama ini hanya Biru yang melakukan itu. Ia mendengar semua ceritaku, menjadi tumpuan untukku.


Aroma sampo Biru tercium dengan ringan. Aroma yang manis. Tak kusangka pria sepertinya justu memakai sampo dengan wangi buah-buahan.


“Emangnya boleh ya pacaran di perpus? Kan ini tempat belajar.”


Aku langsung menoleh dan menemukan Bima yang sudah memasang senyum miringnya menatapku dengan angkuh. “Ssst,” ucapku memberikan isyarat agar ia diam. Jangan sampai Biru terbangun mendengar suara berisiknya.


Bima hanya menatapku dnegan tatapan tak terbaca. “Dasar anak zaman sekarang,” gerutunya lalu pergi dari sana.


Dia kira dia sudah tua sehingga bisa mengatakan hal itu? Menyebalkan.


**


Hari ini ayah tidak bisa menjemputku sehingga aku harus pulang bersama Biru. Akan tetapi Biru entah kemana. Ia bahkan membolos di jam pelajaran terakhir. Ponselnya sama sekali tak bisa dihubungi. Ini salahku juga karena tidak memberikan informasi terlebih dahulu bahwa aku akan pulang bersamanya.


“Kamu yakin gak mau kuanterin?” tanya Kartika. Kami sedang menunggu di halte sekarang.


“Iyaa, aku naik bis aja atau nunggu Biru,” jawabku.


Kartika tampak ragu. Tapi melihat kesungguhan di wajahku akhirnya ia mengangguk dan berlalu darisana. Aku tidak sendirian di halte ini karena ada beberapa anak kelas 11 yang sedang menunggu.


“Biru!” seruku sambil berdiri berharap ia dapat menemukanku.


Biru melabuhkan tatapannya padaku. “Sebentar,” ucapnya dengan isyarat. Mereka berlalu masuk dalam gang kecil tak jauh dari sekolah. Tak lama mereka kembali sambil berjalan kaki. Beberapa diantara mereka membawa kayu dan tongkat besi.


Biru terlihat sedang mengatakan sesuatu kepada temannya yang kemudian temannya itu menatapku sekilas lalu menunduk. Biru langsung berlari kecil menghampiriku. “Ngapain disini?” tanyanya.


“Aku mau pulang. Nunggu bis,” cicitku karena suaranya yang tampak menyeramkan sekarang.


Biru memegang kedua bahuku. “Bumi, telfon Laut sekarang. Kamu harus pulang,” ucapnya.


“Abang lagi kuliah.”


Biru tampak semakin cemas.


“Emang kenapa sih?” tanyaku heran.

__ADS_1


Belum sempat Biru menjawab kudengar ada teriakan-teriakan dan langkah kaki yang terdengar. Gerombolan siswa sekolah lain berlari dengan membawa tongkat besi, bata, dan lain sebagainya. Hal itu mengingatkanku pada kericuhan saat di stadion beberapa waktu yang lalu.


“Sialan!” seru Biru. Ia langsung menarikku berlari menjauh dari situasi itu.


Semua yang kulihat bagaikan perang. Dua kubu saling menyerang dengan alat-alat yang dibawa masing-masing. Bahkan guru-guru terlihat tidak berani mendekat karena murid-murid sekolah sebelah melemparkan batu-batu ke dalam area sekolah sehingga bunyi kaca-kaca yang pecah terdengar.


Jantungku berdegup kencang dan terus berlari mengikuti langkah Biru. Pergelangan tanganku sakit karena ia memegangnya terlalu kencang. Ternyata kami dihadang. Ada gelombolan lain yang datang dari arah berlawanan.


Mereka melihat ke arah kami dan langsung berlari mendekat. Alan dan Bima membantu Biru menghalau mereka. Biru menyembunyikanku ke balik punggungnya seperti saat itu.


Alan dan Bima berkelahi dengan gerombolan itu. tetapi 5 lawan 2 sama sekali bukan lawan yang seimbang. Wajah Bima sudah terluka terkena serangan. Tetapi ia tetap berdiri dengan kokoh.


“Bima, mundur!” seru Alan.


Bima menggeleng.


“Bim, mundur. Denger gak! Sini gentian. Jagain Bumi,” ucap Biru benar-benar seperti sebelumnya. Kali ini Bima menatapku sekilas kemudian menuruti Biru.


Ia menggantikan posisi Biru menjagaku dari serangan. Sedangkan Biru menjadi petarung yang sesungguhnya. Ia berhasil menjatuhkan satu lawan meskipun ia tidak membawa satu senjata pun.


Tetapi mereka kalah saat Alan terjatuh. Kakinya di tendang dengan cukup kuat. Biru yang melihat itu menjadi tidak fokus. Seseorang di belakangnya hendak melemparkan bata ke arahnya.


“Biru, awas!” seruku. Air mataku turun entah sejak kapan. Suaraku serak.


Mendengar teriakanku, Biru langsung menoleh dan dapat mengindar. Tetapi ia harus melawan 3 orang sendirian. Sekuat apapun Biru, itu tetap menjadi tidak seimbang.


Ia terjatuh dan langsung dipukuli tepat di hadapanku. “Bi-“ aku yang nyaris berteriak lagi menjadi terhenti saat Bima menutup mulutku dengan tangannya.


“Diem, nanti tempat sembunyi kita ketauan,” ucapnya berbisik.


Aku hanya bisa menangis menyaksikan Biru tak berdaya.


“Bima,” aku menggenggam ujung seragamnya yang coklat terkena sisa darah. “tolong Biru. Kali ini jangan tinggalin dia lagi.”


Aku meminta tolong padanya dengan sungguh-sungguh. Kulihat Bima menatapku dengan pandangan yang tak bisa kuartikan.


Lama ia terdiam. “Oke. Tapi janji jangan kemana-mana. Tetap disini, oke?”

__ADS_1


Aku mengangguk.


Ia langsung merapikan tempat persembunyianku dengan box-box kayu kemudian berlari untuk menghajar mereka.


__ADS_2