
Dan disinilah aku sekarang. Berdiri dengan canggung depan rumah Biru. Rumah sederhana dengan halaman yang cukup luas. “Kenapa cuma berdiri disitu? Ayo masuk,” ucap Biru sambil membuka pintu rumahnya.
Aku akhirnya mengangguk dan cepat-cepat melepas alas kakiku lalu memasuki rumahnya. “Duduk aja, aku ke belakang bentar ya,” ucapnya.
Lagi-lagi aku hanya mampu mengangguk dengan kaku lalu duduk di salah satu sofa. Kuperhatikan seluruh yang mampu kujangkau dengan mata. Pada dinding berwarna putih itu ada banyak sekali foto keluarga yang pajang semuanya.
Dapat kulihat foto dimana Biru yang saat itu masih kecil. Ternyata ia memang sudah tampan sejak dulu.
“Bumi?” panggil Biru sembari kembali. nnamun kali ini ia tak sendirian dan menggandeng anak perempuan dengan rambut panjang sebahunya itu.
“Yasmin, coba kenalan sama kakak,” ucap Biru.
Anak perempuan itu hanya menatapku dengan malu-malu. Wajahnya lumayan mirip dengan Biru. Cantik sekali.
Aku langsung berdiri dan menghampirinya. “Halo, Yasmin. Namaku Bumi,” ucapku memperkenalkan diri.
“Nama kakak Bumi?” tanyanya.
Aku mengangguk sambil memberikan senyuman saat ia menatapku dengan tatapan matanya yang terlihat penuh kekaguman itu. “Nama kakak keren. Kalau aku bisa pilih nama, aku mau jadi Jupiter,” ucapnya sudah mulai berani berbicara denganku.
“Kamu suka Jupiter?” tanyaku.
Ia mengangguk dengan semangat. “Aku punya buku planet-planet. Sebentar, aku ambil dulu ya.” Ia berlari kembali masuk ke dalam.
“Dia masih kelas 3. Jauh ya jarak umurku sama Yasmin,” ucap Biru sambil terkekeh.
“Tapi seru kan punya adek cewek?” tanyaku.
“Ya begitulah. Dia biasanya susah loh deket sama orang. Tapi sama kamu jadi akrab.”
Yasmin kembali sambil membawa buku yang kertasnya sudah terlihat lusuh. Sepertinya ia suka membaca buku itu.
“Kakak, lihat ini.” Ia menunjuk gambar-gambar planet yang berisi penjelasan disana.
“Tapi bahasa Inggris, aku gak ngerti.”
Aku tersenyum karena ia benar-benar bersemangat. “Ini buku cerita kan? Mau kakak bacakan pakai bahasa Indonesia?” tawarku.
Ia mengangguk dengan senang. Aku melirik Biru yang hanya mengamati dari seberang.
“Oke. Sini duduk.”
Ia langsung duduk di sebelahku tampak sudah siap untuk menjadi pendengarku.
“Pada suatu hari, Pluto berpetualang di antariksa. Ia bertemu dengan banyak planet pengembara. Akan tetapi-“ aku terus melanjutkan cerita itu meskipun cukup sulit karena halaman-halamannya sudah lepas dan membuatku harus cepat-cepat menemukan halaman selanjutnya.
“akhirnya semua planet itupun bekerja sama untuk membantu keseimbangan matahari. Mereka menyatukan kekuatan bersama-sama untuk melindungi matahari. Tamat.” Aku menutup buku itu merasa puas karena Yasmin tampak sangat senang. Tak sia-sia aku pernah mengikuti lomba story telling meskipun tidak mendapatkan gelar juara.
Kulirik Biru di seberang yang tersenyum menatapku. Itu benar-benar senyuman yang berbeda dari sebelum-sebelumnya. Senyum yang tulus dan memabukkan.
__ADS_1
“Kakak jago banget. Oh ya, kakak tau teori bigbang?” tanyanya lagi.
Aku cukup kaget karena anak sekecil itu kini menjelaskan teori bigbang yang ia ketahui. Saat kami sedang asyik membahas antariksa, bunda Biru datang. Itu membuat jantungku berdegup kencang.
“Ada tamu ya,” ucapnya menyapa saat memasuki rumah.
Aku langsung berdiri dan menyalaminya.
“Loh ini yang kemarin kan? Yang belanja sama ibunya?” ternyata ia mengenalku.
Aku tersenyum dengan canggung. “Iya, tante. Saya teman Biru. Ternyata tante, bundanya Biru ya,” ucapku.
“Oh ya ampun. Dunia memang sempit sekali ya. Biru gak dibikinin minum temennya?”
“Gak usah repot-repot tante.”
“Gak repot. Sudah tunggu disini.”
Ia meninggalkanku masuk. Sedangkan aku hanya menatap Biru mencoba melihat ekspresinya.
“Ibuku jualan di pasar. Kemarin kamu ketemu?” tanyanya.
Aku mengangguk. Bagaimana pun aku tak boleh membocorkan bahwa sebenarnya pun aku sudah tahu sejak kemarin.
“Iya. Aku gak nyangka ternyata itu bundamu,” jawabku.
Kami berbincang mengenai banyak hal. Bunda Biru benar-benar menghargaiku. Ia baru saja menunjukkan foto-foto Biru saat masih kecil dengan bersemangat. “Nah ini Biru waktu dia jadi pohon di pentas seni tk.”
“Loh kenapa? Kamu lucu. Lucu kan Bumi?” tanyannya.
“Iya tante.”
“Jangan panggil tante. Panggil bunda saja ya.”
Aku cukup terkejut dengan itu. “Iya, bunda,” ucapku mengulangi. Aku sudah takt ahu semerah apa wajahku sekarang.
Tak lama ada beberapa tetangga yang memanggil bunda. “Bunda ada arisan. Bunda tinggal dulu ya Bumi. Pulangnya tunggu bunda,” ucapnya memberikan pesaan.
Aku mengiyakan itu. kini kembali hanya tersisa kami bertiga. Sejak tadi Yasmin sudah duduk dipangkuanku sambil menunjukkan mainannya.
“Yas, main sana. Kakak mau sama kak Bumi,” ucap Biru mulai menggerutu.
Namun tampaknya Yasmin tak mempedulikan itu.
“Kakak suka kelinci gak?” tanyanya.
“Suka. Kamu punya banyak kelinci kan?”
Yasmin mengangguk dengan ceria. “Ayo kita lihat kelinci.”
__ADS_1
Ia menarik tanganku. Biru hanya menghela napas namun tetap mengikuti langkah kami. Yasmin membawaku ke halaman belakang rumahnya. Disini kulihat ada beberapa kendang kelinci yang terbesar diantara hamparan rumput.
Biru membuka gerbang kecil untuk menuju ke tempat itu. Saat terbuka, Yasmin langsung berlarian kesana kemari menangkap kelinci-kelincinya.
“Yas, jangan gitu. Nanti stress, pada mati lagi,” tegur Biru.
Ia langsung berhenti lalu mencebik. Sedangkan aku duduk bersebelahan dengan Biru di bawah pohon akasia besar yang begitu teduh.
“Kita jadi gak bisa berduaan deh,” gerutu Biru.
Aku hanya terkekeh mendengarnya. Yasmin menghampiriku sambil membawa kelinci berwarna putih dengan bulu halusnya. “Ini namanya Mimi. Lucu kan? Mimi kelihatan mirip kak Bumi,” ucapnya.
“Enak aja Bumi disamain sama kelinci,” ucap Biru.
“Kan lucu. Gak kayak kak Biru.” Ia kemudian mengambil beberapa wortel yangs udah dipotong sedemikian rupa. “ayo kasih makan Mimi kak.”
Aku mengambil wortel itu dan memberi kelinci-kelinci itu makan. Rasanya sangat menyenangkan.
Setelah puas berada disana, kami kembali ke ruang tamu. Namun Yasmin harus mengaji sehingga ia tak bisa lagi bermain bersamaku.
“Kakak, nanti main kesini lag ikan?” tanyanya sebelum berangkat.
“Iya. Nanti kakak kesini lagi ya,” ucapku meyakinkannya. Akhirnya ia mengangguk lalu pergi bersama teman-temannya.
Kini tersisa Biru saja bersamaku.
“Kamu gak malu?” tanyanya tiba-tiba.
“Ha? Malu kenapa?”
“Ya keadaanku dan keluargaku seperti ini. Beda banget kan sama kamu,” ucapnya. Aku paham apa yang menjadi beban pikirannya itu.
Aku menyentuh puncak kepalannya dan mengelusnya dengan lembut membuat Biru mendongak dan menatapku. “Emangnya keluargamu kenapa? Mereka hangat dan menyenangkan,” jawabku.
“Bumi, jangan buat aku pengen meluk kamu sekarang juga.”
Aku terkekeh menanggapinya.
“Yah, kami bukan orang berada. Bunda jualan, ayah ternak, kakakku kerja di toko baju. Awalnya keluarga kami hidup berkecukupan, sampe saat Yasmin lahir. Dia punya kelainan jantung yang bikin harus di operasi berkali-kali waktu masih bayi. Pelan-pelan keungan kami memburuk. Apalagi ayah yang sudah pensiun dan gak bisa kerja lagi karena sudah usia senja.
Aku juga kerja. Serabutan sih. Kerjain apa aja. Tapi jeleknya, gengsiku terlalu tinggi. Aku gak pengen temen-temenku tahu. Ya selama ini memang belum ada yang tahu si. Mereka tahunya aku kaya raya. Padahal si ijo itu punya kakak sepepupuku yang lagi kerja di luar pulau, jadi dititipin,” jelasnya.
“Biru, maaf ya. Sebelum ini aku diemin kamu beberapa hari karna ngerasa kalau kamu gak mikirin keluargamu. Tapi bundamu kemarin bilang, dia punya anak laki-laki yang paling dibanggakannya. Yang mau bantu orangtua, yang mau kerja apapun buat bantu keuangan keluarga. Tahu gak, kamu itu hebat.
Aku udah paham sekarang. Kamu bikin ulah itu cuma buat ngalihin beban pikiranmu aja kan?”
tanyaku. Matanya sudah berkaca-kaca. “aku gak peduli orang-orang mau nilai kamu gimana, karna di mataku, kamu orang yang bener-bener hebat.”
Aku tahu bahwa apa yang paling ia butuhkan adalah kata-kata seperti itu. selama ini semua orang memandang buruk Biru. Semua orang hanya menilai apa saja yang tampak darinya.
__ADS_1
Biru meraih tanganku yang berada di puncak kepalanya. Ia menarik tanganku dan membuatku terjatuh dalam pelukannya. Ia memelukku dengan begitu lembut.
“Aku bersyukur banget punya kamu.”