Romansa Bumi Dan Biru

Romansa Bumi Dan Biru
BAGIAN 43 – Patah Hati Lagi


__ADS_3

Aku langsung memasuki toko buku itu dengan terburu-buru. Setelah meletakkan ranselku di ruang penitipan barang, aku langsung menuju lantai dua, tempat favoritku disini. Berbeda dengan lantai satu yang cukup ramai, disini jauh lebih sepi. Mungkin karena sebagian orang sudah bisa menemukan buku yang dicarinya di sana sehingga tidak menuju kesini.


Aku langsung menuju ke rak paling belakang. Disana ada kursi baca yang disediakan. Aku langsung duduk disana sambil memandang hampa buku-buku resep masakan di hadapanku. Rasa sakit itu kembali menjalar seolah menggerogoti jantungku dengan perlahan.


Saat suara musik berganti dengan irama yang menghentak, saat itulah aku terisak. Mengingat Biru. Mengingat tentang kenyataan bahwa ia samaa sekali bukan milikku lagi. Aku harus bisa merelakan Biru memperlakukan perempuan lain seperti halnya ia memperlakukanku. Aku tidak rela. Jujur saja, aku memang egois, aku bodoh, aku- entahlah, begitu banyak hal yang kusesalkan pada diriku.


Tangisku terhenti sesaat ketika kurasakan sesuatu jatuh di atas kepalaku. Aku menoleh dan menemukan Bima yang meletakkan hoodie berwarna dongker miliknya untuk menutupi kepalaku.


Ia berjalan dan duduk di sebelahku sambil mengambil salah satu buku resep di hadapan kami. “Sudah kuduga kalau kamu bakalan nangis. Ketebak banget. Ini toko buku, Bumi. Kamu bisa-bisa diusir nangis-nangis disini,” ucapnya dengan tenang sambil membolak balikkan lembar demi lembar dari buku itu.


Aku menghapus air mataku.


“Kenapa kamu kesini? Bukannya kamu udah pulang?” tanyaku dengan suara serak.


“Terus ninggalin kamu yang lagi patah hati?”


Aku terdiam.


“Selesain dulu nangisnya, kutunggu,” ucapnya sambil merapikan hoodie miliknya agar menutupi setengah wajahku. Rupanya Bima benar-benar membantuku agar tidak malu menangis di tempat umum.


Sesuai yang ia mau, aku melepaskan semua perasaan ini. Selama 15 menit, aku akhirnya sudah puas menangis. Sudah tak ada lagi air mata yang dapat turun. Sejak tadi di sebelahku, Bima hanya serius dengan buku-buku acak yang ia baca. Ia seolah tidak mendengar suara isakanku dan menutupi ku tiap kali ada pengunjung yang mendekat ke arah kami.


“Udah?” tanyanya.

__ADS_1


Aku mengangguk.


“Matamu bengkak.”


Aku mengangguk lagi. sudah menjadi kebiasaan bahwa mataku seringkali membengkak setiap kali lama menangis. Aku pasti sudah sangat berantakan sekarang.


“Tunggu disini,” ucap Bima kemudian meninggalkanku bahkan tanpa sempat aku bertanya kemana ia pergi. Sekitar beberapa menit, Bima kembali sambil membawa bungkusan kecil di tangannya. “Nih, aku beli dibawah.”


Ia memberikanku kacamata hitam.


“Kamu mau orang-orang ngelihatin matamu yang bengkak dan merah itu?” tanyanya saat aku hanya melihat itu dengan ragu.


Aku akhirnya menggeleng dan mengambilnya. Untung saja Bima benar-benar pandai memilih, ia memilih bentuk yang masih terlihat stylish dan tidak aneh digunakan di siang hari.


Aku mengangguk. Kami berjalan berdampingan keluar dari toko itu. tubuhku terasa sangat ringan. Mungkin karena aku sudah banyak mengeluarkan cairan tubuh.


Saat sudaah berada di depan, aku langsung duduk di pinggir trotoar. “Kamu pulang aja, aku nunggu ayah,” ucapku kepadanya. “dan makasih kacamatanya.”


Bima mengangguk tapi malah duduk di sebelahku.


“Sana pulang,” suruhku lagi.


“Iya nanti kalau ayahmu sudah dateng,” ucapnya dengan super santai.

__ADS_1


Aku sudaah tak punya tenaga untuk berdebaat dengannya. Aku mengeluarkan ponsel dari dalam ranselku untuk menghubungi ayah bahwa aku berada di depan kantornya dan ingin pulang bersama.


“Satu minggu lagi study tour kan? Kamu udah siap?” tanya Bima memulai pembicaraan. Ia benar-benar menepati janjinya untuk tidak bersikap canggung kepadaku.


Aku bahkan melupakan tentang itu karena terlalu sibuk akhir-akhir ini.


“Belum nyiapin apa-apa,” ucapku.


Bima mengangguk-angguk. Setelahnya ia malah mengajakku untuk bergosip tentang beberapa teman kami. Tak ku sangka jika ternyata Bima memiliki banyak pengetahuan tentang gosip-gosip itu. yah, tidak heran sih. Pertemanan Bima benar-benar luas, ia bisa masuk di pertemanan manapun. Bagi ekstrovert sepertinya tidak akan sulit untuk mendapatkan fakta-fakta itu.


Ayah akhirnya datang, aku cukup lega karena ingin cepat pulang ke rumah. Aku langsung bangkit dari duduk, bersiap untuk menghampiri ayah.


Sebelumnya aku menoleh ke arah Bima yang juga ikut bangkit bersamaku.


“Mau kemana?” tanyaku yang melihatnya ikut menghampiri mobil ayah. Ternyata ia menyapa ayahku sembari memberikan salam. Bima memang sangat sosialis, ia bahkan sudah terlihat berbincang dengan ayah dengan seru dalam waktu kurang dari 2 menit saja.


Aku menghaampiri ayah. “Bim, hoodiemu,” ucapku sambil memberikan hoodie dongker itu kepada pemiliknya.


“Bawa aja,” ucapnya.


Aku menggeleng dengan kuat. Bima akhirnya menerima hoodie itu. “Makasih ya udaah nganterin kesini,” ucaapku kepadanya.


Bima mengangguk.

__ADS_1


Sepeninggal Bima, aku hanya mengingat-ingat tentang semua yang terjadi hari ini. Ternyata memang benar kata pepatah, siap jatuh cinta, harus siap juga untuk patah hati.


__ADS_2