Romansa Bumi Dan Biru

Romansa Bumi Dan Biru
BAGIAN 44 – Study Tour


__ADS_3

Esoknya aku terpaksa berangkat ke sekolah dengan menggunakan foundation di bawah mata untuk menutupi warna kehitamannya karena kemarin. Ku harap guru tak menyadari itu atau bisa-bisa aku akan berakhir di ruang BK karena memakai make up.


Aku sengaja berangkat pagi sekali untuk menghindari kerumunan orang. Kulihat Namira yang sudah duduk di bangkunyaa sambil menunduk. Sekilas kulihat bawah matanya yang sedikit membengkak.


“Bumi!” panggilnya.


Aku langsung menoleh ke arahnya. Ia berdiri lalu menghampiriku. “Kamu sudah tau kalau Biru sama Rena?” tanyanya kepadaku. Untung saja di kelas hanya ada kami berdua pagi ini.


Aku mengangguk. Ku perhatikan raut wajahnya yang malah menampilkan senyum kecut. “Kamu tau dari mana?” tanyaku kali ini.


Aku tahu bahwa Biru bukanlah orang yang suka memposting apapun di sosial media. Dan kejadian itu terjadi di pulang sekolah. Tentu saja tak banyak yang tahu tentang itu. tetapi Namira, bagaimana ia bisa tahu tentang kabar itu?


“Aku chat Biru. Terus karena gak di bales seharian, ku telfon. Ternyata Rena yang ngangkat, dia marah-marah,” ucapnya menceritakan.


Ku akui keberanian Namira benar-benar patut diacungi jempol. Ia sudah ditolak. Tetapi Namira benar-benar terus maju untuk memperjuangkan hal yang paling ia inginkan.


“Nam-“


Namira tersenyum. Aku sangat tahu bahwa itu adalah senyuman yang sama sekali tidak mengandung kebahagiaan di dalamnya.


“Im okay. Aku mau minta maaf, harusnya aku gak nyalahin kamu. Bumi, aku berharap kita bisa temenan. Rasanya salah kalau kita berantem cuma gara-gara cowok yang bahkan gak milih kita berdua,” ucapnya sambil terkekeh.


Semua yang dikatakannya memang benar. Aku mengangguk.


“Kamu pasti juga patah hati kan? Mau kamu tutupin gimanapun, matamu gak bisa bohong. Mau broken heart party nanti? Ayo kita karaokean buat lepasin semua beban ini,” ucapnya menawariku.


“Kurasa itu ide bagus,” ucapku.


Aku cukup lega karenaa setidaknya tidak ada lagi dendam diantara kami.


Saat kelas sudah mulai ramai, aku kembali ke bangkuku. Tetapi bahkan sampai jam pelajaran di mulai, aku sama sekali tidak melihat Bima. Dia entah kemana.


Tetapi Bima benar-benar menepati janjinya. Ia tidak lagi mengusiliku. Ia menjadi Bima yang biasanya. Yang normal-normal saja.


**


Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Semua orang merasa tak sabar dengan study tour ini. Tetapi tidak denganku. Mengingat bahwa study tour dilaksanakan di semester 2 pada kelas 11, menandakan bahwa tak lama lagi kami akan menduduki kelas 12. Kesibukan baru akan dimulai berkali-kali lipat dari biasanya. Tahun penentuan untukku untuk meraih cita-cita.


Tadinya aku bahkan nyaris tidak ingin ikut kalau bukkan karena Fanny dan Kartika yang memohon-mohon sampai menangis. Mereka bilang bahwa ini kesempatan besar untuk membuat memori sebanyaj-banyaknya karena tahun depan belum tentu kami masih satu kelas.


Akhirnya disinilah aku, duduk di dekat jendela. Di sebelahku Kartika tertidur dengan sangat pulas. Sedangkan Fanny seperti biasa, bersama Rafaza. Mereka akhirnya menyudahi status backstreet. Sejak itu Fanny menjadi sering bersama kekasihnya itu.

__ADS_1


Saat sedang asyik melihat pemandangan luar, aku tak sengaja melihat Biru di bis lainnya. Ia duduk bersama Rena. Mereka tampak sangat mesra dengan Biru yang merangkul perempuan yang sedang mengambil gambar itu.


Oh ayolah. Tahu begini aku benar-benar tak mau ikut.


Kartika tiba-tiba mengeluh bahwa ia sangat pusing. Aku mencoba menyentuh keningnya. Suhu tubuhnya benar-benar tinggi. Aku langsung memanggil guru untuk menanganan lebih lanjut. Setelahnya, Kartika dibawa untuk menuju mobil perawatan.


Aku kembali ke tempat dudukku. Kuharap Kartika baik-baik saja. Kesehatannya memang menurun akhir-akhir ini. Namun ia memaksakan untuk mengikuti kegiatan. Bahkan diantara kami, dialah yang paling excited.


Aku memutuskan untuk tertidur. Namun cukup sulit karena beberapa kali kepalaku terantuk oleh kaca. Padahal aku sangat lelah dan ingin beristirahat. Harusnya tadi aku mengikuti kata-kata ibu untuk membawa bantal leher. Jika begini barulah aku benar-benar menyesal.


Sudah tiga kali aku terbangun karena hal yang sama. Kulihat semuanya sedang tertidur pulas. Oke, akan kucoba sekali lagi. aku kembali menyender ke kursi dag mencoba untuk tidur. Kali ini sedikit lebih tenang.


Aku terbangun saat merasakan kepalaku sedikit terangkat. Saat aku membuka mata, kulihat Bima yang sedang meletakkan bantal di belakang kepalaku. “Tidur lagi aja, masih malem,” ucapnya pelan.


Setelahnya ia pergi entah kemana. Aku tak terlaalu mementingkan itu karena benar-benar lelah. Aku kembali terlelap. Kali ini tanpa terkantuk oleh kaca bis lagi.


“Bumi, bangun. Ikut aku ke toilet yuk, kamu emang gak mau ke toilet?”


Aku mengerjab-ngerjabkan mata dan melihat Fanny yang sudah memakai jaket pink kesayangannya. “Emang kita udah nyampe?”


“Di rest area. Bentarlagi sarapan disini. Tapi ini masih gelap, masih jam 4 subuh,” ucapnya.


Aku mengangguk dan langsung merapikan pakaian untuk turun ke bawah.


“Kamu yakin gak mau?” tanya Fanny memastikan.


Aku menggeleng. “Gih masuk aja. Kutemeni kok, nih aku duduk disini,” ucapku sambil duduk di ayunan tepat di depan gedung toilet. Disini ada playground kecil.


Saat Fanny masuk, aku hanya sibuk memainkan ayunan. Terakhir kali aku main seperti ini sepertinya 7 tahun lalu. Rindu sekali.


Aku mengangkat kepalaku saat melihat seseorang berhenti di hadapanku. Biru. Ia hanya terdiam. jarak kami sekitar satu meter. Biru sama sekali tak mengatakan apa-apa dan hanya menatapku.


“Bumi,-“ ia langsung terhenti dan kembali mengunci mulut.


Akku enggan membuka suara dan memilih untuk menunggunya.


Ia tersenyum kemudian. “Gak jadi,” ucapnya sambil mengacak rambutku pelan lalu berbalik dan pergi menjauh memasuki bisnya.


Dia benar-benar aneh.


“Udah?” tanyaku saat melihat Fanny yang baru saja keluar. Fanny mengangguk. Rasanya aku ingin menceritakan hal tadi kepada Fanny, tetapi lidahku kelu.

__ADS_1


Kartika sudah sembuh. Aku benar-benar beryukur untuk itu. Kami menghabiskan liburan di Yogyakarta dengan benar-benar seru. Kami banyak mengambil foto dan video untuk kami kenang suatu saat nanti.


Ini hari terakhir di Yogya. Beberapa kali aku harus menyaksikan Biru dan Rena. Entah kkenapa sulit sekali menghindari mereka jika bukan di sekolah. Tetapi karena ada teman-temanku, aku menjadi tak terlalu memikirkannya.


Kami memutuskan untuk berjalan-jalan di Malioboro untuk membeli oleh-oleh. Ternyata Yogyakarta menjadi dingin di malam hari. Terlebih mala mini sedikit gerimis membuat suhu menjadi turun. Aku menggunakan dress floral putih di bawah lutut dan memakai cardigan berwarna biru muda untuk mengatasi rasa dingin. Aku pun memakai kaos kaki sepanjang mata kaki dan menggunakan sepatu kets putih. Untuk rambut, aku mengepangnya menjadi dua bagian dan memakai bando berwarna putih.


Saat sampai di depan hotel, langkahku terhenti saat melihat Rafaza dan Bima disana. “Sama mereka gak apa-apa ya? Rafaza bilang bahaya kalau kita cumaa bertiga, apalagi Malioboro di malam minggu itu rame banget,” ucap Fanny.


Aku dan Kartika hanya mengiyakan. Fanny dan Rafaza berjalan di depan kami. Aku dan Kartika mengikuti di belakangnya. Sedangkan Bima berjalan di paling belakang sendirian.


Kami menghabiskan satu jam lebih untuk beputar-putar. Aku sudah mendapatkan satu kantong berukuran sedang sebagai oleh-oleh. Saat ini kami memutuskan untuk membeli makan malam dan memakannya bersama di lobi hotel. Namun jalan pulang sedikit lebih sulit karena kami harus melawan arus.


Di pertengahan jalan, aku tak sengaja bertabrakan dengan seseorang. Sialnya, orang itu adalah Rena. “Maaf, maaf,” ucapku.


“Biru, kakiku sakit,” ucapnya.


Biru hanya menatapku sekilas lalu beralih kepada Rena. Oh ayolah, kenapa dari sekian banyak orang disini, harus mereka?


Bima merangkul bahuku membuatku terkejut. Aku langsung menoleh ke arahnya yang tampak sangat santai. “Oh sorry ya, Ren.


Bumi, makanya sinian. Kamu itu kecil, ketabrak orang-orang nanti mental,” ucap Bima semakin mengeratkan rangulannya. Dapat kulihat tatapan Biru yang menatap ke arah tangan Bima.


Bima membawaku untuk terus berjalan meninggalkan mereka. aku pun hanya mengikuti langkah mereka.


“Udah, lepas,” ucapku. Bima melepaskan rangkulannya tanpa mengatakan apapun. Kakiku terasa sakit. Mungkin karena kami terlalu banyak berjalan, terlebih sepatu di bagian belakang tidak terdapat bantalan.


Kami duduk di rooftop kaarena lobi sangat ramai. Namun aku baru sadar Bima tak ada bersama kami. “Bima, dimana?” tanyaku.


“Cie nyariin Bima,” seru Fanny mulai menggodaku.


Aku langsung terdiam dan kembali fokus membantu Kartika menyiapkan makan malam kami. Bima dtang tak lama setelahnya. Keningnya penuh keringat. Ia langsung menghampiriku. “Buka sepatumu,” ucapnya.


“Ha?”


“Sepatumu, Bumi.”


Aku menurut dan melepas sepatu dan kaos kakiku. Bima mengeluarkan handsaplas dan meletakkannya di bagian belakang kakiku yang lecet.


Aku tidak tahu sejak kapan ia sadar bahwa kakiku terluka. “Loh kakimu luka?” tanya Kartika.


Aku mengangguk. Bahkan teman-temanku saja tidak tahu tentang itu.

__ADS_1


“Bim, makkasih,” ucapku pelan.


Bima mengangguk lalu bersikap kembali santai seperti biasanya.


__ADS_2