
Beberapa waktu ini kami benar-benar bekerja keras untuk mengejar semua ketertinggalan. Biasanya kami mengerjakan proyek tersebut di café milik kakak ipar Bima yang tak jauh dari rumahnya. Bima pun sama sekali tak masalah harus bolak balik untukk membawa semua kebutuhan kami.
Ini hari Minggu tapi kami harus lembur agar proyek ini cepat selesai. Kami membuaat janji di tempat biasanya. Aku datang terlebih dahulu. Namun ada yang aneh karena café itu masih tutup. Biasanya café ini sudah buka dari pukul 8 pagi dan ini sudah pukul 10 siang.
“Jadi gimana dek?” tanya abang yang masih menunggu keputusanku.
Aku duduk di depan café itu sambil mencoba menelpon Bima. Untung saja ia dengan cepat menganggat panggilan teleponnya.
“Iya, sabar. Ini di jalan kok,” ucap Bima bahkan sebelum aku membuka suara.
“Bukan itu. ini cafenya tutup,” aku mulai memberikannya informasi.
“Iya kah? Sebentar aku telpon dulu sama orangnya.”
Bima mematikan sambungan telepon itu begitu saja. Aku beralih pada abang, “pulang aja. Bima sudah di jalan,” ucapku memberitahukannya.
Namun abang menggeleng dengan kuat. “Gak. Disini sepi banget, kalau ada apa-apa gimana?”
Aku hanya bisa menghela napas dan membiarkannya melakukan apa yang ia mau. Bima menelponku lagi.
“Orangnya keluar kota. Pantes aja. Jadi mau gimana? Apa mau kupinjemin dulu kuncinya? Tapi rumahnya sekitar satu jam dari sini,” ucap Bima memberikan opsi untuk mengatasi masalah.
“Gak usah deh. Kita cari tempat lain,” usulku.
“Ya dimana? Kalau tempat umum aku ragu mereka bakal mau nampung proyek yang ukurannya hampir satu meter ini.”
Benar juga. Selama ini pun karena itu café milik kakak iparnya sehingga kami bisa leluasa.
“Apa mau di rumahku?” tanyanya.
“Gak!” tolakku langsung. Rasanya aneh jika aku pergi ke rumah lawan jenis yang hanya berstatus dengan teman. Menurutku itu sedikit tidak etis.
“Terus dimana?” tanyanya lagi.
Aku mencoba berpikir. Aku juga tidak mau mengajaknya ke rumahku. Alasannya sama.
Mungkin karena aku terlalu lama berpikir, Bima akhirnya memutuskan untuk meminjam kunci saja. Namun ia masih menjemputku disini agar aku tidak lama menunggu.
Akhirnya disinilah aku, terpaksa mendengarkan musik dengan aliran jazz yang tidak cocok dengan seleraku. Sedangkan di sebelahku Bima terlihat sangat menikkmati sambil mengangguk-anggukkan kepalanya sesuai ritme.
“Selera musikmu aneh,” ucapku mengomentari.
__ADS_1
Bima menoleh dan mengangguk. “Itu keren. Bukan aneh.”
Aku menggeleng.
“Kalau mau ganti, ganti aja, hubungkan sama hpmu gih,” suruhnya.
Aku langsung menoleh ke arahnya yang fokus ke arah depan. Akhirnya aku mematikan music itu dan menggantinya dengan playlist milikku.
Beberapa detik kemudian, lagu dari Mocca mulai terdengar.
“Jadi kamu sukanya lagu-lagu soft gitu ya,” komentarnya.
Aku mengangguk. “Gak apa-apa kan?” tanyaku memastikan.
Ia tak menjawab namun malah mengikuti lagu itu. aku cukup takjub karena ternyata ia juga tahu lagu itu. “Kamu tahu lagunya?” tanyaku.
“Mamaku suka dengerin.”
Aku tertawa saat beebrapa kali ia merapalkan bahasa Inggris dengan seenaknya sehingga lirik lagu itu menjadi aneh. “Bukan gitu spellingnya,” ucapku.
“Gimana?”
Aku langsung bersenandung mengikuti lagu itu. Bima sesekali menimpali di bagian-bagian yang ia tau. Suara kami sama-sama sumbang, tetapi aku sama sekali tidak merasa malu karena Bima pun juga sama.
“Ini yakin gak apa-apa?” tanyaku sambil menaiki tangga.
“Iya. Kamu denger sendiri kan tadi di telpon kakakku bilang pake aja. Bahkan kalau bisa ya bikin minuman sendiri,” ucap Bima dengan santai sambil membawa papan itu ke lantai 2.
Aku pun mengangguk. Bima mulai menggeser beberapa kursi agar tempat kami menjadi luas untuk kami. Setelah semuanya selesai, kami langsung kembali fokus dengan proyek yang sudah 80 persen ini.
Semua miniature kota sudah selesai, hanya tinggal menempelkannya ke papan lalu memberikan detail. Untung saja Bima benar-benar mampu mengimbangi aku yang selalu ingin perfeksionis dalam mengerjakan tugas.
Ia sama sekali tak mengeluh tentang itu. untuk bagian ini, aku tak menyesal satu kelompok dengannya.
Semua miniature berhasil ditempel pada pukul 2 siang. Lumayan lama karena butuh ketelantenan dan rasa sabar ekstra agar rapi.
“Kamu mau makan apa? Kubeliin di depan,” tawar Bima.
“Apa aja deh. Aku udah laper.”
Bima yang sedang berdiri itu langsung menoleh ke arahku. “Tumben bilang laper,” ucapnya dengan aneh.
__ADS_1
“Ha?”
“Engga, biasanya kalau Biru yang nawarin kamu sok bilang engga,” ucapnya sambil terkekeh.
Aku kembali fokus mengguntung kertas untuk detail rumput. “Ya beda. Kalau sama Biru aku jaga image.”
Bima kembali terkekeh.
“Ya udah. Tunggu bentar ya,” ucapnya. “berani kan?”
“Iya. Udah sana.”
Beberapa saat kami gunakan untuk makan siang yang terlambat ini. Setelahnya kami langsung kembali menyelesaikan proyek. Pukul 4 sore akhirnya semuanya selesai. Ya ampun aku benar-benar lega. Seakan satu beban hidup sudah terangkat.
“Ku anter aja, dari pada nungguin abangmu,” ucap Bima menawarkanku saat abang berkata bahwa ia masih berada di rumah dosennya bersama teman-teman. Aku tak tahu apa yang dilakukannya di weekend begini.
Aku menggeleng. “Gak deh.” Mau semenyebalkan apapun Bima, aku tetap tak tega. Ia pasti juga lelah. Terlebih jarak rumah kami cukup jauh. Aku tak mau merepotinya.
“Kenapa? Kan sekalian aku jalan-jalan,” ucapnya.
Aku kembali menggeleng. “Bentar lagi abang selesai.”
Bima akhirnya mengangguk. Sekarang kami sedang duduk di toko eskrim yang hanya berjarak 3 toko dari café. Anggap saja ini sebagai reward bagi kami yang telah bekerja keras beberapa waktu terakhir.
“Nih, ada kembalian gak?” tanya Bima memberikan selembar 100.000. Tadi saat membeli eskrim, kami menggunakan uangku terlebih dahulu karena mereka tidak punya kembalian.
Aku yang sibuk dengan eskrimku yang sudah meleleh menyuruh Bima mengambil kembalian untuknya sendiri di dalam dompetku.
“Beneran nih gak apa?” tanyanya memastikan.
“Iya. Lagian di depanku, kalau kamu ambil lebih ya aku liat,” seruku.
Bima mengangguk dan langsung mengambil dompetku. Saat baru membukanya ia langsung menemukan fotoku dengan Biru.
“Masih aja disimpen,” komentarnya. “Biru lagi deket sama Rena. Bayangkan, seorang Rena loh. Dia artisnya sekolah deh sebutannya. Ya kamu malah mau saingan sama si Rena,” Bima terkekeh menanggapi itu.
“Apa sih.”
“Cowok itu kalau sudah ada yang jauh lebih top ya yang lama gak bakal dilirik. Udahlah move on, buang aja nih foto gak penting,” serunya.
Aku cukup tersinggung dengan ucapannya itu. “Oh jadi cowok-cowok kayak kamu itu mandang fisik ya? Iya sih tau kalau Rena top. Iya tau,” ucapku.
__ADS_1
Bima langsung menatapku. “Kok tersinggung? Aku cuma ngasih nasehat.”
Mataku sudah berkaca-kaca. Sebenarnya aku tidak menangis karna tersinggung, akan tetapi karena tahu bahwa apa yang Bima katakan sepenuhnya adalah hal yang benar. Aku hanya tertampar oleh fakta.