
Beberapa setelah kejadian tawuran antar sekolah itu, sudah menjadi lebih tenang. Akan tetapi beberapa polisi disewa untuk menjaga kemanan sekolah entah samapai kapan.
Aku sedang mengobrol dengan Karrtika dan teman-teman lainnya sambil menyantap makan siang kami hingga terdengar pengumuman dari ruang guru tentang nama-nama yang dipanggil untuk menghadap ruang BK sekarang juga. Sebenarnya itu adalah hal yang biasa. Namun nama Biru juga disebut disana membuat jantungku berdebar hebat.
Padahal kukira bahwa sekolah tidak akan memberikaan hukuman kepadaa anak-anak yang terlibat. “Bum, Biru tuh dipanggil,” ucap Fanny.
Aku mengengguk. “Iya.”
Pikiranku menjadi resaah. Rasanya aku ingin menemuinya sekarang juga. Akan tetapi tentu saja Biru akan langsung menghadap ke sana.
Di jam pelajaran keempat, guru kami sedang absen dan hanya memberikan tugas untuk dikumpulkan. Fahmi datang dengan hebohnya.
“Tau gak tadi nama-nama yang dipanggil ke ruang BK? Mereka di skors,” ucapnya mulai membawakan informasi.
“Ah, kamu ngaco pasti. Kata siapa emang?” tanya Kavi sambil membolak-balik halamaan buku paket.
“Aku kan habis dipanggil bu Reni buat ngumpulin tugas pagi tadi. Nah disana jadi denger.”
“Emangnya masalahnya apa? Tawuran? Kayaknya yang ikut tawuran banyak banget, kenapa cuma itu yang dipanggil.”
“Mereka ketahuan mabok di sekolah lagi. Gila ya. Pada gak niat sekolah, buang-buang duit orangtua aja. Habis deh kena scors seminggu. Orangtua mereka juga lagi dipanggil itu sekarang.”
Aku terbelalak mendengarnya. Jika merokok dan tawurann, aku benar-benar sudah tahu jikka Biru memang begitu. Tetapi mabik-mabukan? Tidak. Biru pasti bukan orang yang seperti itu.
“Apa? Emangnya itu bener? Kalau salah bukannya kamu mencoreng nama baik orang?” aku berdiri dan menepuk meja sambil menatap Fahmi dengan serius. Aku bisa merasakan suaraku yang sedikit bergetar.
Melihat itu satu kelas menjadi hening. Tetapi aku tak peduli.
“Kenapa? Gara-gara pacarmu kena juga ya? Bumi, memangnya masih ada yang namanya nama baik? Pacarmu dan teman-temannya itu kayaknya emang udah gak punya nama baik lagi deh.”
Aku menatapnya dengan nyalang. “Terus kamu kira manusia itu cuma punya satu sisi baik dan jahat?"
Fahmi tak menjawab.
“Bumi, sorry menyela. Aku sama sekali gak ada maksud buat ngehalangin kamu. Urusanku sama kamu udah kelar. Aku mau ngomong sebagai teman sekelas aja. Pesanku jangan terlalu buta, kamu jangan terlalu belain pacarmu mau secinta apapun kamu sama dia,” ucapnya mengurku.
“Makasih atas kepeduliannya.” Aku malas memperpanjang masalah. Aku memutuskan untuk keluar dari kelas dan mencari Biru. Aku harus mendapatkan informasi itu sendirian.
Di Lorong-lorong kelas, kulihat ada pria tua yang tampak sedang mencari-cari sesuatu di selokan kering. Ia tampak kesulitan melihat dan meraba-raba apa yang ada di depannya.
Aku merasa tak tega karena teringat dengan mendiang kakekku. Buru-buru ku dekati pria tua itu. “Permisi bapak, cari apa?” tanyaku.
__ADS_1
“Ini cari uang tadi jatuh dari dompet,” jawabnya. Dapat kulihat ia menggenggam dompet hitam lusuh yang bagian depannya sudaah banyak terkelupas itu. Bahkan sudah ada robekan di beberapa bagian. Mungkin karena itu uang miliknya menjadi berjatuhan.
Aku membantu mengambilkan selembar 50 ribu yang bercampur dengan sampah-sampah snack. “Ini, Pak.” Aku memberikannya.
Kulihat ia mengambilnya lalu mengangkat selembar uang itu seolah ingin melihatnya lebih jelas. “Oh iya iya bener. Makasih ya, Nak. Aduh maaf ya ngerepotin, bapak sudah gak bisa terlalu jelas lihatnya,” ucapnya sambil terkekeh.
Aku tersenyum dan mengangguk. “Iya, gak apa-apa. Bapak mau kemana? Apa mau saya antar juga sekalian?” tawarku tak tega.
“Memangnya boleh? Daritadi saya bingung. Sekolahnya besar,” jawabnya.
“Boleh,” jawabku.
Aku membantunya untuk berdiri. Sekolah memang sangat sepi karena ini masih jam pelajaran. Jadi wajar saja bapak ini kebingungan kaarena tidak ada yang bisa membantunya.
“Bumi!”
Aku menoleh dan menemukan Biru yang tak jauh dariku.
“Biru?” bapak itu menyebut nama Biru.
Biru tak beraksi apapun namun menghampiri kami. “Ayah dari mana? Kan Biru udah bilang, pulang aja. Ternyata masih disini,” ucap Biru.
Aku terkejut karena tidak menyangka bahwa orang yang kutolong adalah ayah Biru.
Aku hanya berdiri dengan kikuk saat Biru kini memandangku.
“Ya udah, Biru anter ke depan ya. Ayah yakin bisa naik angkot sendiri?”
“Bisa. Kan sering.”
“Bumi, aku antar ayah dulu,” ucapnya berpamitan.
“Aku boleh ikut?” tanyaku dengan hati-hati.
Biru tampak berpikir sebentar kemudian mengizinkan. Kami berjalan bersama-sama menuju halte depan sekolah. Biru juga banyak memperkenalkanku kepada ayahnya. Yah meskipun ia menyebut hubungan kami sebagai teman, aku sudah cukup paham.
Ayah Biru sudah menaiki angkot menyisakan aku dan Biru berdua disini. “Mau balik ke dalem?” tanyanya.
Aku menggeleng. “Boleh gak duduk disini sebentar?”
“Kamu nanti ketinggalan kelas,” ucap Biru.
__ADS_1
“Guruku absen. Jadi aman. Tugasnya juga udah selesai kukerjain,” jawabku dengan sangat mantap.
Akhirnya Biru mengangguk dan kembali duduk.
“Aku gak nyangka ternyata itu ayahmu,” ucapku memulai pembicaraan.
“Iya. Udah tua ya? Ayah baru nikah umur 40, beda 10 taun sama bunda. Itu pun gak langsusng punya anak.”
Aku mengangguk-angguk mengerti. Sebenarnya masih banyak yang ingin kugali dari keluarganya. Akan tetapi aku terlalu takut untuk bertanya.
“Kamu-“ aku mengangkat kepalaku dan menatapnnya. “okay?”
Biru tersenyum kecil lalu mengelus puncak kepalaku. “I’m okay.”
“Berapa lama di skors?” tanyaku dengan sangat hati-hati.
“Kamu tahu?” ternyata Biru terkejut tentang itu.
Aku mengangguk.
Biru menatap jauh ke depan dan menanggalkan tatapan kami. “Satu minggu. Ayah gak marah sih. Tapi kelihatan kecewa. Aku anak yang jadi beban aja buat orangtua,” ucapnya sambil terkekeh.
Aku sangat yakin bahwa Biru terlihat sedih.
Tatapan matanya menggambarkan perasaan yang dialaminya saat ini.
“Kamu beneran mabok?” tanyaku lagi.
“Maaf, Bumi. Aku gak sebaik yang kamu pikirin. Tapi ya, aku memang begini.”
“Jadi bener ya?” Aku tak bisa menjelaskan bagaimana perasaanku sekarang. rasanya benar-benar gundah.
Biru mengangguk. “Itu pertama kalinya. Aku engga enak sama teman-temanku, mereka semua minum. Jadi mau gak mau aku juga. Tapi entah siapa yang laporin, guru jadi mergokin kami.”
“Biru, kamu tahu kan kalau miras itu bahaya?”
“Aku tahau. Aku gak sampe mabok kok. Cuma minum dikit.” Ia masih saja memberikan alasan.
Aku menunduk menatap sepatuku yangs edikit lusuh. Tak terasa air mataku berjatuhan. Aku tak bisa menahan isakanku.
“Bumi, kenapa nangis?” Biru sangat panik. Ia langsung mendongakkan kepalaku. Tatapan kami kembali bertemu. “kamu kecewa ya sama aku?” tanyanya pelan.
__ADS_1
Aku sama sekali tak mampu menjawab. Hanya isakan yang justru semakin hebat.
“Bumi, maaf. Maaf karena aku terlalu buruk buat kamu.”