
Ternyata hal paling sulit dalam masa patah hati ialah saat terbangun dari tidur yang panjang dan menyadari bahwa semuanya telah usai. Ada rasa hampa yang nyata terpampang disana.
Aku mencoba untuk bangkit dari tidurku dengan perlahan. Tak terasa ternyata aku tertidur cukup lama. Bahkan aku sama sekali tidak menyentuh makan siangku.
Aku mencoba untuk berjalan meskipun sempoyongan menuju jendela kamarku dan membuka gorden tebal berwarna coklat tua itu. Ternyata matahari sudah tinggi. Gawat.
Menyadari bahwa aku bangun kesiangan, cepat-cepat aku keluar dari kamar dan menuju dapur untuk mencari ibu. Namun dapur benar-benar sepi dan tidak seperti biasanya.
"Ibu," panggilku saat melihat ibu sedang menonton tayangan gosip dari ruang tengah. Menyadari kehadiranku, ibu langsung menoleh dan berdiri menghampiriku. "Aku kesiangan. Aku telat. Ayah mana? Apa aku gak perlu mandi ya?
"Bumi, ini sudah pukul 9 siang. Ayah dan Abang sudah berangkat sejak tadi. Ayah sudah nelfon wali kelasmu kok. Kamu istirahat saja," ucap Ibu.
Aku mematung.
"Adek, sini sarapan dulu. Terus minum obat." Ibu membawaku menuju dapur dan mengambilkan seporsi sarapan untukku. Melihat semua ini aku menjadi mengerti bahwa ternyata Abang benar-benar bisa menjaga rahasia kali ini.
Setelah menyelesaikan semua itu, aku kembali ke kamar. Rasanya aneh karena baru satu hari setelah kenaikan kelas aku justru sudah absen. Aku jadi mengingat satu tahun yang lalu aku langsung absen selama beberapa hari karena kecelakaan.
Aku duduk di beanbag yang menghadap ke jendela kamarku sambil meraih ponsel. Saat baru menghidupkannya saja kulihat ada banyak pesan yang belum kubaca.
Namun saat membaca semuanya, aku langsung merasa kecewa. Entah mengapa dalam hatiku paling dalam, aku masih mengharapkan pesan masuk dari Biru seperti biasanya. Namun benar-benar nihil. Sepertinya Biru memang berniat untuk langsung menjauh begitu saja. Menyedihkan. Lagipula apa yang kuharapkan? Aku sudah dipermainkan dan justru masih berharap padanya.
Aku membalas pesan-pesan yang masuk dari teman-temanku. Fanny menjadi yang paling khawatir karena aku tiba-tiba pulang lebih cepat dan tidak pergi ke sekolah hari ini. Ia berpikir bahwa aku sedang sakit parah. Sebelum dugaannya semakin menjadi-jadi, aku pun membalasnya dan mengatakan bahwa aku sudah lebih baik karena hanya demam saja.
Kartika juga sama meskipun tidak seheboh Fanny. Ia hanya menyampaikan agar aku mendapat istirahat yang cukup.
"Bumi, ini catatan matematika tadi. Nanti mata pelajaran lain aku fotoin juga catatanku."
Aku langsung membuka foto yang dikirimkan oleh Kartika. Teman-temanku memang sangat pengertian. Mereka mau menerima keambisiusan yang ada padaku alih-alin membencinya. Bahkan Kartika menulis lebih banyak untuk menjelaskan bagian demi bagian yang ku yakin bahwa ia juga kesulitan untuk mencatat penjelasan itu.
Tak ingin banyak membuang waktu, aku meraih buku catatanku yang masih koeong dan menyalin catatan yang Kartika berikan. Setelah selesai aku langsung mempelajarinya sembari mengerjakan soal-soal yang sesuai.
__ADS_1
Aku tidak tahu sudah berapa lama bergelut dengan soal di hadapanku ini, mungkin kalau bukan karena pinggangku yang mulai sakit, aku masih akan tetap mengerjakan soal.
Pintu kamarku terbuka dan menampilkan Abang dengan wajahnya yang terlihat leban di beberapa bagian. "Adek udah mendingan?" Tanyanya sambil langsung menyentuh keningku.
"Iya. Harusnya aku yang nanya, Abang kenapa kok lebam sih?" Aku menyentuh bagian kiri pipinya yang terdapat sedikit luka keunguan itu.
"Sakit," gerutunya.
Aku langsung melepaskan tanganku. "Kenapa?" Serangku lagi. Tak akan kubiarkan ja mengalihkan pembicaraan.
Abang hanya menggeleng seolah sedang menutupi sesuatu dariku. "adek udah minum obat?"
Aku tak menjawab itu.
"Adek," tegurnya lagi kali ini dengan nada suara yang lebih dalam dari sebelumnya.
"Udah."
"Biasa cowok," ia menaikkan lengan bajunya dan memamerkan otot-ototnya yang tidak seberapa itu
Aku menduengus. Sepertinya Abang memang tidak berniat memberitahu. Ia keras kepala sepertiku, tentu dengan tekadnya Abang benar-benar menjaga hal yang ingin ia rahasiakan.
"Kamu istirahat. Jangan belajar terus," ucapnya sambil mengambil ranselnya yang sempat diletakkan sembarangan di atasnya.
"Soal Biru, jangan temui dia lagi. Lain kali jangan cari cowok yang satu lingkungan sama abang. Maaf ya, Abang gak bisa lindungi kamu saat itu. Abang terlalu lemah. Maaf ya," ucap Abang dengan berhari-hati.
Aku bahkan tak bisa menahan. Mataku hang berkalaca-kaca.
Kau menghambur ke pelukan Abang. Aku tidak boleh menangis. Abang mengelus bagija belakang rambutku dengan gerakan yang stagnan.
"Udah gih istirahat. Abang mau istirahat juga," ia bangkit dan meninggalkan kamarku begitu saja.
__ADS_1
Abang sudah tahu ya? Dilihat dari cara bicaranya. Yah itu adalah hal yang wajar mengingat mereka berada di lingkungan pertemanan yang sama.
Mengingat wajahnya yang penuh lebam dapat kutarik kesimpulan bahwa ia dan Biru terlibat dalam pertarungan. Mungkin Abang marah mengetahui semuanya dan menghajar Biru. Luka di wajahnya memang tidak seberapa. Tetapi itu sudah menunjukkan bahwa Biru tidak banyak melakukan perlawanan.
Esok paginya aku kembali ke sekolah. Ibu dan Abang masih sangat khawatir dengan keadaanku. Namun aku tidak bisa terus lari dari semua ini.
Bagaimana pun itu, dengan atau tanpa ya, hidupku akan terus berjalan.
Aku sengaja datang mendekati bel untuk menghindari bertemu Biru. Aku bahkan memilih berjalan lebih jauh untuk meminimalisir pertemuan tak sengaja dengannya. Entahlah, aku hanya merasa belum siap untuk melihatnya lagi.
Sesampainya di kelas, teman-temabku langsung menyambutku. Mereka banyak bercerita mengenai kekhawatirannya akan diriku yang menghilang tiba-tiba setelah mendapat hukuman dari wali kelas.
Pelajaran pertama, kamu langsung disuguhkan dengan tugas kelompok dua orang. Ini adalah proyek besar yang akan dikumpulkan saat UTS nanti. Sistem pemilihan kelompok ialah acak. Bu Marin membuatkan gulungan kertas dengan beberapa nomer. Kami diminta mengambil gulungan itu satu persatu dan mencari teman dengan nomor yang sama.
Aku mendapatkan angka 9. Ku degar pria bertubuh sedikit berisi yang sedang mencari angka 9 pula. Syukurlah bahwa aku tak perlu kesulitan menemukan teman proyekku.
Namun saat itu Tania juga menghampirinya. Kamu sempat bertatapan sesaat. "Aku nomor 9," ucap Tania.
"Aku juga 9," ucapku.
Tania menatapku dengan tatapan sinisnya. "Masa sih? Jelas-jelas aku yang 9," ia tampaknya tak mau kalah.
Akhirnya pria itu mengusulkan untuk menanyakan kasus ini kepada Bu Marin. Bu Marin langsung melihat nomer yang tertera pada kertas kami. "Bumi, ini punyamu garisnya di atas. Artinya kamu kebalik, ini bukan 9 tapi 6. Cari teman yang nomor 6 ya," ucapnya dengan ramah. Aku mengangguk dan berterimakasih.
"Tuh kan. Makanya jangan ngotot," sindir Tania.
Aku tak tahu mengapa ia terlihat begitu tak sukanya padaku. Padahal aku tak pernah membuat masalah dengannya.
"Aku enam." Aku yang sedang duduk di bangku menjadi menoleh dan menemukan Bima yang meletakkan kertas miliknya.
Oh Tuhan, aku juga ingin menghindari pria ini.
__ADS_1