Romansa Bumi Dan Biru

Romansa Bumi Dan Biru
BAGIAN 36 – Tanpa Biru


__ADS_3

Aku mengangguk untuk menanggapinya kemudian mencoba untuk mengalihkan fokus pada materi yang akan menjadi proyek kami. Di sebelahku, Bima hanya mencatat semua hal yang dibutuhkan. Kami benar-benar hanya diam di saat yang lainnya sibuk berdiskusi.


“Kamu masih marah?” tanya Bima yang tiba-tiba membuka suara.


Aku menoleh sekilas dan tatapan kami menjadi bertemu. Cepat-cepat ku alihkan pandanganku ke tempat lainnya, apapun selain pada Bima.


“Aku minta maaf, Bumi,” ucapannya itu terdengar seperti sebuah keputusasaan.


Aku tahu bahwa Bima juga tak sepenuhnya salah. Ia hanya merasa tak tega untuk mengatakan semua itu kepadaku.


“Terus?” tanyaku.


“Terus apa? Aku sudah coba buat jauhin kamu dari Biru. Tapi kamu yang sama Biru selalu nampilin wajah bahagia. Mungkin kamu gak sadar kalau sama dia tatapanmu beda. Jadi gimana caranya biar aku bisa tega ngehapus tatapan bahagia dari matamu?”


Aku tertegun mendengarnya. Aku menoleh ke araaah Bima. Jadi saat beberapa kali ia mencoba mengganggu momenku bersama Biru karena ingin membuatku lepas dengan sendirinya agar tidak sakit hati? Aku sudah cukup menarik kesimpulan sekarang. Semua yang Bima lakukan saat itu semata-mata karena tidak tega, bukannya menaruh perasaan kepadaku seperti yang Fanny katakan.


“Oke, kumaafin,” ucapku pada akhirnya membuat Bima menatapku tak percaya.


“Serius?”


“Serius.”


“Bumi, kamu gak bercanda kan?” tanyanya lagi.


Aku memutar mata dengan jengah mendengarnya yang terus-menerus menyerang dengan kertidakpercayaan yang ia miliki. “Kamu tanya sekali lagi, aku gak jadi maafin,” ucapku sudah terlanjur kesal.


Bima terkekeh. “Oke makasih,” ucapnya.


Setelah sesi permintaaan maaf itu, suasana di antara kami menjadi mencair. Bima kembali menjadi Bima yang biasanya. Setidaknya membuatku sedikit lebih lega.


Sebulan berlalu begitu saja. Hidupku kembali menjadi biasa-biasa saja. Hanya belajar, sekolah, kursus. Itu-itu saja. Selama sebulan ini pula aku tidak bertemu Biru. Sengaja karena aku yang ingin menghindarinya. Teman-temanku pun mengerti tentang itu dan kerap kali membantuku untuk menghindari Biru.


“Bawa undang-undang kan?” tanya Kartika saat aku baru saja tiba di kelas.


“Bawa kok. Udah kusiapin dari semalem.”


“Bagus deh. Bu Hera itu killer. Aku denger dari anak kelas sebelah katanya yang gak bawa undang-undang di hukum gak boleh ikut pelajaran Bu Hera selama sebulan. Parah banget kan?” seru Fanny.

__ADS_1


Aku bergidik ngeri dengan itu. menurutku hukuman paling menyeramkan adalah dilarang mengukuti pelajaran selama waktu yang ditentukan. Bisa-bisa nilaiku akan kembali turun jika begitu.


Kelas lumayan heboh karena tak sedikit yang lupa membawa sehingga sibuk meminjam dari kelas lain yang mempunyai mata pelajaran sama dengan kami hari ini.


“Bum, main tebak-tebakan yuk.”


Bima tiba-tiba duduk di sebelahku, menempati bangku Kartika yang kosong sedang ke toilet. “Gak mau, bentar lagi juga bel,” ucapku sambil kembali fokus pada buku yang sedang kubaca.


“Gak asih,” serunya.


Aaku mengabaikannya dan kembali fokus. “Ini undang-undangmu sampe disampul segala dah,” ia mulai mengomentari barang-barangku seperti biasa.


Aku berdecak. “Ya terus kenapa sih? Kan biar rapi,” jawabku.


Bima mengangguk-aangguk. Bel sudah berunyi. Dapat kulihat Kartika yang terburu-buru memasuki kelas daan Bima kembali ke bangkunya.


Bu Hera sudah masuk. Ia benar-benar tepat waktu. Gerakan demi gerakan yang dilakukannya diperhatikan oleh kami. Kelas menjadi sangatlah sepi. “Semuanya bawa undang-undang?”


“Sudah bu.”


“Siapkan di atas meja sekarang. Siapapun yang tidak membawa, akan mendapatkan hukuman spesial dari ibu.” Mendengar itu lebih seram dari intro film horror.


“Bumi, kenapa?” tanya Kartika sambil berbisik.


“Undang-undangku hilang,” ucapku menggigit bibir. Kartika menatapku heran.


“Kan tadi udah kamu keluarin.”


Aku mengangguk. “Iya, tapi gak ada.”


“Coba inget-inget, apa ada yang pinjem?” tanyanya.


Aku menggeleng. Aku sangat yakin tidak ada orang yang meminjam itu. aaku sangat panik karena tidak juga menemukan dimanapun itu.


Bu Hera sudah berdiri. “Siapa yang tidak membaawa? Ibu mau pengakuan pribadi tanpa haarus mengecek satu persatu.”


Dengan bergetar aku pun mengangkat tangan dengan perlahan. Sontak satu kelas langsung mengarahkan pandangannya kepadaku.

__ADS_1


“Archava, kamu tidak membawa?” Dapat kurasakan tatapan tajam Bu Hera yang semakin membuatku ciut.


“Iya, Bu.”


“Silahkan, kelu-“


“Loh, Bumi. Ini undang-undangmu. Kok kamu lupa?”


Aku menoleh dan melihat Bima yang berdiri sambil mengacungkan undang-undang milikku.


“Maaf, Bu. Archava sepertinya lupa kalau undang-undangnya di saya,” ucap Bima dengan santai.


“Pantas saja. Ibu hampir tak percaya siswi serajin Archava melupakan itu. Cepat berikan, Bima. Dan kalian semua buka paket halaman 31.”


Ketegangan itu langsung hilang. Namun darahku seakan tak mengalir lagi karena terlalu tegang. Bima memberikan tawanya sambil memberikan undang-undang milikku. “Muka panikmu selalu lucu ya,” ucapnya kemudian kembali ke bangkunya.


Aku sangat kesal padanya. Harusnya aku ingat bahwa Bima sempat memegang undang-undangku tadi. Ia sengaja mengambilnya untuk melihat kepanikanku yang diujung tanduk menuju penerimaan hukuman. Bima benar-benar menguji mentalku.


Saat bel istirahaat berbunyi, cepat-cepat aku menghampiri bangku Bima dan memukul bahunya. “Bisa gak sih sehari aja gak usah gangguin aku!”


“Aku gak gangguin kamu.”


“Kamu gangguin aku!” aku tak mau kalah darinya.


Bima berdiri menyebaabkan tinggi kami yang menjadi timpang. “Aku bantu kamu luapin ekspresi.”


“Aneh!”


Dia benar-benar membuatku ingin memukul wajah menyebalkannya itu. “Aduh, kalian ini kerjanya berantem terus. Nanti jodoh loh,” komentar Rafaza yang merupakan teman sebangku Bima.


“Ogah!” seruku dan Bima beberangan. Aku menatapnya dengan sinis.


“Gas aja, Bumi. Itu Biru sama Bima gak beda jauh kok. Ya, lebih ganteng Biru sih,” Rafaza terkekeh.


“Mending jomblo,” ucapku kemudian buru-buru menghampiri Fanny dan Kartika yang bersiap menuju kantin.


Namun kesialan akhirnya datang padaku. Aku yang sedang mengantri untuk membeli makan siang tak sengaja bertabrakan dengan Biru. Itu terjadi saat aku sudah mendapatkan semangkok bakso milikku dan membawanya dengan sangat berhati-hati menuju meja. Namun segerombolan siswa terlihat bercanda dan berlarian seperti di taman kanak-kanak hingga mereka tak sengaja menyenggolku dan membuat setengaah dari bakso milikku tumpah pada seragam putihku. Belum cukup disitu, aku yang berjalan mundur untuk menghindari tumpahan itu justru menabrak dada bidang Biru.

__ADS_1


“Kamu gak apa-apa? Seragammu basah,” ucapnya sambil mengambil tisu dari meja di sebelah kami dan memberikannya padaku.


Aku menepis tangannya dengan refleks dan cepat-cepat menjauh darinya. Dapat kulihat tatapan Biru yang terkejut atas tingkahku kepadanyaa. Aku sama sekali tak bisa mengartikan tatapan miliknya. Itu terlihat seperti kekecewaan.


__ADS_2