
Terik. Aku bersandar di tiang bendera sambil mengamati peserta OSPEK lainnya yang sedang menerima hukuman. Ini adalah hari terakhir.
Rasanya hanya membuang-buang waktuku saja.
“Kamu nanti ikut tampil gak?” tanya Runa membahas tentang pertunjukkan untuk penutupan OSPEK ini.
Aku menggeleng. “Aku gak tertarik,” ucapku dengan jujur.
Runa hanya terkekeh. “Bumi, tahu gak? Aku kagum banget sama kamu. Sifatmu yang benar-benar jujur dan gak peduli apapun, menurutku itu keren banget,” ucapnya.
“Makasih.”
Satu tahun adalah waktu yang cukup lama untukku. Satu tahun membawa banyak masalah yang datang dengan tiba-tiba. Aku juga tak pernah berpikir bahwa aku akan menjadi sosok yang seperti ini sekarang.
“Archava, mau jadi perwakilan jurusan untuk speech?” tanya seorang kakak tingkat.
“Emm, belum siapin apa-apa kak,” ucapku.
“Gak apa-apa kamu pasti bisa kok. Setelah penampilan band ini kamu maju ya,” ucapnya dengan tiba-tiba lalu meninggalkanku.
Apakah semua panitia ospek berlaku semena-mena? Oh ayolah, aku sama sekali belum belajar. Apa yang akan dibicarakan di depan tiga ribu orang ini?
Band itu sudah tampil dengan membawakan lagu dari Dewa19 yang cukup menyentak.
Menurutku perencanaan acara ini sangat buruk. Setelah musik yang menggugah semangat mereka langsung membuat penonton mendengarkan speech yang membosankan? Aku tak habis pikir. Mereka sangat payah.
Akhirnya saatnya untukku tampil. Kakak tingkat itu memberikanku kertas berukuran kecil yang berisi tentang poin-poin pembahasan yang akan kubawakan.
Untung saja semuanya berjalan dengan lancar, aku tak peduli apakah mereka mendengarkanku atau tidak. Yang paling penting adalah tugasku sudah selesai. Saat turun dari panggung, lagi-lagi aku berpapasan dengan Biru. Dengan tiba-tiba ia langsung mengacak pelan rambutku sambil menyunggingkan senyumnya.
“Bumi, kamu memang hebat ya,” ucapnya.
Darahku langsung berdesir karenanya. Namun tingkah lakunya itu mengundang beberapa orang yang langsung menatap ke arah kami. Sudah cukup aku membuat drama di acara ospek. Aku menepis tangannya dan langsung pergi dari sana.
Sepulang dari acara, tempat parkir menjadi sangat ramai. Aku benar-benar malas berdesakan dengan ribuan manusia dan memilih untuk duduk di depan perpustakaan sambil mendengarkan lagu-lagu kesukaanku. Sore hari membuat angin semilir terasa begitu sejuk. Sudah lama rasanya tidak merasakan ketenangan seperti ini. Jauh dari hiruk pikuk manusia-manusia dan mimpinya.
“Bumi.”
Aku tak menoleh karena sudah tahu siapa itu. Dari sudut mata dapat kulihat Biru yang duduk di sampingku.
“Aku sempet gak ngenalin kamu. Kamu sekarang jadi banyak berubah ya. Jadi pemberani. Rambutmu juga di cat ya? Cocok, jadi kelihatan dewasa.”
__ADS_1
Aku hanya terdiam sambil terus mendengarkan suaranya yang sudah lama tak kudengar.
“Aku kangen kamu. Kenapa selama setaun ini kamu ngilang? Bahkan temen-temenmu gak tau kamu dimana.”
“Aku gak kemana-mana,” jawabku.
“Bohong. Kalau gak kemana-mana harusnya aku bisa nemuin kamu di rumah lamamu. Tapi kamu pindah rumah kan?”
Aku tak menjawabnya.
“Kamu mau apa sih? Aku mau pulang,” ucapku.
Biru menghela napasnya. “Cuma mau ngobrol. Udah lama kan kita gak ngobrol-ngobrol gini,” ucapnya. “kamu apa kabar? Masih suka kelinci? Peternakan kelinci di rumahku udah gak ada. Sayang banget ya, padahal kalau masih ada aku bisa ngajakin kamu kketemu kelinci-kelinci lagi.”
“Gak usah banyak basa-basi, Ru,” ucapku memotong pembicaraannya.
“Aku kangen, Bumi. Aku masih sayang kamu. Setahun ini aku cari-cari kamu, rasanya nyaris gila gak bisa nemuin kamu lagi. Jadi sebelum kamu pergi lagi, aku mau bilang kalau aku bener-bener jatuh cinta sama kamu. Gak pernah satu haripun aku berhenti buat mikirin kamu.
Aku tahu perasaanmu juga masih sama. Jadi ayo kita saling maafkan kesalahan yang lalu dan mulai lagi dari awal. Aku janji kali ini aku gak akan kecewain kamu lagi. setelah kita lulus, ayo ke jenjang yang lebih serius biar gak ada kata pisah lagi,” ia meraih tanganku dan menggenggamnya.
“Biru, itu udah masa lalu.”
“Enggak. Aku masih inget dulu kamu suka nemeni aku main futsal, kamu yang marahin aku setiap kali aku males ngerjain PR, sekarang aku sudah berubah, Bumi. Aku bukan lagi anak sekolah yang nakal, yang gak cocok sama kamu. Aku berusaha berubah buat jadi lebih baik biar bisa setarain kamu.”
Aku melepaskan tautan tangannya. “Biru, jangan hidup di masa lalu. Sekarang ya sekarang, jangan sambung-sambungin sama yang udah lewat. Satu tahun mungkin memang waktu yang sebentar. Tetapi semuanya berubah. Kayak kamu yang berubah jadi mahasiswa ambis yang aktif organisasi, aku juga berubah. Bukan lagi Bumi yang kamu kenal.
Menurutku kamu terlalu gegabah. Kita gak kenal sifat masing-masing saat ini. Jadi gimana bisa kamu langsung yakin kalau kita bisa ke jenjang yang lebih serius?” tanyaku.
Biru menunduk dan terdiam. “Kamu benar. Maaf.”
Aku mengangguk dan berdiri saat melihat tempat parkir yang sudah lumayan sepi. “Bumi, tunggu aku ya. Mau bagaimanapun kamu saat ini, kamu tetap Bumi. Bumi yang selalu didambakan Angkasa Biru. Selamanya gak akan berubah.”
Aku hanya tersenyum lalu berbalik dan berjalan menjauh darinya.
Kami bertambah dewasa. Aku yakin bahwa Biru akan memikirkan semua dengan bijak kali ini. Aku pun harus demikian.
**
4 tahun berlalu dengan sangat cepat. Sudah sekitar 3 tahun aku tidak bertemu dengan Fanny dan Kartika. Saat ini Kartika menjadi psikolog di salah satu yayasan terbesar di kota ini.
Sedangkan Fanny menjadi dokter anak. Aku cukup senang dengan kesuksesan teman-temanku ini.
__ADS_1
Kami bertemu di salah satu café di pinggir kota. Cukup sulit menemukan jadwal yang pas untuk kami karena kesibukan masing-masing.
“Oh iya, aku mau ngasih undangan,” ucapku sambil merogoh tas bahuku.
“Kamu mau nikah?” tanya Fanny kaget.
Selama tiga tahun ini kami benar-benar lost contact dan baru saja saling menghubungi untuk pertemuan sore ini.
Aku tersenyum dan mengangguk.
“Serius? Sama siapa?” tanyanya lagi.
“Bi-“
Kartika menepuk meja. “Tunggu. Biar ku tebak. Biru!” serunya dengan keras.
Fanny menjadi sama hebohnya. “Serius? Ya ampun Bumi, ternyata kalian beneran jodoh ya? Biru? Ya ampun.”
Aku tak menjawab itu dan mengeluarkan undangan pernikahanku yang berwarna gold ini. Disana terlihat namaku dan seorang pria. Aku meletakkannya di tengah meja.
“APAA?? BIMA?”
“How can?”
Aku hanya tersenyum. Ekspresi mereka benar-benar terlihat menarik. Mau berapa banyak kali pun ku ingat, ekspresi kaget dari mereka berdua sangat menghiburku.
“Kenapa senyum-senyum?” aku mengangkat kepalaku dan menatap Bima yang memandangku dengan kebingungan. Aku menggeleng dan menggandeng lengannya untuk menyebrangi jalanan di Adelaide yang basah sehabis hujan.
“Gak apa-apa.”
Bima hanya mengacak rambutku lalu menggenggam tanganku. Kehangatan kulitnya itu benar-benar mampu menghilangkan suhu dingin Alelaide malam ini.
Dan ya, inilah hidupku sekarang. Aku memilih Bima sebagai pelabuhan terakhirku. Setiap orang selalu punya yang namanya persimpangan dalam hidup dan mengharuskan kita untuk memilih salah satu jalan. Siap tiap siap, hidup terus berjalan.
Di satu persimpangan, ada saat dimana aku harus memilih untuk kembali kepada Biru atau melanjutkan hidupku. Dan tentu saja aku memilih untuk melanjutkan hidup. Aku sempat merasa menyesal karena pilihan itu. Tapi ternyata dalam jalan yang kuambil, aku bertemu kembali dengan Bima. Dengan pria yang membuatku yakin bahwa cinta sejati itu benar-benar ada.
Kami tidak pernah saling menghubungi selama 4 tahun lamanya. Aku justru sering tanpa sengaja bertemu Biru karena kami berada di kampus yang sama. Namun takdir selalu bekerja dengan sendirinya.
Disinilah aku, 2025 bulan April di Adelaide bersama seorang pria yang sudah resmi menjadi pelengkap hidupku. Seorang pria dengan ketulusan dan kegigihannya yang mampu menghapus semua keraguanku dalam memandang hal bernama cinta.
Dan Biru, selamanya akan tetap disitu, di sudut terdalam di hatiku sebagai cinta pertamaku yang tak akan bisa tergantikan oleh siapapun. Meskipun begitu yang namanya masa lalu, hanya akan berada di belakang.
__ADS_1
Biru, terimakasih sudah menghiasi masa-masa remajaku. Aku pamit untuk melanjutkan hidup, semoga kau juga akan temukan pelabuhan terakhirmu.
Salam, dari Bumi yang pernah menjadi planetmu.