Romansa Bumi Dan Biru

Romansa Bumi Dan Biru
BAGIAN 17 – Teman Menyebalkan


__ADS_3

Semakin hari hubungan kami semakin membaik bahkan jauh lebih baik dari sebelumnya. Setiap hari aku pulang bersama Biru karena abang sudah mengizinkannya. Biru juga sama sekali tidak keberatan selalu menjemputku di depan kelas untuk mengajakku bersamanya.


Karena tingkahnya itu, sudah tak ada legi komentar-komentar negatif di hadapanku. Sepertinya teman-temanku sedikit takut membuat masalah dengan Biru.


Hari ini kelas Biru masih mengadakan ujian remidi dan membuatku bergantian untuk menunggunya. Sekolah sudah sepi karena bel sudah berdering 1 jam yang lalu.


Aku masih setia duduk di depan kelasku sambil sesekali melirik ke kelas Biru yang pintunya tertutup rapat itu.


“Bumi.”


Aku menoleh dan menemukan Bima yang berjalan ke arahku. “Belum pulang, Bim?” tanyaku basa-basi.


Ia menggeleng. “Belum. Habis piket. Nunggu Biru?” tanyanya.


“Iya.”


Bima berdiri tak jauh dariku. Ia hanya menatapku dengan taatapan kosong seolah sedang menimbang-nimbang untuk mengatakan sesuatu. “Kenapa, Bim?” tanyaku ikut penasaran.


Ia memberikan senyuman kecil. “Emm, Bumi sebenernya aku mau ngomong sesuatu tentang Biru,” ucapnya pelan.


Mendengar itu rasa penasaranku benar-benar menjadi tinggi. “Iya? Apa emangnya?”


Bima terdiam. Sepertinya ini pembahasan serius.


Pintu kelas Biru akhirnya terbuka. Aku langsung berdiri saat melihat Biru yang memberikan senyumnya ke arahku. “Bentar ya, ngumpulin dulu ke ruang guru,” ucapnya masih memberikanku informasi sambil mengangkat lembaran hasil kerjanya.


Aku mengangguk dan melihat ia yang menjauh dari hadapanku. Kembali kutolehkan diri ke arah Bima. “Kenapa tadi Bim?” tanyaku.


“Apa ya? Tiba-tiba lupa,” ucapnya kembali dengan wajah tengilnya itu. Aku benar-benar kesal mendengarnyaa.


“Bima! Jangan bikin orang penasaran dong.”


Ia terkekeh, “maaf deh. Sengaja ngerjain kamu doang. Ternyata lucu juga ya kalau kamu penasaraan.”


“Gak. Gak lucu!” seruku.


“Lucu loh. Tahu monster jamur di Mario Bross gak? Nah mirip tuh sama kamu.”


“Sialan!”


Entah mengapa aku merasa masih ada sesuatu yang mengganjal. Namun Bima yang saat berdiri di sebelahku benar-benar tak terbaca.


“Itu Biru udah selesai. Aku duluan ya, Bumi,” ucapnya.


Aku mengangguk. Bima berjalan menjauh dariku. Saat melewati Biru, ia menepuk bahu Biru dua kali. “Duluan,” ucapnya kemudian benar-benar berlalu dari sana.


Kini Biru menghampiriku.


“Mau pulang?” tanyanya.

__ADS_1


Aku mengangguk. “Emangnya mau kemana lagi?”


Biru mengacak rambutku dengan lembut. “Makan es krim mau?” tawarnya.


“Tumben.”


“Gak apa-apa sih, kasian kamu capek kan nungguin aku lama.”


“Halah, bilang aja kamu yang pengen.”


Biru selalu menyenangkan. Obrolan apapun jika bersamanya selalu seru dan aku sama sekali tak bosan mau berapa lamapun aku bersamanya.


Siang itu ia benaar-benar meneraktirku es krim lalu setelahnya mengantarkanku ke tempat kursus.


**


Musim hujan kembali tiba seolah menjadi penanda bahwa hubunganku dan Biru sudah berlangsung lumayan lama. 5 bulan. Mungkin masih seumur jagung, tetapi menurutku itu menjadi sebuah hal yang tak pernah aku sangka sebelumnya.


Selama liburan semester selama 2 minggu, aku sama sekali tak bisa bertemu dengan Biru karena pria itu harus mudik ke rumah kakek neneknya yang letaknya cukup jauh dari sini.


Hingga tibalah hari pertama di semester dua, hari melepas rindu dengan Biru. Aku sudah siap dengan seragamku yang rapi. Di depan cermin aku sibuk menata rambutku.


Semalam aku sudah banyak berbagi cerita dengan Kartika. Ia memberikan saran agar aku memberikan kesan baru di semester ini. “Coba deh, Bumi. Sesekali gerai rambutmu. Kamu gak bosen di ponytail terus?”


Kata-katanya itu berhasil membuatku akhirnya melakukan ini. Untuk pertama kalinya selama SMA, aku melepas kunciran rambut dan membiarkan rambut lurusku terjaatuh menyentuh bahu. Tetapi meskipun begitu aku tetap harus rapi. Aku mengambil bandana berwarna hitam putih yang kupakai agar bagian pinggir rambut tidak menghalangi wajahku.


Rasanya tidak terlihat seperti diriku yang biasanya. Aku juga tidak tahu sampai kapan bisa tahan dengan rambut seperti ini. Aku sangat yakin saat siang nanti pasti akan kembali menguncirnya.


Pesan yang baru saja masuk dari Biru membuatku menghentikan kunyahanku. Aku meletakkan sandwich di atas piring dan membalas pesan Biru dengan cepat.


“Kecelakaan gimana? Kamu parah?” tanyaku beruntun.


Jantungku berdegup dengan kencang.


“Aku gak apa-apa. Motorku rusak parah. Aku usahain tetap ke sekolah biar bisa ketemu kamu,” ucapnya.


Rasanya aku ingin membolos saja. Aku sangat khawatir dengan keadaan Biru. Tetapi melihatnya yang masih bisa mengirimkan pesan sepertinya tidak terlalu parah. tetapi entahlah, aku benar-benar tidak bisa bersikap tenang.


“Ayah, Biru gak bisa jemput. Ayah bisa nganterin gak?” tanyaku saat kulihat ayah yang sedang bersiap-siap.


“Ayah ada rapat, Dek. Ini gak bisa sarapan. Buru-buru.


“Adek naik bis aja ya?” tanyaku.


Ayah masih tampak berpikir. “Apa gak bahaya?”


“Enggak, ayah.”


“Abang yang anter.”

__ADS_1


Tiba-tiba abang masuk dalam percakapan kami. Ia sudah tampil rapi dengan celana bahan dan jaket kulitnya. Aroma parfumnya bahkan menguar hingga membuatku tersedak.


“Abang mau kemana? Bukannya kuliah masih status cuti? Kan bulan depan abang baru masuk,” seruku langsung.


“Berisik. Udah, sekalian aja. Abang juga mau keluar,” ucapnya kembali pada mode mengesalkan. Ia bahkan mengambil sisa sandwichku.


“Abang! Itu punyaku.”


Ia menulikan telinganya. “Ayo cepetan. Ini sudah jam berapa, dek.”


Aku melihat jam tangan yang menunjukkan angka 6.45. Gawat aku nyaris telat.


Akhirnya aku tak punya pilihan lain selain bersama abang. Aku tahu bahkan ayah dan ibu ragu karena masih trauma atas insiden kecelakaan kami saat itu. Tetapi abang berhasil meyakinkan bahwa kali ini ia akan sangat berhati-hati. Untungnya ia taak berbohong.


“Ku kira abang bakal boong bilang mau pelan-pelan,” seruku.


“Gak. Udah kapok.”


“Emang abang mau kemana?”


Ia menggeleng. “Ayo lah, aku gak bilang ayah sama ibu, janji.”


“Mau ketemu cewek.”


Aku terkejut bukan main. “Bukannya abang udah punya?”


“Udah engga. Ini beda lagi,” jawabnya dengan sangat enteng.


Ya ampun. Aku tak habis pikir dengannya. Sejak dulu abang memang sering bergonta-ganti pasangan. Sepertinya hanya saat abang sakit saja semua perempuan-perempuannya itu menghilang.


“Siapa kali ini targetnya?” tanyaku.


“Ada deh.”


Aku memukul bahunya gemas.


“Bang, nanti pulang sekolah abang lagi kan yang jemput?” tanyaku.


“Huum.”


“Biru kecelakaan. Aku mau nengokin dia, jadi anterin ya. Tapi masih belum pasti sih, soalnya Biru bilang mau usahain sekolah,” aduku kepadanya.


“Dia mah gak bakal kenapa-napa. Udah gak usah di jenguk.”


Tuh kan. Dia menyebalkan.


“Ayo lah. Sekali ini aja, yaa,” pintaku memohon.


“Ya udah deh. Tapi beliin kaset PS ya buat gantinya.”

__ADS_1


Aku menghela napas. Memang tak ada kata memanfaatkan kakak dengan baik jika bersamanya. Ia selalu tak ingin rugi. “Oke. 1 aja tapi. Jangan mahal-mahal,” ucapku pada akhirnya.


Biru, lihatkan. Aku rela kok uang jajanku seminggu habis cuma demi jenguk kamu.


__ADS_2