
“Maafin aku,” ucapnya.
Aku hanya menyandarkan punggung di kursi dan menatapnya lurus.
“Kamu minta maaf? Orang minta maaf artinya dia salah.”
Biru terdiam. “Bumi, aku memang pernah pacaran sama Namira.”
Ia akhirnya jujur. Meskipun sudah menduga hal ini akan tetapi mendengarnya langsung dari Biru membuat dadaku sakit.
“Terus kamu belum cukup punya dia? Namira memangnya kurang apa? Dia baik, cantik, populer, pintar. Semuanya dia punya. Laki-laki memang gak pernah puas ya,” sindirku.
Ia menghela napas kasar lalu mengacak rambutnya. “Engga gitu. Dengerin dulu penjelasanku.”
“Ya silahkan.”
“Kami baru sebulan pacaran dan ternyata gak cocok. Yang paling brengsek dari aku, aku justru block karena dia gak mau kuajak udahan. Aku sama sekali gak nyangka karena ternyata sampe sekarang dia anggap kami masih berhubungan, padahal gak sama sekali.” Biru merogoh saku segaramnya kemudian mengelurkan ponselnya. “Kamu bisa lihat sendiri. Itu akun focobook, chat gak bisa dihapus.”
Aku mengambil ponsel miliknya dan membaca dengan cepat. Semua yang Biru katakan memang benar. Mereka terlibat pertengkaran hebat yang serius. Biru menawarkan jalan tengah untuk mereka agar bisa mengubah sifat masing-masing. Akan tetapi Namira tetap dengan keras kepalanya mengatakan bahwa mereka akan baik-baik saja.
Kali ini aku benar-benar risau. Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana. “Bumi, kamu percaya kan sama aku?” tanyanya. Aku menatap matanya yang menenangkan itu. Biru selalu berhasil membuatku tersihir dengan semua ucapannya.
Air mata yang sejak tadi kutahan dengan kuat akhirnya jatuh juga. Biru dengan cepat berpindah duduk di sebelahku dan menenangkan. “Bumi, maafin aku ya. Aku belum bisa jadi pacar yang baik buat kamu. Maafin aku,” ucapnya berkali-kali sembari mengelus-elus bahuku.
Aku mengangguk. “Aku gak suka kamu bohong. Coba aja dari awal kamu cerita ini, aku mungkin gak akan berpikiran negatif sama kamu.”
“Iya, ini salahku. Maaf.”
Kami akhirnya kembali berdamai setelah menyelesaikan semua salah paham ini. Biru berkata hal yang paling utama adalah komunikasi.
Biru mengantarkanku ke rumah setelah sebelumnya kami mampir ke toko roti untuk memberikannya kepada ibu.
“Itu ibu ada kok di dalam,” ucapku.
Biru tampak ragu turun dari motornya. “Apa gak apa-apa?” tanyanya.
__ADS_1
Aku terkekeh dan mengangguk. “Ayo, ini kamu kasih sendiri. Kan kamu yang beli.”
Akhirnya Biru menurut. Ia memberikan sendiri bakery itu kepada ibu. “Duduk dulu saja, tante buatkan teh dulu ya sebentar. Atau yang dingin-dingin aja?” tawar ibu dengan ramah seperti biasa.
“Dingin aja, Bu. Diluar lagi panas,” jawabku mewakilkan Biru yang pasti malu-malu menjawab pertanyaan ibu.
“Ya sudah tunggu bentar ya.”
“Makasih tante. Maaf ngerepotin,” ucap Biru dengan sopan.
Saat berjalan menuju ruang tamu, kudengar suara abang yang sibuk dengan gamenya. Sepertinya ia sedang bermain PS di ruang tengah. “Biru duluan aja, aku ada perlu bentar,” ucapku.
Biru menurut dan berjalan sendirian ke ruang tamu sedangkan aku menuju ke arah kiri untuk menghampiri abang. “Bang, ada Biru itu. Temeni sana,” ucapku.
Abang menggeleng. “Dia gak bisa sendiri?”
“Ih, kan abang temennya. Masa sama temen begitu sih.”
Abang sama sekali tak merespon dan tetap fokus pada layar. “Kasihan itu Biru jadi takut mau kesini gara-gara abang sinisin terus. Ayo lah, temeni Biru ya, please. Biru udah baik selalu jagain aku.”
Aku senang bukan main. “Oke kupanggilin.”
Meskipun awalnya mereka terlihat canggung namun 15 menit kemudian justru aku yang terlihat asing disini. Mereka asyik dengan dunia mereka sendiri dengan layar yang menampilkan pertandingan sepak bola. Mereka benar-benar terlihat akrab satu sama lain seolah-olah aku tak ada di ruangan yang sama dengan mereka.
Tetapi tidak apa-apa. Aku sudah cukup senang karena setidaknya hari ini dua masalah terselesaikan bersama-sama.
Biru benar-benar bukan orang yang lebih banyak bicaranya. Esoknya ia membuat gempar karena ke kelasku di pagi hari. Kehadirannya itu membuat banyak pasang mata langsung menatapnya. Ia melirik ke arahku sebentar lalu menuju ke bangku Namira.
Hal itu sontak membuat banyak tanggapan yang diberikan. Kebanyakan dari mereka adalah kasihan padaku yang akhirnya dicampakkan karena menduga Biru memilih Namira.
Aku juga tidak tahu apa yang ada di pikiran pria itu. Apakah ia akhirnya sadar bahwa Namira tak boleh disia-saikan setelah percakapan kami kemarin?
Berpikir demikian hanya membuatku semakin tertunduk. Aku terlalu takut untuk menyaksikan itu.
“Nam, boleh ngomong bentar?” tanya Biru.
__ADS_1
Kelas yang menjadi hening membuat suara Biru terdengar jelas.
“Kenapa, Ru?”
“Kayaknya kita ngomong di tempat lain aja.”
“Emm disini aja.”
Jantungku semakin berdegup dengan kencang.
“Oke, karena kamu yang mau.” Selanjutnya hening beberapa saat. “Sebelumnya aku mau minta maaf buat apa yang terjadi sama hubungan kita. Padahal kamu sendiri yang minta buat rahasiain, tapi sekarang justru kamu sendiri yang beberin ke semua orang ya?”
“Nam, hubungan kita sudah berakhir 3 bulan yang lalu. Bukti chatnya juga masih ada. Aku udah sampein buat putus tapi kamu gak terima jadi akhirnya ku block akunmu. Tapi ternyata sampai hari ini kamu masih anggap kita pacaran ya?
Daripada makin ribet. Mending aku bilang sekali lagi, kita putus. Gak ada lagi hubungan antara kamu sama aku. Jadi berhenti buat sebarin berita itu karna aku gak mau Bumi jadi sedih denger itu.
Dan buat kalian semua yang denger ini. Jangan coba-coba ngusik Bumi kalau gak mau berhadapan sama aku,” ucap Biru dengan penuh penekanan.
Aku masih tak percaya dengan apa yang dikatakannya itu. kuangkat kepalaku dan bisa melihat ia yang berjalan ke arahku. “Yuk temeni aku sarapan,” ucapnya sambil tersenyum dengan tulus.
“Emm, aku-“
Biru mendekatkan dirinya dan merapikan helaian rambutku yang jatuh di wajah. “Kenapa, hmm?”
Aku menggeleng dan semakin memundurkan kepala karena salah tingkah.
Biru tak kehabisan akal untuk membawaku bersamanya.
Ia bahkan mengulurkan tangannya menungguku untuk menyambutnya. Akhirnya aku berdiri.
Mataku sepertinya berkaca-kaca sekarang. Biru membawaku keluar dari kelas yang menjadi ribut itu. sekilas kulihat Namira yang sedang menangis dan ditenangkan oleh teman-temannya.
Rasanya aku menjadi tidak takut lagi meskipun mereka akan menggunjingku. Aku tak peduli jika aku disebut sebagai perebut pacar orang, cewek centil, dan sebutan aneh lainnya. Yang aku pedulikan sekarang adalah hangatnya sikap Biru. Ia selalu bisa membuat risauku menjadi hilang, membuatku merasa jauh lebih berharga dari apapun.
Aku benar-benar bersyukur karena telah mengenal dan jatuh cinta kepadanya.
__ADS_1