
Ada satu kegiatan baru yang menjadi kegiatan rutinku setiap istirahat sekolah yaitu melihat Biru yang mulai aktif bermain sepak bola di lapangan bersama teman-temannya. Semenjak insiden yang terjadi, klub bola sekolah menjadi mangkrak. Mereka bahkan diberikan sanksi tak bisa bertanding selama setahun dimanapun itu.
Hal tersebut sempat membuat Biru menjadi down. Ia merasa bahwa impiannya menjadi pemain sepak bola menjadi hilang. Namun keceriaan Biru kembali saat ia kembali rutin menjalani hobinya itu.
Biru seolah tak peduli pada kaos hitam polosnya yang basah akan keringat. Rambutnya berantakan. Namun senyum lebar selalu tercetak disana. Ia benar-benar menikmati menjalani hobi.
Sedangkan aku hanya duduk di depan kelasku sambil menatap lurus ke arah Biru. Saat peluat kemenangan sudah ia dapatkan, Biru berlari menepi ke arahku duduk sendirian.
“Nih minum yang kamu pesen,” ucapku memberikan minuman energi kepadanya.
Ia mengangguk dan duduk di sebelahku lalu meneguk habis minuman itu. “Persiapan lomba story telling gimana?” tanyanya kini.
“Lancar kok. Aku baru mulai menghafal.”
Biru tersenyum. “Aku gak sabar lihat kamu di panggung.”
Mendengar itu aku menepuk bahunya. “Bukannya kita udah sepakat kalau kamu gak boleh nonton?” seruku. “aku demam panggung kalau ada kamu.”
Biru terkekeh mendengar alasanku yang mungkin menurutnya tak masuk akal. “Tapi kan aku mau lihat pacarku yang keren.”
“Biru!” seruku menegurnya dengan wajah memerah.
Biru benar-benar paling bisa membuatku salah tingkah. “Masuk gih, aku mau cuci muka,” pamitnya.
Aku mengangguk dan menuruti itu. Saat hendak masuk kelas, Tania mencegat jalanku. “Jadi itu bukan cuma rumor ya?” tanyanya.,"
“Maksudnya?”
Tania tersenyum miring dan semakin mendekatiku. “Ternyata selama ini pula-pura kalem. Tapi yah namanya bangkai pasti kecium juga kan lama-lama.”
“Ada apa?” tanyaku lagi kali ini dengan nada suara yang lebih ditekankan dari sebelumnya.
Tania tak menjawab dan aku pun malas meladeni drama murahannya ini. Aku memelih untuk duduk di kursiku. Beberapa hari ini Kartika sedang absen karena sakit sehingga aku duduk sendirian.
Brakk.
Tania menggebrak mejaku. “Heh Bumi! Maksudmu apa hah ngerebut pacar orang? Apa segitu gak lakunya kamu sampai-sampai cowok orang juga kamu embat?” serunya mengundang perhatian teman sekelas kami.
__ADS_1
“Ngerebut pacar apa?” tanyaku. Aku sama sekali tidak merasa bahwa aku sudah merusak hubungan seseorang. Sama sekali tidak.
“Masih gak mau ngaku?” serunya lagi.
“Tania udah.” Kali ini Namira dengan suara lembutnya menenangkan amarah Tania.
Dapat kulihat Tania yang langsung menoleh. “Nam, aku udah gak kuat lagi nahan ini. Maaf ya. Kamu gak usah jadi orang baik buat sampah kayak dia,” ucap Tania.
“Kenapa? Bisa gak sih jelasin yang bener?” aku sudah tak bisa bersabar. Aku tak lagi mempedulikan kilatan marah dari mata Tania saat aku bertanya seperti itu.
“Bilang sama dia, Nam.”
Namira menggeleng dan menunduk.
“Nam, dia harus tau.”
Beberapa teman Tania juga ikut mendukung hal yang sama. Dapat kulihat air mata Namira yang berjatuhan. “A-Angkasa Biru."
Satu nama itu disebut oleh Namira di tengah isakannya. Hanya dengan itu saja, tubuhku meremang. Firasat buruk.
“Kamu ada hubungan apa sama dia?” tanya Keva. “Angkasa Biru.”
“Jawab aja.”
Aku menggeleng. Keva mengeluarkan ponselnya yang menampilkan gambar layar dari room chat seseorang. “Biru itu pacar Namira. Kalau gak percaya kamu baca aja disitu tertera tanggal dan bulannya.”
Tanganku bergetar meraih gambar itu. Semua yang dikatakan oleh Keva memang benar. Pesan mesra mereka diambil pada 3 bulan sebelum aku mengenal Biru.
“Selama ini Namira dan Biru memang backstreet karena Namira yang takut ketahuan orangtuanya. Tetapi mereka baik-baik aja. Sebelum akhirnya tiba-tiba ada rumor yang bilang kalau kamu dan Biru udah jadian sekarang.
Namira masih berbaik hati sama kamu. Dia gak mau langsung judge kalau kamu yang salah. Tapi semakin hari, kamu justru semakin memperjelas hubunganmu dan Biru. Kami sebagai teman Namira gak terima.
Jadi, Bumi, bisa kamu tinggalin Biru sekarang? sudah cukup pinjamnya, sekarang kembalikan sama yang punya.” Keva memberikan penekanan di kata pinjam.
“Aku- gak tau,” cicitku. Kepalaku seketika langsung menjadi penuh. Aku ingin beranggapan bahwa semua ini hanyalah salah paham. Namun melihat Namira yang menangis membuatku tahu bahwa ini adalah nyata.
“Udah, Bumi gak tahu. Bukan salah-“ Namira terus terisak.
__ADS_1
“Udahlah, Nam. Ngapain ngebelain orang yang jelas-jelas ngerusak hubunganmu,” sindir Tania.
“Aku gak tahu! Biru sama sekali gak cerita apapun. Teman-temannya juga.” Pembelaan itu kuucapkan sekaligus sebagai penolakan atas semua fakta ini.
“Bumi, aku gak peduli itu. Kamu gak tahu? Oke bisa diterima. Intinya sekarang, bisa lepas Biru?” tanya Keva yang menatapku dengan lurus.
“Gak usah, Kev.” Namira menarik temannya itu menjauh dariku. “udahlah lupain. Ini salahku juga. Bumi gak salah.”
Namira benar-benar berhasil membawa Keva pergi darisini. Yang tersisa hanya Tania disini. Ia menatapku dengan tatapan penuh kebencian. “Tega yak amu. Bahkan itu Namira, perempuan paling baik yang bahkan udah mau nampung kamu ke kelompoknya. Dia bahkan masih belain kamu padahal jelas-jelas kamu udah rebut pacar dia. Menjijikkan.” Tania pun pergi menyusul temannya itu.
Aku tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Jujur saja hal seperti itu membuat diriku sedih. Tetapi aku tak ingin mempercayai apapun sebelum mendengarnya sendiri dari Biru.
Keributan tadi ternyata terdengar hingga luar kelas. Cap buruk tentang diriku semakin menjadi-jadi. Bahkan mereka sudah berani menatapku tidak suka dengan terang-terangan.
“Biru.” Sapaku saat aku menghampirinya di jam pulang sekolah.
“Hai sayang. ayo kita pulang,” jawabnya dengan ceria. Namun sebelum ia menarik tanganku, aku dengan cepas menepis tangannya itu membuat Biru menatapku dengan tatapn penuh kebingungan.
“Kamu ada apa sama Namira?” tanyaku langsung. Ku perhatikan baik-baik raut wajahnya yang kini terlihat terkejut. Namun cepat-cepat Biru menghilangkan ekspresi itu.
“Gak ada apa-apa,” jawabnya sambil memasangkan helmku.
“Aku gak suka kamu bohong!” seruku. Beberapa teman Biru langsung menoleh ke arah kami.
Biru memegang kedua bahuku dengan lembut.
“Kita bicara berdua,” ucapnya berbisik.
“Kenapa? Kamu malu sama temen-temenmu?” tanyaku.
Biru tak menjawab. “Bumi, ayo kita bahas. Tapi jangan disini ya. Gak enak mancing keributan,” ucapnya dengan lembut.
Aku yang sudah benar-benar pennuh akan rasa penasaran akhirnya mengiyakan hal tersebut dan membiarkan Biru membawaku entah kemana. Rasa marah, sedih, gelisah semuanya bercampur dari satu.
Jika dlihat dari respon Biru, aku bahkan sudah bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi. Hatiku sangat sesak rasanya.
Kami berhenti di sebuah kafe dengan aksen minimalis. Tak banyak orang yang beraada disini. Aku mengikuti langkah panjang Biru untuk menuju lantai dua.
__ADS_1
Kami duduk berhadapan. Bahkan hingga eskrimku mencair pun, ia tetap diam. Seolah sedang sibuk mencari bahan untuk diskusi.