
“Biru, beneran kamu gak apa-apa? Nanti aku coba bantu ngomong deh sama guru kalau kamu nganterin aku jadi dapet dispensasi,” ucapku saat kami berada di tengah perjalanan.
“Santai aja. Aku gak masalah.”
Aku benar-benar tak paham dengan pemikirannya yang sesimple itu.
“Bumi maaf ya sebelumnya. Tapi sepertinya aku harus naikin kecepatan biar kamu gak telat,” ucapnya kemudian.
“Oke,” jawabku singkat. Aku memegang ujung jaketnya dengan erat saat ia melajukan motornya dengan lebih cepat.
Dan kami benar-benar sampai tepat waktu. “Gih masuk. Aku tunggu disini ya,” ucapnya.
“Loh gak pulang?”
Biru menggeleng daan membantuku melepas helm. “Aku yang udah dikasih tanggung jawab sama orangtuamu buat hari ini. Jadi aku yang bakalan anter kamu pulang ke rumah nanti,” ucapnya dengan tegas.
“Tapi lombanya lama,” aku juga mengedarkan pandangan ke sekitar. Tempat ini sepi karena merupakan kedinasan daerah. Keberadaan Biru disini akan menarik perhatian. “kamu nunggu dimana?”
Biru sedikit menunduk untuk mensejajarkan tingginya denganku. “Bumi, aku bukan anak kecil. Gak usah cemas. Kamu fokus aja ngerjain soal. Aku gak apa-apa, bisa cari warkop atau warnet sekitar sini. Nanti kalau sudah telepon aja ya, see you,” ucapnya dengan begitu lembut. Tak lupa senyumannya yang begitu khas membentuk matanya seperti bulan sabit.
Aku terhipnotis dengan ucapannya dan mengangguk.
Segera aku berlari untuk masuk dan menemui guru Geologiku. Beliau tampak murka. “Nyaris telat. Cepat masuk sekarang,” ucapnya dengan galak membuat beberapa pasang mata menatap kami.
Tapi aku sudah tak mempedulikan itu. aku menjalani semua prosedur hingga mengerjakan soal. Sulit bagiku untuk fokus karena terus mencemaskan abang. Apakah abang akan baik-baik saja? Apa operasinya lancar? Lalu Biru-
“Silahkan kumpulkan lembar jawaban bagi peserta yang telah menyelesaikannya. Waktu tersisa 15 menit lagi.”
Pengumuman itu membuyarkan lamunanku. Gawat. 10 soal belum kuisi. Aku langsung kembali fokus pada soal.
Akhirnya selesai juga. Otakku rasanya sangat lelah. Terlebih guruku masih saja terus mengomel tentang kesalahanku tadi. Pukul 1 siang semua benar-benar selesai. Aku segera menelpon Biru.
“Hai, gimana tadi?” tanyanya langsung.
“Hectic.”
Ia tersenyum dan mengacak rambutku pelan.
“Kamu udah makan siang?” tanyaku kepadanya.
Ia mengangguk. “Udah. Aku tadi nunggu di warung sekalian makan, nyebat juga,” jawabnya.
“Bagus deh.”
“Ayo naik.”
Aku kembali berada di motor bersamanya. Aroma Biru masih seperti tadi. Bedanya kali ini tercampur dengan aroma rokoknya itu. Jujur saja masih aneh bagiku mengetahui bahwa Biru perokok aktif. Di sekelilingku benar-benar tidak ada yang merokok. Bahkan teman-temanku saat SMP dulu.
Motor Biru berhenti di depan toko eskrim membuatku kebingungan. “Yuk, ku traktirnya es krim aja ya. Lagi bokek,” ucapnya sambil terkekeh.
“Ha? Gak usah, Biru. Kalaupun traktir kan harusnya aku. Kamu udah nganterin aku, bensin-“
“Bumi, gak usah mikir itu. Udah ah ayo turun,” ajaknya.
Aku menutup mulut rapat-rapat dan mengekorinya. Ia benar-benar membelikanku es krim vanilla. Biru bilang ini sebagai reward atas kerja kerasku.
__ADS_1
Setelah menghabiskan es krim, kami langsung pulang. Biru kembali mengantarkanku ke rumah sakit dan pulang setelahnya.
“Ibu, abang gimana?” tanyaku saat baru saja sampai.
“Adek sudah pulang? Biru kemana?” ibu justru balik bertanya.
“Biru sudah pulang.”
“Padahal ibu belum bilang terimakasih sama dia. Dia baik sekali.”
“Bumi udah sampein, Bu. Jadi abang gimana?” tanyaku lagi.
Ibu membawaku menuju kamar inap. “Operasinya lancar. Abang sudah kembali ke ruangannya. Doakan abangmu, ya.”
Aku masih tertegun melihat keadaan abang yang belum juga menutup mata. “Aku boleh gak hari ini nginep disini?” tanyaku.
Ibu terlihat kaget. Mungkin karena tidak biasanya aku meminta hal seperti itu.
“Boleh. Tapi disini gak ada kasur yang nyaman seperti di rumah, adek pasti capek kan hari ini.”
Aku menggeleng. “Aku mau disini.”
Akhirnya ibu mengizinkan. Entah mengapa ada ketakutan dalam diriku tentang abang. Aku takut tak bisa melihat abang lagi. Meskipun kami tidak terlalu akur, akan tetapi ikatan keluarga memang tak akan bisa berbohong.
**
Hari ini kami mendapatkan tugas untuk mengamati tumbuhan di sekolah. Kami harus menggambar bagian-bagiannya dan menjelaskan strukturnya dengan lengkap. Dan tugas ini adalah yang kubenci karena kami harus melakukannya secara berkelompok dan bersifat bebas. Artinya kami harus mencari kelompok sendiri.
Dengan hitungan detik semuanya mendapatkan kelompok masing-masing. Dan aku sendirian. Yah, memang begitu.
Aku mengangguk. Semua mata langsung tertuju kepadaku. Mengenaskan.
“Siapa lagi yang belum punya?”
Ada dua orang yang mengangkat tangan. Satu, Kartika. Ia siswa yang biasa-biasa saja dan sangat pendiam. Kartika jarang masuk sekolah karena kondisi kesehatannya yang benar-benar rentan. Kedua, Cakra. Ia si troublemaker. Tidak pernah mau mengerjakan tugas kelompok, sering memaksa orang lain untuk mengerjakan tugasnya, dan tidak takut pada guru sekalipun. Itu sebabnya tak ada yang mau satu kelompok dengan Cakra.
“Oke, Archava, Kartika, dan Cakra kalian satu kelompok.”
Tidak adil. Yang lainnya memiliki 5 anggota dan kami bertiga. Terlebih Cakra tidak perlu dihitung karena ia tidak akan berkontribusi apapun.
“Silahkan dikerjakan sampai bel pulang berbunyi. Hasil kerja letakkan di meja ibu. Selamat siang.”
Semuanya langsung berkumpul dengan kelompoknya masing-masing. Kartika menghampiriku dengan ragu-ragu. “Archava, mau bagi tugas?” tanyanya. Suaranya benar-benar pelan membuatku harus menyimak dengan ekstra.
“Boleh. Kamu pilih aja mau yang mana,” ucapku memberikannya keringanan.
Tampaknya Kartika mudah memahami kondisi. Ia paham bahwa kami hanya akan mengerjakannya berdua. Ia mengambil setengah materi untuk dirinya dan benar-benar adil.
Setelah membagi materi, kami langsung menuju lapangan untuk mencari pohon palm sebagai objek pengamatan kami. “Kalian kerjain ya, aku ke kantin,” ucap Cakra dengan semena-mena.
Aku yang malas berdebat mengiyakannya saja.
Sekitar satu jam, pekerjaan kami sudah 90%. Saat bel berbunyi, kami bahkan belum selesai karena waktu yang diberikan kurang jika dikerjakan hanya berdua. Aku sudah lelah. Terlebih ini sangat terik.
Cakra baru saja kembali.
__ADS_1
“Cak, boleh minta tolong bikinin tabel gak?” pintaku.
Ia menoleh dengan cepat. “Ogah. Punya tangan kan? Bikin aja sendiri.”
Aku menghela napas. “Tolong, Cuma garisin aja. Habis itu Kartika yang lanjut,” ucapku. Kartika juga mengangguk-anggukkan kepalanya.
Cakra merampas lembaran itu dengan kesal.
“Beban amat sih,” gerutunya.
Aku mencoba untuk tak mempedulikannya dan kembali mengarsir gambar.
“Jelek amat. Kamu gambar ular?”
Aku terkejut dan langsung menoleh. Kutemui wajah tengil Bima yang tersenyum miring. “Bikin kaget aja,” ucapku.
Ia terkekeh dan duduk di sebelahku. “Tugas biologi?” tanyanya.
Aku mengangguk dan tetap fokus pada kertas milikku.
“Sombong ya sekarang mentang-mentang udah lancar pdkt,” ucapnya lagi.
Aku langsung menoleh ke arahnya. “Engga ada. Kamu tuh yang tiba-tiba ngilang.”
“Sibuk. Banyak tugas,” jawabnya.
“Nih udah.” Kertas itu dilemparkan kepadaku. Pelakunya tak lain tak bukan adalah Cakra. “aku pulang duluan. Capek.”
Baiklah. Aku sudah emosi. Aku berdiri dan langsung menahan ranselnya. “Capek?Bisa-bisanya kamu kamu bilang capek padahal kerjaanmu Cuma bikin garis? Ya silahkan aja kalau mau pulang. Namamu gak bakal kutulis,” ancamku dengan berani.
Beberapa pasang mata langsung mengarah padaku. Aku tak peduli.
“Oh berani kamu? Pantes aja gak punya temen. Murid sok pintar sih,” ucapnya sambil tersenyum miring meremehkan.
“Bukannya itu lebih baik daripada beban kelompok kayak kamu?” balasku.
Ia tampak marah dan melayangkan pukulannya padaku. Dengan refleks aku memejamkan mata. Namun tak terjadi apa-apa. Saat membuka mata, kulihat Biru dengan ransel yang ia pakai setengah seperti biasa sedang menahan lengan Cakra.
“Pergi, sekarang.” dua kata. Namun benar-benar penuh akan ancaman. Tak pernah kelihat Biru yang seserius itu. Ia benar-benar seram sekarang.
Cakra berdecih. Ia langsung menurut dan pergi begitu saja. Biru menatapku sekilas sebelum akhirnya ia pergi tanpa kata bersama teman-temannya.
Aku tak tahu mengapa hari ini ia begitu dingin padaku. Rasanya benar-benar sedih saat Biru pergi begitu saja.
“Bumi, lihat. Aku gambar akar,” ucap Bima menunjukkan hasil gambarnya dengan ceria.
Mataku yang berkaca-kaca menjadi hilang seketika saat melihatnya mencorat-coret lembar pengamatan kelompokku dengan gambarnya yang sangat jelek itu.
“BIMA!” seruku.
Ia tertawa. “Aku cuma mau bantuin kok.”
“Itu bukan bantuin. Tapi bikin kerjaan nambah,” omelku.
“Ya udah deh. Aku tanggung jawab. Kasih aku kerjaan yang bisa kulakuin.”
__ADS_1
Aku langsung mengambil penggaris dan menyuruhnya meneruskan pekerjaan Cakra yang belum selesai sambil terus mengomelinya.