
Biru benar-benar membuatku tak habis pikir. Aku selalu ingin tahu apa yang bersarang di pikirannya. Setelah tadi mengabaikanku, ia kembali melakukan rutinitas chat kamu seperti biasanya seakan-akan tak terjadi apapun.
“Biru, boleh aku tanya?”
“Boleh. Mau tanya apa?”
Aku menarik napas dalam mencoba membesarkan hati untuk semua jawaban Biru nantinya. “Kenapa tadi cuekin aku di sekolah?”
“Maaf, tadi aku buru-buru harus pergi sama temen-temenku.”
Aku tak tahu mengapa aku sedikit ragu dengan jawaban yang sama sekali tidak memuaskan itu. Tetapi aku bersikap seolah mempercayai itu.
Beberapa hari setelahnya, pengumuman olimpiadeku akhirnya keluar. Pada upacara bendera, guru mengumumkan pemenang dari beberapa olimpiade. Ada rasa bangga saat namaku disebut yang diiringi riuh tepuk tangan dari segala penjuru.
“Archava selamat ya,” ucap Kartika.
Aku tersenyum dan mengangguk. Di kelasku hanya ia yang mengucapkan selamat. Tetapi itu jauh lebih baik daripada tidak ada sama sekali.
“Tika, jangan panggil Archava. Panggil aku Bumi aja,” ucapku kepadanya. Kurasa nama panggilannya untukku terlalu panjang.
Kartika mengangguk.
Jam pelajaran pertama langsung disuguhkan lagi dengan pembentukan kelompok bebas. Aku membenci itu. Kali ini 5 orang. Ada 3 siswa yang sedang absen sehingga jumlah kami harusnya pas.
“Bumi, aku boleh sekelompok sama kamu?” tanya Kartika tampak ragu.
“Boleh banget. Ayo sjadi satu kelompok.” Aku menyambutnya dengan hangat. Kurang 3 lagi.
Tetapi semuanya sudah memiliki kelompoknya masing-masing.
Sebelum mendapatkan Cakra sebagai anggota, aku harus mulai memberanikan diri. Aku maju ke depan kelas. “Temen-temen, ada yang kurang dua anggota?” tanyaku.
Seketika kelas menjadi hening.
“Kalau ada, aku sama Kartika mau mengajukan diri,” lanjutku dengan takut-takut.
“Dih, kasian gak punya temen ya,” seru Mawar mengejekku.
Aku mencoba untuk berpura-pura tidak mendengarnya. Namun tak ada yang berniat untuk menjadikan kami kelompok.
“Faris, jadiin kelompokmu tuh. Kan kalian kurang 3.”
“Enggak ah, skip aja kalau dia.”
Aku semakin menunduk dan menggenggam ujung rokku dengan cemas. Aku tak paham mengapa mereka begitu membenciku. Caper? Oh ayolah aku benar-benar tidak bermaksud begitu. Aku hanya mencari nilai.
__ADS_1
“Bumi, mau masuk kelompokku gak?”
Aku langsung mengangkat kepalaku dan melihat sumber suara yang lembut itu. Namira. Ia adalah salah satu murid cerdas di kelas kami.
“Nam, kenapa kamu ajak dia,” gumam Naura, teman dekatnya.
“Kita kurang dua orang. Kalau sama mereka jadi pas kan. Semakin cepat bikin kelompok, makin cepat juga selesainya,” jawab Namira.
Namun sepertinya Naura dan Fadel sedikit tak nyaman denganku. Namira bangkit dari bangkunya dan menghampiriku. Ia memasang senyumannya.
“Ayo Bumi, kita langsung bagi tugas,” ajaknya sambil menarikku untuk duduk bersama mereka. Kartika pun turut mengekoriku.
Meskipun Naura terlihat kesal, tetapi ia tampaknya mencoba menghargai keputusan temannya. “Oke semua sudah dibagi ya. Kalau ada yang kurang kalian pahami, bisa tanya aku atau Bumi,” ucap Namira sebagai ketua kelompok kami.
Aku mengangguk dan langsung fokus pada pekerjaanku.
“Gimana rasanya selalu gak dapet kelompok?” tanya Naura tiba-tiba. Jelas saja pertanyaan itu tertuju untukku.
“Gak gimana-gimana,” jawabku sekenanya.
Ia berdecih. “Masih bagus Namira baik hati mau nampung kamu,” ucapnya lagi.
Aku mencoba mengabaikan itu.
“Nau, jangan ngomong gitu,” sela Namira. “kan temen sekelas. Lagipula Bumi rajin, pinter juga. Dia gak bakal cuma jadi beban.”
Yah, Namira memang sempurna. Ia cantik, tubuhnya mungil, rambut panjangnya berkilauan membuatnya terlihat seperti boneka hidup. Ia juga pintar. Nilai plusnya adalah ia sangat baik. Namira tidak seperti teman-teman lain yang memandangku sebelah mata.
Jika aku pria, bisa saja aku langsung jatuh hati kepadanya.
Pekerjaan kelompok kami sukses dan mendapat nilai paling tinggi. “Bumi, ternyata seru ya sekelompok sama kamu. Lain kali kita kelompokan lagi ya,” ucap Namira saat aku membereskan barang-barang untuk kembali ke bangkuku.
Aku tersenyum dan mengangguk. “Makasih udah mau nerima aku,” ucapku dengan tulus.
“Iya, santai aja,” ucapnya sambil tertawa.
Sedangkan Naura juga tampak lebih mencair. Ia sudah tidak menatapku dengan tajam seperti tadi dan hanya diam saja.
Di jam istirahat, aku hendak menuju kantin karena tidak membawa bekal. Aku bangun kesiangan sehingga tidak sempat memasak bekal. Jadilah aku harus ke kantin hari ini. Untung saja Kartika ikut denganku.
Kami menjadi lumayan akrab setelah dua kali menjadi teman kelompok. Bahkan Kartika berniat untuk pindah dan menjadi teman sebangkuku bertukar dengan Zaki.
“Kamu yakin gak mau nunggu di kelas aja?” tanyaku kepadanya.
Kartika menggeleng. “Kita makan bareng aja.”
__ADS_1
“Ya udah deh kalau gitu.”
Sesampainya di kantin, Kartika langsung mencari tempat duduk kosong sedangkan aku memilih untuk memesan makanan terlebih dahulu. Setelah mendapatkan makan siangku, aku langsung bergabung bersama Kartika.
Untung saja kami menemukan yang masih kosong. “Kamu selalu bawa bekal?” tanyaku melihat Kartika yang mengeluarkan bekalnya.
Ia mengangguk dengan semangat sembari bercerita bahwa ibunya sangat suka memasak. Aku mendengarkannya dengan seksama sambil menyantap makananku.
“Bumi!”
Aku menoleh dan mencari sumber suara. Dapat kulihat Bima yang melambai-lambai padaku.
“Boleh gabung gak?” tanyanya sambil kessulitan membawa es the dan semangkuk bakso.
Aku langsung mengangguk dan bergeser karena Bima bersama beberapa temannya. Namun anggukanku menjadi terhenti saat kulihat Biru juga ada disana. Tatapan kami bertemu. Entah mengapa menjadi canggung.
“Nah, untung dapet. Ayo makan disini aja,” ajak Bima pada teman-temannya.
Bima duduk di hadapanku sedangkan Kartika berpindah menjadi duduk di sebelahku. Biru pun memilih duduk di sebelah Bima.
“Biru, bilang makasih sini sama aku,” ucap Bima sambil terkekeh.
Teman-temannya tampak bingung. “Kenapa tuh Bim?”
“Ini loh,” Bima menggulirkan matanya menatapku seakan memberikan kode kepada teman-temannya.
“Kamu Bumi? Oh aku baru tahu kalau Bumi itu yang ini,” ucap laki-laki dengan rambutnya yang tipis. Ia menatapku dengan ceria.
“Emm, iya halo,” ucapku canggung.
“Kenalin Bumi, yang ini namanya Adit. Nah yang satunya Mike, kalau yang sebelahku perlu kenalan lagi gak?” tanya Bima menggodaku.
Sepertinya wajahku merah padam sekarang.
Aku mencoba melirik Biru yang sama sekali tak menampilkan reaksi apapun. “Ru, kok diem aja sih,” ucap Adit kini beralih menggoda Biru.
“Terus aku harus gimana?” tanyanya tak acuh.
Entah kenapa melihat Biru yang seperti ini membuat hatiku sakit. Apa aku terlalu egois jika ingin Biru bersikap seperti saat awal-awal pertemuan kami?
Mood makanku menjadi hilang. Mereka sudah menyelesaikan makan siang. “Makasih ya Bumi udah berbagi tempat,” ucap Bima kepadaku.
Aku mengangguk. Mereka beranjak pergi.
Sedangkan aku terus tertunduk meratapi hatiku yang berantakan.
__ADS_1
Dapat kurasakan tangan lebar yang hangat menyentuh puncak kepalaku dan mengelusnya dengan lembut. Aku mengangkat kepalaku dan melihat Biru dengan senyum tipisnya. “Makan yang banyak,” ucapnya kemudian menyusul teman-temannya.