
Hari yang ditunggu akhirnya datang juga. Aku sudah belajar mati-matian hingga mengorbankan jam tidurku untuk lomba kali ini. Wajahku menjadi kacau. Kantung mataku semakin menghitam saja. Bisa-bisanya saat kemarin aku bertemu Biru dengan kondisi wajah seperti ini.
Pagi-pagi sekali aku sudah siap dengan seragam putih abu-abu. Aku masih sibuk untuk menguncir rambutku agar lebih rapi. Notifikasi ponselku berdering sekali membuatku langsung meraihnya.
“Hai, semangat ya hari ini. Mau berangkat bareng?”
Hanya dengan membaca tawaran itu saja membuat jantungku berdegup kencang. “Gak perlu. Aku langsung ke tempat lomba, gak ke sekolah dulu."
“Oh oke. Good luck.”
Suara ketukan di pintu kamar membuat sedikit kaget. “Bumi, sudah siap?” tanya ayah. Aku buru-buru mengambil ranselku dan keluar dari kamar.
“Sudah, ayah.”
Ayah tersenyum dan mengangguk. Kami langsung menuju dapur untuk sarapan. Sarapan adalah peraturan penting di rumah ini. Kami tidak boleh beraktivitas sebelum sarapan meskipun nyaris telat. Ibu bilang dengan sarapan akan membuat kami memiliki energi untuk menjalani hari.
Rasanya aku menjadi rindu ibu. Ibu jarang sekali pulang dan memilih untuk menemani abang di rumah sakit. Sedangkan ayah selalu bolak balik dari kantor-rumah-rumah sakit dengan begitu sibuknya.
“Sudah siap sama semuanya?” tanya ayah di sela-sela kegiatan makan kami.
“Sudah. Ada beberapa yang sulit, tapi sekarang sudah bisa kok,” jawabku.
Ayah mengelus puncak kepalaku sambil tersenyum. Apresiasi kecil yang selalu ayah berikan mampu membuatku bersemangat.
Setelah sarapan, kami langsung bersiap-siap untuk berangkat. Lomba hari ini dilaksanakan di kota sebelah dan membutuhkan waktu hampir dua jam untuk sampai disana. Ayah sampai harus mengambil cuti untuk satu hari ini agar bisa mengaantarkanku. Padahal sudah berkali-kali ku katakan bahwa aku bisa naik kereta saja. Tapi ayah menolak dengan tegas.
Saat kami baru saja duduk di dalam mobil. Ponsel ayah berdering. Itu telepon dari ibu. “Halo, Bu. Kenapa?” tanya ayah.
Ada suara isakan ibu yang terdengar disana membuat firasatku menjadi buruk. “Ayah, Laut. Laut kritis yah.”
Bagaikan ada petir yang membelah dadaku seketika. Ayah tampak sama terkejutnya denganku. “Ibu, tenang dulu ya. Ayah sama Bumi kesana sekarang,” putus ayah.
Setelah sambungan telepon sudah dimatikan. Ayah kini menatapku. “Adek, apa adek gak masalah kalau kita kunjungi abang dulu?” tanya ayah.
Aku memberanikan diri untuk menyambut tatapan serius ayah. Aku mengangguk.
Dengan itu ayah langsung merapatkan jari-jarinya pada kemudi yang membawa kami menuju ke rumah sakit.
Aku berlari kecil menyusul langkah ayah yang terburu-buru di sepanjang koridor. Dapat kulihat kemeja biru ayah yang sudah basah akan keringat. Di depan ICU, ibu menangis sendirian. Ayah langsung memeluk ibu dan menenangkannya.
__ADS_1
“Abang pasti bisa lewati semuanya, Bu. Ibu juga harus percaya ya,” tenang Ayah.
Sedangkan aku hanya bergeming disini. Dokter sedang melakukan tindakan untuk kondisi abang. Namun mereka belum juga keluar membuatku turut gelisah.
Ponselku berdering dengan telepon dari guru Geologiku. Aku berdiri sedikit menjauh dari ayah dan ibu untuk mengangkatnya.
“Bumi, sudah berangkat?” tanyanya.
“Belum, Bu,” jawabku pelan.
“Loh kok belum? Kemarin kan kamu yang sudah menyanggupi untuk berangkat sendiri. Ibu sudah di jalan. 2 jam lagi ada cross check peserta. Perjalanan dari sana kesini saja sekitar 2 jam setengah. Kamu mau mempermalukan sekolah?” ia mengomeliku dengan kata-katanya yang tajam.
“Maaf bu. Saya usahakan agar bisa tepat waktu,” jawabku pelan.
“Kalau memang tidak menyanggupi, ya katakan saja dari awal. Bikin repot saja,” gerutunya.
Aku sudah berkaca-kaca dan hanya bisa meminta maaf saja kepadanya. Setelah sambungan telepon mati, aku menjadi semakin resah. Dokter yang tadi memberikan penanganan kembali keluar dan mengatakan kepada orang tuaku bahwa abang harus menjalani proses operasi kecil. Mana mungkin aku meminta ayah mengantarkanku disaat-saat seperti ini.
Aku menggenggam erat ponselku. Baiklah aku akan kesana sendirian. Dengan kereta. Aku langsung mencari jadwal tiket paling cepat namun kosong. Yang ada baru satu jam lagi. Aku semakin frustasi dibuatnya.
“Sudah di jalan?”
“Rumah sakit Bakti Husada?” tanyanya dengan fast respon.
“Iya.”
“Aku kesana.” Angkasa Biru offline.
Aku cukup kaget dengan jawabannya itu. Apa yang ingin biru lakukan disini?
Sekitar 5 menit saja, Biru kembali mengirimkan pesan bahwa dirinya sudah berada di lobi dan memintaku untuk menjemputnya. Tanpa berpamitan kepada ayah dan ibu aku buru-buru menuju lobi untuk bertemu dengannya.
Akhirnya di tengah keramaian orang dapat kulihat Biru dengan seragan putih abu-abu dan jaket hitam kesayangannya itu. ia tersenyum kecil saat melihatku. “Kamu ngapain kesini?” tanyaku langsung.
“Mau anter kamu ke tempat lomba,” jawabnya dengan sangat enteng membuatku gelagapan.
“ayo kita izin sama orangtuamu dulu.”
Ia berjalan begitu saja mendahuluiku. Buru-buru aku menyamakan langkahku dengannya. “Gak usah. Nanti ayah marah,” cicitku.
__ADS_1
Aku memang dilarang keras untuk punya pacar. Yah meskipun kami tidak berpacaran, akan tetapi ayah benar-benar membatasi pertemananku dengan pria. Aku tidak yakin bahwa ayah akan memperbolehkannya untuk mengantarkanku.
“Aku yang izin,” ucapnya dengan tegas.
Kami akhirnya benar-benar sampai. Biru langsung mendekati ayah dan ibu yang menatapnya bingung. “Om, Tante, perkenalkan saya Biru. Teman Bumi. Saya mau minta izin antar Bumi ke tempat boleh gak?” ucapnya langsung tanpa basa-basi.
Sedangkan aku disini semakin takut saja dengan respon ayah yang terlihat kaget. “Kamu Biru yang teman Laut juga kan?” tanya ayah.
Kali ini aku yang dibuat terheran-heran. Biru mengangguk dengan pasti. “Benar, Om.”
Ayah menatapku membuatku langsung menunduk dalam. Dapat kuulihat ayah yang menghampiriku dan mendaratkan tangannya ke puncak kepalaku. “Bumi, maaf ayah sampai lupa kalau kamu harus lomba sekarang. Sebenarnya ayah mau nganter langsung. Tetapi sepertinya tidak memungkinkan sekarang.
“Nak, Biru. Titip Bumi ya,” ucap ayah kemudian kepadanya.
Apa? Semudah itu? aku tak habis pikir.
Biru tersenyum dan mengangguk dengan yakin. Kali ini ibu ikut berdiri. “Tolong jaga anak tante ya.”
“Iya tante, saya akan jaga Bumi.”
Padahal hanya meminta izin mengantar lomba, tetapi kata-kata ayah dan ibu seakan-akan Biru meminta izin untuk memacariku.
Kami langsung berpamitan karena waktu yang semakin mepet. Ibu memelukku sebentar. “Semangat ya sayang. maaf ibu gak bisa dampingi kamu belajar kali ini,” ucapnya meminta maaf.
Aku mengangguk.
Sekarang aku sudah di motor milik Biru. “Kamu sudah siapin helm buat aku?” tanyaku. Sembari meraih helm berwarna pink itu.
Biru mengangguk. “Punya kakakku.”
“Tapi Biru-“ Biru yang sedang memasangkan kaitan helmku menjadi terhenti dan menatapku.
“Kenapa?"
“Kesana dua jam. Ini sudah jam 6, nanti kamu terlambat.”
“Gak akan terlambar. Karna aku mau bolos,” jawabnya membuatku menatapnya tak tercaya.
Ia terkekeh dan menutup kaca helmku. “Aku sudah biasa. Jadi its okey. Ayo naik,” ucapnya kali ini.
__ADS_1