Romansa Bumi Dan Biru

Romansa Bumi Dan Biru
BAGIAN 12 – Khawatir


__ADS_3

Kondisi abang semakin membaik hari demi hari. Abang harus kembali belajar berjalan karena kakinya yang terasa kaku sudah lama tidak dipakai. Dokter berkata ini merupakan keajaiban setelah semua yang terjadi.


Keceriaan ibu benar-benar sudah kembali.


“Nanti kalau sudah pulang telepon aja ya,” ucap ayah saat aku baru saja keluar dari mobil.


“Aku naik taxi aja. Ayah kan nanti ada rapat,” seruku.


Ayah terlihat ragu dengan itu. “Aku sudah besar, ayah. Setidaknya kasih aku kesempatan buat nunjukin kalau bisa mandiri.”


“Oke. Kalau ada apa-apa bilang ayah.”


Aku tersenyum dan mengangguk. Setelah mobil ayah menjauh dari gerbang sekolah, barulah aku masuk. Biasanya aku pergi ke sekolah bersama Biru. Namun abang benar-benar membatasinya sekarang. Aku baru tahu jika ternyata kakak laki-laki akan terlihat protektifnya saat adik perempuannya memiliki kekasih. Itu memang terbukti sekarang. Aku tak bisa menyalahkan abang karena yang ia lakukan pasti sudah dipenuhi pertimbangan. Untungnya Biru juga paham dan mau mengerti.


“Bumi!” dapat kulihat Echa yang menyapaku dengan ceria lalu berlari kecil menghampiriku. “Kamu nanti mau nonton sepakbola gak?”


Aku hampir melupakan hari penting bagi Biru. “Memangnya jam berapa?” tanyaku.


“Jam 3 sore. Pacarmu tanding kan? Kalau mau nonton bareng yuk. Aku gak ada temen nonton nih,” ajaknya.


Biru tak memintaku untuk berada disana menyemangatinya. Akan tetapi sepertinya tak buruk jika aku berinisiatif memberikan dukungan untuknya. “Boleh deh, ayo nanti kita nonton bareng.”


Echa terlihat begitu senang. Ia memang anak yang sangat aktif. Sepertinya setiap kali ada acara sekolah ia selalu menyempatkan diri untuk bergabung di barisan penyemangat. Energinya sangat luar biasa.


Pelajaran hari ini berjalan sangat lama. Mungkin karena aku yang sudah tidak sabar ingin melihat Biru. Namun akhirnya suara yang kunantikan terdengar juga. Bel pulang. Buru-buru aku mengemasi bukuku ke dalam ransel.


“Mau kemana Bumi?” tanya Kartika.


“Mau nonton sepak bola,” jawabku.


“Kamu yakin?”


Mendengar pertanyaan itu membuat keningku berkerut dan menatapnya bingung. “Emang kenapa?”


“Kamu gak pernah denger ya soal cerita itu?”


“Cerita apa?”


“Kakak sepupuku alumni sekolah ini. Dari zaman dia disini, sekolah kita memang terkenal banyak musuh. Kamu pasti tahu kan beberapa kali ada tawuran disini karena sekolah kita diserang sekolah-sekolah lain? Nah biasanya di acara sepakbola tawuran itu terjadi lagi,” jelasnya.


Aku cukup terkejut dengan itu. “Tapi aku bakal tetep nonton,” cicitku.


Kartika menghela napas. “Iya, aku gak bermaksud nakut-nakutin kamu kok. Yang terpenting tetap waspada dan jaga diri. Semoga aja tahun ini gak keulang,” ucapnya sambil memberikan senyum.


Akhirnya aku mengangguk.

__ADS_1


“Bumi! Ayo,” seru Echa yang sudah bersemangat di depan pintu kelasku.


“Aku duluan ya, Tika.”


Buru-buru aku menghampiri Echa. “Cha, kita mau pakek seragam?” tanyaku.


Echa menggeleng. “Rumahku deket sini, ayo kupinjemin baju,” ucapnya menawarkan.


Aku pun mengikuti langkahnya. “Bima!” panggil Echa saat bertemu dengan Bima.


“Apa hah? Mau minta jajanin lagi?” seru Bima membuat Echa mencebik.


“Dih siapa juga.”


“Tumben sama Bumi.”


“Kami mau nonton bola.”


Bima mengangguk-angguk. Kami bertiga berjalan bersama-sama menuju tempat parkir.


“Bumi, mau kemana?” tanya Biru saat kami tak sengaja berpapasan disana. Dapat kulihat teman-teman Biru yang berada di belakang pria itu.


“Hai Biru, semangat ya tandingnya. Aku sama Bumi mau nonton kalian nih,” jawab Echa membeberkan semuanya.


Biru melangkah dan berdiri tepat di hadapanku. “Kamu yakin?” tanyanya.


“Bumi, gak usah. Kamu pulang aja ya,” ucapnya membuatku langsung menatap ke atas tepat ke matanya itu.


“Kenapa?”


“Ya, buat apa?”


Jujur saja hatiku sakit saat mendengar itu.


“Aku mau semangatin kamu,” cicitku.


“Lihat kamu disini aja udah bikin aku semangat,” ucapnya sambil merapikan rambutku.


“Kamu gak suka ya aku kesana? Kamu gak suka ya aku mau kasih kamu support?” serangku.


Echa hanya terdiam di sebelahku. “Bukan gitu, Bumi.” Biru menghela napas dalam.


“Bim, temeni mereka ya,” ucap Biru menepuk bahu Bima.


Bima menatapku sekilas kemudian kembali menatap Biru. “Oke, tenang aja.”

__ADS_1


“Loh bukannya kamu ada les renang, Bim?” tanya Echa langsung.


Bima menggeleng. “Baru dikabarin katanya libur soalnya kolamnya dibersihin.”


“Oke, titip Bumi.”


Biru menepuk-nepuk nahu Bima sebelum kembali bergabung dengan teman-temannya.


“Jadi kita mau kemana dulu nih?” tanya Bima.


“Ke rumahku. Aku sama Bumi mau ganti baju.”


Untung saja semuanya masih sesuai rencana. Aku cukup puas karena pada akhirnya Biru memperbolehkanku untuk memberikan support padanya meskipun harus ditemani Bima. Aku tak mengerti kenapa ia melakukan itu. tetapi aku mencoba untuk tak ambil pusing. Yang terpenting sekarang semuanya berjalan dengan lancar.


Tepat pukul tiga sore, kami sudah sampai di stadion. Ternyata cukup ramai. Namun untungnya kami masih mendapatkan tempat duduk di tribun bagian tengah.


“Kenapa gak di depan aja sih, Bim? Itu kosong loh. Kan lebih enak di depan lebih jelas nontonnya,” omel Echa.


“Iya, itu masih banyak yang kosong kok.”


Aku duduk diantara Echa dan Bima. “Gak boleh disana. Bau sampah, lihat tuh banyak sampah. Jorok,” jawab Bima.


“Sejak kapan kamu peduli sampah?” sindirku.


“Yee, aku alergi sampah,” jawabnya dengan tidak logis.


Echa terkekeh. “Kamu alergi dirimu sendiri?”


“Sialan!”


Pada akhirnya kami tetap disini meskipun Bima memberikan jawaban yang tidak logis. Siswa pendukung dari sekolah sebelah rata-rata adalah pria. Mereka membawa drum besar yang dipakai untuk memberikan yel-yel semangat dan bendera-bendera yang memiliki lambang sekolah mereka. ternyata sekolah kami tak mau kalah.


Ternyata sangat menyenangkan. Ini kali pertama bagiku menyaksikan pertandingan yang bergitu meriah. Euphoria yang tersaji disini sangat fantastic.


Akhirnya pertandingan dimulai, dapat kulihat Biru yang masuk dengan jersey dongkernya. Ia benar-benar terlihat menawan.


Di akhir pertandingan, sekolah kami menang dengan skor 3-0 itu benar-benar telak. Namun tiba-tiba sekolah sebelah mengajukan banding. Mereka tidak terima dengan skor itu dan beranggapan bahwa juri telah kami suap. Karena hal itulah muncul kericuhan. Ratusan orang di tribun lawan mulai meyangkan gugatan. Sekolah kami tidak terima dan balik melakukan perlawanan. Dan terjadilah peperangan yang pecah itu.


Ku saksikan sendiri bagaimana seseorang dari tibun lawan yang melemparkan kayu di arena tanding membuat kepala Alan berdarah terkena kayu itu. Biru marah. Ia maju dengan begitu menakutkannya. Itu adalah sisi Biru yang belum pernah kulihat sebelumnya.


Biru kerkelahi dengan salah satu supporter lawan bertepatan saat situasi semakin ricuh. Suara teriakan, langkah kaki yang terburu-. Semuanya menjadi satu.


Supporter lawan mulai melemparkan batu-bati ke arah kami. Rasanya aku hampir terkena batu itu jika Bima tak sigap menarikku.


“Ayo keluar cepat!” seru Bima menggelegar. Ia mendorong orang-orang yang menghalangi langkah kami.

__ADS_1


“Biru, Bima. Biru gimana?” teriakku. Aku masih mengkhawatirkannya.


Namun Bima menulikan itu dan terus menarikku dari kerumunan.


__ADS_2