
Masih memandang kearah Magela yang tertidur lelap. Perlahan Rose berusaha membangunkan penyihir itu dengan menggoyangkan lengan Magela perlahan.
“Magela! Oh.. Magela, wake up!” ucap Rose. Namun penyihir itu masih saja tertidur, malahan ia merespon dengan tubuh yang mulat saja.
Melihat itu, membuat John dan Emily juga ikut geregetan melihat penyihir itu yang masih belum bngun juga.
“Biar aku mencobanya!” ujar John menawarkan diri dan mulai maju lebih dekat kearah Magela. Rose dan Emily mundur dua langkah kebelakang dan mereka sesekali saling tatap, (apa yang akan dilakukan oleh John?) Pria itu dengan perlahan menyiapkan kedua tangannya kedepan dan mulai...
“Makanan geratisssssss!!!” teriak John seketika, membuat Rose dan Emily tutup telinga. Tapi usahan John kali ini benar-benar membuat sang penyihir terkejut hingga bangun dari tidur alam mimpinya.
“Ha, lihatkan! Dia sudah terbangun!” ucap pria itu tersenyum.
“Kau sungguh hebat!” puji Rose yang sangat senang karena tindakan John yang membuat Magela terbangun dari tidurnya.
Penyihir itu menoleh kearah kanan dan kiri layaknya orang linglung yang baru saja terbangun dari pingsannya. Seketika ia mulai menatap Rose dan ingat akan kejadian semalam.
“Hah. Kau membuat kami pingsan tanpa bercerita sesuatu pada kami.” Kata Emily.
Magela menguap dan mulai menyentuh tanah kembali.
“Maaf, semalam terlalu larut malam, jadi aku membuat kalian tidur dan melanjutkannya besok.” Ucap Magela yang mulai mengambil secangkir minuman di kendi warna coklat lumpur.
“Ini sudah pagi, sekarang katakan kepada kami, semua yang kau ketahui.” Ucap John mulai serius.
“Baiklah. Apakah kalian tidak ingin mandi dulu?” tanya Magela sambil menunjukkan kuku panjangnya.
“Tidak.” Jawab bersamaan Rose, Emily dan John.
“Emm, ya! atau kalian mau sarapan lebih dulu?” tanya nya lagi yang seolah ingin saja kabur dari ketiga orang itu.
“Tidak!” lagi-lagi bersamaan saat mengucapkannya.
“Emm, baiklah! Ini adalah... Kalian tidak ingin menghirup udara segar?” tanya penyihir itu lagi untuk yang ketiga kalinya dan membuat mereka semakin geram.
“Tidak! Katakan saja.” Balas Emily.
__ADS_1
Saat Magela hendak memulai ceritanya, dari arah belakang seseorang membuka pintu yang terbuat dari kayu tua, hingga sontak membuat mereka yang ada di dalam rumah itu, terkejut dan menoleh kearah belakang.
Saat menoleh, mereka merasa lega, bahwa ternyata itu adalah Robin, pria tampan yang tiba-tiba sudah terbangun dan hilang begitu saja tanpa memberitahu. Robin mulai berjalan maju hingga berdiri tepat di samping John dan Emily.
“Hei, bro! Kau darimana saja?” tanya John sambil tertawa kecil dan memukul pelan dada kiri Robin (seperti pria jantan).
“Aku hanya pergi menghirup udara segar! Dan ini, aku membawakan kalian makanan.” Jawab Robin yang menunjukan makanan yang dibuat oleh kain. Melihat itu, seketika John langsung membuka mulut lebar-lebar dan tergiur melihat makanan yang ada di tangan Robin itu.
“Bawa sini, bawa sini! Kenapa kau susah-susah membawa makanan ini!! Tapi terima kasih.” Ucap John mengambil makanan itu dan menghirupnya dengan sangat nikmat sekali.
“Kau akan memakannya sekarang?” tanya Emily.
“Tentu saja! Kenapa?” balas John. Emily menggeleng tak karuan saat melihat teman satunya itu.
“Taruh dulu. Dan dengarkan cerita Magela!” pinta Emily. John menurut, dan ia hanya mengambil roti kecil untuk mengganjal perutnya.
Kini keempat orang itu mulai serius saat menatap Magela yang mulai membuka buku tua semalam, yang masih tergeletak diatas meja. Saat halaman pertama dibuka, Rose dan yang lain melihat sebuah tulisan latin yang acak-acakan hampir tidak bisa dibaca, tertulis.
(We).
“Hii, seram sekali wajahnya. Siapakah penyihir ini?” tanya John pada Magela.
“Dryad Buckland!” jawab Magela.
“Apakah itu ibumu?” tanya Robin yang membuat Magela terkejut.
“Apa? Tentu saja bukan. Dia adalah pemimpin desa Witchland. Desa para penyihir berkumpul.” Ucap Magela dengan menunjukan wajah yang seram.
“Jadi Desa itu benar-benar ada?” tanya Emily tidak percaya. Magela mengangguk menandakan bahwa itu ada.
“Sampai sekarang Desa itu masih ada, tapi dengan keadaan yang sudah hancur karena perbuatan Ratu Revana.” Jelas Magela membuat Rose dan yang lain terkejut.
“Tunggu-tunggu. Apakah Ratu Revana mengalahkan kalian para penyihir?” tebak John seketika.
Magela diam, dan masih membolak-balik halaman dibuku tersebut.
__ADS_1
“Saat itu kami tengah melakukan kegiatan yang biasa kami lakukan di Desa. Tapi tiba-tiba, Ratu Revana mengajak seluruh prajurit nya datang dan menyerang kami. Bahkan dia tidak peduli dengan nyawa para prajuritnya yang mati karena kekuatan sihir kami.” Jelas Magela yang masih setia didengarkan oleh empat orang tadi.
“Saat itu Tetua kami. Dryad Buckland sedang pergi menjalankan misinya sendiri. Saat dia kembali, dia melihat semua para penyihir sudah tewas, kering menjadi abu karena kekuatan mereka sudah berhasil dirampas. Saat itulah Ratu Revana menjadi kuat tak terkalahkan, karena semua sihir yang ada didalam tubuhnya. Bahkan dia juga memiliki Darkness Element, Element yang cukup berbahaya untuk dihadapi.” Jelas Magela lagi.
Rose diam mencoba untuk mencerna semua cerita dari Magela. Tak hanya Rose, bahkan Emily, John dan Robin pun juga sangat serius saat mendengar cerita itu. Mereka tidak tahu sama sekali mengenai hal itu.
“Lalu, bagaimana kau bisa selamat?” tanya Rose.
“Saat itu aku masih muda, cantik, dan seksi! Namun tetap Tua. Aku bersembunyi ditempat yang sangat aman. Tempat yang tidak akan ada yang bisa bertahan disana.” Jawab Magela.
“Kenapa seperti itu?” tanya Rose lagi.
“Tempat itu dijaga oleh mahkluk yang sangat mengerikan. Cerberus! Dia menjaga pedang Stormbringer, pedang yang bisa mengalahkan semua kekuatan sihir.” Jawab Magela.
“Benarkah? Kenapa kau tidak mengambilnya saja, untuk mengalahkan Ratu Revana?” tanya John yang tidak mencerna cerita Magela.
“Kau tidak dengar? Cerberus menjaga pedang itu!” balas Emily memukul pelan punggung John. John mengangguk-anggukan kepalanya.
“Saat semua kembali sunyi, aku berjalan pergi dari Desaku dan dari kejauhan aku melihat Ratu Deldelina masuk kedalam cahaya bersama seorang bayi dengan seluruh tubuh yang sudah terluka parah. Tanpa dia ketahui aku ikut masuk kedalam cahaya itu.” Jelasnya lagi.
“Aku tidak bisa menceritakan banyak lagi. Kini aku akan memberitahu kalian dan apa yang harus kalian lakukan!” ucap Magela yang bersedia membantu Rose.
Magela masih membalik halam buku, sampai dia mengambil sebuah kertas coklat yang terselip diantara halaman didalamnya. Saat membuka kertas itu, semakin besar dan semakin besar lipatan tadi, hingga menjadi penuh diatas meja.
Rose menatap kertas yang kini terbuka lebar, sebuah gambaran seperti peta disana.
“Peta apa ini?” tanya Rose.
“Ini adalah peta menuju ke Istana para Ratu Element!” ucap Magela yang membuat mereka berempat terkejut seketika.
“Apa?” kata Emily dan John.
“Kenapa kami harus kesana?” tanya Rose lagi.
“Sudah kubilang, ini tidaklah muda. Jika kau ingin pulang, kau harus mendapatkan tongkat Ratu Revana.” Jelas penyihir itu lagi yang membuat mereka bertambah pusing.
__ADS_1
BERSAMBUNG.......