ROSELLYNA : In Fantasy World

ROSELLYNA : In Fantasy World
ROSELLYNA : Bola Mutiara Biru


__ADS_3

Di lautan lepas, Rose masih saja terbayang-bayang akan adegan dua orang berciuman tadi. Kenapa tidak? Wanita itu begitu polos dan culun, bahkan dia tidak pernah melihat apalagi melakukannya secara laangsung. Jantung Rosee masih berdetak kencang, ditambah sentuhan dari tangan Robin yang hanya menyentuh pergelangan tangannya saja, sudah membuat Rose dag, dig, dug!


“Ada apa denganku! Huhh, relax Rose!” gumam Rose seraya memegang dadanya yang masih berdetak kencang itu.


“Are you oke?” suara seseorang tiba-tiba mengehentikan kepanikan Rose seketika. Suara itu bukanlah milik Robin, melainkan Actassi yang baru saja terbangun dari tidurnya. Sementara yang lainnya masih tertidur pulas. Rose yang kini berdiri di tengah dek kapal dengan jarak yang tidak jauh dari Actassi, juga sedikit jauh dari Clisson dan Guiracocha yang masih bermesraan.


“Ya! Apa langkah kakiku membuatmu terbangun?” ucap Rose yang merasa langkah kakinya sedikit keras karena dirinya yang panik tadi. Actassi berjalan lebih dekat ke arah Rose seraya menggeleng tersenyum tipis.


“Bisa aku katakan, itu salahmu sendiri tidak tidur.” Ucap Actassi membuat Rose bingung.


“Apa maksudmu? Memangnya kenapa?” tanya Rose kebingungan sendiri. Actassi mulai tersenyum lebar, seolah ia sudah tahu apa yang membuat Rose sedikit terguncang dan berdebar.


“Kau baru saja melihat adegan itu 'kan!” jawab Actassi yang masih tersenyum. Itu artinya, pria itu sudah bangun sejak tadi, atau dia tidaklah tidur. Mungkin Actassi juga terbiasa melihat adegan mesra antara Clisson dan Guiracocha dibandingkan dengan Rose yang baru melihat hal semacam itu, entahlah dengan Robin?


“Kau— Juga melihatnya?” tanya Rose memberanikan diri, meski membicarakan hal ciuman bersama pria asing itu sangat memalukan sekali.


“Hem! Mereka berdua selalu seperti itu. Tapi, Clisson masih tidak menerima cinta Guiracocha. Aneh sekali 'kan!” jelas Actassi.


“Tapi, itu terlalu bebas!” balas Rose.


“Maaf, kau tidak pernah berciuman. Disini sangat wajar, bahkan ada yang lebih dari ciuman.” Jelas Actassi lagi. Sedangkan wanita berambut pirang itu hanya bisa menggeleng. Entah bagaimana itu terjadi? Tapi Rose benar-benar merasa nyaman dekat dengan para perompak itu, meski mereka terkenal buruk dan ganas, namun nyatanya tidak seperti itu. Mereka sangat baik dan loyal, tidak seperti Rose yang selalu mendapat bullyan dari teman-temannya dikampus.


Saat asik mengobrol asik. Tiba-tiba dari arah samping, Robin melihat kedua orang yang masih asik mengobrol, tatapan Robin tidak biasa. Apakah benar, pria itu sudah mulai menyukai Rose secepat itu? Mungkinkah?. Apa yang membuat kaki dan tubuh Robin terdorong, hingga dia memilih berjalan menghampiri Rose dan Actassi yang masih asik bercanda soal ciuman.

__ADS_1


Melihat kedatangan Robin membuat Rose lagi-lagi teringat akan hal-hal panas yang membuatnya canggung sendiri.


“Hai!” sapa Actassi yang ternyata pria periang, tidak terlalu pemarah seperti Read. Robin tersenyum tipis seraya membalas tepukan tangan Actassi.


“Ternyata kalian berdua tidak tidur? Apa ada hubungan spesial?” tanya Actassi penuh curiga.


“Tentu tidak! Kami hanya teman. Kebetulan kami tidak mengantuk!” balas Rose membenarkan kecurigaan di mata Actassi. Robin hanya diam tidak bersuara.


“Baiklah! Aku akan membubarkan adegan Clisson dan Guiracocha dulu! Selamat pagi!” ucap Actassi beranjak pergi menemui Clisson dan Guiracocha yang masih berada di dek atas roda kemudi. Memang benar, disana mungkin sudah jam setengah dua subuh.


Saat Actassi meninggalkan Robin dan Rose sendiri lagi berdua. Mereka menjadi canggung lagi, pikiran tadi tidak bisa hilang.


“Em—”


“Emm—”


“Huaaaaam!!! Good morning guys!” sapa Jhon yang merentangkan kedua tangannya ke atas dengan kedua mata masih sanyup.


“Kalian tidak tidur? Jangan bilang kalian begadang semalaman.” Lanjut Jhon saat mulai melihat jelas kedua temannya yang berdiri dengan tegak juga kedua mata yang masih terbuka lebar dan bening.


“Memang tidak.” Jawab Rose.


“Ck, CK, CK.....!” Jhon menggeleng tidak percaya. Perjalanan masih panjang, dan kedua orang itu malah memilih begadang semalaman.

__ADS_1


Meski langit masih terlihat gelap, namun para perompak itu sudah mulai terbangun kembali. Mungkin mereka sudah terbiasa untuk saling waspada akan sekitar, jadi mereka tidak butuh istirahat banyak-banyak. Emily, Bonny, dan Jack berjalan menghampiri ketiga orang yang masih berdiri di tengah dek kapal.


“Kau tidak nyaman tidur di kapal?” tanya Bonny kepada Rose.


“Bukan begitu! Aku terbiasa tidak tidur malam!” jawab Rose tersenyum.


Di lain sisi, Papa Pirate, Guiracocha, Actassi dan Clisson. Keempat orang itu tengah berada di roda kemudi sambil melihat sebuah peta milik mereka. Dengan serius keempat orang itu berbicara satu sama lain, bahkan Clisson dan Guiracocha bersikap biasa seolah tidak ada yang terjadi kepada mereka.


“Rose! Rose!” suara seorang wanita dengan lembut memanggil nama Rose. Rose yang mendengar suara itu sedikit bingung, siapa yang memanggil namanya? Dan ternyata bukan hanya Rose yang dengar akan suara tadi. Emily, Robin, Jhon, Bonny dan Jack juga bisa mendengarnya.


“Suara siapa itu?” tanya Jack. Namun mereka semua masih tidak sadar dan tidak tahu asal dari suara tersebut. Melihat tingkah aneh dari mereka berenam, menarik perhatian yang lainnya, sehingga mereka semua yang ada di kapal, termasuk si pengemudi kapal ikut menghampiri Rose.


“Ada apa?” tanya Clisson heran.


“Tidak tahu? Kami mendengar suara yang memanggilku.” Jawab Rose terheran.


Sampai Rose yang mulai teliti, ia sadar akan asal dari suara tersebut. Dengan cepat, Rose meraih tas yang ada di tubuhnya, membuka isi tas tersebut dan melihat bahwa sebuah bola mutiara milik Ratu Air mengeluarkan cahaya.


“Rose!” suara itu datang lagi. Dan rupanya itu berasal dari Ratu Air. Ya! Magela pernah bilang, bahwa para Ratu Elemen yang menjadi bola mutiara, masih bisa bicara dan itu hanyalah hal yang penting bagi mereka. Dan jika bola itu mengeluarkan suara, maka cahaya juga bersinar dari bola mutiara tersebut.


Rose mengeluarkan bola mutiara tersebut. Melihat bola yang bersinar, membuat para perompak itu bingung, tapi ada yang aneh dengan tingkah satu orang, yaitu Teach si pencuri gagal. Ia begitu tergiur saat melihat barang-barang bersinar dan mahal. Melihat ekspresi temannya yang mulai tergiur, dengan sigap Read langsung menyikut perut Teach sedikit keras, hingga membuat pria itu sadar kembali.


“Apa itu?” tanya Papa Pirate yang juga tidak tahu.

__ADS_1


“Ini bola mutiara! Tapi di dalamnya ada Ratu Air.” Jelas Rose. Mendengar itu membuat para perompak itu tidak percaya akan adanya ratu yang singgah di bola mutiara.


BERSAMBUNG............


__ADS_2