ROSELLYNA : In Fantasy World

ROSELLYNA : In Fantasy World
ROSELLYNA : Siren Temptation


__ADS_3

“Danger is ahead, don't look away! This time our enemies are not humans, but monsters. (Bahaya sudah ada di depan, jangan ada yang berpaling! Kali ini musuh kita bukan manusia, tetapi monster.)” Teriak Papa Pirate yang kini bergegas naik ke tiang paling tinggi yang berdiri tegak di tengah-tengah dek kapal.


Sementara yang lain sudah mengatur posisi mereka, tapi Rose hanya diam melihat teman-temannya yang gaduh sendiri.


“No!” seru Rose mengeluarkan suara keras hingga membuat semua orang yang ada di kapal besar itu berhenti, menatap Rose dengan wajah heran.


“Ada apa?” tanya Clisson yang jarak mereka tidak jauh satu sama lain. Bahkan Papa Pirate juga melihat ke bawah, dimana anak-anaknya masih gaduh sendiri.


“Tidak, maksudku! Semua pria yang ada di sini kemarilah.” Pinta Rose seraya melambaikan tangannya dengan ekspresi serius.


“Untuk apa?” tanya Jack. Tak cuma Jack saja yang kebingungan, semuanya yang ada disana juga ikut bingung ; apa yang ingin di lakukan wanita berambut pirang itu?


“Jangan banyak tanya, kita harus cepat,” Titah Rose yang kini menarik tangan Teach, si pria pencuri gagal yang hanya pasrah namun menunjukkan ekspresi kebingungan.


Rose membawa Teach menuju ke tiang kapal, lalu ia meraih sebuah tali yang tergeletak di sisi kapal dan langsung mengikat tubuh Teach sehingga membuat yang lainnya bertambah heran. “Eh, apa yang kau lakukan?” tanya Teach ketika dirinya sudah mulai terikat kencang dan tidak bisa bergerak sama sekali.


Wanita itu benar-benar mengikatnya dengan sangat kuat sekali. Saat selesai mengikat tubuh Teach, wanita itu terengah-engah sembari berbalik badan ke belakang dimana semua orang kini menatapnya.


“Aku ingat! Aku pernah membaca artikel mengenai makhluk bernama Siren. Dia hanya mengincar para pria, menghipnotis dan menggodanya dengan nyanyiannya serta wajah cantik mereka,” Jelas Rose detail.


“Dan cara untuk menghindari semua itu, para pria harus mengikat diri mereka dengan sangat kencang atau menyumpal telinga mereka dengan lilin.” Lanjutnya yang seketika langsung di turuti oleh para perompak itu serta Emily dan Robin.


“Aku akan ambil lilin yang ada.” Ujar Bonny yang langsung bergegas mencari lilin di dek bawah maupun tempat istirahat. Tak membutuhkan waktu lama, Bonny datang kembali dengan sebuah lilin di kedua tangan mungilnya.


“Gawat! Hanya ada delapan lilin saja.” Ucap Bonny panik.

__ADS_1


“Tidak masalah, dua diantara mereka akan di ikat!” ujar Rose yang seketika mendapatkan anggukan dari Clisson dan yang lain.


Bonny memberikan lilin-lilin tadi ke Robin, Guiracocha, Papa Pirate dan Actassi, sedangkan Jack dan Teach harus di ikat.


Kini tugas para wanita mengikat Jack di tiang-tiang kapal dengan sangat kuat dan serat, jika tidak godaan dari Siren akan membuat mereka bertindak ganas. Memang benar yang di katakan Rose mengenai makhluk bernama Siren itu. Siren adalah salah satu makhluk mitologi Yunani, dimana ia menyerupai seorang wanita namun dengan kaki ekor seperti Duyung. Tapi, Siren lebih berbahaya, dia suka mengincar para pria, menggodanya dengan suara-suara merdunya, ketika mangsa sudah terhasut mereka akan membawa mangsanya ke dasar laut dan membunuhnya dengan cara mereka.


Dikatakan dalam cerita Yunani, ada seorang pria bernama Odisseus Dia menyuruh awak kapalnya utnuk menyumbat telinga mereka dengan lilin supaya tidak mendengar nyanyian Siren. Odisseus sendiri lebih memilih untuk diikat di tiang kapal dan tidak mau telinganya disumbat karena dia penasaran dengan nyanyian Siren. Ketika akhirnya ia mendengar suara merdu para Siren, ia memberontak dan menyuruh awak kapalnya agar melepaskan tali yang mengikatnya. Para awak kapalnya tentu saja menolak. Ketika kapal mereka sudah jauh dari Siren dan Odisseus menjadi lebih tenang, barulah ikatannya dilepaskan.


Tidak ada yang bisa menghindari nyanyian merdu yang keluar dari mulut Siren.


Semuanya sudah beres, bahkan Jack dan Teach sudah berdiri tegak dengan lilitan tali yang melingkar di tubuhnya. Sementara Robin, Guiracocha, Papa Pirate dan Actassi, mereka juga sudah menyumpal telinga dengan lilin tadi. Mereka semua sudah bersiap memasuki kawasan Siren, dimana terlihat ada sebuah dua batu besar yang tak terhitung berapa berat batu itu.


Tangan Rose meremas kuat gagang pedang yang kini dia bawa. Ini akan menjadi pertarungan keduanya di dunia Fantasy.


“Aku akan mencarinya!” ucap Emily.


“Aku ikut.” Sambung Read memilih menemani Emily. Sedangkan yang lainnya harus tetap fokus ke depan, karena mereka baru saja memasuki kawasan musuh.


🌹🌹🌹


Di dek kapal yang paling bawah, terlihat Jhon tengah buang air kecil di dek belakang dimana itu seperti sampan kecil yang sengaja di gabung untuk kegiatan buang hajat. Tahukan kalian...!


Pria itu sangat menikmati indahnya di malam hari, saat kedua matanya melihat ke langit-langit yang penuh bintang.


“Haahhh!! Seperti ini, kan lega!” gumamnya seraya tersenyum lebar, lalu membenarkan kembali celananya.

__ADS_1


“Hello handsome!” suara merdu menyambar di telinga pria mata jelalatan. Jhon langsung menoleh ke belakang, nampak sekali senyuman lebar di wajah Jhon ketika melihat seorang wanita cantik, rambut hitam panjang dan terlihat pundak putih mulusnya seperti seseorang yang tidak mengenakkan pakaian, atau bisa jadi wanita itu memakai sebuah bikini.


Jhon bertumpu dengan kedua lututnya, melihat lebih dekat jarak antara Jhon dan wanita yang menyelupkan dirinya di air laut.


“Hey! Apa yang sedang kau lakukan malam-malam begini?” tanya Jhon yang masih tersenyum. Bagaimana tidak, kini di depannya ada seorang wanita berwajah cantik bak bidadari.


“Berenang, apalagi?!” jawab wanita itu yang kini kedua tangannya melipat di sisi kapal kecil itu.


“Wanita secantik dirimu tidak seharusnya berenang di malam hari! Siapa nama mu?” tanya Jhon lagi, pria itu benar-benar menyusahkan teman-temannya yang ada di atas saat ini.


“Panggil saja, Sai!” seraya mengulurkan jabatan tangannya yang langsung di jabat oleh Jhon.


“Namaku Jhon!” balas Jhon yang terus mengusap lembut tangan mulus itu.


“Ingin berenang bersama?” ajak Sai yang tersenyum menggoda.


“Tentu tidak bisa Nona, aku harus pergi...”


“Kalau mendengar ku menyanyi? Banyak yang bilang suaraku merdu hingga bisa menghipnotis para pria!” ujar Sai yang masih tersenyum dan masih berada di dalam air.


“Benarkah! Bolehkah aku mendengar suaramu?” Jhon, dia sungguh tidak tahu siapa itu Sai. Sementara Emily dan Read masih mencarinya di kapal yang lumayan besar dan luas.



BERSAMBUNG...............

__ADS_1


__ADS_2