ROSELLYNA : In Fantasy World

ROSELLYNA : In Fantasy World
ROSELLYNA : The Deadly Power of Neparasts.


__ADS_3

Keadaan kembali seperti semula. Semuanya menjadi hening dan dingin! Pemandangan tadi benar-benar membuat Rose sangat terpukul. Emily yang tadinya hanya berdiri sambil memandang kearah temannya yang kini masih terduduk sambil menangis. Seketika ia berjongkok seraya memegang lengan kanan Rose.


“Kau boleh bersedih, tapi jangan sampai kesedihan itu melemahkan mu Rose! Kini kau harus bisa menghentikan Ratu Revana, sebelum semuanya terlambat.” Jelas Emily yang ada benarnya juga.


“Iya, Emily benar! Kami akan stay di belakangmu. Hanya dibelakang!” balas Jhon yang seketika dipandang tajam oleh Emily dan Robin saat itu juga, namun tidak untuk Ratu Air yang selalu tersenyum tipis.


“Maksudku bersamamu!” lanjutnya seraya tersenyum lebar hingga memperlihatkan giginya.


Rose masih diam, dan Emily sedikit lega karena ia tidak mendengar lagi suara Isak tangis dari temannya. Rose menatap Emily sedikit sendu, namun wanita berambut pendek itu hanya mengangguk dengan senyuman dan menuntun Rose untuk kembali berdiri.


“Kau sudah lebih baik!?” tanya Ratu Air memandang Rose yang kini berdiri semula.


“Hm!”


“Apa itu cerita sebenarnya?” lanjut Rose bertanya kepada Ratu Air.


“Yes!” jawab Ratu Air santai.


Keempat orang yang bersama Ratu Air saat ini, benar-benar merasa dibohongi oleh si penyihir tua itu. Mereka merasa, Magela hanya bermain-main saja dengan Rose dan kawan-kawan.


“Tapi, kekuatan apa yang tadi digunakan oleh Ratu Revana? Kekuatan itu sama sekali tidak kumengerti?” tanya Jhon yang masih bingung. Tanpa ada yang menjawab, tiba-tiba.


“Neparasts.” Jawab seseorang dengan suara khas nenek tua yang tiba-tiba muncul begitu saja dari arah belakang Jhon dan Robin.


Mendengar itu, seketika mereka semua menoleh kearah suara tersebut, hingga membuat Jhon terkejut dan berlari kecil kearah Emily karena wajah mengerikan yang baru saja ia lihat. Tidak lain dialah, Magela yang saat ini menggunakan wajah aslinya, berupa nenek-nenek penyihir.


“Upss, sorry!” gumam Magela yang sadar akan wajahnya, seketika kembali mengubah dirinya sebagai wanita muda dan cantik Namaun tetap dengan jubah hitamnya.


“Hei, kenapa kau menipu kami? Ceritamu sangat bertentangan dengan cerita Ratu Air.” Sentak Emily yang jadi emosi sendiri.

__ADS_1


“Iya! Sudahku bilang, aku tidak percaya dengannya.” Bisik Jhon tepat di samping Emily.


Namun, pertanyaan Emily juga ditunggu oleh Rose dan Robin yang ikut heran akan si penyihir Magela tersebut. Tanpa menjawab, Magela berjalan, berpindah tempat di samping Ratu Air yang lagi-lagi hanya tersenyum saja, seolah ia sudah tahu akan sifat Magela.


“Senang bertemu denganmu Ratu Air!” sapa Magela ramah terhadap sang ratu. Ratu Air menutup kedua matanya seraya mengangguk pelan, sebuah bentuk penghormatannya.


Kedua orang tadi, kembali menatap empat anak muda yang masih saja menunggu jawaban dari sang penyihir.


“Kenapa kau berbohong?” tanya Rose.


“Aku tidak berbohong! Dan itu sebabnya aku menyuruh kalian bertemu Ratu Air lebih dulu. Kalian akan memahaminya jika mendengar dan melihat dengan teliti!” jawab Magela tersenyum dengan nada lembutnya dan santai.


Mendengar jawaban itu, Jhon, Rose dan Emily masih tidak mengerti maksud dari ucapan Magela. Tapi tidak untuk Robin, pria pengertian yang hanya diam dan memahami semuanya.


“Lupakan saja. Kau bilang nama kekuatan Ratu Revana tadi, Neparasts? Apa itu juga tipuanmu?” Ejek Jhon kepada Magela.


“Apa kau bisa jelaskan, apa itu Neparasts?” tanya Rose.


Magela menarik nafas panjang, seraya memandang kearah Ratu Air dengan terseringai. Ratu Air yang mengerti, ia memberika satu cangkir kecil minuman kepada sang penyihir yang banyak tingkah itu.


“Neparasts. Itu salah satu kekuatan andalan Ratu Revana, sama saja dengan pertanda kematian di depanmu! Ketika kau lengah, kau bisa terjebak didalamnya, dan pikiran serta tubuhmu akan dikendalikan olehnya.” Jelas Magela seraya menatap ke langit-langit sambil menutup kedua matanya, layaknya merasakan sesuatu.


Melihat keseriusan akan cerita itu, membuat Rose, Emily, Jhon dan Robin percaya akan ucapan tersebut. Sedangkan Ratu Air malah sibuk bermain dengan kekuatan air-air mengalirnya sendiri.


“Seperti santet? Membunuh tanpa menyentuh.” Ujar Rose yang seketika membuat semuanya fokus menatap dirinya.


“Santet?” gumam Ratu Air.


“Iya. Aku pernah membaca di internet, ada salah satu negara bernama Indonesia, dan santet sangatlah terkenal disana. Kalian bisa membunuh seseorang tanpa menyentuh melainkan melewati sebuah benda, sepeti boneka ataupun foto.” Jelas Rose.

__ADS_1


“Betul.” Balas Magela.


“I like the name! Apa, santet!” ucap Ratu Air tersenyum lebar dan kembali bermain sendiri.


Tidak sia-sia Rose menjadi wanita kutu buku di dunianya. Namun disini, semua itu sangatlah berguna untuknya, di dunia asing ini.


“Jadi, kematian Ratu Deldelina karena ia masuk perangkap Neparasts sehingga tubuhnya dapat dikendalikan oleh Ratu Revana.” Ucap Robin. Magela mengangguk, menandakan bahwa semua itu benar.


“Jangan sampai kalian terkena kekuatan itu. Karena itu tidak ada obatnya!” ucap Magela tertawa pelan. Mereka sangat mengerti, dan jika mereka tahu akan cara mengalahkan kekuatan Neparasts milik Ratu Revana. Itu adalah suatu keberuntungan besar.


“Besok aku harus mengajarimu sedikit mengendalikan elemen air! Okay!” ujar Ratu Air melihat kearah Rose.


“Untuk apa?” tanya Rose.


“Kau akan tahu besok!” Jawab Ratu Air tersenyum.


“Aww, sudah masuk makan malam! Aku punya hidangan spesial untuk kalian, dan aku yakin kalian juga ingin makan. Benar Jhon!” Lanjut Ratu Air yang tersenyum manis kearah Jhon, lalu berjalan keluar lebih dulu dengan kedua tangan yang selalu terangkat sedikit layaknya wanita anggun. Mendengar hal itu, seketika Jhon tersenyum lebar dan memilih berjalan lebih dulu di belakang Ratu Air.


“Sampai jumpa!” Magela pergi bersama dengan kabut hitamnya begitu saja. Sementara Rose dan yang lainnya hanya bisa jalan kaki mengikuti langkah Ratu Air menuju ruang makan yang mungkin sama indahnya dengan Istanahnya.


...***...


Peacland Kingdom.


Seperti hari-hari sebelumnya. Ratu Revana selalu mengambil pajak semua orang yang berada di kerajaannya. Pajak yang begitu besar, bahkan ia tidak segan-segan mencabut nyawa seseorang jika salah dimatanya.


Karena kepergian Robin, memebuat orang-orang di kerajaan Peacland sedikit kesusahan, karena harus membayar pajak yang begitu besar setiap harinya. Mereka semua tidak tahu, bahwa sang ratu sebenarnya akan kembali di Istana Fredenslige. Mereka hanya perlu bersabar dan menahan siksaan lembut dari ratu kejam mereka saat ini.


BERSAMBUNG...........

__ADS_1


__ADS_2